Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 54


__ADS_3

Keesokan harinya, saat Riza mengajak Bela untuk bertemu dengan Ray, Bela menolak dengan berbagai alasan. Bela benar-benar belum siap untuk bertemu dengan Ray.


"Padahal aku sudah janji sama Pak Ray, kalau kita hari ini akan menemui beliau dan mengajaknya untuk melihat pabrik dan perkebunan." ucap Riza.


"Maaf, Riza. Tapi aku banar-benar tidak bisa. Kamu saja yang menemani Pak Ray, ada hal yang harus aku kerjakan," jawab Bela.


"Daddy, mau berteman dengan Om yang kemarin?" tanya Raynan.


"Iya sayang, Daddy hari ini mau menemani Om Ray, melihat perkebunan dan pabrik mommy." jawab Riza.


"Raynan boleh ikut tidak?" tanya Raynan penuh harap.


"Raynan, Daddy harus bekerja. Kamu di rumah dulu sama mommy, " sahut Bela.


"Tapi Raynan pengen bertemu dengan Om Ray, mom." rengek Raynan.


"Raynan, jangan mulai lagi ya. Daddy harus bekerja," ucap Bela.


"Mommy, gitu." gerutu Raynan kesal dan melipat kedua tangan di dada.


"Sudah Bel, biarkan Raynan ikut ke pabrik. Kan ada aku, aku akan menjaga Raynan dengan baik," ucap Riza.


"Tidak usah Za, jangan terlalu memanjakan Raynan!" ucap Bela.


"Wajarlah Bel, Raynan kan masih kecil. lagian ini juga bukan dalam rangka kerja, hanya menemani Pak Ray berkeliling saja, saya rasa Raynan tidak akan menggangu. Saya lihat Pak Ray juga sepertinya suka sama Raynan. Apalagi nama mereka sama, orang yang tidak tau akan menganggap mereka ayah dan anak," canda Riza


"Uhuk..! uhuk..!" Bela tersedak.


"Kenapa Bel? Hati-hati kalau lagi makan," ucap Riza memberikan segelas air.


Pak Bobby hanya diam memperhatikan. Pak Bobby tau persis apa yang saat ini sedang ada di dalam pikiran anaknya.


"Tidak, tidak, aku tidak apa-apa, hanya tersedak saja," jawab Bela.


"Kenapa, nama Raynan bisa sama dengan nama Om Ray?" tanya Raynan.


"Hahhaha... benarkah? kebetulan sekali ya, bisa ada nama yang hampir sama seperti itu? padahal dulu mommy dapat nama kamu juga, cuma nyari dari Google," ucap Bela bohong.


***


"Selamat pagi, Pak Ray." ucap Riza.


"Pagi, Hai.. jagoan," sapa Ray pada Raynan.


"Assalamu'alaikum, Om Ray." ucap Raynan menyalami Ray.


"Walaikumsalam, MasyaAlloh. Om jadi malu, ternyata anak kecil lebih pandai dari pada Om," ucap Ray tersendiri.


"Iya dong Om, kita kalau bertemu dengan sesama muslim wajib hukumnya untuk mengucapkan salam, karena mengucapkan salam itu, sama halnya mendoakan kebaikan," ucap Raynan


"Memang Raynan tau, apa artinya Assalamu'alaikum?" tanya Ray.


"Tau dong Om, Assalamu'alaikum artinya Semoga Keselamatan terlimpah untukmu. Kemudian dibalas dengan mengucapkan Wa'alaikumusalam yang artinya adalah Dan Semoga keselamatan terlimpah juga kepadamu/ kalian," jelas Raynan.


"MasyaAlloh, pintar sekali kamu. Memang yang ngajari semua itu siapa?" tanya Ray.


"Mommy yang mengajarkan," jawab Raynan.


"Sepertinya istri kamu, mengajari anak kalian dengan baik," ucap Ray dan Riza hanya tersenyum.


"Boleh tidak kalau aku gendong anak kamu?" tanya Ray.


"Ray, mau tidak di gendong, Om Ray?" tanya Riza.


"Mau. Raynan mau di gendong Om Ray." jawab Raynan tersebut dan mengangkat tangannya.


Ray berkeliling pabrik dengan menggendong Raynan.

__ADS_1


"Om, kalau capek. Turunkan Raynan saja. Raynan bisa kok berjalan sendiri. biasanya tiap pagi, mommy juga mengajak Raynan keliling perkebunan dan Raynan jalan kaki sendiri" ucap Raynan.


"Benarkah? kamu hebat sekali, padahal perkebunan begitu luas tapi kamu kuat jalan sendiri?" sahut Ray


"Kuat dong Om, tapi kalau capek. biasanya di gendong mommy juga hehe," ucap Raynan tertawa dan Raynan juga ikut tertawa.


"Za, jarak antara sini dan jakarta begitu jauh. Apa kamu tidak merindukan anak dan istri kamu? jika kamu berada di jakarta?" tanya Ray.


"Tentu saya Rindu, Pak. Tapi mau bagaimana lagi?" ucap Riza.


"Kenapa mereka tidak di ajak ke Jakarta saja?" Ray.


"Tidak Pak, ada banyak pertimbangan, Yang tidak memungkinkan untuk membawa mereka ke Jakarta," jawab Riza.


"Apa karena perkebunan ini?" tanya Ray.


"Salah satunya," jawab Riza.


"Pak Ray, saya perhatian sepertinya menyukai anak-anak, apa Pak Ray sudah menikah?" tanya Riza lagi.


"Iya, begitulah. Saya memang sangat menyukai anak-anak. Dulu saya pernah menikah. Tapi sekarang kami sudah berpisah," jawab Ray.


"Maafkan saya Pak Ray! Jika pertanyaan saya menyinggung Bapak," ucap Riza.


"Tidak apa-apa, kejadiannya juga sudah sangat lama," jawab Ray.


Tanpa disadari Raynan sudah terlelap dalam gendongan Ray.


"Sepertinya Raynan, juga sangat nyaman bersama dengan Pak Ray. Buktinya sampai tertidur begitu. Biar saya saja yang gendong Raynan, pak." ucap Riza.


"Biar saya saja, takutnya nanti malah kebangun. Kasihan kan kalau tidurnya terganggu," ucap Ray.


Raynan bisa merasakan ketulusan dan kehangatan dari Ray yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Meskipun mereka belum pernah ketemu sebelumnya, tapi ikatan batin mereka sangat lah kuat, mungkin ini yang dinamakan Darah lebih kental dari pada air.


"Besok saya akan kembali ke Jakarta, Terima kasih atas sambutan dan juga jamuan Pak Riza selama saya ada di sini," ucap Ray.


"Jujur saja, tempat ini sangat bagus dan saya betah di sini, hanya saja. Saya tidak mungkin meninggalkan kantor terlalu lama," Jawa Ray.


Sesampainya di mobil, Riza membuka pintu mobil dan Ray menidurkan Raynan di bangku belakang lalu menutup kembali pintu mobil Riza.


"Bapak sekalian saya antar ke hotel?" ucap Riza.


"Tidak usah, Pak Riza duluan. Saya masih ingin melihat perkebunan di sini." jawab Ray.


"Baiklah, kalau begitu saya duluan ya Pak," ucap Riza.


"Iya, silahkan." Jawab Ray tersenyum.


Ray berjalan menikmati udara pegunungan yang sangat sejuk. udara yang jarang sekali bisa dia rasakan di perkotaan.


Dan tiba-tiba, bibirnya tersenyum. Mengingat tingkah menggemaskan Raynan. Anak yang baru saja di kenal namun mampu mencuri hatinya.


"Entah magnet apa yang di miliki anak itu, hingga dalam sekejap seakan mampu mengalihkan duniaku. Bahkan rasanya tidak ingin kembali karena enggan berpisah," pikir Ray.


Dari kejauhan Bela yang ternyata dari tadi mengintip dan mengamati Ray secara diam-diam tak kuasa menahan tangisnya. kerinduan yang selama ini di pendam dan membuat hatinya sakit, seolah terobati meski hanya melihat laki-laki yang dicintainya dari jauh.


"*Ternyata kamu sama sekali tidak berubah Ray, kamu masih sama seperti yang dulu. Maafkan aku yang pernah menyakitimu dan maafkan aku yang terpaksa memisahkan kamu dari Raynan. Walaupun kalian belum pernah bertemu sebelumya. Tapi dari caramu memperlakukan Raynan, aku tau kamu menyayangi Raynan,"


"Ikatan antara kalian sangat kuat, tapi lebih baik kalian tidak saling mengetahui satu sama lain. Aku lakukan ini semua demi kebaikan kita semua." gumam Bela.


***


"Berarti selama ini kamu bekerjasama dengan perusahaan Pak Ray?" tanya Bela.


"Iya, Sudah lima tahun perusahaan saya bekerjasama dengan perusahaan Pak Ray," jawab Riza.


"Sudah cukup lama berarti kalian bekerjasama, Seperti apa Pak Ray itu?" tanya Bela.

__ADS_1


"Baik, Cukup baik menurutku. Selama bekerjasama dengan Pak Ray, semua lancar tidak ada kendala," jawab Riza.


"Apa, dia juga sudah me_" ucap Bela terputus.


"Mommy.. mommy..!" teriak Ray berlari menghampiri.


"Ada apa sayang? kenapa teriak-teriak?" tanya Bela pada Raynan.


"Om Ray di mana? tadi Raynan di gendong Om Ray, kenapa sekarang Raynan ada di rumah?" tanya Raynan yang menyadari kalau dirinya sudah di rumah.


"Tadi Raynan kan bobok, sekarang Om Ray ada di hotel persiapan, karena besok pagi Om Ray harus kembali ke Jakarta," sahut RizaRiza.


"Ja-jadi, besok dia balik ke Jakarta?" timpal Bela.


"Iya, besok Pak Ray balik jakarta." jawab Riza.


"Berarti, Raynan udah gak bisa di gendong Om Ray lagi dong," ucap Raynan sedih.


"Raynan suka sekali sepertinya sama Om Ray? Daddy punya saingan nih sepertinya," goda Riza.


"Daddy tetep yang pertama dong," ucap Raynan tersendiri.


"Kalau gitu, sini peluk daddy," ucap Riza dan Raynan turun dari pangkuan Bela untuk memeluk Riza.


"Raynan sayang, Raynan masuk dulu dan minum susunya, sudah mommy siapkan di meja makan ya sayang," ucap Bela.


"Oke, mom!" jawab Raynan dan segera masuk rumah.


"Za, ada yang mau aku bicarakan sama kamu," ucap Bela.


"Mau bicara apa? Kok aku jadi deg.. degkan gini, sepertinya serius sekali," canda Riza.


"Apa yang akan aku bicarkan ini, memang serius Za," ucap Bela.


"Iya, iya. Memang mau bicara apa sih? Yang penting jangan bicarakan soal kamu yang selalu menyuruhku untuk menikah saja," ucap Riza, yang sudah paham setiap Bela bicara serius pasti menyuruhnya menikah.


"Tapi kamu memang harus menikah Za, jangan korbankan kehidupan pribadi kamu untuk kami," ucap Bela.


"Siapa yang berkorban Bela? Aku tidak merasa berkorban apa-apa untuk kalian dan aku tidak akan menikah sebelum Raynan mendapatkan Daddy baru untuk nya. Aku tidak ingin menghancurkan hati Raynan. Aku sudah berjanji sama Ibu, kalau aku akan menjaga kalian semua." ucap Riza


Sebelum Mbok Marni meninggal 3 tahun yang lalu, Mbok memang sempat berpesan pada Riza untuk selalu menjaga Bela, Pak Bobby dan Raynan.


Jasa keluarga Bela untuk Mbok dan juga Riza begitu besar, Simbok adalah seorang janda yang memiliki satu anak yaitu Riza, sejak kecil Riza sudah tidak merasakan kasih sayang seorang ayah karena sejak usia satu tahun, ayahnya meninggal. Simbok yang harus berurusan dengan rentenir untuk membiayai pengobatan suaminya terpaksa menggadaikan rumahnya pada rentenir.


Hingga satu bulan setelah kepergian suaminya, Simbok tidak sanggup untuk menebus rumah itu kembali, dengan berat hati simbok meninggalkan rumah yang selama ini di tempati dengan suami dan anaknya.


Hidup di jalanan bersama dengan Riza yang saat itu baru berusia satu tahun, beruntung simbok bertemu dengan Nenek Bela dan mengajak mereka untuk tinggal bersama, bahkan Mami nya Bela juga menyayangi Riza seperti adiknya sendiri. Hingga Riza bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang baik itu semua karena bantuan dari nenek dan Mami nya Bela.


Karena itu, Saat kembali ke desa dan mengetahui kondisi Bela yang harus melahirkan tanpa di dampingi suami, Riza berusaha untuk ada dan hadir untuk Raynan. Riza tidak ingin Raynan merasakan bagaimana tumbuh besar tanpa sosok seorang ayah.


"Aku tau, kamu sangat baik Za. Tapi kamu tau kan, aku ini tidak akan menikah lagi. Jika kamu bilang akan menikah setelah Raynan punya daddy baru, itu jelas tidak mungkin, karena aku tidak akan bisa membuka hatiku untuk orang lain," ucap Bela.


"Kalau begitu, aku juga tidak akan menikah. entah sampai kapan? mungkin sampai Raynan bisa menerima kenyataan kalau aku bukan daddy yang sbenernya. Karena Raynan pasti akan sangat bingung jika aku menikah dengan orang lain," jawab Riza.


"Riza, tolong jangan seperti ini, jika kamu seperti ini. Aku akan selalu menjadi orang yang jahat. karena aku, kamu harus mengorbankan kebahagianmu," ucap Bela.


"Aku tidak merasa berkorban dan aku bahagia menjaga daddy untuk Raynan, meskipun mommy tidak mau menikah dengan ku," ucap Riza tersenyum.


"Jangan mulai lagi Riza," ucap Bela.


"Iya, iya. Aku hanya becanda kok. Jangan di anggap serius." jawab Riza.


Riza sejak awal sudah tau masalah apa yang terjadi antara Bela dan juga suaminya. jadi Riza memang tulus membantu Bela, bukan karena memiliki perasaan khusus untuk Bela.


Walaupun tidak bisa dipungkiri perasaan kagum sempat terlintas di benaknya. Hanya saja, sejak awal Bela sudah membatasi diri dan sering mengingat Riza, kalau Bela tidak akan menikah lagi.


. ^Happy Reading^

__ADS_1


Jangan lupa, like, coment dan. Vote ya. dukungan kalian sangat berarti untuk Thor 🙏Terima kasih🥰


__ADS_2