Hormat Gerak

Hormat Gerak
Demonstrasi


__ADS_3

Ratusan mahasiswa melakukan unjuk rasa di depan gedung rektorat. Koordinator lapangan (Korlap) mengungkapkan di hadapan massa bahwa beasiswa dari pemerintah yang ditujukan kepada mahasiswa berprestasi “dikorupsi” pihak kampus. Serunya dengan suara lantang sambil mengangkat tangan. Mereka mulai membakar ban bekas. Asap menggunung ke angkasa. Seorang korlap bertubuh tegap berambut panjang dengan diikat pita dikeningnya terus-menerus berkoar-koar agar Rektorat keluar dari ruangannya. Mereka bersama-sama menyanyikan lagu “pak tani”. “Hidup Mahsiswa!,” Seru korlap dengan lantang, “Hidup!!” Segera disambut massa dengan keras. “Kami minta kepada Pak Rektor agar menjelaskan kepada kami kemana dana beasiswa tersebut, bukankah begitu teman-teman”


ucapnya menggunakan pengeras suara.


“Betul, betul”, sambut mahasiswa yang jumlahnya makin bertambah. Beberapa satpam bersiaga di depan pintu masuk ruang rektor. Sesaat kemudian rektorat dan jajarannya turun lalu berdiri di hadapan massa. Massa pun bertepuk tangan menyambut kehadiran rektor. Aku menyaksikan unjuk rasa itu di depan biro fakultas hukum. Semua mata menuju ke arah mereka. Mereka lantam. Seolah mereka mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi, Tapi bukan!. Padalah mereka pulalah yang sering mendapat “jatah” dari pihak rektorat.


“Assalamu’alaikum, Pak Rektor, terima kasih atas kehadirannya di hadapan kami. Sebelumnya kami meminta maaf, tapi apapun yang kami lakukan saat ini adalah demi teman-teman kami. Kami selalu bertanya-tanya mengapa dana beasiswa dari pemerintah yang ditujukan kepada mahasiswa berpestasi belum juga diberikan?”


Mahasiswa kembali bersorak-sorak disebabkan pak rektor terlalu lama menjawabnya. Wakil rektor satu dan dua berbisik-bisik.


“Sebentar, harap tenang semua. Baiklah saya akan menjawab pertanyaan itu. Sebelumnya terima kasih atas kehadiran adik-adik mahasiswa dan sudah mau menegur kami, mengingatkan kami karena memang kami tidak luput dari kesalahan. Bahwasanya kami belum menerima keseluruhan beasiswa dari pemerintah, sehingga penyaluran beasiswa itu kami tunda dikarenakan jumlah mahasiswa yang menerima beasiswa bertambah.”


“Kawa-kawan, kita sudah mendengar penjelasan dari rektor, apakah teman-teman terima atas jawabannya?”


“Tidak!” Massa serentak menjawab.


“Pak Rektor, maaf teman-teman kami sangat tidak terima dengan penjelasan Bapak rektor kita. Dan saya pribadi juga tidak terima atas jawaban anda. Kami juga mendengar bahwa seluruh beasiswa sudah diberikan pemerinah kepada kampus kita. Jadi Kapan bapak bisa menyalurkan dana beasiswa tersebut?”


“Kami tidak bisa berjanji kapan, Tapi kami katakatan sekali lagi bahwa berita yang adik-adik dengar tersebut bukanlah benar. Akan kami salurkan jika sudah sampai kepada kami, kami usahakan secepatnya.”


Massa kembali berkoar-koar. Seorang massa merampas pengeras suara dari korlap, “Kampus ini sudah berani berbohong kepada mahasiswanya, rektornya juga. Masa harus menunggu seluruh dana terkumpul baru bisa disalurkan beasiswanya. Lagi pula dananya sudah sampai ke kampus. Entahnya uangnnya sudah dikorupsi!” ucapnya.


“Betul, Betul,” sambut massa. Seorang satpam yang berdiri di sebelah rektor hendak menyergap orang yang berbicara tadi. Namun, pak rektor tidak memperbolehkannya.


Korlap terus-menerus membakar semangat massa, “Jadi kalian yakin kalau di kampus kita ada koruptor?”


“Yakin,” sambut massa makin kompak.


“Apakah kalian yakin kalau di kampus kita ada tikus berdasi?”ucapnya lebih keras.


“Yakin!!!”


Korlap kembali menambah ban yang dibakar. Satpam berusaha memadamkan ban itu. Namun, seorang massa tak memperbolehkannya. Mereka saling beradu mulut, hingga akhirnya baku hantam tak terelakkan antara satpam dan massa. Suasana ricuh. Saat pak rektor hendak naik ke ruangannya, seorang massa mendorongnya. Ia pun terjatuh. Tubuhnya diinjak-injak massa. Bunyi sirine dari luar kampus makin menderu-deru. Lama-kelamaan suara itu memasuki pintu gerbang kampus membubarkan ratusan massa. Satpam segera melarikan Rektor ke rumah sakit. Badannya dipenuhi jejak kaki antah berantah. Personil polisi segera melompat dari mobil, lantas berhasil menangkap seorang massa. Mereka berjaga-jaga di area gedung rektorat. Satpam yang menjadi bulan-bulanan massa harus dibawa ke rumah sakit. Wajahnya babak belur berlumuran darah.


Setengah jam berlalu. Suasana normal kembali. Polisi membawa seorang massa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Satpam tetap siaga di depan rektorat. Tiba-tiba beberapa massa kembali muncul dari balik gedung. Mereka memaksa masuk ke ruang rektorat. Menghajar beberapa satpam yang berjaga di depan ruang rektorat. Mereka berhasil masuk ke ruang rektor. Mengacak-acak ruangan orang nomor satu di kampus itu. Mereka berlari keluar dari ruangan itu. Tetapi, Personil polisi ternyata sudah kembali lagi ke kampus secepat mungkin karena diberitahu seseorang. Massa yang melihat polisi datang segera berhamburan. Polisi kejar-kejaran dengan massa. Aksi kejar-kejaran itu sampai masuk ke dalam kelas. Mahasiswa yang berada di dalam kelas ketakuan. Menjerit-jerit kuat. Polisi itu langsung meringkus seorang massa tadi. Mereka dikumpulkan di depan gedung rektor. Ada sekitar belasan massa yang tertangkap. Mereka dibawa ke kantor polisi. Sayang, koordinator lapangan tidak berhasil ditangkap.


Wartawan media cetak maupun elektronik turut meliput peristiwa tersebut. Ruang rektor seperti kapal pecah. Beruntung, rektor sudah dilarikan ke rumah sakit. Mahasiswa berdatangan melihat langsung ruang rektor yang sudah amburadul tersebut. Aku lari menuju ruang rektor. Satu benda pun tak terselamatkan. “Semua diawal korupsi”, gumamku dalam hati. Faris masuk ke dalam, ia sengaja menyenggol badanku. Aku bengong. Setelah kuperhatikan ternyata Faris.


“Kau rupanya Ris, Aku pikir siapa!”


“Tengok, barang di sini semua rusak!” ucapku.


“Ini belum seberapa, sebelumnya mereka pernah melakukan aksi yang lebih gila!”


“Kapan?” tanyaku penasaran.


“Masih ingat, dua orang wakil rakyat koma di rumah sakit gara-gara dihajar mereka.”


“Ingat.”


“Kau dari mana saja? Baru muncul.”


“Aku dari atas menyaksikannya keberutalan mereka.”


“Tempat yang dulu itu kan?”

__ADS_1


“Iya, aku menunggumu di atas, aku pikir kau akan naik.”


“Aku lupa, padahal aku mau kesana.”


“Tadi, di atas aku sendiri.”


“Masih ingat nggak, sewaktu semester satu kau bilang korupsi itu bisa menghancurkan segalanya.”


Aku berpikir sejenak.


“Aku ingat.”


“Ternyata apa yang kau bilang itu benar.”


“Iya, aku juga nggak nyangka itu,” ucapku sambil mengangkat bahu.


“Tapi, kau yakin kalau Rektor kita korupsi?” tanya Faris.


Aku menatapnya. “Aku belum bisa menjawabnya,” ucapku


sambil menggelang-gelengkan kepala.


“Aku berharap kita bisa bersama-sama menghilangkan korupsi dibumi pertiwi ini.”


Faris gantian menatapku. “Kau serius Galung!”


“Serius Faris, Tapi ini cuma mimpi saja. Takkan mungkin bangsa ini bebas korupsi.”


“Ah, kau nggak optimis, aku siap Galung, siap selalu di belakangmu.”


“Sudah hampir dua tahun dana beasiswa tidak diberikan kepada mahasiswa yang berprestasi, kemungkinan dugaan korupsi rektor itu benar.”


“Dua tahun, lama sekali. Berapa dananya?”


“Mereka bilang ratusan juta.”


“Ratusan juta, wow!” ucapku mengangkat bahu.


“Tapi, tidak bisa asal tuduh, harus ada bukit-bukti yang kuat kalau ingin memenjarakan rektor. Mereka sudah melaporkan ke kejaksaan?”


“Memang harus ada dua alat bukti baru bisa, aku nggak tahu soal itu.”


“Kita lihat saja sebulan ini, bagaimana kelanjutannya.”


“Galung, masih ingat yang kemarin?” Faris memukul pundakku.


“Apa?”


Aku mengernyitkan kening.


“Kau pasti lupa!”


“Memang apa?” Aku serius menanyanya.


“Tentang nenek dan kakek yang mancing, mereka ketiduran lalu ikan besar memakannya.”

__ADS_1


“Kau bisa saja Faris,” ucapku sembari tertawa.


Sejenak aku memejamkan mata, “Tentang Poligami kan, kenapa?” ucapku sembari membuka mata.


“Nggak apa-apa Lung, sampai saat ini aku heran saja mengapa kau setuju sama poligami.”


“Galung, kau harus tahu kalau nggak ada satu wanita pun yang mau dipoligami. Jadi wajar aja poligami itu dilarang keras,” tambah Faris sambil meregangkan jari-jarinya.


"Kalau bicara soal kemauan, menurutku sangat egois. Sebab, diperbolehkannya poligami dilatar belakangi beberapa aspek, yang paling mendasar aspek manfaat.”


"What, poligami bermanfaat!" Matanya melotot ke arahku. “Seumur hidupku baru dengar kalau poligami memiliki manfaat, manfaat apa?” ucapnya agak keras.


"Poligami bisa meminimalisir jumlah PSK. Sekarang laki-laki sama perempuan berbanding tiga. Jadi sah-sah saja kalau laki-laki beristri satu, dua bahkan tiga. Supaya wanita yang hendak terjun ke dunia gelap baik yang sudah menjajakan dirinya bisa dinikahi laki-laki. Jadi ada yang menafkahi mereka. Simpelnya begini; kalau ada wanita cantik yang tidak bekerja bisa saja minta dinikahi laki-laki yang sanggup menafkahinya, cukup mudah kan.”


Keningnya berkerut. Kepalanya menggeleng-geleng. Apapun yang kukatakan ia tetap tak terima. “Tidak bisa, tidak bisa” ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Itu sama saja menyiksa hati seorang wanita.”


"Oh, gimana jika dibuat menteri mengurusi perawan tua, PSK atau mantan PSK, berarti tidak harus beristri lebih satu, sebab sudah ada yang mengatur dan menafkahi mereka"


Aku tertawa. Faris selalu punya cara untuk mempertahankan pendapatnya. “Memang siapa yang mau jadi menterinya, kau mau?”


“Tapi, kau yang bilang harus ada yang menafkahi, aku rasa kau pantas mengurusi mereka.”


Aku tertawa geli membayangkan mengurusnya.


"Kenapa diam?"


Ia nyengir.


"Oke, oke aku nyerah aku menghargai pendapatmu. Tapi bukan berarti aku setuju.”


Bibirnya lebar tertawa.


“Mau kemana Lung?”


Tanya Faris saat aku hendak melangkah.


“Aku mau pulang.”


“Tunggu dulu, kita belum selesai!”


“Apa lagi?”


Ia membisikkan sesuatu. Lalu menarikku.


Kami kembali lagi berdebat mengenai poligami. Kami tak habis kata-kata. Aku tetap tidak setuju dan Faris juga selalu berusaha mempertahankan pendapatnya. Entah kenapa pembicaraan kami kemabli ke masalah korupsi. Hampir setiap hari kasus korupsi selalu ada. Menjadikan kasus korupsi kriminal kecil. Padahal korupsi kriminal besar. Faris mengatakan kalau korupsi di Indonesia setiap tahunnya meningkat. Itu berdasarkan survei ICW. Ia juga menyayangkan pejabat yang melakukan korupsi. Kukatakan kepadanya, korupsi bukan barang langka di pemerintah. Hampir sembilan puluh sembilan persen pejabat korupsi.


“Siapa yang salah, penegak hukum atau koruptor?”


"Koruptor yang salah.”


“Mengapa kau bilang koruptor salah?”


“Jelas mereka koruptor, merugikan uang negara.”


“Apakah penegak hukum tentu salah, sebab tidak ada hukuman yang bisa membuat jera para koruptor?”

__ADS_1


__ADS_2