
"Ray_" ucap Bela terputus.
"Aku harus segera berangkat," ucap Ray yang tak menghiraukan apa yang akan Bela katakan.
Lagi-lagi, Bela hanya bisa menatap punggung suaminya yang kini sudah meninggalkan kamar.
"Apa kamu semarah itu sama aku Ray? Apa kamu sudah tidak percaya lagi padaku? Aku tidak melakukannya dengan sengaja Ray. Aku tidak tau, jika niat baik ku justru melukai Mami."Batin Bela
***
Di mana Ray? kenapa belum keluar?" tanya Bu Santi seraya menarik kursi dan duduk.
"Ray, sudah berangkat ke kantor Mi," jawab Bela singkat.
"Sepagi ini sudah berangkat? tumben? Apa dia tidak sarapan?" ucap Bu Santi seraya mengambil nasi.
"Tidak Mi, " jawab Bela.
"Kasihan Ray, pasti dia malas melihat kamu. Makanya dia buru-buru pergi, Semalam sepertinya dia juga pulang larut malam kan? Bagaimana bisa dia betah di rumah, bersama wanita, yang bisanya hanya membuat repot saja," ucap Bu Santi.
Bela hanya terdiam tak menjawab, mulutnya tetep menguyah makanan, meskipun hatinya terasa sakit dan nafasnya sesak seakan tertimpa batu yang begitu besar.
Sekuat hati, Bela menahan air matanya agar tidak pecah. Bela tidak ingin memperlihatkan kesedihan yang dirasakan. Karena Bela tau, dirinya pantas mendapatkan semua ini. Bela yang juga pernah menyakiti Ray, tidak pantas jika harus mengeluhkan sikap Ray yang seperti itu, karena Bela sadar apa yang Bela rasakan saat ini tetep lah tidak sebanding dengan apa yang sudah di perbuatannya pada Ray dan keluarganya.
Tak lama setelah sarapan selesai, datanglah seorang pengacara menemui Bu Santi dan menyerahkan beberapa dokumen pemindahan aset yang sudah di atas namakan untuk Bu Santi.
Ya, itu dari Pak Bobby. Pak Bobby sudah mengembalikan semua yang telah di ambilnya pada Bu Santi.
Pak Bobby sudah bertaubat dan menyesali semua perbuatannya pada keluarga Ray.
"Sekarang semua ini sudah menjadi hak ibu Santi kembali, baiklah kalau begitu saya pamit dulu," ucap pengacara.
Bu Santi hanya diam tak menjawab.
"Tadi itu siapa tante?" tanya Mita duduk di samping Bu Santi.
"Oow.. itu, pengacara yang di kirim Papi nya Bela untuk menyerahkan aset-aset yang dulu mereka ambil dari saya," jawab Bu Santi mentap dokumen yang ada di atas meja.
"Bagus, dong tante. Itu berarti mereka sudah sadar. Nyatanya semua ini di kembali pada tante." ucap Mita.
"Iya, kamu benar. Mungkin memang mereka sudah sadar tapi apa semua ini bisa mengembalikan suami saya?" ucap Bu Santi dengan mata berkaca- kaca.
"Tante sabar ya, setidaknya tante sekarang bisa tenang. Ray bersama istri yang sudah taubat, jadi tante tidak perlu berpikir kalau Ray akan di sakiti kembali. Meskipun kita tidak pernah tau, apakah taubatnya benaran atau karena kondisinya," ucap Mita.
"Maksud kamu?" Bu Santi melihat Mita
"Iya kan kita tidak tau tante, Hati seseorang." ucap Mita.
***
Siang hari Pak Diman sopir keluarga mereka datang untuk menjemput Bela dan Bu Santi.
"Kenapa baru sekarang Ray memberitahu? kalau ada acara launching produk? Dan itu apa yang Pak Diman bawa?" tanya Bu Santi.
"Oow.. Ini buat non Bela Nyonya. Tadi tuan muda bilang, kalau paket ini di suruh memberikan langsung pada Non Bela." jawab Pak Diman.
__ADS_1
"Memang apa sih isinya, sini kasih saya." ucap Bu Santi.
"Ta-tapi Bu, ucap Pak Diman bingung lantaran tuan muda menyuruhnya memberikan langsung pada Bela, tapi di sisi lain Nyonya besar yang memintanya.
"Pak Diman, tidak percaya sama saya? bukankah sama saja, di berikan langsung sama Pak diman, atau saya yang berikan?" tanya Bu Santi.
"Ba-baik, Nyonya." Pak diman pun, akhirnya memberikan kotak yang di ambil dari butik Aisyah pada Bu Santi yang seharusnya di berikan pada Bela.
"Ya sudah, Pak diman keluar saja. Nanti kalau sudah siap akan saya panggil." ucap Bu Santi.
Di kamar Bu Santi membuka kotak yang barusan di ambilnya dari Pak Diman.
"Gaun? Jadi Ray mau menyuruh Bela pakai gaun ini ke acara lounching produknya yang baru? Apa Ray tidak salah, untuk apa Bela di berikan baju semewah ini? Bikin malu acara kantor saja, sudahlah dari pada nanti di sana, Bela jadi bahan pembicaraan dan jadi bahan lawakan, lebih baik Bela tidak usah datang." gumam Bu Santi.
"Mita..! Mita..!" panggil Bu Santi.
"Iya, tante. Ada apa?" tanya Mita.
"Pakai ini, segera bersiap dan temani saya ke acara kantor Ray." ucap Bu Santi.
"Saya tante? Maksudnya, saya pakai gaun ini ke acara kantor Ray?" tanya Mita tak percaya.
"Iya, kamu temani saya, ke acara launching produk baru di perusahaan Ray!" jawab Bu Santi.
"Tante yakin? MasyaAlloh. Gaunnya cantik sekali?" ucap Mita kagum dengan keindahan gaun syar'i rancangan Aisyah, yang seharusnya digunakan Bela.
"Iya, itu kamu. " ucap Bu Santi.
***
"Mita, akan ikut bersama saya ke acara lounching produk di perusahaan Ray." sahut Bu Santi.
"Apa? hari ini ada acra peluncuran produk baru? Kenapa Mami ke sana sama Mita?" tanya Bela tak mengerti.
"Lalu, saya harus ke acra itu sama kamu maksudnya? Apa kamu lupa, sudah pernah membuat keributan di kantor Ray? Apa kamu ingin semua itu terjadi lagi? Ini acara penting untuk anak saya, jadi lebih baik kamu di rumah. karena saya tidak mau, acara Ray berantakan gara-gara kamu!" ucap Bu Santi.
"Ta-tapi saya istrinya Mi?"ucap Bela.
"Saya tau, tapi kedatangan kamu hanya akan membuat Ray malu." ucap Bu Santi.
"Tapi, kenapa harus sama Mita Mi? Dan kamu Mita, kamu di sini di gaji untuk membantu dan merawat saya, kenapa sepertinya sekarang kamu sibuk dengan urusan yang tidak seharusnya?" ujar Bela, menatap Mita.
"Sa-saya_" ucap Mita terputus.
"Saya, yang menyuruh. Memangnya kenapa? Mita di gaji oleh anak saya kan? jadi apa salahnya, kalau Mita menemani saya? lagian kamu itu, jangan manja. Kamu harus berlatih mandiri, jangan mengandalkan orang terus," ucap Bu Santi ketus.
"Ayo, Mita. kita berangkat." ucap Bu Santi berlalu.
"Ma-maaf, Mbak Bela." ucap Mita berlalu mengekori Bu Santi.
Bela hanya bisa menangis, manatap punggung Bu Santi dan Mita yang akan pergi ke acara kantor, Ray."
"Non, sabar ya Non," ucap Bik Siti menghela nafas ikut menatap Nyonya besar dan Mita.
"Iya, bik," ucap Bela tersenyum.
__ADS_1
Di dalam kamar, Bela kembali menangis meratapi yang terjadi. Bela tidak menyangka kalau Ray semarah itu, bahkan sampai tidak memberitahu nya masalah lounching produk yang dihadiri oleh seluruh karyawan beserta keluarga.
"Apa, kamu. Benar-benar malu, untuk membawaku ke acara itu Ray? sampai kamu tidak memberitahu aku kalau ada acara di kantor? Apa kamu takut, aku akan ikut dan membuat kamu malu di sana? Aku tau Ray, aku memang tidak pantas untuk kamu, Tapi kamu selalu mencoba menguatkan aku dan bilang bisa menerima kondisiku yang seperti ini, Tapi kenapa sekarang_?" gumam Bela menggelengkan kepala.
"Apa Ray selama ini hanya pura-pura menerima aku untuk membuatku jatuh cinta, lalu Ray balas dendam kepadaku?" ucapnya lagi.
***
"Pak Diman, ayo kita berangkat," ucap Bu Santi.
"Maaf Nyonya, Bu Bela kenapa belum keluar? tadi tuan muda, menyuruh saya untuk menjemput Nyonya dan Bu Bela." ucap pak Diman.
"Bela, sedang tidak enak badan jadi tidak ikut, Sudah ayo kita berangkat. Nanti saya yang akan bicara sama Ray," ucap Bu Santi.
"Ba-Biak Nyonya." ucap Pak Diman pamit, meskipun hatinya merasa ada yang tidak beres. Namun Pak Diman yang hanya seorang supir tidak berani bertanya lebih jauh.
"Tante, apa. tante yakin tidak apa-apa, Mita ikut tante? Apa Ray tidak akan marah? Mita takut kalau Ray akan marah," ucap Mita.
"Tidak usah takut, kamu tidak salah kenapa harus takut? lagipula, Ray itu tidak akan berani marah, udah kamu tenang saja," ucap Bu Santi.
"Tante, gaun Ini? Apa ini?" tanya Bela melihat gaunnya.
"Iya, itu punya Bela. kenapa memangnya?" tanya Bu Santi.
"Ta-tapi tante, Ray. Pasti akan sangat marah." ucap Mita.
"Ray, tidak akan marah. kamu tenang saja" ucap Bu Santi.
Sesampainya di kantor Ray, semua menyambut kedatangan Bu Santi yang baru turun dari mobil, berjalan di karpet merah dan Ray terlihat sedang mencari-cari istrinya, namun hanya melihat Bu Santi. Hingga tak selang waktu lama, Mita turun dari mobil dan membuat Ray tercengang.
Bukan karena melihat kecantikan Mita, tapi karena Mita turun dari mobil, mengenakan gaun yang seharusnya di pakai oleh Bela. Gaun yang senada dengan jas yang saat ini Ray gunakan.
Ray di buat bingung dengan keadaan ini, namun di depan banyak karyawan. Ray tidak mau menunjukkan kegelisahannya. Ray memilih tetap tenang dan segera berbaur dengan tamu undangan.
Semua mata saat ini tertuju dengan Mita, bahkan tak sedikit yang bergosip dan mengira, itu calon istri Ray baru.
"Mungkin, sekarang Pak Ray. sudah sadar dan ingin mencari wanita yang sempurna. Karena istrinya kan cacat dan Istrinya juga bukan orang baik" bisik-bisik karyawan.
Mita pun, sekilas mendengar bisik-bisik dari karyawan, bukannya meluruskan. Mita hanya sedikit tersenyum dan seolah menikmati gosip-gosip tentang dirinya.
***
"Ray, kenapa kamu tidak menyambut kedatangan Mami?" tanya Bu Santi.
"Justru Ray, yang ingin bertanya pada Mami. Apa maksud semua ini? Dan kenapa Mita yang menggunakan baju yang seharusnya digunakan untuk Bela?" tanya Ray lirih.
"Bela tidak bisa menghadiri acara kamu, dengan keadaan dia seperti itu, kamu pikir dia akan berani datang mendampingi kamu?"
"Dan masalah Mita, kamu jangan marah sama Mita, karena Mami yang memaksa Mita untuk menemani Mami ke sini. Kamu tau kan, karena istri kamu. Kaki Mami sakit, jadi Mami butuh Mita. karena Mami lihat Bela juga tidak terlalu suka dengan gaunnya, dari pada tidak terpakai lebih baik, biar Mita yang pakai kan?" ujar Bu Santi.
"Tidak mungkin, Bela tidak suka dengan gaun pilihan Ray, " ucap Ray.
^Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment dan Vote ya! dukungan kalian sangat berarti untuk thor🙏Terima kasih 🙏😍🥰
__ADS_1