
Mita pun mendekat dan duduk di dekat Bu Santi.
"Bagaimana, hubungan kamu dengan Ray?" tanya Bu Santi.
"Hubungan? maksud Tante hubungan apa? Mita dan Ray hanya sebatas, Mita perawat yang merawat istrinya," jawab Mita.
"Kamu yakin? tidak ada perasaan apa-apa lagi antara kamu dan Ray?" tanya Bu Santi.
"Tante, kenapa tante bicara seperti itu?" tanya Mita
"Tidak ada maksud apa-apa, hanya bertanya saja. Karena biar bagaimana dulu kalian pernah punya masa lalu," ucap Bu Santi.
"Itu sudah sangat lama Tante, mungkin Ray juga tidak mengingatnya Tan," jawab Mita.
"Kamu sudah punya pacar? Atau mungkin sudah menikah?" tanya Bu Santi.
"Belum Tante, Mita belum menikah dan belum punya pacar juga," jawab Mita.
"Kamu cantik, kenapa belum punya pacar? Apa karena belum ada yang cocok untuk kamu?" tanya Bu Santi.
"Iya tante, sampai saat ini. Belum ada cowok yang bisa membuat Mita jatuh cinta, Karena Mita ini tidak bisa menjalin hubungan kalau tidak cinta Tante," ucap Mita.
Bu Santi tersenyum mendengar pernyataan Mita.
***
Saat jam makan malam, Ray dan Bela menuju ruang makan, melihat Bu Santi yang sudah ada di meja makan, tentu saja membuat Ray terkejut. Pasalnya Ray tidak tau, kalau Mami nya sudah ada di rumah.
"Mami, kapan Mami pulang? Kenapa tidak bilang sama Ray, kalau Mami mau pulang?" ucap Ray kaget sekaligus bahagia, melihat Mami nya sudah ada di rumah.
Tapi sesaat setelah itu Ray berpikir, apa yang membuat istrinya tadi bersedih karena ini?
Ray berpikir dan menatap istrinya, terlihat kalau Bela sangat canggung dan hanya diam. Bahkan sejak tadi mereka bersama Bela juga tidak berkata apa-apa tentang ke pulangan Mami nya.
"Mami tau kamu itu orang yang sangat sibuk, karena menguras perusahaan Mami yang ada di Indonesia dan juga menguras perusahaan kamu sendiri. Karena itu Mami tau diri dan tidak mau membuat kamu repot. Mami cukup tau diri," ucap Bu Santi seraya mengambil nasi dan beberapa lauk ke piring lalu memberikannya pada Ray.
"Terima kasih Mi, tapi Ray bisa ambil sendiri kok Mi," ucap Ray.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, Kalau bukan Mami siapa lagi yang bisa mengurus kamu, Bela. Apa kamu mau sekalian Mami ambilkan?" tanya Bu Santi tersenyum sinis ke arah Bela.
"Tidak usah Mi, Bela bisa sendiri, " jawab Bela tersenyum.
"Syukurlah kalau bisa sendiri, setidaknya masih ada yang bisa kamu lakukan, " ucap Bu Santi.
"Mi," gumam Ray.
Ray tau saat ini Bela pasti hatinya terluka karena Mami nya.
Dalam acara makan malam ini, suasana tampak hening. Hanya sesekali terdengar suara dentuman garpu dan sendok beradu di atas piring.
"Mau ke mana Bel?" tanya Ray saat Bela menjalankan kursi rodanya.
"Bela sudah selesai makan, Bela kembali ke kamar dulu Ray, Mi. Bela ke kamar dulu," pamit Bela namun Bu Santi tak menanggapi.
"Biar saya antar ya!" ucap Ray mendorong kursi roda Bela.
"Tidak usah Ray, biar saya sendiri saja. Kamu lanjutkan dulu makan nya." ujar Bela berlalu.
Ray kembali duduk di kursinya semula.
"Apa kamu bilang Ray? Bela tersinggung? Lalu bagaimana dengan Mami?" Bu Santi menatap Ray dengan mata berkaca-kaca.
"Mi, maaf. Maafkan Ray Mi. Ray tidak ada maksud untuk menyinggung Mami atau membela Bela, bukan seperti itu. Tapi Ray ingin Mami dan Bela, bisa berbaikan. Ray berharap keluarga kita bisa saling mendukung dan saling menyayangi, " ujar Ray.
Bu Santi meletakkan sendok dan garpunya di atas piring, meneguk segelas air putih hingga habis, kemudian meletakkan kembali gelasnya di atas meja dan memandang Ray dengan tajam.
"Kamu pikir Mami tidak mau seperti itu? Mami juga berharap kita bisa saling mendukung layaknya keluarga. Apa lagi saat Papi kamu sudah tidak ada lagi di dunia ini? siapa lagi yang Mami miliki? hanya kamu. Satu-satunya anak yang Mami miliki. Tanpa kamu minta, Mami pun ingin bisa menjalani sebuah hubungan keluarga yang selama ini tidak pernah Mami berikan untuk kamu. Tapi setiap melihat Bela, hati Mami sakit Ray," ucap Bu Santi terisak.
"Mi, jangan menangis lagi. Tolong maafkan Ray," ucap Ray menyeka air mata Bu Santi.
"Bayangan Papi muncul, ketika Mami melihat Bela. Mami sudah mencoba untuk bisa melupakan semua ini, tapi Mami tidak bisa. Kalau bukan karena Bela, mungkin saat ini Papi masih hidup," ucap Bu Santi terisak.
"Mi, sudah Mi. Jangan berkata seperti itu lagi, kita tidak boleh meratapi kepergian Papi. Kasihan Papi kalau Mami seperti ini, sedih boleh dan tidak dilarang. Tapi jangan meratapi kepergian Papi mi." ucap Ray memeluk Bu Santi.
"Mami merindukan Papi Ray, Mami sangat merindukan Papi," ucap Bu Santi.
__ADS_1
Bela yang masih berada di balik tembok, mendengar semua apa yang dibicarakan mertua dan suaminya.
Perasaan sedih menyelimuti hatinya. Bela sadar. Dirinya memang tidak pantas berada di sini. Dirinya sudah melakukan perbuatan yang sangat jahat dan tidak termaafkan.
Meskipun Ray selalu menguatkan hatinya, namun itu semua tidak merubah kenyataan kalau dirinya lah penyebab kematian Pak Yudha.
***
Klek..
Ray membuka pintu dengan sangat hati-hati, berjaga kalau Bela sudah tidur.
Ternyta Bela masih terjaga dan sengaja menunggu Ray.
"Kamu belum tidur sayang?" tanya Ray mendekat.
"Belum Ray, aku menunggu kamu," jawab Bela.
"Ray, aku tidak ingin menjadi penyebab hubungan kamu dan Mami menjadi tidak harmonis, " ucap Bela.
"Sayang, sudah jangan bahas masalah ini lagi. Kamu percaya saja sama aku. Tidak perlu berpikir terlalu jauh, cukup percaya sama aku!" ucap Ray.
"Ta-tapi Ra_" ucap Bela terputus.
"Sebaiknya kamu segera tidur, besok kamu harus terapi kan?" ucap Ray mengalihkan pembicaraan.
"Ray, apa yang Mami katakan benar. Aku ini tidak bisa melakukan apapun untuk menjadi seorang istri, " ucap Bela sedih.
"Yang aku butuhkan, cukup kamu ada di sisiku. Aku tidak butuh yang lainnya. Jadi berhenti berpikir yang tidak-tidak, tolong semua ucapan Mami jangan di masukkan dalam hati. Saat ini, Mami hanya butuh waktu untuk bisa melupakan semuanya dan menerima kamu kembali." ucap Ray.
"Tapi, bagaimana kalau Mami tidak bisa menerima aku lagi Ray?" tanya Bela.
"Bela percaya sama Ray?" tanya Ray seraya menatap mata Bela.
"Iya, aku percaya," jawab Bela menganggukkan kepala.
"Alhamdulillah, jadi mulai sekarang. Cukup dengarkan aku, dan jangan berpikir yang bukan-bukan lagi, sepakat?" ucap Ray menatap Bela dan Bela mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
^Happy Reading^