Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 18


__ADS_3

Askara turun dari tangga dengan tatapan yang tertuju pda Bi Lati. Asiyah bingung dengan gelagat suaminya. Ada apa ia pagi ini sehingga bertingkah semacam itu.


“Kenapa Mas?” Tanya Asiyah yang penuh tanda tanya.


“...” Askara tidak menjawab. Ia terus berjalan mendekati mereka berdua. Askara tiba-tiba merebut tas yang sedang dijinjing oleh Asiyah.


“Tausah kau bantu dia. Dia yang seharusnya membantumu. Jangan memanjakannya, nanti dia malah seenaknya sama kita.” Ucap Askara dengan ketus.


“Astagfirullah, Ica gak berfikiran seperti itu Mas. Lagi pula Ica hanya menjalankan kewajiban Ica sebagai hamba Allah, yakni saling membantu antar sesama manusia. Mas juga tidak baik berprasangka buruk pada orang lain.” Asiyah tidak setuju dan kurang senang dengan apa yang baru saja Askara katakan.


“Endak to Bu. Apa yang dikatakan Bapak benar. Saya juga jadi tidak enak Bu. Lebih baik saya saja yang membawa tasnya.” Bi Lati langsung mengambil tas yang dijinjing oleh Askara.


“Bi, apa yang baru saja suami saya katakan tidak usah dimasukkan ke dalam hati ya. mohon dimaklumi ya, suami saya memang seperti ini.” Asiyah mencoba membujuk Bi Lati.


“Iya, ndak papa to Bu.” Ucap Bi Lati dengan tersenyum.


“Lagian kamu juga belum tentu di terima kerja di sini. kamu akan menjalani masa uji coba selama satu bulan dulu. Jika kerjamu bagus maka akan kami terima tetapi jika tidak...” Askara memberi tahu Bi Tuti dengan nada ketus. Kata-katanya belum sempat terselesaikan, Asiyah kebutu menyanggah.


“Mas! ya sudah, lebih baik Ica antar Bibi ke kamar Bibi ya. Bibi tidak usah kerja dulu hari ini.” Asiyah langsung mengantar Bi Lati untuk ke kamarnya.


“terima kasih Bu.” Mereka lalu meninggalkan Askara.


Bi Lati diantar ke kamar barunya. Asiyah sudah menyiapkan kamar itu sebelum kedatangan Bi Lati.


“Nah ini kamar Bibi. Mohon dimaklumi ya jika terlalu sederhana dan tidak terlalu luas.” Asiyah membukaan pintu kamar.


“Walah, sederhana apanya Bu? Ini sudah sangat bagus buat Bibi. Orang di kampung saja bibi tidurnya di lantai tanah pake alas tikar. Ini ada kasurnya, terus itu kotak yang bisa bikin dingin.”


“AC maksudnya.” Asiyah membenarkan.


“Nah itu maksud Bibi. Iki mah kamar rasa hotel Bu.” Puji Bi Tuti.


“Ya sudah, kalau begitu Ica tinggal dulu ya. Bibi istirahat saja ya. kalau butuh apa-apa Ica ada di ruang tengah ya Bi.”


“Iya, Matur suwun Bu.”


Asiyah lalu menutup pintu.


Asiyah lalu kembali menghampiri Askara yang tengah duduk di ruang tengah. Asiyah melihat wajah Askara yang masih seperti marah tapi dalam versi Askara.


“Mas.” Ucap Asiyah, Askara tidak menyaut. Ia diam seribu bahasa.

__ADS_1


“Mas kenapa? Mas ngambek sama Ica?” Tanya Asiyah.


“Tidak.” Akhirnya Askara menjawab.


“Lalu apa?” Asiyah kembali bertanya.


“Kau terlalu baik terhadap orang lain.” Jawab Askara.


“Ayolah, kita gak usah bahas itu lagi ya. Mas jangan marah sama Ica ya?” Bujuk Asiyah.


“Aku tidak marah.” Askara bersikeras dengan pendiriannya.


“Yasudah terserah Mas maunya apa. Eh, by the way ini kan our last weekend. Kita hangout yuk Mas. Soalnya kan mulai besok Ica udah kerja.” Asiyah mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Tidak. Lebih baik diam di rumah, aman.” Ucap Askara.


“Diluar juga aman Mas, emangnya ada apaan sih?” Asiyah tidak mengerti dengan Ucapan Askara.


“Andai kau tau siapa aku sebenarnya.” Tutur Askara dalam hatinya.


“Memangnya kau mau ke mana?” Tanya Askara.


“Terserah Mas. Ica akan ikut kemanapun Mas ajak.” Jawab Asiyah dengan gembira.


“MasyaAllah? Beneran Mas? Mas gak lagi bercanda kan?” Tanya Asiyah memastikan.


“Tidak. Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran.” Kata Askara.


“Alhamdulillah, oke Ica siap-siap sekarang deh.”Asiyah langsung berjalan cepat ke kamar untuk berdandan.


Sementara Askara masih duduk di ruang tengah. Ia kemudian merogoh sakunya. Ia keluarkan handphone dari dalamnya. Ia kemudian menelpon seseorang.


“Halo.” Sapa Askara.


“Ya, untuk dua orang.” Askara bercakap dengan seseorang di telpon.


“Tuut.” Askara langsung menutup panggilan itu.


Askara lalu beranjak dari sofa. Ia juga ikut naik ke atas untuk berganti pakaian. Askara berganti pakaian dengan cepat ia lebih dulu selesai dibanding Asiyah. Setelah Askara menunggu untuk beberapa saat tak lama Asiyah pun turun dengan penampilan barunya.


“Yuk Mas.” Ajak Asiyah dengan tak sabar.

__ADS_1


“Lambat sekali kau berdandan.” Keluh Askara.


“Maafin Ica ya.” Asiyah merasa tak enak.


“Ya sudah, ayo pergi.” Ajak Askara.


Mereka pun pergi keluar, Askara memanaskan mobilnya terlebih dahulu. Sementara Asiyah menitipkan dan berpesan mengenai rumah kepada Bi Lati.


“Nitip rumah ya Bi, kami pergi ke luar dulu. InsyaAllah tidak akan terlalu malam pulangnya.” Ucap Asiyah kepada Bi Lati.


“Iya, hati-hati ya Buk, Pak.” Ujar Bi Lati. Asiyah pun memberikan kunci rumah kepada Bi Lati. Mereka pun akhirnya pergi.


“Kita mau kemana Mas?” Tanya Asiyah yang penasaran sepanjang jalan.


“Tak usah banyak bertanya. Kau hanya perlu menuruti dan mengikuti perintahku saja.” Jawab Askara.


“Oke, baiklah.” Asiyah kembali fokus melihat jalanan.


Mobil terus melesat hingga ke pinggir kota. Ternyata tujuan mereka adalah pantai. Mobil mereka kemudian parkir di pantai. Asiyah masih mengira jika mereka akan hangout di pantai.


“Kau sedang apa?” Tanya Askara yang heran saat melihat Asiyah duduk di bangku tepi pantai.


“Ica lagi duduk Mas, mau ngapain lagi?” Jawab Aisyah.


“Tujuan kita bukan di sini.” Ujar Askara.


“Lalu?” Asiyah tampak bingung.


“Di sana.” Askara menunjuk pada sebuah kapal pesiar cantik yang berlabuh di pinggir pantai.


Asiyah tampak takjub bercampur haru saat melihat kapal itu. Kapal pesiar itu dihiasi oleh bunga-bunga seperti hendak diadakan pesta lamaran. Askara lalu menarik Asiyah untuk segera naik ke kapa itu.


“Jangan hanya dilihat, naiklah.” Ajak Askara.


Asiyah dan Askara lalu naik ke kapal itu. Mereka di sambut oleh awak kapal yang berpakaian seba putih. Awak itu lalu mengalungkan bunga ke leher mereka berdua. Mereka lalu di pandu ke bagian depan kapal. Di sana ada sepasang kursi dengan meja bundar yang telah tersaji makanan di atasnya. Mereka berdu lalu duduk.


“Tidak seberapa, tapi kuharap kau menyukainya.” Ucap Askara.


“Ini sudah lebih dari cukup Mas. Ica sangat-sangat menyukainya. Makasih ya Mas.” Ucap Asiyah dengan mata berbinar-binar.


Mereka berdua lalu dinner dengan suasana romantis di atas kapal pesiar yang mewah. Tidak hanya berhenti di situ, Askara lalu mengajak Asiyah untuk pergi ke bagian pinggir kapal. Di sana mereka menikmati penadangan kota dan pantai dari kapal itu. Tak lama muncul kembang api yang begitu cantik sahut-menyahut menghiasi langit malam. Asiyah berdecak kagum melihatnya. Sementara Askara fokus melihat wajah Asiyah.

__ADS_1


“Did you like it?” Tanya Askara.


“I really-really like it.” Jawab Asiyah dengan mata berkca-kaca.


__ADS_2