Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 36


__ADS_3

Karena Mita terus saja membujuk Bela untuk datang ke perusahaan Ray, dengan alasan memberi Ray sebuah kejutan. Akhirnya Bela pun mengikuti apa yang Mita sarankan. Bela, sama sekali tidak ada pikiran negatif tentang Mita.


Sesampainya di perusahaan Ray, Mita mendorong kursi roda Bela menuju ruangan Ray.


Bela bertanya pada resepsionis apakah Ray ada di ruang kerjanya. Mengetahui Ray saat ini sedang ada di luar kantor, Bela berencana untuk segera pulang saja, Bela juga menyadari tidak seharusnya juga dirinya mengganggu Ray di saat jam kerja seperti ini.


"Mita, kita pulang saja!" ucap Bela.


"Apa tidak sebaiknya, kita menunggu Mas Ray Mbak? sudah sampai sini juga kan Mbak?" tanya Mita.


"Tidak perlu, kita pulang sebaiknya pulang saja!" ucap Bela.


Belum sempat menginggalkan kantor Ray, Bela harus mendengar bisik-bisik para karyawan tentang dirinya.


"Itu istri Pak Ray kan? Kenapa ada di atas kursi roda?" ucap karyawan.


"Kuwalat kali, meninggalkan suami bertahun-tahun. Tau rasa kan akhirnya menyia-nyiakan laki-laki sebaik Pak Ray."


"Igh.. Enggak tau malu banget ya. Giliran udah cacat aja, balik sama Pak Ray. Kemana aja waktu sehat?"


"Ya, pastilah balik sama Pak Ray! laki-laki baik mana yang mau menerima wanita cacat dan tidak tau diri. Kalau bukan Pak Ray,"


"Kasihan, Pak Ray," ucap para karyawan di depan Bela dengan pandangan sinis melihat Bela.


Bela yang sedari tadi diam, kini tak kuat lagi untuk menahan bulir-bulir bening yang kini menggenangi sudah matanya.


"Kalian ini apa-apaa? Kalian tidak tau, Bu Bela ini istri Pak Ray, berarti Bu Bela ini juga atasan kalian, jaga bicara kalian. Atau aku laporanin kalian semua sama Pak Ray!" ucap Mita dengan nada tinggi membela Bela yang hanya diam terisak.


Mita yang awalnya tidak ada keinginan untuk membela Bela, merubah pikirannya seketika. Lantaran dari kejauhan melihat sosok laki-laki yang merupakan mantan kekasihnya berjalan menuju lobi.

__ADS_1


"Ada apa ini? Apa yang kalian lakukan?" teriak Ray


Bela segera menggenggam tangan Ray dan menggelengkan kepala, sebagai isyarat kalau Ray tidak boleh marah-marah.


Semau karyawan yang tadi berbicara, terdiam dan menundukkan kepalanya seketika.


Ray, segera mendorong kursi roda Bela. Menuju ruang kerja Ray.


Di ruangan yang begitu luas ini, Ray membopong Bela dan mendudukkan Bela di sofa.


"Mit, kamu pulang saja dulu! Bela akan pulang bersama saya!" ucap Mita.


"Saya, menunggu Mbak Bela tidak apa-apa kok Mas! Saya yang salah dan membuat Mbak Bela jadi seperti ini. Kalau saja saya tidak menyarankan Mbak Bela untuk memberi kejutan untuk kamu dengan datang ke kantor, mungkin mereka tidak akan menyakiti Mbak Bela seperti ini. Maafkan saya Mbak Bela, tolong maafkan saya, " ucap Mita dengan wajah sedihnya.


"Kamu pulang saja Mit, ini bukan salah kamu." Bela berbicara seperti itu, karena dirinya menyadari sepenuhnya, apa yang orang katakan tentang dirinya memang benar.


Mita pun akhirnya menurut dan pulang lebih dulu.


"Jangan dengar apa yang tidak perlu kamu dengar, cukup kamu dengarkan aku. Karena aku suami kamu, aku yang merasakan bahagia atau tidak bersama kamu. Mereka semua hanya melihat dari apa yang mereka lihat, tapi aku suami kamu, aku tau kamu punya alasan tersendiri yang tidak perlu dunia tau," ucap Ray menengkan Bela.


"Ray, tapi semua yang mereka katakan benar. Aku hanya wanita yang tidak tau diri, saat sehat aku meninggalkan kamu tapi saat aku seperti ini, justru aku menjadi beban kamu, " ucap Bela menangis menatap mata Ray, penuh penyesalan.


"Tapi aku percaya, kamu adalah istri yang baik dan aku bahagia bersama kamu, " ucap Ray.


"Ray, kamu laki-laki yang baik. aku tidak pantas untuk kamu, " tangis Bela kembali pecah.


"Bela melupakan janji Bela?" tanya Ray menatap Bela.


Bela menatap Ray tak mengerti.

__ADS_1


"Bukanlah Bela sudah janji, kalau Bela tidak akan pernah mengatakan itu lagi, sudah ya! jangan pikirkan lagi, apa yang mereka katakan." ucap Ray tersenyum dan menyeka air mata Bela.


Bela merasa bersyukur, dipertemukan dengan laki-laki sebaik Ray, Laki-laki yang tidak pernah menuntut lebih dengan darinya.


Menerima segala kekurangan yang ada pada dirinya.


"Sekarang senyum, karena aku mau melihat senyum Indah, istriku." Ray selalu saja bisa membuat Bela kembali ceria. Tantu saja, itu semua karena ketulusan cinta yang Ray berikan untuk Bela.


"Sayang, kamu tunggu aku di sini sebentar ya! ada yang harus aku lakukan," ucap Ray setelah mencium kening Bela.


"Iya, Ray. Aku tunggu kamu di sini," jawab Bela.


Ray berjalan dengan menahan amarah dan menyuruh sekertarisnya untuk mengumpulkan semua karyawan yang terlibat dan ikut serta membully Bela! Saat tidak ada dirinya.


"Apa yang sudah kalian lakukan, terhadap istri saya? kalian siapa berani melakukan itu pada istri saya. Saya tidak akan memperkerjakan seseorang yang memiliki seperti itu, Bukan hanya karena Bela istri saya. Semisal itu terjadi pada orang lain, saya juga tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi di depan mata saya," ucap Ray pada karyawan yang tadi sudah membuat istrinya menangis.


"Kenapa sekarang semuanya diam? tadi saya perhatian kalian sangat pandai berbicara, kenapa sekarang tidak ada satupun yang mau berbicara. Siapa kalian menghakimi kesalahan orang lain?" ucap Ray dengan nada tinggi.


"Tapi kami tidak salah, kami mengatakan apa yang sebenarnya. Bu Bela, memang tidak pantas untuk Pak Ray. Pak Ray terlalu baik untuk wanita yang sudah meninggalkan suaminya selama bertahun-tahun." sahut Elma, salah satu karyawan yang ikut membully Bela.


"Siapa nama kamu?" tanya Ray menatap tajam ke arah Elma.


"Sa-saya Elma," jawabnya.


"Silahkan ke bagian Personalia, ambil pesangon kamu dan tinggalkan perusahaan ini. Mulai besok saya tidak mau melihat kamu berada di perusahaan saya lagi," ujar Ray dengan tatapan mata tajam.


"Ta-tapi Pak, ini tidak adil untuk saya! Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, bahkan bukan hanya saya yang mengatakan hal itu. Semua yang ada di sini juga ikut mengatakan itu," jelas Elma tidak terima.


Semua karyawan yang ada di sana menundukkan kepada dan tidak ada yang berani melihat Ray.

__ADS_1


"Peringatan untuk kalian semua, jika masih ingin bekerja di perusahaan ini. Berhenti bergosip, atau kalian akan merasakan hal yang sama seperti rekan kerja kalian Elma. Paham kalian!" sentak Ray melupakan semua amarah.


Elma merasa diperlakukan dengan tidak adil. Setelah menatap Ray dan rekan- rekannya, Elma menghentakkan satu kakinya dan meninggalkan perusahaan dengan penuh kebencian.


__ADS_2