Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 61


__ADS_3

"Lalu anak kecil itu sebenarnya siapa? kenapa kamu sampai nekat datang ke sana padahal lagi sakit?" tanya Danu penasaran.


"Anakku, Raynan namanya," Jawab Ray tersenyum.


"Anak kamu? anak gimana maksudnya? Apa kamu adopsi anak? kenapa gak bilang sama kita?


Tapi sepertinya Mami kamu juga tidak tau ya, kalau kamu adopsi anak?" cerca Danu


"Memang siapa yang bilang aku adopsi anak? aku tidak adopsi anak," jawab Ray santai dan sedikit tersenyum seneng.


"Kalau bukan adopsi lalu anak siapa, yang kamu akui sebagai anak kamu?" tanya Danu.


"Di minum dulu kopinya mas Ray," potong Aisyah meletakkan sedangkan kopi di meja depan Ray.


"Terima kasih, Aisyah," ucap Ray.


"Kamu belum jawab, anak siapa yang kamu akui sebagai anak kamu tadi?" tanya Danu penasaran.


"Anak aku sendiri, memang anak siapa yang mau aku akui, kalau bukan anakku sendiri," jawab Ray berbelit.


"Okey, Okey. Paling pintar memang bercandanya." timpal Danu.


"Aku serius Dan, kamu juga tidak percaya Aisyah kalau aku ini serius sudah punya anak?" tanya Ray pada Danu dan Aisyah


Aisyah hanya tersenyum dan duduk di samping Danu lalu saling pandang dan tersenyum.


"Kalian pasti berpikir aku ini tidak waras, tapi ini benar. aku tidak sedang bercanda, aku ini sudah punya anak namanya Raynan," ujar Ray.


"Huubb.. " Danu mengatupkan bibirnya menahan tawa.


"Kalau mau ketewa, ya ketawa aja Dan! tidak usah ditahan." ucap Ray.


"Sorry, Sorry. Tadi kamu bilang punya anak namanya Raynan? Astaghfirullah hal adzim, kamu tidak berbuat dosa kan? kamu tidak punya anak di luar nikah kan?" cerca Danu memegang dadanya.


"Astaghfirullah, bagaimana bisa kamu berpikir sejauh itu! Aku ini masih takut dosa tau, aku juga takut masuk neraka." timpal Ray menepuk tangan Danu.


"Terus gimana ceritanya, Mas Ray punya anak?" sahut Aisyah yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan kaum adam.

__ADS_1


"Raynan itu anakku dan Bela. ternyata selama ini, aku mempunyai anak dari Bela yang tidak pernah aku ketahui. Menurut Bela, saat dirinya pergi dari rumah dia juga tidak menyadari kalau saat itu dia hamil." jelas Ray.


"MasyaAlloh, Jadi selama ini Mbak Bela melahirkan dan membesarkan anak itu sendiri?" sahut Aisyah membulatkan mata dan menutup mulut dengan tangan kanannya lantaran seakan tidak percaya.


"Iya, itulah yang aku sesali. Bela sama sekali tidak memberitahu aku, tentang keberadaan anak itu. bahkan sekarang dia sudah besar usianya empat tahun, mungkin jika tidak pernah terjadi musibah yang saat ini di alami Raynan, aku tidak akan pernah tau kalau aku punya anak," jelas Ray.


"Memang Raynan kenapa, Mas? tanya Aisyah.


"Raynan jatuh dari tangga, kamu tau kan Dan, golongan darahku ini lumayan sulit untuk di cari. jadi saat Raynan harus operasi dan membutuhkan darah dariku, barulah Bela memberitahu aku tentang adanya Raynan." ujar Ray.


"Astaghfirullah, Tapi sekarang Raynan baik-baik saja kan?" tanya Danu.


"Alhamdulillah sekarang keadaannya stabil meskipun sampai saat ini belum sadarkan diri." jawab Ray.


"Kamu pasti syok banget mengetahui tentang keberadaan Raynan, yang selama ini tidak pernah kamu tau," ucap Danu.


"Sebenarnya beberapa waktu yang lalu aku sudah pernah bertemu dengan Raynan, jujur saja sejak pertama kali bertemu, kami ini bisa langsung dekat dan ada sesuatu yang beda yang aku rasakan pada Raynan. Tapi saat itu aku tidak mengerti rasa apa itu dan sekarang aku baru mengerti, rasa apa yang saat itu aku rasakan," jelas Ray.


"Sudah pernah bertemu? memang di mana kamu pernah bertemu dengan Raynan?" tanya Danu.


"Jadi begini ceritanya, beberapa hari yang lalu aku ke kota S untuk merayakan keberhasilan produk kopi dan teh. yang selama lima tahun ini berhasil terjual dan menjadi produk terlaris di pasaran. Di sana aku bertemu anak kecil, yang entah kenapa seperti punya pesona tersendiri seolah bisa menghipnotis aku, anehnya dia juga memiliki nama yang nyaris sama denganku. tidak disangka dia adalah anakku," jelas Ray.


"Berarti selama ini Bela ada di kota S?" tanya Danu.


"Iya, Jadi ternyata selama ini Bela ada di Kota S, dan yang lebih membuat aku syok, ternyata selama ini Pak Riza, mitra kerjaku yang sudah lima tahun bekerja sama dengan perusahaan ku adalah suaminya Bela," ucap Ray.


"Suami Bela? jadi Bela sudah menikah?" Aisyah tercengang.


"Iya, Bela sedah menikah. Dan yang membuat aku sedih, ketika aku mengingat Raynan memanggil Riza dengan sebutan Daddy. Padahal seharusnya aku yang di panggil Deddy," ujar Ray sedih.


"Kamu yang sabar, Ray. Yang terpenting sekarang kamu sudah tau, kalau kamu sudah punya seorang anak," ucap Danu.


"Kamu memang benar Dan, tapi tidak bisa dipungkiri. Kalau aku belum bisa mengikhlaskan Bela dengan laki-laki lain, apalagi harus menerima kenyataan anakku justru menganggap orang lain sebagai ayahnya. Seolah aku ini laki-laki yang tidak bertanggung jawab." ujar Ray.


"Ini bukan kesalahan kamu, kamu tidak perlu merasa bersalah. Kamu bukan tidak bertanggung jawab, tapi kamu memang tidak mengetahui keberadaan Bela selama ini, jadi lebih baik sekarang, kalian fokus pada kesembuhan Raynan." ucap Danu.


"Besok, InsyaAlloh kami akan menjenguk Raynan ke rumah sakit," sahut Aisyah.

__ADS_1


"Terima kasih, kalian begitu baik. Kalau tidak ada kalian, entah aku ini akan jadinya seperti apa?" ucap Ray.


"Jangan berkata seperti itu, kita ini saudara. Harus saling ada di saat saudara kita sedang kehilangan arah," ucap Danu menepuk bahu Ray menenangkan.


Danu dan Aisyah paham seperti apa perasaan Ray saat ini, lima tahun menunggu. Tapi ternyata harus mengetahui kenyataan kalau wanita yang di tunggu sudah memiliki laki-laki lain dalam hidup nya.


"Assalamualaikum, Om Ray." sapa Alka duduk disamping Ray dan mencium tangannya.


"Walaikumsalam, jagoan Om. dari mana ini?" tanya Ray.


"Biasa Om, habis main bola." jawab Alka yang kini sudah besar.


"Pasti belum mandi kan? pantesan bau asem," goda Ray.


"Alka kangen banget lho, sama Om Ray," ucap Alka memeluk Ray.


"Wah.. ini sih bukan Kangen, tapi sengaja biar Om juga bau asem." gerutu Ray tertawa mengacak-acak rambut Ray.


"Hahaha.. " semua tertawa.


"Alka, sudah sana mandi. Persiapan sholat maghrib." ucap Aisyah.


"Iya Ma, tapi Om Ray tidak pulang kan? Om Ray masih di sini kan?" cerca Alka.


"Tu Ray, Alka tidak mengijinkan kamu pulang, makaan malam di sini saja, malam in," ucap Danu


"Baiklah, lagian aku juga males makan di rumah," jawab Ray.


"Yes, Om Ray makan malam di sini. Alka bisa lebih lama mainnya sama Om Ray." ucap Alka senang.


"Seneng banget, kamu Al," ucap Danu.


"Jelas dong Pah, hehehe.." jawab Alka.


"Kenapa tadi Om tidak bilang kalau main ke sini? coba bilang, tadi Alka mending di rumah saja," ucap Alka.


"Alka, kamu ini sekarang bukan anak kecil lagi lho, tapi kenapa kalau sama Om Ray, masih saja manja." ucap Danu.

__ADS_1


Alka dan semunya tertawa.


^Happy Reading^


__ADS_2