
"Dari mana Ray? kenapa lama sekali?" tanya Bela saat Ray kembali ke ruang kerjanya.
"Ada sedikit pekerjaan tadi, tapi ini sudah selesai. Bagaimana kalau kita pulang saja? Atau bagaimana kalau kita ke rumah Niko? Aku kangen sama Fatin," ucap Ray.
"Boleh, aku juga ingin bertemu dengan Fatin. Anaknya lucu dan cantik," ucap Bela tersenyum
"Iya, kan? Siapa pun, pasti akan bilang seperti itu, jika ketemu Fatin. Semua orang pasti akan senang jika bertemu Fatin dan Alka."
Sebelum Bela kembali, Ray memang sering bermain dengan Fatin dan Alka.
***
Di rumah Ray.
"Bela kenapa pulang sendiri? di mana Bela?" tanya Bu Santi.
"Mbak Bela, ada di kantor Mas Ray, Tante,"jawab Mita.
"Ngapain, tu orang ke kantor anak saya? malu-maluin saja," gerutu Bu Santi.
"Iya sih, Tan. Tadi sempat terjadi keributan juga di kantor Mas Ray, karena beberapa karyawan sepertinya tidak suka dengan kehadiran Mbak Bela di sana, ada yang mengatakan kalau saat sehat bersenang-senang dengan laki-laki lain, saat sakit kembali sama Ray. Ah, Iya. Maaf tante. Sepertinya saya terlalu ikut campur," ucap Mita menutup mulutnya dengan tangan kanan.
"Apa Ray tau masalah itu?" tanya Bu Santi.
"Iya, Tante. Ray tau dan sepertinya tadi Ray sangat marah dengan karyawannya," jawab Mita.
"Lagian, untuk apa sih Bela kesana? tidak tau malu memang itu orang," gerutu Bu Santi
"Tante, maaf kalau saya lancang. Tapi apa benar kalau, Mbak Bela itu selingkuh dengan laki-laki lain?" tanya Mita memastikan.
"Huh.. bagaimana ya Mit, tapi ya sudah. Tante akan ceritakan semuanya. Memang Bela itu bukan wanita yang baik, dari awal Ray sudah menolak perjodohan yang tante lakukan, tapi saat itu tante dibutakan kedudukan. Tante pikir dengan menikahkan Ray dan Bela. Akan sangat menguntungkan bagi perusahaan tapi ternyata tante salah,"
"Justru perusahaan tante hancur, Bela dan Papi nya, menipu tante. perusahaan tante hancur ,Suami tante terkena serangan jantung hingga akhirnya meninggal dan yang lebih tragis, Bela selingkuh dengan laki-laki lain." ujar Bu Santi
Sampai saat ini, Bu Santi masih belum bisa melupakan apa yang sudah diperbuat Bela terhadap keluarganya.
"Tapi tante, kalau Mbak Bela seperti itu? kenapa Ray sepertinya sangat mencintai Mbak Bela? sama sekali tidak terlihat kalau pernikahan bukan karena cinta," tanya Bela.
"Itu kan hanya yang terlihat, saya ini ibu yang telah melahirkan Ray, saya tau. Ray hanya pura-pura bahagia, Ray tidak mungkin benar-benar mencintai Bela. Itu hanya rasa kasihan! kamu tau kan bagaimana Ray itu? Dia hanya tidak tega meninggalkan Bela dengan keadaannya yang seperti sekarang ini, " jelas Bu Santi.
"Apa tante yakin, kalau Ray tidak mencintai Mbak Bela?" tanya Mita.
__ADS_1
"Tentu saya yakin, saya tau anak saya itu seperti apa, " jawab Bu Santi.
***
Di rumah Niko.
"Om, besok kita jalan-jalan mau tidak?" tanya Fatin.
"Memang Fatin mau kemana?" tanya Ray.
"Fatin, ingin jalan-jalan ke taman hiburan Om, tapi Papa tidak mau. Papa bilang belum ada waktu." ucap Fatin dengan suara khas balita.
"Benarkah? Papa Niko bilang gitu?" tanya Ray.
"Mas Niko, akhir--akhir ini. Memang sedang sibuk Ray, perusahaan sedang dapat proyek besar. Jadi waktunya banyak dihabiskan di kantor, " jawab Ulya.
"Apa Mbak Ulya tidak khawatir dan cemburu, kalau suami Mbak Ulya, sibuk di luar rumah?" tanya Bela.
"Alhamdulillah, tidak. Kenapa harus cemburu? selama perginya jelas, kita juga tau di luar sana suami kita sedang apa, saya rasa tidak perlu cemburu,"
"Sebenernya cemburu dalam suatu rumah tangga itu wajar kok, karena kalau sama sekali tidak ada cemburu juga tidak baik, itu tandanya kita sama sekali tidak perduli dengan pasangan kita. Tapi jangan terlalu berlebihan dalam mengaplikasikan kecemburuan. karena takutnya jika berlebihan justru, akan membuat suami kita ilfil hehehe.." ucap Ulya lagi.
"Kalau menurut pandangan Islam sendiri bagaimana Mbak, tentang cemburu pada pasangan?" tanya Bela.
"Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbali, Imam An-Nasa’i, dan Imam Abu Dawud bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:
"Sungguh ada sifat cemburu yang disukai oleh Alloh Subhanahu wa ta'ala yaitu sifat cemburu yang disertai dengan keragu-raguan dan ada pula sifat cemburu yang sangat dibenci oleh Allah Ta'ala yaitu rasa cemburu yang tanpa disertai rasa keragu-raguan lagi." ujarnya lagi.
"Benarkah, sebagai seorang istri kita tidak berdosa jika cemburu dengan suami kita?" Bela kembali menyakinkan.
"Suatu ketika, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di rumah salah seorang istri Beliau. Tiba-tiba istri yang lain mengirim mangkuk berisi makanan. Melihat itu, istri yang rumahnya kedatangan Rasul memukul tangan pelayan pembawa makanan tersebut, maka jatuhlah mangkuk tersebut dan pecah. Kemudian Rasul mengumpulkan kepingan-kepingan pecahan tersebut serta makanannya, sambil berkata:
غَرَّتْ أُمُّكَ
'Ibumu sedang cemburu.'
Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh pelayan itu untuk menunggu, kemudian Beliau memberikan kepadanya mangkuk milik istri yang sedang bersama Beliau untuk diberikan kepada pemiliki mangkuk yang pecah. Mangkuk yang pecah Beliau simpan di rumah istri yang sedang bersama Beliau." (HR Al Bukhari).
"Dia adalah Aisyah Ummul Mu’minin, istri Rosulullah yang saat itu cemburu dengan Zainab binti Jahsy."
Ulya menceritakan kisah Aisyah istri Nabi, yang saat itu sedang cemburu dengan Nabi shallallahu alaihi WA sallam.
__ADS_1
"Bel, perasaan dari tadi. Aku perhatikan kamu bahasnya soal cemburu terus, kamu tidak sedang cemburu sama aku kan?" tanya Ray.
"Ah, tidak kok. untuk apa aku cemburu sama kamu?" jawab Bela dengan wajah gelisah.
"Tapi, sepertinya. Mata kamu tidak berkata demikian. Kamu pasti bohong, memang kamu cemburu sama siapa? perasaan, aku tidak sedang dekat dengan wanita manapun," Ray mencoba mengingat akhir-akhir ini dirinya dekat dengan siapa.
"Kan, aku sudah bilang. Aku tidak sedang cemburu Ray. Udah sana main lagi sama Fatin, aku masih ingin banyak belajar dari mnak Ulya," ucap Bela mengalihkan pembicaraan.
"Tapi, memang benar ya kamu sedang cemburu?" tanya Ulya, ketika Ray sudah pergi dan bermain dengan Fatin.
"Tidak tau juga sih Mbak," jawab Bela tersenyum.
"Ulya membulatkan matanya dan tersenyum, sepertinya apa yang barusan Ray katakan benar. Memang apa yang membuat kamu cemburu dengan Ray? kalau aku lihat, Ray sepertinya tidak berbuat aneh-aneh kok," ucap Ulya.
"Entah kenapa, hatiku sepertinya merasa ada yang aneh, setiap kali aku melihat Mita dekat dengan Ray," ujar Bela.
"Mita? Mita perawat kamu?" Ulya seakan tak percaya.
"Iya Mbak, Mita. Aku juga tidak tau, apa aku ini yang terlalu berlebihan. Tapi rasanya aneh saja, aku merasa perhatikan yang Mita berikan untuk Ray lebih dari sekedar taman, " ucap Mita.
"Apa bukan karena kamu tau, kalau Mita pernah pacaran sama Ray?" tanya Ulya.
"Awalnya aku berpikir seperti itu juga Mbak, tapi semakin kesini, sepertinya bukan seperti itu. Aku merasa kalau Mita memiliki perhatian yang tidak biasa," ucap Bela.
"Apa kamu sudah pernah menceritakan masalah ini pada Ray?" tanya Ulya.
Bela hanya menggelengkan kepala sebagai jawabaan.
"Sejauh yang aku tau, Ray itu sangat mencintai kamu, bahkan saat kamu tidak di sini pun, Ray menjaga diri dan pandangan dari wanita lain, karena dia yakin suatu saat kamu akan kembali padanya." ujar Ulya.
"Kalau Ray, mungkin aku percaya Mbak. Tapi, Mita. Jujur, hatiku merasa tidak tenang."
"Tidak ada salahnya jika kamu bicarakan masalah ini pada Ray, biar hati kamu lebih tenang, " ucap Ulya
"Tidak Mbak, aku tidak ingin Ray, berpikir kalau aku cemburu. Selama ini aku sudah menyakiti Ray, aku tidak ingin pikiran konyolku ini membuat Ray kepikiran dan tidak fokus dengan pekerjaannya."
"Kalau aku dan Mas Niko, selalu membicarakan apapun yang ada di hati kami, semisal aku merasa tidak nyaman jika Mas Niko, melakukan sesuatu yang tidak aku sukai, aku akan komunikasikan semua itu, begitu juga sebaliknya.
Karena di dalam suatu rumah tangga, komunikasi adalah yang utama. jangan sampai komunikasi terhambat, karena pikiran masing-masing."
"Intinya apapun yang ada di pikiran kita, lebih baik. Di komunikasikan dan jangan pernah berasumsi sendiri dengan pikiran kita. Karena apa yang ada di dalam pikiran kita belum tentu benar." ucap Ulya.
__ADS_1
"Iya Mbak Ulya, teruma kasih karena sudah mendengarkan curhatan hatiku, aku seneng memiliki teman seperti Mbak Ulya, " ucap Bela.