
Melihat semua sedang bahagia, Bu Santi tersenyum memperhatikan senyum Ray, Bela, dan juga Raynan.
Dan tiba-tiba saja pandangan matanya menjadi gelap.
"Brukk..!!"
Tubuh Bu Santi tersungkur ke lantai.
"Mami.! Mami..!" Teriak Ray dan Bela.
"Nenek..!" tangais Raynan pecah melihat neneknya terjatuh dan tak sadarkan diri.
Semua tamu undangan panik melihat Bu Santi yang tersungkur ke lantai.
Di hari bahagia Ray dan Bela, kini Bu Santi berpulang kepada Alloh.
Namun sudah tidak ada lagi penyesalan di hati Bu Santi karena Ray dan Bela sudah kembali bersama.
***
"Ray, iklaskan kepergian Mami, InsyaAlloh ini yang terbaik untuk Mami. Sekarang Mami sudah tidak merasakan sakit lagi," ucap Bela.
"Iya, Bel. InsyaAlloh saya iklas melepaskan kepergian Mami," jawab Ray di depan pusaran Mami nya.
Semau teman-teman dan keluarga tampak mengantarkan kepergian Bu Santi ke pemakaman. Lantunan doa terus mengiringi kepergian Bu Santi.
"Mom, kenapa nenek di tinggal sendiri? Nanti kalau nenek kedinginan bagaimana?" tanya Raynan saat perjalanan pulang.
Bela dan Ray memeluk erat Raynan. dan tanpa di sadari air mata membasahi mata Ray dan Bela lagi saat mendengar perkataan Raynan.
"Sayang, nenek tidak akan kedinginan. Sekarang nenek sudah bahagia di surga Alloh," jelas Bela mencium kening Raynan.
Rumah terasa hening, saat tamu-tamu sudah meninggalkan kediaman Bu Santi. yang tersisa hanya para asisten rumah tangga dan juga sopir.
"Ray, Sebaliknya kamu makan dulu, aku tau kamu sedih. Tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan," ucap Bela.
"Raynan di mana?" tanya Ray.
"Raynan sudah tidur, tadi sempat rewel menanyakan neneknya. tapi setelah aku bujuk Alhamdulillah, akhirnya mengerti." jelas Bela.
"Wajar saja, sebenarnya sikap Raynan seperti itu, karena dia belum paham kondisinya dan juga, Raynan sangat senang ketika mengetahui kalau sekarang memiliki nenek, Raynan merasa keluarganya sekarang lengkap. Tapi tiba-tiba dia harus menerima kenyataan, kalau neneknya sudah pergi untuk selamat." ucap Bela lagi.
__ADS_1
"Kasihan Raynan," gumam Ray.
"Pelan-pelan Raynan pasti mengerti, Ray. Kita makan dulu. Ingat harus makan, jangan membuat Mami bersedih di sana. Karena yang Mami inginkan kita bahagia." ujar Bela dan Ray pun menurut. mereka makan berdua di meja makan. Ray menatap kursi yang biasanya di tempati Mami nya, mengingat masa-masa ketika Mami nya masih hidup.
Suasana terasa sunyi, hanya sesekali terdengar suara sendok dan garpu beradu.
Benar-benar tak ada percakapan. Bahkan sampai mereka masuk kembali ke kamar, mereka hanya saling diam. Bela yang mengetahui isi hati Ray, pun tak banyak bicara, Bela membiarkan suaminya untuk sejenak belajar mengikhlaskan Bu Santi.
Keesokan harinya mereka terbangun saat terdengar suara adzan subuh, Ray dan Bela serta Raynan sholat berjamaah, mereka juga mendoakan untuk almarhumah Bu Santi.
***
Satu minggu berlalu, Kini suasana rumah mulai terlihat hidup kembali. sudah tidak nampak kesedihan lagi, Ray juga sudah kembali beraktivitas kembali, Raynan juga sudah mulai kembali ceria. Begitu juga dengan Bela yang sudah mulai tersenyum kembali melihat orang-orang yang disayang sudah bisa melewati masa-masa sulit dalam hidup mereka. Terutama Ray.
Bela sadar pasti ini tidak mudah bagi Ray, Tapi Alhamdulillah Bela senang melihat Ray bisa mengikhlaskan kepergian Bu Santi.
"Sayang, mungkin nanti aku pulangnya sedikit malam. Sudah beberapa hari aku tidak ke kantor. pasti saat ini banyak pekerjaan yang sudah menanti untuk aku tanganni," ucap Ray di meja makan.
"Iya Ray," jawab Bela tersenyum.
"Bela, maaf ya kalau di pernikahan kita yang ke dua ini pun, aku tidak bisa membawa kamu untuk berbulan madu," ucap Ray menggenggam tangan Bela.
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku pun saat ini juga tidak berharap untuk pergi bulan madu. kita sedang dalam suasana berduka. Aku juga tidak mungkin untuk memikirkan bulan madu, Ray." jelas Bela.
"Iya, Ray. Jangan terlalu banyak berpikir!" ucap Bela.
***
Sementara di tempat lain, Riza yang mulai tertarik dengan Mita mulai melancarkan aksinya dengan sering mendatangi Mita.
"Hai.. cantik, Mau aku antar pulang?" ucap Riza yang tiba-tiba muncul di depan Mita ketika Mita baru keluar dari rumah sakit.
"Astaghfirullah. .! Bikin kaget saja kamu, kenapa pagi-pagi kamu sudah ada di sini?" tanya Mita heran.
"Kamu pikir mau ngapain aku sepagi ini datang ke sini kalau bukan untuk menjemput kamu," jawab Riza tersenyum.
"Iya, ngapain kamu jemput aku?" tanya Mita.
"Ya karena aku tau, kamu pasti capek kan semalam habis jaga. makanya aku mau jemput kamu, sekalian tolong temani aku sarapan ya," ucap Riza.
"Kamu ini gak punya kerjaan ya? pagi-pagi sudah gangguin orang? jadi pemuda yang bermanfaat dong, cari-cari pekerjaan kan bisa kalau gak ada pekerjaan, " ucap Mita yang tidak tau kalo Riza adalah CEO perusahaan yang tak kalah hebatnya dari Ray.
__ADS_1
"Iya nanti aku cari pekerjaan, tapi sekarang aku lapar, mau kan sarapan bareng aku?" tanya Riza menatap Mita.
"Ya, sudah. Kali ini saja ya!" ucap Mita ketus.
Ray membukakan pintu mobil untuk Mita.
"Sebenarnya Riza ini siapa sih? sepertinya dia cuma pengangguran tapi mobilnya mewah. Apa ini mobil di pinjemin Mbak Bela? dari yang aku tau, Riza ini kan anak asisten rumah tangga Mbak Bela di desa. Dan menggantungkan hidup pada keluarga Mbak Bela. Tapi kalau di lihat dari penampilannya, tidak terlihat seperti anak pembantu." batin Mita.
"Kenapa melihat aku seperti itu?" tanya Riza.
"Tidak kok siapa juga yang mandangi kamu? O, iya. Kapan kamu kembali ke Desa? betah banget di kota sepertinya?" tanya Mita.
"Kembali ke Desa? untuk apa aku kembali ke desa? Aku tidak akan pulang ke desa lagi sekarang, Ibu aku juga sudah meninggal, Mbak Bela dan Raynan juga sudah tidak di desa. Jadi tidak ada alasan untuk ku di desa lagi," jawab Riza.
"Lalu apa kamu di sini akan menyusahkan Mbak Bela terus?" tanya Mita.
"Menyusahkan? Memang kapan aku pernah menyusahkan Bela selama tinggal di sini?" tanya Riza mengerutkan dahinya.
"Apa kamu itu tidak pernah merasa malu menjadi beben orang lain? Kamu masih muda, kenapa gak nyari pekerjaan sendiri, atau kamu memang lebih suka menggantungkan hidup pada orang lain?" cerca Mita.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa menurut kamu, aku ini tipe orang yang suka menggantungkan diri pada orang lain?" tanya Riza.
"Kalau tidak terus apa?" ucap Mita.
"Eh.. itu ada bubur ayam, kita sarapan di sana saja," ucap Mita menunjuk sebuah warung bubur.
Riza memarkirkan mobilnya dan Mita segera keluar dari mobil lalu memesan dua porsi bubur ayam.
Setelah makan, Riza berdiri lebih dulu menuju kasir untuk membayar tapi tiba-tiba Mita lebih dulu memberikan uang pada kasir ketika Riza sedang membuka dompetnya.
"Kenapa kamu yang bayar?" tanya Riza.
"Tidak apa-apa simpan saja uang kamu, untuk yang lain. Lagi pula kamu juga tidak kerja kan? Jangan menggantung pada orang lain, mulailah mencari kerja, Kamu masih muda, apa mau selamanya menggantungkan hidup pada orang lain?" ucap Mita.
Riza menggaruk kepalanya yang tidak gatal bingung dengan perkataan Mita yang tidak masuk akal.
"Apa Mita mengira aku ini benar-benar pengangguran dan menggantungkan hidup pada Bela?" Batin Riza.
Jangan lupa Like, coment dan Vote ya sayang💕
Jangan lupa baca cerita thor yang lain dengan klik Qurrotaayun lalu tekan "ikuti"
__ADS_1
Terima kasih😘💕