Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 42


__ADS_3

Sepulang kerja, Ray langsung menuju ruang makan. Di sana sudah ada Bela yang menunggu kedatangan Ray.


"Assalamualaikum sayang," ucap Ray mencium kening Bela.


"Walaikumsalam," jawab Bela mencium tangan Ray.


"Wah, sepertinya enak makan malam kali ini. Mami mana? Kenapa belum turun? Tanya Ray melihat sekitar.


"Mami, Mami_" ucap Bela terputus saat tiba-tiba Bu Santi datang bersama Mita.


"Mami, itu kaki Mami kenapa? kenapa samapai melepuh gini? Dan kenapa sampe harus dipapah jalannya?" tanya Ray panik mendekati Bu Santi.


"Tanya Istri kamu yang selalu merepotkan itu," jawab Bu Santi menatap Bela.


"Bela? Apa hubungannya dengan Bela Mi?" tanya Ray tak mengerti.


"Ma-maaf, Ray." gumam Bela pasrah dengan keadaan dan tidak berani lagi untuk membela diri, karena Bela tau, mertuanya pasti akan tetap menyalahkan dirinya.


"Maaf? memang apa hubungannya dengan kamu Bel?" tanya Ray lagi.


"Istri tercinta kamu ini, menyiram kaki Mami dengan teh panas, sampai seperti ini" ucap Bu Santi seraya berjalan menuju kursi dan mendudukkan tubuhnya di kursi.


"Maksud Mami? tidak mungkin Bela melakukan itu semua kan Mi?" tanya Ray tak percaya dengan pernyataan Bu Santi.


"Coba, kamu tanya saja sama istri kamu. Kalau kamu tidak percaya sama Mami? Kamu pikir Mami bohong?" ucap Bu Santi kesal.


"A-apa benar, yang barusan Mami katakan Bel?" tanya Ray tak percaya.


Bela hanya diam tak menjawab.


"Bel, katakan? Apa yang Mami katakan tidak benar kan?" Ray bertanya kembali.

__ADS_1


"Mami benar Ray, Ta-tapi_" ucap Bela terputus.


"Ja-jadi benar, kamu yang menyiram Mami dengan teh panas? Bel, aku tau. Mami belum bisa memaafkan kamu tapi jangan seperti ini juga caranya Bel, bukankah aku sudah bilang, kamu sabar dulu, pelan-pelan Mami pasti bisa kok maafkan kamu dan Papi kok, tidak perlu dengan cara seperti ini," ucap Ray kesal.


"Ray, Aku, aku_" ucap Bela.


"Bukankah Mami sudah bilang sama kamu, istri kamu ini hanya akan merepotkan." Sahut Bu Santi.


"Apa ini sudah di obati Mi?" tanya Ray melihat kaki Bu Santi yang tampak merah.


"Tadi sudah aku kasih salep untuk luka barat Ray, tapi sebaiknya besok tetep di bawa ke dokter untuk memastikan kalau tidak akan meninggalkan bekas luka di kaki tante Santi," sahut Mita.


"Terima kasih ya Mit," ucap Ray.


Bela merasa tidak ada yang memperdulikan dirinya di sana, Bela menjalankan kursi rodanya dan kembali ke kamar, hatinya sakit. Karena Ray tidak memberi kesempatan kepada Bela untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


"Hiks.. hiks..." Bela menangis sesenggukan, hatinya terasa sakit dan nafasnya terasa sesak.


"Bela kemana?" tanya Ray, saat menyadari kalau Bela tidak ada di sana.


"Sudahlah, paling istri kamu hanya pura-pura marah, agar kamu menyusulnya. Bukankah Mami sudah bilang, kalau istri kamu tidak akan berubah. Serigala berbulu domba. Hanya berpura-pura baik untuk mendapatkan simpati kamu." ucap Bu Santi.


"Mi, Bela tidak seperti itu. Bela sudah berubah," jawab Ray.


"Berubah kamu bilang? Lihat kaki Mami! apa ini belum cukup menjadi bukti, bagaimana istri kamu itu? sekarang kaki Mami di siram teh Panas, besok apa lagi?" ucap Bu Santi kesal karena Ray membela Bela.


"Mita, apa kamu melihat kejadian yang sebenarnya?" tanya Ray.


"Maaf Ray, aku tidak melihat kejadiannya secara langsung, waktu aku samapai, kaki tante Santi, sudah melepuh seperti ini dan di sana memang ada Mbak Bela, " jawab Mita


"Dan yang aku dengar, memang Mbak Bela mengatakan maaf dan tidak sengaja menyiarkan teh panas ke kakinya Mami," tambahnya lagi.

__ADS_1


"Iya, Bela memang bilang tidak sengaja, tapi Mami yakin. Bela sengaja melakukan semua itu. Kamu bayangkan saja. Bela itu lumpuh, bagaimana bisa dia membawakan Mami teh, kalau memang tidak di sengaja untuk mencelakai Mami." ucap Bu Santi.


"Sebenernya tadi aku juga hampir percaya dengan penjelasan Mbak Bela, rasanya tidak mungkin Mbak Bela sengaja melakukan semua itu, tapi mengingat kondisi Mbak Bela. Sebenarnya agak aneh kalau Mbak Bela membuatkan teh panas untuk tante Santi. Maaf ya Ray, maaf banget, bukan maksud Mita ikut campur, hanya saja melihat luka di kaki tante Santi, sepertinya air nya begitu panas, " jelas Mita.


"Sudahlah Mit, percuma saja kita bilang apapun sama Ray, tentu saja Ray tidak akan percaya dengan kita. Ray itu sudah di butakan rayuan istri lumpuhnya itu," ucap Bu Santi.


Kini semuanya sedang makan, tanpa memperdulikan kalau Bela juga belum makan dari tadi siang.


Klek..!


Ray membuka pintu dan menutupnya kembali.


Sesampainya di kamar, Ray melihat Bela yang sudah tertidur. Padahal Ray ingin membicarakan banyak hal pada Bela tentang kejadian teh panas yang menyiram kaki Mami nya.


Meskipun, tadi Ray sempat terpancing emosi saat melihat kaki Mami nya yang terluka, tapi jauh di lubuk hatinya, Ray tidak percaya jika Bela mempu melukai Mami nya. Ray yakin Bela sudah berubah. Tapi di sisi lain, Ray kembali mengingat jika dulu Bela juga mampu menghancurkan bisnis kedua orang tuanya.


"Apa benar Bela belum berubah? Apa Bela melakukan semua ini karena sakit hati dengan ucapan Mami? Apa tadi pagi sewaktu Papi Bobby datang ke rumah, Mami menyinggung perasaan Bela, sampai Bela melakukan semua itu? Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan? kenapa aku bisa meragukanmu istriku seperti ini?" batin Ray, menatap arah Bela yang sedang tidur memunggunginya.


Ray merebahkan tubuhnya di samping Bela dan memejamkan matanya karena tidak ingin berpikir teralu jauh tentang istrinya.


Merasa Ray sudah tidur, Bela membuka matanya dan kembali meneteskan air matanya. Bahkan Ray tidak berusaha untuk menanyakan apakah dirinya sudah makan atau belum.


"Apa benar kamu tidak percaya padaku Ray? Apa benar kamu berpikir, kalau aku sengaja melukai Mami?" Batin Bela dan kini air matanya kembali membasahi bantalnya.


Keesokan harinya, Ray bangun lebih awal dan membangunkan Bela untuk sholat berjamaah. Jika Biasnya, Ray membangunkan dengan ciuman mesra. Tidak dengan pagi ini, karena pagi ini Ray membangunkan Bela hanya dengan menyentuh tangannya dan mengatakan jika sudah waktunya sholat subuh. Sama sekali tidak ada kemesraan.


Selepas sholat subuh, Ray yang biasnya mengajak Bela untuk jalan-jalan atau sekedar menghirup udara pagi bersama, pagi ini pun tidak. Karena Ray lebih memilih untuk berada di ruang kerjanya.


Keadaan ini sungguh membuat Bela sakit hati.


^Happy Reading^

__ADS_1


__ADS_2