
Setelah Ray, berangkat bekerja. Bela memikirkan semua perkataan Bu Santi, Bela mengerti dengan jelas. Apa yang dilakukan Bu Santi memang tidak lah salah, Dirinya memang bersalah.
Bela menjalankan kursi rodanya, menuju kamar Bu Santi. Bela melihat Bu Santi sedang duduk di tepi ranjang dan menangis seraya memegang foto Pak Yudha.
"Pi, maafkan Mami. Seandainya dulu Mami tidak memaksa Ray untuk menikah dengan Bela dan seandainya dulu, Mami mendengarkan kata-kata Papi, mungkin saat ini. Papi masih ada di sini. Maafkan Mami, Pi. Sekarang Bela sudah berubah menjadi orang baik, anak kita Ray. Juga sepertinya sudah bahagia dengan Bela. Mami pun sudah memaafkan Bela, hanya saja begitu sulit bagi Mami untuk melihat Bela, Pi. setiap melihat Bela bayangan saat Papi pergi seakan muncul kembali," ucap Bu Santi terisak dan memeluk foto Pak Yudha dengan erat.
Bela yang awalnya ingin masuk dan berbicara dengan Bu Santi mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke dalam kamarnya.
Bela mengambil ponselnya dan menghubungi Pak Bobby.
"Assalamu'alaikum, Pi." ucap Bela.
"Walaikumsalam, ada apa Bel?" tanya Pak Bobby.
"Papi, apa Papi mau membawa Bela pergi jauh?" ucap Bela menahan tangis.
"Pergi jauh? maksud kamu apa, sayang?" Pak Bobby tak mengerti dengan permintaan Bela, karena selama ini Pak Bobby mengira Bela sudah bahagia hidup bersama Ray.
"Pi, Bela. Ingin pergi jauh, sangat jauh. Hingga tidak ada satupun yang bisa menemukan Bela," ucap Bela.
"Kamu kenapa? Apa mereka memperlakukan kamu tidak Baik?"
"Tidak Pi, mereka sangat baik. Bahkan mereka teralu baik. Bela tidak pantas mendapatkan semua kebaikan ini. Bela ingin pergi jauh, memulai semua dari awal hanya dengan Papi." ucap Bela.
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan ini?" tanya Pak Bobby.
"Bela yakin pi, Bela mohon jemput Bela Pi,"
"Baiklah, Papi ke sana sekarang,"
"Pi, jangan masuk ke rumah, jika Papi sudah sampai depan, Papi telpon saja, nanti Bela yang akan keluar," ucap Bela.
"Iya, baiklah. Assalamu'alaikum," Pak Bobby menutup telpon.
"Walaikumsalam," jawab Bela menatap layar ponselnya.
Bela mengambil secarik kertas dan menulis pesan untuk Ray, Bela tidak ingin Ray kebingungan karena kepergiannya.
***
Setelah Pak Bobby sampai di depan rumah, Bela menjalankan kursi rodanya ke depan dan tidak membawa apa-apa, karena tidak ingin orang rumah mengetahui kalau dirinya akan pergi.
"Mbak Bela mau kemana?" tanya Mita saat melihat Bela akan keluar.
"Hanya mau menghirup udara di luar, bosan di kamar terus," jawab Bela.
"Tapi, ini sudah waktunya Mbak Bela, untuk minum obat," ucap Mita.
"Ya, sudah. Tolong siapakan obatnya dan nanti tolong bawa ke luar, saya lagi ingin di luar dan tolong sekalian bawakan saya buah apel yang sudah di kupas," ucap Bela yang sengaja membuat Mita berlama-lama di dapur.
"Baik, Mbak." jawab Mita tanpa curiga.
Bela segera menjalankan kursi rodanya ke depan setelah Mita pergi ke dapur.
"Pak Teguh..!" panggil Bela pada security rumah Ray.
"Iya, non Bela." Jawab security mendekat.
"Pak, apa saya bisa minta tolong?" tanya Bela.
"Tolong apa bu?" tanya Pak Teguh.
"Tolong belikan saya minyak angin di apotek. Depan pertigaan, mau minta tolong rumah sibuk semua," ucap Bela mencoba mengelabui.
"Baik, Non Bela." ucap Pak Teguh yang tidak memiliki kecurigaan apa-apa dan langsung pergi ketika di beri perintah.
Setelah merasa aman, Bela kembali menjalankan kursi rodanya ke depan dan Pak Bobby yang melihat segera turun dari mobil dan membantu Bela untuk membuka gerbang.
Pak Bobby segera membantu Bela masuk ke dalam mobil dan memasukkan kursi rodanya ke bagasi.
***
__ADS_1
"Menyusahkan banget sih tu orang," gumam Mita lirih seraya mengupas apel.
"Ada apa, Mbak Mita?" tanya Bik Siti.
"Ah, iya. Tidak Bik, tidak ada apa-apa," jawab Mita gugup.
"Mbak, boleh bibik tanya?" Bik Siti melihat Mita.
"Ada apa bik? mau tanya apa?" jawab Mita.
"Apa Mbak Mita menyukai Den Ray?" ucap Bik Siti.
"Kenapa bertanya seperti itu Bik? Jangan asal menuduh ya bik!" ucap Bela gugup.
"Bibik hanya ingin memastikan saja, jika tidak. Alhamdulillah, tapi jika benar kecurigaan Bibi. Sebaiknya segera hilangkan perasaan itu. Jangan menjadi duri dalam rumah tangga orang." ucap Bik Siti.
"Siapa Bik Siti berkata seperti itu? Kenapa saya harus meminta persetujuan dari Bibik untuk menyukai seseorang," jawab Mita.
"Astaghfirullah, Mbak Bela ini perempuan. Jangan menyakiti hati perempuan lain!"
"Bik, bukankah bibik sendiri yang bilang, jika Mbak Bela itu pernah menyakiti Ray dan pergi bertahun-tahun meninggal Ray? bahkan tante Santi juga bilang kalau Mbak Bela menghianati Ray dengan laki-laki lain, lalu apa saya salah? jika saya ingin membahagiakan Ray? Ray terlalu baik untuk wanita seperti Mbak Bela." ucap Mita.
"Tapi sekarang, Mbak Bela sudah berubah dan saat ini tuan muda sangat bahagia dengan perubahan Non Bela. Jadi kamu jangan mengganggu kebahagiaan merek," ucap Bik Siti.
"Tapi saya yakin, Mbak Bela berubah hanya karena kondisinya saja. Lebih tepatnya, hanya memanfaatkan kebaikan Ray." ucap Bela berlalu dan membawa nampan yang berisi buah apel, air dan obat untuk Bela.
"Astaghfirullah," Bik Siti mengelus dadanya.
Sesampainya di depan, Mita celingak clinguk mencari keberadaan Bela, namun tak melihat keberadaan yang dicarinya.
"Mbak Mita, Mbak Bela nya di mana?" tanya Pak Teguh.
"Justru saya mau bertanya sama pak Teguh, Mbak Bela ada di mana?" ucap Mita.
"Saya tidak tau Mbak, saya kan baru datang," jawab Pak Teguh.
"Memang Pak Teguh dari mana?" tanya Mita.
"Kalau bagitu, di mana Mbak Bela? tadi bilangnya cuma ingin menghirup udara di luar," gumam Mita.
"Ya sudah, Pak. Ayo kita cari dulu, Pak Teguh cari di luar, saya akan cari di dalam." ucap Mita.
"Baik, Mbak," jawab Pak Teguh mulai mencari.
"Mbak Bela..! Mbak Bela..!" panggil Mita.
Mendengar Mita memanggil-manggil Bela, Bu Santi dan Bik Siti keluar.
"Ada apa Mit? kenapa teriak-teriak?" tanya Bu Santi.
"Ini, Tante. Mbak Bela gak tau kemana. Tadi minta di siapkan obat dan di kupaskan buah apel. Suruh antar keluar, tapi saya cari-cari di laut tidak ada," jawab Mita.
"Paling juga di kamar, Dia kan memang sukanya menyusahkan orang," jawab Bu Santi Santai.
"Tidak tante, sudah Mita cari di kamar tapi tidak ada," jawab Mita.
"Maaf, Mbak Mita. Sudah saya cari ke seluruh halaman dan taman belakang, tapi Mbak Bela tidak ada juga," ujar Pak Teguh dengan nafas yang memburu.
"Bisa pergi kemana memangnya wanita itu?" gumam Bu Santi.
"Kalian yakin, sudah memastikan mencari ke seluruh ruang di rumah ini?" tanya Bu Santi.
Walaupun Bu Santi selalu ketus dengan Bela, namun mendengar Bela menghilang hatinya pun merasa gelisah.
"Sudah Nyonya, sudah saya cari ke setiap sudut rumah ini, tapi saya tidak menemukan Mbak Bela," ucap Pak Teguh.
"Apa kita perlu menghubungi Tuan Muda, Nyonya?" tanya Pak Teguh.
"Biar saya saja yang menghubungi Kalian lanjut mencari lagi," ucap Bu Santi.
Bu Santi membuka ponsel, menscroll ponselnya dan menekan tombol panggil pada kontak yang di simpan dengan nama "Ray anakku"
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mi." ucap Ray mengangkat panggilan masuk dari Bu Santi.
"Walaikumsalam, Ray. Ini Ray, Bela.. Bela..!" ucap Bu Santi gugup.
"Bela? Ada apa dengan Bela Mi?" Ray panik.
"Bela, tidak ada di rumah." Ucap Bu Santi.
"Bela tidak di rumah? memang Bela kemana Mi?"
"Kalau Mami tau, Mami tidak akan menghubungi kamu Ray," ucap Bu Santi.
"Ya, sudah. Tunggu Ray akan segera pulang!" ucap Ray menutup telpon dan berlari.
Ray mengemudi dengan kecepatan tinggi, mengurai padatnya lalu lintas saat siang hari Seraya terus mencoba menghubungi Bela, namun ponselnya sudah tidak aktif, melihat ponsel Bela tidak aktif, Ray semakin cemas dan terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan istrinya.
***
"Bagaimana, apa Bela sudah di temukan?" tanya Ray saat sampai di rumah.
"Belum, Ray." jawab Bu Santi.
"Kenapa begitu banyak orang di rumah, tidak ada yang mengetahui kalau Bela pergi?" ucap Ray dengan nada tinggi.
"Ma-maaf, Tuan muda. Tadi Mbak Bela menyuruh Bapak untuk membeli minyak angin di apotek yang ada di depan pertigaan. Mbak Bela bilang, kalau semua orang sedang sibuk, jadi Mbak Bela minta tolong sama saya." jelas Pak Teguh.
"Tadi waktu saya minta Mbak Bela untuk minum obat, Mbak Bela bilang kalau ingin minum obatnya di luar dan meminta saya untuk mengupaskan buah apel. Waktu saya mau antarkan buah apel dan obatnya ke luar ternyata, Mbak Bela sudah tidak ada di sana," sahut Bela.
"Apa seluruh rumah yakin sudah dicari?" tanya Ray masih berusaha tenang.
"Sudah Tuan," jawab Pak Teguh.
"CCTV, apa sudah dilihat?" tanya Ray.
"Belum Tuan," jawab Pak Teguh, yang sempat melupakan tentang CCTV lantaran bingung.
"Kita ke pos, cek CCTV!" ucap Ray berlari menuju pos satpam untuk melihat rekaman CCTV.
"Itu Mbak Bela, dan Itu.. " ucap Pak Teguh.
"Papi..? Bela pergi sama Papi? biar saya hubungi Papi! " ucap Ray.
Bu Santi menghela nafas lega, ketika mengetahui kalau Bela pergi bersama Papi nya. setidaknya tidak terjadi apa-apa dengan Bela.
"Kenapa Papi juga tidak aktif, nomernya," gumam Ray cemas.
"Bagaimana Ray?" tanya Mita.
"Papi, ponselnya juga tidak aktif. Ya sudah, kalian masuk saja, mungkin Bela sedang ingin bersama Papi nya. Nanti pasti juga akan kembali?" ucap Ray sedikit tenang. tidak ada pikiran, kalau Bela pergi meninggalkan dirinya, karena saat tadi Ray berangkat ke kantor. Semaunya terlihat baik-baik saja dan tidak ada gelagat kalau Bela akan meninggalkan dirinya.
Sampai saat ini Ray masih berpikir positif tentang istrinya.
"Tapi, kalau niat Mbak Bela, hanya ingin pergi keluar sebentar dengan Papi nya, kenapa sepertinya sengaja membuat saya dan Pak Teguh sibuk dan tidak melihat kepergian Mbak Bela? dari saya yang di suruh mengupas buah apel, lalu Pak Teguh diminta untuk membeli minyak angin, padahal di rumah sudah ada minyak angin." ucap Mita.
Mendengar penuturan Mita, Ray menjadi gelisah. Karena apa yang Mita katakan memang benar, untuk apa Bela harus sembunyi-sembunyi bertemu dengan Papi.
Ray segera berlari ke kamar dan membuka lemari. Melihat baju Bela masih tersimpan rapi di lemari dan barang-barangnya juga masih utuh di kamar, Ray menghela nafas lega dan kembali berpikir positif.
Ray yang merasakan badannya penat, ingin beristirahat dan melepaskan jam tangan yang sedang dipakainya dan memasukkan ke dalam laci kamarnya.
Ray yang hendak berbalik setelah meletakkan jam tangan di lacinya, mengurungkan niatnya dan kembali melihat ke dalam laci, di mana dia melihat secarik kertas yang sudah di bubuhi tulisan.
"[ Ray suamiku, tolong maafkan aku. Kali ini, aku tidak bisa menepati janjiku lagi. Aku tau seorang istri yang pergi meninggalkan rumah tanpa ijin dari suami akan di laknat Alloh, jujur aku juga tidak ingin pergi seperti ini Ray, tapi aku yakin. Jika aku ijin, kamu tidak akan pernah mengijinkan aku untuk pergi.
Ray terima kasih kamu sudah membuat aku, merasakan cinta yang sesungguhnya, cinta yang tidak pernah aku dapatkan selama ini. Bersama dengan kamu, aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini. Penyesalan dalam hidupku adalah ketika aku harus meninggalkan laki-laki sebaik kamu hanya demi harta yang nyatanya, tidak membuat aku bahagia.
Terima kasih, karena sudah mengenalkan aku pada Alloh, dari kamu aku tau bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap. Do'akan aku selalu istiqomah ya Ray. meskipun kita tak lagi bersama. Aku berharap kamu dan Mami bahagia. lupakan aku dan tolong ceraikan aku!"
Maafkan aku Ray. ]
^Happy Reading^
__ADS_1
Jangan lupa, like, coment dan Vote. dukungan kalian sangat berarti bagi thor🙏