Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 68


__ADS_3

"Raya dari mana kamu?" tanya Bu Santi


"Ray, kami cemas memikirkan kamu! Ponsel kamu tidak bisa di hubungi, orang kantor juga bilang seharian kamu tidak ada di kantor," cerca Mita.


"Ray, capek. Tolong jangan buat Ray semakin stress dengan pertanyaan kalian. Ray mau istirahat," ucap Ray kesal.


Seharian Ray berusaha mencari kabar tantang Bela dan Raynan tapi Ray tidak mendapatkan hasil apa-apa.


"Ray, tunggu! Mami mau bicara," ucap Bu Santi menghentikan langkah Ray.


"Ada apa lagi Mi?" Ray menghentikan langkahnya.


"Sekarang kita harus membicarakanmu masalah pernikahan kamu dan Mita, Mami tidak mau masalah ini kamu tunda lagi,"


"Siapa yang menunda, Mi? Dari awal apakah Ray pernah menjanjikan akan menikahi Mita? Ray tidak pernah mengatakan akan menikah dengan Mita."ucap Ray.


"Maaf Mita, tapi aku tidak mungkin menikah dengan kamu. Aku sudah memiliki seorang anak, sejak awal aku sudah mengatakan jangan berharap apa-apa dari aku, Karena aku hanya mencintai Bela," ucap Ray lagi.


"Ray, cukup! Jangan sakiti Mita. Dia sudah menunggu kamu lima tahun, apa itu belum cukup untuk membuktikan kalau Mita ini wanita yang pantas untuk kamu," ujar Bu Santi.


"Tolong Mi, biarkan Ray menentukan jalan hidup Ray, ijinkan Ray untuk bahagia bersama dengan wanita yang Ray Ray cintai dan juga anak Ray. Biarkan Ray menjalani hidup bahagia seperti orang lain, Ray selalu menjadi anak yang patuh, Ray korbankan kebahagiaan Ray demi menuruti apa yang menjadi keinginan Mami, tapi sekarang Ray punya anak yang berhak mendapatkan cinta dari kedua orang tuanya," untuk Ray yang tak mampu lagi menahan air matanya.


"Ray," gumam Bu Santi tertegun melihat Ray menangis di depannya.


"Ja-jadi maksud kamu, Mami yang membuat hidup kamu tidak bahagia? itu maksud perkataan kamu, Ray?" tanya Bu Santi tak percaya.


"Astaghfirullah," gumam Ray beristiqhfar dan mengusap wajahnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Bu Santi, Ray berlalu ke kamar.


"Apa mungkin, Bela membawa Raynan kembali ke desa? tapi dengan keadaan Raynan seperti itu, Apa Bela tega mengajak Raynan pulang ke desa yang begitu jauh?" gumam Ray.


***


"Tante Santi, Tante kenapa?" ucap Mita panik melihat Bu Santi yang akan terjatuh.

__ADS_1


"Antar tante ke kamar," ucap Bu Santi.


"Baik, Tante," jawab Mita memapah Bu Santi ke kamarnya.


Bu Santi merebahkan tubuhnya ke kasur.


"Tante tidak apa-apa kan?" tanya Mita.


"Tante tidak apa-apa," jawab Bu Santi memegang tangan Mita.


"Tente, Mita pamit pulang dulu. Kalau ada apa-apa, tante hubungi Mita," ucap Mita pamit.


"Iya, Hati-hati ya Mit, ini sudah malam,"


"Iya, tante. Assalamualaikum," ucap Mita mencium tangan Bu Santi.


"Walaikumsalam," jawab Bu Santi menatap punggung Bela hingga tak terlihat. saat ini Bu Santi menatap dengan pandangan bingung.


***


"Ada apa lagi?" tanya Ray membuka pintu dan Mita berdiri di depan pintu kamarnya.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Mita.


"Kita bicara di luar," ucap Ray berjalan lebih dulu ke luar dan Mita mengekori


"Mau bicara apa? katakan saja?" ucap Ray di halaman depan.


"Ray, apa kamu harus sekeras itu sama tante Santi? Maaf Ray bukan aku ikut campur tapi sepertinya tante Santi sedikit syok dengan kata-kata kamu barusan," ucap Mita.


"Aku juga tidak ingin berkata seperti itu, tapi Mami sendiri yang membuatku terpaksa berkata jujur, karena selama ini aku diam, Mami mengira aku baik-baik saja," jawab Ray.


"Ray, apa sedikitpun kamu tidak pernah melihatku? Apa begitu sulit mencintai aku?" tanya Mita.


"Dari awal aku sudah mengatakan, aku tidak mencintaimu kamu, sudah ada wanita yang nmberda di hatiku," ucap Ray.

__ADS_1


"Lima tahun, sudah lima tahun, kenapa kamu masih tidak bisa melupakan dia? Apa kurangnya aku, sehingga kamu tidak bisa membuka hati kamu untukku, Ray!?" cerca Mita.


"Kamu tidak kurang apa-apa, hanya saja aku tidak mencintai kamu," jawab Ray.


"Ray, tolong jangan seperti ini! Aku sudah lama menunggu kamu, apa yang harus aku katakan sama ayah?" ucap Mita dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku, tapi aku tidak pernah meminta kamu untuk menungguku, kamu juga tau kan? aku memiliki seorang putra," ucap Ray.


"A-aku bisa menerima anak kamu, aku bisa menyayangi anak kamu seperti anakku sendiri, tolong Ray, jangan membuat orang tua kita kecewa. Apalagi kamu tau kan, kondisi jantung ayah tidak begitu baik, ayah tidak akan bisa menerima kenyataan jika aku gagal menikah dengan kamu, berapa usiaku sekarang, Ray? aku sudah melewatkan masa mudaku untuk menunggu kamu," ucap Mita


"Kenapa aku harus berada dalam masalah yang kalian ciptakan ? aku tanya sama kamu, Mita? apa aku pernah mengatakan kalau aku mau menikah dengan kamu? aku tidak pernah mengatakan itu!" tegas Ray.


"Tapi Tante Santi mengatakan, kalau kamu pasti akan menikahi aku," jawab Mita.


"Mami kan, yang bilang? Aku tidak pernah bilang apa-apa sama kamu, bahkan aku berkali-kali mengatakan jangan berharap apa-apa sama aku," ucap Ray


"Sudah Ray, Jangan pojokan Mita. Ini mungkin memang salah Mami. Mami yang menyuruh Mita untuk menunggu kamu, Mami yang sudah terlalu banyak berharap dari kamu, Mami pikir, apa yang Mami lakukan itu yang terbaik untuk kamu, Mami tidak pernah menyangka kamu akan berpikir, seolah mami sengaja menyakiti kamu dengan kehendak Mami," Sahut Bu Santi meneteskan bulir-bulir kristal di pipinya.


"Tante.. tante kenapa ke sini? seharusnya tante istirahat saja. Tante lagi tidak enak badan," ucap Mita berjalan menghampiri Bu Santi.


Melihat Mami seperti itu memang menjadi kelemahan untuk seorang Rayhan. Karena itu Ray memutuskan untuk pergi tanpa sepatah katapun. Ray berjalan menuju mobil dan pergi membawa mobilnya tanpa berkata apapun.


"Ray..! Ray..! Panggil Bu Santi namun Ray suara di dalam mobil tak menghiraukan panggilan Mami nya. Air mata Bu Santi adalah kelemahan Ray, karena itu Ray lebih baik pergi karena tidak akan sanggup melihat Mami nya menangis dan memohon.


Di tengah kebingungan nya, Ray mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ray sudah tidak lagi bisa berpikir jernih, Kali ini dirinya merasa menjadi laki-laki yang tidak berguna, bahkan melindungi anak dan istri saja, Ray tidak mampu.


Hujan turun begitu lebat, hingga jarak pandang hampir tak terlihat oleh Ray, namun dalam keadaan kalut Ray tidak memperdulikan semua itu, tidak sedikitpun Ray mengurangi kecepatan mobilnya. Justru Ray terlihat semakin dalam menginjak gasnya.


BRAAK..!


Hantaman besar terjadi, Ray tidak bisa mengendalikan mobilnya yang saat ini menabrak pembatas jalan.


^Happy Reading^


Jangan lupa like, coment dan Vote ya. Terima kasih😘💕

__ADS_1


__ADS_2