
"Bela, apa kamu yakin dengan keputusan yang kamu ambil ini?" tanya Pak Bobby.
"Bela, yakin Pi." ucap Bela dengan air mata terus membasahi pipinya. Bela sangat mencintai Ray, namun Bela juga tidak ingin menjadi orang egois yang tidak tau diri. Bela sudah membuat Bu Santi kehilangan suaminya. Bela tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai, karena itu sama seperti kita kehilangan separuh dari jiwa kita.
"Coba kamu pikirkan lagi! Papi hanya tidak ingin kamu menyesal atas keputusan yang kamu ambil karena sedang emosi, Bela. Dalam hubungan rumah tangga, pertengkaran suami istri itu pasti akan selalu ada, tapi bukan berarti kita harus pergi meninggalkan pasangan kita," ucap Pak Bobby menasehati lantaran mengira Bela pergi karana bertengkar dengan Ray.
"Tidak Pi, Bela tidak ada masalah apapun dengan Ray, Ray laki-laki yang sangat baik, Ray sangat mencintai Bela dan memperlakukan Bela dengan sangat baik. Hanya saja, Bela merasa tidak pantas mendapatkan semua itu. Bela sudah pernah menjadi orang yang sangat jahat, Bela ingin Ray memulai kehidupan barunya dengan wanita sholihah yang pantas untuk Ray," ujar Bela.
"Maafkan Papi ya Bel." Sesal Pak Bobby, di dalam hidupnya baru kali ini Pak Bobby merasa begitu hancur.
"Tidak, Pi. Jangan menyalahkan diri sendiri. Sekarang Bela hanya ingin kita memulai semua dari awal, hanya ada kita berdua seperti dulu, di tempat yang jauh dan tidak ada yang mengenali kita," ucap Bela menyandarkan kepalanya di bahu Papi nya.
"Bagaimana, kalau kita memulai hidup baru di desa S, Almarhumah Mami, punya rumah di sana. tidak pernah di tempati tapi rumahnya selalu dirawat dengan baik, ada asisten rumah tangga yang selalu menjaga rumah Mami di sana," ujar Pak Bobby.
"Kenapa Bela tidak pernah tau, kalau Mami punya rumah di sana?" tanya Bela .
"Rumah itu, peninggalan dari nenek kamu untuk Mami. Lalu setelah nenek sudah meninggal, Mami ikut Papi kerja di Singapura dan setiap pulang ke Indonesia kita selalu ke rumah Papi, jadi kita memang hampir tidak pernah lagi ke rumah itu, hanya saja asisten rumah tangga di sana selalu membersihkan rumah itu." ujar Pak Bobby.
Setelah turun dari pesawat, Kini Pak Bobby dan Bela melanjutkan perjalanan mereka menggunakan jalur transportasi darat, dan membutuhkan waktu tiga jam untuk bisa sampai ke desa tempat Mami nya dulu di besarkan.
"Alhamdulillah, sekarang kita sudah sampai rumah Mami," ucap Pak Bobby tersenyum lega.
"Ini, rumah Mami Pi? Dan kita akan tinggal di sini?" tanya Bela
"Iya, Ini rumah Mami kamu dan mulai sekarang kita akan tinggal di sini," jawab Pak Bobby.
Bela terpukau dengan keindahan desa tempat Mami nya di besarkan. setelah Pak Bobby membantu Bela turun dari mobil, Bela tampak begitu menikmati keindahan di sana dan menghirup udara yang begitu sejuk. Karena ini daerah pegunungan, udara di sana sangat sejuk dan bersih, tempatnya juga begitu tenang. Jauh dari keramaian kota.
"Assalamu'alaikum, Pak Bobby. Ini pasti Mbak Bela," tanya Mbok Marni.
"Walaikumsalam," jawab Pak Bobby dan Bela.
"Ibuk kenal saya?" tanya Bela.
"Panggil saya Mbok Marni saja, Mbak Bela! Iya, saya kenal tapi hanya dari hape saja, Si mbok sering lihat foto Mbak Bela, ternyata aslinya jauh lebih cantik," ucap Mbok Marni.
"Benarkah,?" Bela tak percaya.
"Iya, Pak Bobby sering mengirim fotonya Mbak Bela, tapi udah lama Pak Bobby tidak mengirim foto lagi, terakhir waktu Mbak Bela menikah. Oiya, suami Mbak Bela, mana? Apa tidak ikut ke sini?" Tanya mbok Marni melihat sekeliling seakan mencari ke beradaan suami Bela.
"Dia tidak ada di sini Mbok, ceritanya panjang. Nanti kami akan cerita," sahut Pak Bobby.
"Ah, iya. Maaf. malah jadi ngobrol di sini. Kalian pasti capek, silahkan istirahat dulu. Biar tasnya si Mbok yang bawa masuk. Kamar Pak Bobby dan kamar Mbak Bela sudah siap." jalas mbok Marni
__ADS_1
Pak Bobby dan Bela masuk ke dalam rumah dan lagi-lagi Bela terpukau dengan keindahan rumah Almarhum Mami nya. Bangunannya nampak. sudah berumur tapi masih terlihat kokoh dan tertata dengan bagitu rapi. Model rumah Klasik yang mungkin sudah tidak di jumpai di area perkotaan.
"Kamar Mbak bela ada di sebelah sana," ucap Mbok Marni menunjuk kamar untuk Bela.
Bela menjalankan kursi rodanya menuju kamar.
"Mbok Marni, sudah lama menjaga rumah ini?" tanya Bela
"Sudah Mbak, Mbok ada di sini semenjak Mami Mbak Bela remaja." jawab mbok Marni.
"Sudah lama berarti ya?" tanya Bela.
"Sudah Mbak, semenjak Nyonya besar meninggal, Ibu Sintia sudah tidak pernah lagi ke mari, karena pekerjaan Pak Bobby di Singapura. Semanjak itu simbok di sini sendiri," ucap mbok Marni.
"Simbok tidak punya keluarga?" tanya Bela.
"Simbok punya anak, tapi saat ini tidak ada di sini, anak simbok sedang berada di Jakarta, kadang satu bulan sekali pulang ke sini," jelas Mbok Marni.
"Si mbok pasti kesepian berada di sini sendirian,"
"Iya, Sebenarnya anak simbok juga meminta simbok untuk ikut ke Jakarta, tapi selalu Mbok tolak karena mbok juga tidak bisa meninggalkan rumah ini, terlalu banyak kenangan di rumah ini, karena mbok bekerja di sini juga, simbok bisa menyekolahkan anak simbok hingga sekarang bisa menjadi orang sukses di jakarta, ini semua berkat kebaikan Pak Bobby dan Mami Mbak Bela," ucap mbok Marni.
"Ya, sudah. Mbak Bela istirahat saja dulu, maaf lho Mbak, malah jadi simbok ajak ngobrol," ucap mbok Marni.
"Ada Mbak, memang ada apa Mbak Bela cari ustadzah?" tanya Mbok Marni.
"Bela ingin belajar ngaji mbok, kalau mbok Marni tidak keberatan, Bela mau minta tolong panggilkan ustadzah yang bisa mengajarkan Bela baca tulis Alquran ke sini ya mbok," ucap Bela.
"Baik Mbak Bela, akan mbok panggilkan, kalau begitu. Simbok keluar dulu ya Mbak, menyiapkan buat makan malam Mbak Bela dan Pak Bobby," mbok Marni pamit.
"Iya Mbok," jawab Bela.
Bela menjalankan kursi rodanya mengelilingi kamar, melihat sekitar. pemandangan yang begitu memukau, nyaman dan damai. Hanya saja jauh di dalam lubuk hati bela, saat ini juga sangat mencemaskan Ray.
"Mungkin saat ini Ray sedang bingung mencariku, maafkan Bela, Ray. Bela istri yang tidak baik dan tidak pantas untuk kamu. Bela berharap, dengan kepergian Bela, Ray dan Mami bisa memulai hidup baru yang jauh baik." gumam Bela menatap pemandangan yang ada di luar jendela.
****
Di rumah Ray,
"Jadi Bela pergi lagi?" tanya Bu Santi.
"Iya Mi, Ray tidak tau apa yang Mami bicarakan lagi sama Bela, tapi Bela meninggalkan surat yang isinya ingin Mami bahagia," ucap Ray.
__ADS_1
"Mami tidak bicara apa-apa sama Bela, kenapa kamu menuduh Mami seperti itu? kamu pikir, Mami yang menyuruh Bela pergi?" tanya Bu Santi.
"Entahlah Mi, saat ini. Ray tidak bisa berpikir jernih, tapi yang jelas sampai kapanpun Bela tetep istri Ray dan Ray akan mencari Bela kemanapun bela pergi, Ray yakin. Pasti Ray bisa menemukan Bela." ucap Ray berlalu.
"Ray, kamu mau kemana?" tanya Bu Santi menghentikan langkah Ray.
"Mencari Bela," jawab Ray singkat dan kembali melangkahkan kakinya.
Ray, hanya mengendarai mobilnya keliling kota tanpa arah, Hingga Ray menghentikan mobilnya di kantor Danu.
Di sana Ray menceritakan semua pada sahabatnya.
"Sebenernya dari awal seharusnya kamu bisa memperkirakan semua ini, Ray. Tidak mudah untuk bisa hidup satu atap. dengan mertua, apalagi Bela dan Tante Santi, pernah punya masa lalu seperti itu," ucap Danu.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin meninggalkan Bela, aku juga tidak mungkin meninggalkan Mami," ucap Ray.
"Bukan meninggalkan, tapi setidaknya pisah rumah. Jangan satu atap. Maaf juga Ray, sikap tante Santi yang dengan sengaja memperlihatkan kalau Mita jauh lebih baik bahkan terang-terangan membawa Mita ke acara perusahaan kamu, aku rasa itu juga sangat menyakiti hati Bela." ucap Danu.
"Astaghfirullah, aku tidak pernah berpikir sejauh itu, karena aku dan Bela benar-benar tidak ada perasaan apa-apa, kami memang pernah pacaran. Tapi itu hanya pacaran anak kecil, aku masih SMP belum paham juga cinta yang sebenarnya," ucap Ray.
"Itu dari sudut pandang kamu, tapi bagaimana dari sudut pandang Bela? apa kamu sudah mempertimbangkan semua itu?" tanya Ray.
"Kemarin aku sudah menjelaskan semuanya pada Bela, aku kira dia bisa memahami semua itu. Bahkan tadi pagi saat aku berangkat ke kantor, dia tidak menunjukkan sikap yang aneh, semua biasa-biasa saja," ucap Ray.
"Dan masalah tinggal satu atap dengan Mami, aku pun tidak berpikir jauh, karena aku lihat kamu dan Niko juga menempatkan istri kalian satu atap dengan orang tua kalian," ucap Ray.
"Konsepnya tidak seperti itu, bro. keadaannya berbeda. Tidak semua menantu bisa tinggal satu atap dengan mertua, apalagi dengan kasus Bela dan Mami kamu, pasti tidak akan baik kalau mereka tinggal satu atap. Sebenarnya tidak masalah kalau kalian tinggal di rumah yang berbeda, tapi bukan berarti kamu tidak berbakti. Wajib hukumnya, kamu berbakti sama Mami kamu, tapi juga jangan mengabaikan perasaan istri." jelas Danu.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana Dan? semua sudah terjadi? Bela sudah pergi dan di dalam surat itu, Bela meminta aku untuk menceraikan dirinya, karena Mami bilang bilang sama Bela, kalau setiap melihat Bela, Mami selalu teringat dengan kepergian Papi," ucap Ray.
"Kamu coba tenang dulu, kamu pikirkan. Kemana kira-kira Bela dan Pak Bobby pergi, atau mungkin mereka kembali ke Singapura?" tanya Danu.
"Tidak Dan, aku sudah mengecek semua penerbangan tidak ada daftar namanya mereka, aku yakin mereka masih ada di Indonesia," ucap Ray.
"Ke rumah kerabat mereka mungkin?" tanya Danu.
"Aku sudah menyuruh orang untuk mencarinya, tapi nihil, tidak ada kerabat yang mereka datangi."
"Lalu kemana mereka? Bukankah mereka sudah lama menetap di Singapura, pasti tidak banyak kenalan mereka di sini." ucap Danu.
"Itu juga yang ada di dalam pikiran ku," ucap Ray memijit kepalanya yang terasa pening.
^Happy Reading^
__ADS_1
Jangan lupa like, cement dan Vote ya, dukungan kalian sangat berarti bagi thor, Terima kasih🙏😘💕