Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 29


__ADS_3

Dipesantren Bu Santi termenung dikursi taman, memikirkan Ray yang memutuskan untuk kembali dengan wanita yang sudah menghancurkan keluarganya. Mengingat sifat Bela dulu seperti apa, Bu Santi tidak yakin kalau Bela bisa berubah dan menjadi istri yang baik untuk Ray.


Perasaannya menyesal begitu menyelimuti hati Bu Santi. Kenapa dulu bisa dibutakan oleh kekayaan yang ternyata hanya semu.


"Assalamualaikum bu Santi" sapa Umi Zaroh.


"Walaikumsalam Umi" jawab Bu Santi tersenyum.


"Pasti lagi memikirkan Ray ya?" tebak Umi Zaroh.


"Huummm... " Bu Santi menghela nafas dalam.


"Sejujurnya saya katakan iya Umi, saya tau Umi pasti sudah dikasih tau Ray tentang respon saya ketika Ray mengatakan kalau dia kembali bersama dengan Bela." ucap Bu Santi


Umi tersenyum melihat Bu Santi


"Saya tidak ingin ikut campur masalah keluarga, hanya saja saya sebenarnya juga kasihan pada Ray, beban Ray itu juga tidak mudah bu, Kalau saja bu Santi tau bagaimana perjuangan Ray bertahan selama ini, bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa dalam hidupnya. Padahal kita semua tau, hatinya menyimpan luka. Suami mana yang bisa bertahan ditinggal istri sehari setelah pernikahan. Itupun karena persetujuan dari kedua orang tuanya. Ray itu anak yang sangat berbakti, didalam keadaan seperti itu, dirinya masih tetap memikirkan perasaan kalian, dan tidak marah dengan kalian." jelas Umi.


"Saya tau Umi, saya salah. Karena itu saya ingin menebus kesalahan saya dengan menyuruh Ray menikah lagi dengan wanita yang baik. Saya tidak akan lagi memikirkanmu latar belakang siapapun wanita itu nantinya, asalkan wanita yang sholihah." ucap Bu Santi.


"Perceraian memang diperbolehkan dalam ajaran agama kita, tapi Alloh juga tidak menyukainya. Saya yakin kalau saat ini Ray masih berusaha mempertahankan rumah tangganya itu pasti karena Ray punya alasan tersendiri. Jika memang Ray tidak akan bahagia dengan Bela, saya yakin Ray pasti tau apa yang harus Ray lakukan." ucap Umi Zaroh.


"Umi, sejujurnya saya tidak menyalahkan Ray atas keputusan yang telah Ray buat. Hanya saja saya belum siap jika harus satu rumah dengan wanita yang menyebabkan kematian suami saya," jelas Bu Santi.


"Saya paham apa yang bu Santi rasakan. Ini saya katakan sekali lagi ya bu, saya tidak ada maksud untuk ikut campur urusan Bu Santi dengan Ray, hanya saja menurut saya. Hargai keputusan Ray, InsyaAlloh saya yakin, Ray sudah mempertimbangkan semuanya." ucap Umi Zaroh.


"Dan untuk masalah kematian Pak Yudha, saya tau itu berat bagi Bu Santi. Tapi masalah kematian itu takdir yang sudah tentukan oleh Alloh. Tidak ada satupun yang bisa menolak takdir. Ikhlaskan kepergian Pak Yudha!" kembali Umi Zaroh mengingtkan.


"Terimakasih Umi sudah mengingtkan saya, sebenarnya saya tau akan hal itu Mi, hanya saja mungkin saat ini saya masih membutuhkan sedikit waktu lagi. untuk bisa menerima kenyataan tentang ini semua." jawab Bu Santi.


"Iya Bu Santi, tolong jangan tersinggung dengan apa yang saya katakan, " ucap Umi Zaroh.

__ADS_1


"Tidak Umi, justru saya senang dan berterimakasih. Ada yang mau mengingtkan saya, kalau ternyata Ray itu sudah banyak menderita karena saya. Sebagai seorang ibu yang harusnya bisa memberikan rasa aman untuk anak-anaknya, tapi yang saya lakukan justru sebaliknya." sesal Bu Santi.


***


"Ray, em.. mas Ray maksud saya, " ucap Mita menutup mulutnya dengan tangan kanannya


"Hehehe.. Santai saja Mit, panggil Ray aja juga tidak masalah kok." jawab Ray.


"Mbak Bela apa sudah tidur?" tanya Mita.


"Bela, iya dia sudah tidur. Kenapa?" jawab Ray


"Tidak apa-apa, cuma mau menanyakan apakah obatnya sudah diminum?" tanya Bela yang sengaja ingin berbicara dengan Ray


"Sudah, tadi Bela sudah meminum obatnya." Jawab Ray.


"Alhamdulilah, takutnya kalau lupa. Oya Ray lagi sibuk tidak?" tanya Mita


"Mau saya buatin?" Mita menawarkan untuk membuatkan Ray kopi dengan tujuan ingin mengambil simpati dari Ray


"Tidak, tidak usah! biar saya buat sendiri saja."


Ray berusaha menolak tapi karena kegigihan Mita akhirnya Ray pun menerima tawaran Mita.


Mita segera kedapur dan membuatkan kopi untuk Ray.


"Kasihan kamu Ray, dari istri kamu masih sehat dia tidak pernah menghargai kamu sebagai istri. Tapi sekarang giliran Bela lumpuh. Dia kamu rawat dengan tulus. Tapi kamu tidak perlu khawatir Ray, mulai sekarang aku akan mengurus kamu. Hal yang tidak mungkin dilakukan istri kamu yang tidak layak disebut istri itu" batin Mita seraya mengaduk kopi untuk Ray.


"Ini Ray diminum kopinya," ucap Mita menyodorkan secangkir kopi untuk Ray


"Boleh saya duduk disini?" tanya Mita lagi

__ADS_1


"Duduklah!" jawab Ray menerima kopi dari Mita


"Ray kapan tante Santi pulang dari pesantren?" tanya Mita.


"Belum tau, sementara ini Mami masih ingin disana,"


"Oow.. udah lama Mita tidak bertemu dengan tante Santi. Kira-kira masih ingat gak ya tante sama Mita?"


"Kamu udah pernah bertemu Mami ya?"


"Udah lah Ray, masak kamu lupa. Waktu itu tante Santi sama om Yudha datang ke sekolah karena kamu ketahuan bawa rokok ke sekolah. Masih ingat gak? dan saat itu kan, aku yang bersaksi kalau itu bukan rokok kamu" ucap Mita.


"Oow.. iya aku ingat sekali, ya gara-gara rokok itu juga. Akhirnya aku disuruh sekolah keluar negeri sama Mami. Padahal itu bukan rokok ku, entah siapa yang saat itu memasukkan rokok ke dalam tasku, " Ray mengingat saat dirinya dituduh membawa rokok ke sekolah. Padahal rokok itu bukan miliknya


"Rudi pelakunya" jawab Mita


"Rudi? Rudi yang mana ya?" Ray mengingat-ingat


"Rudi yang kelas 3 B dulu, yang anaknya tinggi. Ingat tidak?" tanya Mita


"Rudi, Rudi, oo.. iya, iya.. aku ingat. Dia itu suka sama kamu kan kayaknya? tapi kenapa Rudi melakukan itu?" Ray masih belum mengerti


"Kamu lupa saat itu kan kita pacaran, sedangkan si Rudi suka sama aku. Jadi Rudi marah gitu sama kamu." jelas Mita


"Astaghfirullah, baru inget aku. Ternyata karena itu, sampai dia melakukan semua itu. Kalau dipikir-pikir lucu juga cerita saat kita sekolah dulu, " Ray tertawa


"Iya, dan aku selalu jadi tameng buat kamu. Ingat gak kalau kamu bolos sekolah, aku pasti yang dipanggil guru BK untuk ditanya-tanya soal kamu. Dan parahnya aku juga pernah lho dituduh membantu kamu kelaur dari sekolah. Padahal kamu sendiri yang lompat dari tembok belakang sekolah." Mita tertawa mengingat masa itu


"Separah itu ya kenakalan aku dulu? Sorry, sorry aku dulu selalu menyusahkan kamu." ucap Raya menyatukan kedua tangannya didada


"It's okay, kan udah masa lalu juga Ray." jawab Mita

__ADS_1


^Happy Reading^


__ADS_2