Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 15


__ADS_3

Dewangga berjalan mendekati mereka yang tengah terpaku karena kedatangannya. Dengan wajah yang tampak serius dan mata yang tajam Dewangga mendekati Askara. Askara membalas Dewangga dengan tatapan dengki.


“Kenapa kalian menatapku seperti itu? Seolah kedatanganku adalah bencana bagi kalian.” Ucap Dewangga.


“Mengapa kau tidak memberi tahu kami soal kedatanganmu?” Ayah kini angkat bicara.


“Haruskah aku izin terlebih dahulu untuk pulang ke rumahku sendiri?” ujar Dewangga.


“Bukan begitu nak, kami hanya...” Ucap Mamah yang belum sempat terselesaikan kata-katanya.


“Takut jika wanita ini tahu kalau...” Dewangga menyela.


“Tutup mulutmu! Dasar pecundang!” Askara ikut menyela.


“Apa ini? benarkah ini adik kecilku Sadewa yang bahkan tak mengerti cara untuk tersenyum kini memarahiku?” Dewangga menyentuh kerah baju Askara.


“Jaga sikapmu!” Askara tampak tak nyaman dengan perlakuan Dewangga.


“Nampaknya sekarang kau banyak berubah Sadewa, apa gara-gara gadis ini?” Dewangga kini mendekati Asiyah.


“Jangan berani dekati dia.” Askara kini menarik Asiyah agar menjauh dari Dewangga.


“Jadi benar ini perempuan yang akan dijodohkan denganku? Lumyan juga, kalau dipikir-pikir sekarang aku jadi menyesal menolaknya.” Kata Dewangga.


“Apa?” Asiyah tampak kaget saat mendengar ucapan dari Dewangga.


“Jangan dengarkan perkataan pecundang ini, dia pembohong yang amat licik.” Ucap Askara kepada Asiyah.


“Kalian semualah yang pembohong!, tega betul kalian membohongi gadis secantik dia.” Ujar Dewangga.


“Dewangga!” Ayah berteriak marah.


“Kenapa? Apa aku salah? Memang benar kenyataannya, kalian membohongi orang tua gadis ini dengan berkata kalau pria yang akan dijodohkan dengan gadis ini adalah Sadewa, bukan aku!” Dewangga meninggikan suaranya.


“Apa benar itu Mas?” Asiyah termakan omongan Dewangga.


“Sudah kubilang jangan dengarkan dia, dia pandai dalam memutar balikkan fakta.” Jawab Askara.


“Kau masih bisa membohonginya bahkan disaat-saat seperti ini? malang sekali gadis ini. baiklah, biar aku yang jelaskan, Aku adalah Askara Putra Dewangga, laki-laki yang akan dijodohkan denganmu beberapa bulan yang lalu. Tetapi, kau lihat sekarang, bukan aku pria yang bersamamu. Saudara kembarku merebut posisi itu dariku.” Kata Dewangga.


“Tutup mulut busukmu itu! Kau sendiri yang pecundang! Kau lari dari perjodohan itu!” Askara tak mau tinggal diam.

__ADS_1


“Kami melakukan semua itu karena kau sendiri yang mengacaukannya Dewangga!” Ayah juga tak mau kalah.


“Cukup!” Asiyah kini angkat bicara.


“Tolong bersabarlah nak, kami akan menjelaskan semuanya padamu.” Ucap Mamah.


“Mas, pulangkan Ica sekarang ke rumah Ummi, Ica butuh waktu untuk menerima semua ini.” Asiyah kini menitikan air mata.


“Kau tak usah mendengarkan dan mempercayai omongan pria pecundang ini, apa yang dikatakan olehnya tak benar, bersabarlah.” Ucap Askara.


“Kumohon, pulangkan aku sekarang. Jika mas tidak mau tidak papa, Ica bisa pulang sendiri.” Asiyah lalu melangkah pergi.


“Asiyah!” Askara mengikuti Asiyah.


“Tunggu!” Askara kini memegang lengan Asiyah.


“Apa lagi mas? Ica sudah tidak mau mendengar apapaun lagi. Ica mau pulang.” Asiyah menangis terisak-isak.


“Baiklah, jika kau ingin pulang, aku akan mengantarmu.” Askara lalu menuntun Asiyah ke mobilnya.


Sepanjang jalan, mereka hanya saling terdiam. Terlebih Asiyah, dia menangis tak henti-henti. Pasti berat baginya untuk menerima semua ini.


Mobil Askara kemudian berhenti di depan pagar rumah Ummi. Asiyah langsung keluar dari mobil.


“Wa’alaikumsalam.” Askara hanya terdiam. Ia membiarkan Asiyah pergi begitu saja. Askara menatap Asiyah dari dalam mobilnya. Terlihat Asiyah kini menyalami Ummi. Saat Ummi menoleh ke mobil Askara, Askara langsung menyalakan mobilnya dan pergi begitu saja.


“Ummi.” Asiyah memeluk Umminya sambil berlinang air mata.


“Ada apa ini?” Ummi melepas pelukannya lalu menatap wajah Asiyah.


“Ica kangen Ummi dan Abi.” Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Asiyah.


“Kalian tidak sedang bertengkar kan?” Tanya Ummi.


“...” Asiyah tidak menjawab.


“Ya sudah, sekarang masuk dulu, tenangkan dirimu.” Ummi lalu membawa Asiyah masuk ke rumah.


“Iya Ummi.” Asiyah menuruti perkataan Umminya.


Sementara itu, di tempat lain, Askara tengah menemui Dewangga.

__ADS_1


“buk.” Askara meninju muka Dewangga.


“beraninya kau!” Dewangga emosi.


“Apa? Kau mau apa? Kau mau lari lagi? Sudah cukup wajah busukmu itu terus mengacaukan hidupku!” Askara merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Sesuatu itu membuat Askara sesak dan gelisah, bahkan ingin memukul atau meneriaki orang yang ada di hadapannya.


“Siapa yang kau anggap pecundang hah?” Dewangga kini mendorong Askara dengan sangat keras.


“Bangun!” Dewangga berteriak kepada Askara.


Askara tak mau kalah, ia lalu kembali bangkit berdiri.


“Buk!” Askara kembali meninju Dewangga, kini di bagian perut.


“Kau bersikap seolah akulah yang merebut hidupmu! Padahal kau sendiri yang lari dari hidupmu sendiri! Aku juga yang harus memungut bekas hidupmu yang kotor itu!” Askara memukul Dewangga habis-habisan. Kini Dewangga tak bisa berkutik.


“Hentikan!” Teriak Mamah yang datang mendekati mereka.


“Kalian ini saudara! Jangan saling serang satu sama lain.” Mamah menasehti.


“Saudara mana yang merebut hidup saudaranya sendiri!” Ucap Dewangga yang kini bisa bangkit berdiri.


“apa? Katakan sekali lagi!” Askara sudah hampir meninju Dewangga, tetapi Mamah langsung memeganginya.


“Hentikan Sadewa.” Mamah mencekal Askara.


“...” Askara lalu melepaskan tangannya dari Dewangga.


“Dewangga, Mamah tidak menyalahkan kedatanganmu, tetapi caramu mengusik rumah tangga dari saudaramu, Mamah tidak setuju. Sadewa sudah mengorban hidupnya untukmu. Bahkan pernikahan ini, yang perlahan mulai Sadewa terima. Untuk apa kau mengusiknya lagi? Bukankah kau sendiri yang telah menolaknya? Berhentilah untuk terus lari dari masalah dan cobalah untuk terima dan hadapi.” Ujar Mamah dengan nada yang lirih.


“Lari dari masalah? Bukankah kalian yang ingin aku pergi dari sini?” Dewangga masih dengan emosinya.


“Itu karena kau telah menciptakan masalah yang terlalu besar sehingga kami juga harus terseret karenanya! Sadarlah pecundang! Jika bukan karena kau aku tidak akan terjerumus pada dunia mafia sialan itu!” Askara bersuara.


“Berhenti memanggilku pecundang.” Dewangga hendak memukul Askara.


“Cukup! sekali lagi Mamamh lihat kalian ribut, maka Mamah tidak akan segan untuk mencabut semua fasilitas kalian!” Ancam Mamah. Mereka berdua kemudian menuruti omongan Mamah.


“Dewangga, Mamah tahu, kau pasti suka dengan wanita itu. Andai saja waktu itu kau tidak menolaknya. Tetapi percuma, nasi sudah menjadi bubur. Wanita itu sudah jadi istrinya Sadewa, jadi cobalah untuk menerimanya. Kau yang dulu memutuskan untuk menolak perjodohannya dan malah pergi ke Milan, sekarang kau juga yang menuntut balik. Mamah sudah lelah dnegan sikapmu yag tak pernah dewasa. Tolong, jangan korbankan adikmu lagi untuk yang kedua kalinya.” Mamah lalu meninggalkan mereka berdua.


“Hah!” Dewangga lalu duduk di atas kursi dengan penuh emosi.

__ADS_1


“Dengar itu baik-baik!” Askara lalu pergi meninggalkan Dewangga.


“Awas saja Sadewa! Akan kurebut wanita itu darimu! Seperti aku yang merebut kehidupanmu!” Ucap Dewangga dengan tatapan licik kepada Askara.


__ADS_2