
"Jadi diantara kami harus ada yang jadi hakim, Pak?" tanyaku lugas.
"Benar sekali. Harus, bukan hakim saja kalian sudah tahu, ada beberapa penegak hukum di Indonesia ini yang berperan besar dalam memberantas korupsi. Yang pertama Polisi, Hakim, Jaksa. Pengacara yang baik. Tapi, bapak nggak berharap satu diantara kalian jadi pengacara. Dan satu lagi paling penting adalah pers!” Pak Anwar berhenti sebentar. Ia menyeruput teh hangat.
"Kalian tahu mengapa pers itu lebih penting, Pers merupakan pilar demokrasi ke empat setelah eksekutif, yudikatif dan legislatif. Pers berperan besar mengawal demokrasi di negara kita ini. Jadi kalian harus menjadi bagian dari yang saya sebutkan tadi. Hakim, Jaksa, Kepolisian, Pers. Keempat ini saja mudah-mudahan korupsi akan diminimalisir," seru Pak Anwar dengan yakin.
"Tapi kami belum tahu mau jadi apa dari yang bapak sebutkan tadi, kapan kami bisa menentukannya?"
"Secepatnya, iya secepatnya kalian harus menjadi bagian dari itu.”
"Bagaimana kalau besok Pak?”
"Besok, kalian setuju besok kita kumpul lagi?”
"Setuju Pak," seru kami kompak.
Pak Anwar pergi. Faris pun beranjak pergi. Perlahan kami satu persatu beranjak dari tempat duduk. Bang Affan masih menyimpan raut wajah yang memerah saat kulihat. Ia mengambil satu buku. Kami hening. Hingga akhirnya aku ditelpon mama kembali ke toko. Sore itu pembeli tidak ada lagi. Hujan sejak siang hari turun deras. Kawasan jalanan penuh dengan keteduhan. Mama menyuruh karyawan tokonya membeli martabak kecek. Katanya martabak itu paling enak dari martabak yang lain. Usai melahap martabak kami menutup toko lalu pulang.
Ayah baru saja tiba dari kantornya. Seperti datang tsunami besar ia marah sekali padaku, ia mengatakan kalau aku anak yang tidak tahu bersyukur, tidak tahu diri. Aku hanya terdiam. Aku tak tahu apa penyebabnya.
“Yah kenapa marah samaku?” tanyaku.
“Kau banyak tanya, Ayah sudah bilang jangan tutup toko sebelum jam lima!”
“Tapi, Yah.”
“Dasar anak tidak tahu diri” ucap Ayah marah-marah.
Aku terdiam. Ayah masuk ke kamarnya. Kata mama, Ayah punya masalah di kantor terbawa-bawa ke rumah.
__ADS_1
Malam hari Kak Misya belum pulang. Setelah ditelpon mama, katanya ada acara sama teman kantornya. Satu jam lagi baru pulang. Ayah mengambil telpon dari mama, lalu ngomong keras-keras melalui telepon, “Misya, tidak usah lagi pulang ke rumah atau secepatnya pulang.” Air mata mama mengalir.
"Yah, Kak Misa sudah bilang dari kemarin. kan sebentar lagi ia juga pulang" ucap mama sambil menangis.
"Mama nggak paham. Anak sekarang itu banyak bohongnya, Ma!"
"Tapi, Yah…"
"Sudah Ma, apa yang dikatakan ayah itu benar" ucapku membela Ayah.
"Tuh kan Ma, anak kita saja mengakuinya. Anak sekarang ini kalau dibiasakan lama-kelamaan makin berbahaya ma"
Mama masih terus-menurus menangis. Air matanya berjatuhan. Aku sesekalil mengusap pundaknya agar ia tenang dan tidak kembali menangis. Walaupun bulir airnya tumpah ia tetap menghidang dengan senyaman yang hangat. Ayah sama sekali tak memperdulikannya. Ayah keluar dari kamar. Kami makan malam bersama. Meja makan seoalah kuburan yang sepi tanpa ada kosa kata. Ditengah makan malam air mata mama tetap berjatuha dan ia terus-menerus menghapusnya.
“Yah, kenapa nggak nambah?” tanya mama. Mama selalu bersabar apa yang dilakukan Ayah kepadanya. Ia sama sekali tak pernah melawan. Menangis baginya adalah obat menyembuhkan luka di hati.
“Nggak selera Ma” ucap Ayah menyudahi makannya.
Aku melongok.
"Tapi, Yah"
"Tidak ada tapi-tapian. Kenapa? Nggak mau jadi pengacara!" ucap Ayah agak keras.
"Maaf Yah, aku enggak bisa, pengacara itu tidak pernah masuk dalam keinginanku dan aku tidak pernah bercita-cita jadi pengacara. Lagi pula pengaca lebih banyak membela yang salah"
"Kamu nggak mau dengar kata Ayah ya” ucap Ayah mengangguk-angguk.
“Pengacara bekerja secara profesional. Nggak semua pengacara seperti yang kamu bilang."
__ADS_1
"Tapi Yah, kebanyakan pengacara begitu. Nggak tahu mana yang benar dan mana salah asalkan sesuai kontraknya pasti dibela, Membela yang salah bukan yang benar!"
"Kamu memang anak yang payah, mulai besok kamu harus menjumpa bapak itu. Kantornya di depan toko kita." Paksa Ayah.
"Yah, tapi…"
“Kalau kamu enggak mau menemuinya, hati-hati kamu”
Ayah pergi masuk ke kamarnya. Mama menenangkanku.
"Mama tahu keinginanmu. Tapi apapun itu turutilah ayahmu. Dia lebih tahu yang terbaik untukmu."
"Mama membela ayah juga?"
"Bukan, mama tidak membela siapa-siapa. Mama hanya ingin kamu menurut sama ayahmu, mama nggak ingin nanti kamu sama ayahmu bertengkar, mama nggak tahan suara keras-keras di rumah ini, apalagi bentak. Akhir-akhir ini aayahmu sering marah. Emosinya sudah tidak stabil. Mama minta tolong samamu, tururilah apa kata Ayahmu." ucap mama kembali menangis.
“Iya Ma.” Aku menangguk.
Aku berjalan ke atas. Kututup pintu kamarku rapat-rapat. Perasaanku hari ini bagai di sambar petir. Aku tahu hatiku dibutakan oleh hatiku sendiri. Hatiku berbohong untuk sebuah jalan ketenangan. Ingin sekali aku memberontak, hatiku menyakiti hatiku sendiri. Memaksakan kehendakku sendiri berarti menantang perintah Ayah. Aku tahu ego makin besar. Namun bayangan mama membuatku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tahu keegoisan ini akan membunuhku. Membunuh hatiku sendiri. Hatiku terus bergejolak antara memaksakan keinginanku atau mengikuti keinginan ayah dan patuh pada perkataan mama. Malam ini adalah malam yang sangat menggalaukan bagiku. Mataku enggan tertutup. Aku menari selimut hingga menutup seluruh tubuhku. Perlahan hujan turun aku pun tertidur pulas. Kak Misya sudah tiba di rumah beberapa menit yang lalu. Ia Segera ke kamarnya.
Ayah yang mengetahui Kak Misya pulang, buru-buru ingin menemuinya.
“Misya, buka pintunya!” seru Ayah sembari menggedor-gedor pintu.
Kak Misya membuka pintu, wajahnya menunduk.
“Ini terakhir kalinya kamu begini, sekali lagi ayah nggak akan maafkan, paham?”
“Paham Yah” ucap Kak Misya lemas.
__ADS_1
Ayah kemudian kembali ke kamarnya. Kak Misya mengelah napas. Ia pun bergeras memejamkan mata.