Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 79


__ADS_3

Mendengar apa yang Mita bicarakan tadi, membuat Riza di rumah terus berpikir. Kalau dipikir sebenarnya Riza kasihan dengan Mita, sepertinya Mita juga orang yang baik. Mita hanya korban janji palsu Mami nya Ray dan Mita terobsesi kembali dengan Ray juga karena mengetahui penghianatan yang dulu Bela lakukan padanya.


Semenjak itu Riza jadi sering berhubungan dengan Mita, bahkan Riza juga berkunjung ke rumah Mita, kedua orang tua Mita juga menyambung kedatangan Riza dengan perasaan senang.


"Mit, ayah merasa kalau nak Riza sepertinya suka sama kamu," ucap ayah Mita.


"Kami hanya berteman, Ayah." jawab Mita.


"Mita, kamu bukan remaja lagi, mau sampai kapan kamu menutup hati kamu? ingat berapa sekarang usia kamu," ucap Ayah Mita.


"Yah, sudahlah! Jangan bahas ini lagi!"


"Benar apa yang ayah katakan, mau sampai kapan kamu menunggu laki-laki yang jelas-jelas tidak pernah mencintai kamu, Ibu kasih tau Mita, lebih baik di cintai dari pada mencintai, apalagi mencintai laki-laki yang tidak pernah mencintai kita, itu hanya akan melukai hati kita, Mita. sadarlah nak!" sahut ibu Mita.


"Bu, sudah ya! Jangan bahas itu lagi. Mita capek ingin istirahat," ucap Mita berlalu.


"Lihatlah putrimu Bu, di butakan cinta sampai tidak menyadari kalau sekarang jadi bahan omongan tetangga karena menjadi perawan tua," keluh Ayah Mita.


"Entahlah yah, Ibu juga tidak mengerti dengan pemikiran Mita, apa lagi yang mau diharapakan dari laki-laki yang tidak pernah mencintainya." ucap Ibu Mita menghela nafas kasar.


***


Hari ini Ray di ijinkan untuk meninggalkan rumah sakit, karena kondisi Ray yang sudah sepenuhnya pulih. Bu Santi yang mengetahui putra semata wayangnya di ijinkan untuk pulang, juga menginginkan untuk ikut pulang bersama dengan Ray.


"Tapi Mami masih membutuhkan perawatan," ucap Ray.


"Ray, Mami ingin pulang. Mami ingin melihat kamu menikah dengan Bela, Mami ingin menyiapkan pernikahan kalian," ucap Bu Santi.


"Kami akan menikah setelah Mami sembuh," Sahut Bela.


Bu Santi tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Hal itu tidak akan pernah terjadi, Mami tidak mungkin sembuh Bela. Karena itu Mami ingin kalian secepatnya menikah kembali sebelum Alloh memanggil Mami," ucap Bu Santi.


"Ray, tolong Mami..! Mami, ingin pulang bersama kalian! Kalau pun harus meninggal, Mami ingin meninggal di tengah-tengah orang-orang yang Mami sayangi. Mami tidak ingin meninggal di rumah sakit," ucap Bu Santi.


"Mami kenapa harus bicara seperti itu?" ucap Ray tampak sedih dengar perkataan Mami nya.


"Ray, hadapi kenyataan! Tidak perlu membohongi diri sendiri, kamu tau penyakit Mami ini tidak akan bisa di sembuhkan. Kamu juga harus siap kapan pun Alloh memanggil Mami, iklaska Mami!" ucap Bu Santi.


Ray dan Bela memeluk Mami nya, tangis Ray dan Bela pecah di pelukan Bu Santi.

__ADS_1


Dengan banyak pertimbangan, Ray dan Bela akhirnya mengabulkan permintaan Bu Santi untuk pulang, Dokter juga memberi ijin Bu Santi untuk pulang, karena di rumah dengan keluarga yang di cintai saat ini mungkin memang yang terbaik untuk Bu Santi.


***


"Nenek..!" teriak Raynan memeluk Bu Santi.


"Cucu nenek, nenek kangen sekali," ucap Bu Santi memeluk Raynan.


"Raynan juga kangen sama nenek, Raynan punya hadiah untuk nenek," ucap Raynan.


Ray dan Bela pun saling berpandangan penasaran dengan hadiah Raynan.


"Hadiah? Raynan punya hadiah untuk nenek maksudnya?" tanya Bu Santi.


"Iya, Raynan. punya hadiah untuk nenek, ini hadiah buat nenek," jawab Raynan memberikan gulungan kertas gambar.


Bu Santi menerima dan membuka gulungan kertas yang Raynan berikan.


"MasyaAlloh, ini Raynan sendiri yang bikin?" tanya Bu Santi kagum dengan gambar yang Raynan berikan.


"Ini maksudnya daddy Ray, yang ini Mommy, ini nenek dan yang ini Raynan?" tanya Bu Santi menunjuk pada gambar.


"Iya," jawab Raynan mengangguk sebagai jawaban.


"Iya dong nek, Raynan memang suka menggambar," jawab Raynan tersenyum.


"Raynan, nenek harus istirahat. Biarkan nenek masuk kamar dulu ya," sahut Bela.


"Tapi Raynan ingin main sama nenek," ucap Raynan.


"Tapi nenek tidak boleh terlalu capek, sayang. Nenek masih harus banyak istirahat, Raynan anak pintar, main sama mommy dulu ya," bujuk Bela.


"Tidak apa-apa Bela, saya senang kok bermain dengan Raynan. begini saja, bagaimana kalau Raynan mainnya di kamar nenek saja," ucap Bu Santi.


"Iya, Nek. Raynan akan bermain di kamar nenek saja," jawab Raynan.


"Ta-Tapi_" ucap Bela terputus.


"Sudah, tidak apa-apa. Biarkan Raynan bermain dengan Mami," sahut Ray.


"Tapi Mami harus banyak istirahat, Ray." ujar Bela saat Bu Santi sudah berjalan menuju kamar berasama Raynan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, mungkin Raynan justru bisa menjadi obat untuk Mami, kamu lihat kan tadi, Mami begitu bahagia saat bersama Raynan," ujar Ray tersenyum.


"Kamu benar Ray, semoga dengan adanya Raynan. Mami bisa semangat untuk sembuh," ucap Bela.


"Iya, tapi Mami sudah tidak mau lagi melakukan pengobatan. Dokter pun sepertinya juga sudah tidak terlalu menyarankan agar Mami menjalani pengobatan. Kita semua tau, saat ini kondisi Mami seperti apa, Satu-satunya yang bisa di lakukan hanya kemoterapi, sedangkan kemoterapi juga memiliki efek yang sangat sakit. Mami tidak mau di akhir hayatnya harus mengalami kesakitan karena kemoterapi," jelas Ray dengan mata berkaca-kaca.


"Ray, kamu harus iklas. Apapun yang Alloh gariskan, pasti yang terbaik." ucap Bela.


"Bel, bagaimana kalau minggu ini kita menikah?" tanya Ray.


"Minggu ini?" tanya Bela seakan tak percaya.


"Iya, bagaimana? kamu mau kan menikah lagi denganku?" tanya Ray.


"Iya, aku mau. Ray," jawab Bela tersenyum.


"Aku sudah tidak sabar untuk kembali menikah dengan kamu, InsyaAlloh. Aku janji, aku akan menjadi suami dan Ayah yang baik untuk kamu dan Raynan." ucap Ray.


"Bel, Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk menjadi suami kamu lagi. Maafkan semua kesalahanku ya Bel," ucap Ray.


***


Menjelang pernikahannya Ray begitu sibuk menyiapkan segela sesuatunya sendiri. Kali ini Ray dan Bela menyiapkan segela sesuatunya dengan perasaan bahagia, tidak seperti pernikahan pertama mereka yang penuh dengan keterpaksaan.


Untuk pakaian pengantin, Bela dan Ray juga mempercayakan kembali pada Aisyah.


"MasyaAlloh, Mbak Bela cantik sekali," ucap Aisyah saat Bela melakukan fitting baju.


"Benarkah?" tanya Bela melihat dirinya di depan cermin dan tersenyum bahagia.


"Pasti dong, istriku pasti cantik," sahut Ray.


"Calon istri lebih tepatnya Ray," timpal Bela.


"Tidak boleh mendahului takdir, mas Ray. Alangkah baiknya jika di sertai kata InsyaAlloh," sahut Aisyah.


"Astaghfirullah, Terima kasih Aisyah sudah mengingatkan aku," ucap Ray.


^Happy Reading^


Jangan lupa, like, coment dan Vote ya sayang💕

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi thor 🙏Terima kasih😘💕


__ADS_2