Hormat Gerak

Hormat Gerak
Cintai Bangsa


__ADS_3

“Kalau menurutku kedua-duanya salah, penegak hukum dan koruptor. Kalau sekiranya penegak hukum berani memberikan hukuman yang membuat jera, barulah penegak hukum kuberi jempol sepuluh.”


“Kau sudahs pantas menjadi ketua KPK Galung” ucapnya penuh keyakinan


Faris memujiku.


“Terima kasih Faris, tapi aku rasa masih jauh dari kata pantas.”


"Menurutmu, apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan korupsi?”


“Hukuman mati, China sudah membuktikannya.”


“Pas sekali, aku juga menginginkan hukuman mati diterapkan di Indonesia, tapi apa bisa ya!”


“Bisa saja Galung asalkan DPR mau membuat peraturan hukuman mati, bila perlu KUHP harus direvisi.”


"Bukan DPR saja, kita juga harus siap, KPK pun sepertinya mau dibubarkan. Banyak oknum yang tidak suka dengan keberadaan KPK saat ini. KPK Butuh dukungan!".


"Kau benar Lung, tapi kita bisa apa!"


Kami termenung.


"Kita harus buat pergerakan, Lung.”


“Pergerakan seperti apa maksudmu? Demo-demo gitu, terus dapat uang tutup mulut dan ujung-ujungnya demonya nggak jadi. Sudahlah Faris kita nggak bisa ngapa-ngapain, kita ini kaleng-kaleng.”


“Kaleng-kaleng.” Faris tertawa.


“Kalau kalengnya emas, apa nggak dicari orang? Kau terlalu berpikir semua seperti itu Galung, come on move on, bangsa ini bukan cuma milik kita berdua tapi bangsa ini milik warga Indonesia. Saat kita dikhianati korupsi semua penduduk Indonesia juga dikhianati.”


“Aku ngerti, Dua bulan yang lalu hampir seluruh mahasiswa akan melakukan demonstrasi besar-besaran. Tapi setelah diberi uang tutup mulut. Mereka membatalkan rencananya. Itu yang mau kau ajak untuk membuat pergerakan. Belum lagi di kampus kita ini. Mereka demo karena uang tutup mulutnya kurang, sudahlah Faris” ucapku sambil mengibaskan tangan.


Faris berdiri. Lalu wajahnya menatapku garang, “Kalau soal teori kau ahlinya, aku akui. Tapi kalau kau diam saja teorimu itu akan hilang bagaikan bangkai binatang. Kau bilang negara ini bakalan hancur beberapa tahun lagi jika korupsi semakin diwariskan. Tapi apa? Kau hanya duduk diam, diam dan diam! Kau seperti penjahat yang berpura-pura baik.” Matanya seolah mau lepas.


Aku merenung. Napasku naik turun. Kupandangi tanah negeri ini. Ucapannya bagaikan lintah yang lincah menggerogoti tubuhku.


“Kita buat gebrakan Galung untuk membantu KPK memberantas korupsi,” ucapnya datar.


"Maaf Faris, Aku nggak bisa, nggak mungkin. Aku tidak percaya. Kau terlalu berlebihan. Kita cuma bisa berdoa” ucapku sambil tertawa.


Faris menatapku tajam, setajam samurai baru yang akan menebas leherku, "Kau bilang nggak mungkin?” Ia membuatku takut.


“Jangan pernah jadi bayang-bayang dalam hidupmu Galung.” Ia segera pergi meninggalkanku. Kepalanya tertunduk lesu sambil menggelang-geleng.


Saat ia melangkah beberapa meter, kukatakan kepadanya, “Maksudmu aku sekarang cuma bayangan, dasar manusia aneh.” Ia tak menoleh. Aku dibuatnya berpikir seribu kali.


Aku ke toko. Melayani pembeli mebel. Karyawan mama mengantarkan pesanan pembeli tadi. Toko mebel mama terbesar di kota Bengkulu. Pengunjung lain menanyai mebel. Mulai dari merk, harga, dan kwalitas. Pukul lima sore kami tutup. Aku dan mama segera pulang ke rumah. Kami tiba di rumah sewaktu Kak Misya memasukkan mobil ke garasi. Ayah juga baru pulang dari kantor. Bersiap-siap mandi, lalu makan malam bersama. Kak Misya sudah mendaftar kontes model. Besok lusa ia akan lomba. Mama menyemangati Kak Misya. Ayah juga memuji Kak Misya setinggi langit. Sebelum Kak Misya tidur, ia memintaku menemaninya menonton televisi tentang pencarian bakat modeling Indonesia yang berhasil menjadi artis ngetop. Ketika melihat artis di TV ia pun menjelaskan kepadaku soal perjalanan karir artis tersebut. Hampir artis yang berawal dari dunia model dikenalnya.


“Kakak ingin sekali seperti dia Galung, lihat dia itu nggak ada niat jadi model. Tapi mamanya selalu mendukung. Kalau ada kontes model ia selalu ikut. Pengalaman makin banyak. Akhirnya lihat ia sudah jadi artis.”


“Iya.”


“Oh ya. Tadi katanya di kampusmu rusuh, ya?" seru Kak Misya sambil mengemil.


“Iya Kak, kok tahu?”


“Teman Kakak yang bilang, katanya polisi pun ikut mengamankan?”

__ADS_1


“Rusuh sekali Kak, tapi sekarang mungkin sudah begitu tenang meskipun masih dijaga polisi."


“Oh iya, besok malam jangan lupa ya temanin Kakak?”


“Oke beres itu, Kak.”


Satu jam menemani Kak Misya di depan TV, matanya terasa berat. Ia masuk ke kamarnya. Katanya sudah ngantuk. Aku segera ke kamar. Mengambil sebuah buku, kubuca lanjutan halaman kemarin. Buku ini membuatku lupa waktu. Tak terasa kalau sudah setengah dua, aku pun menutup buku lantas tidur. Membiarkan tubuhku dibalut embun malam. Pagi hari yang cerah Mbok Emi sudah bangun, usai shalat subuh ia segera menyiapkan sarapan pagi. Mbok Emi tahu kalau sarapan pagi itu sangat penting.


“Lung, nanti malam jangan lupa,” seru kak Misya saat meraih piringnya.


Aku mengangguk sambil menyeruput teh hangat.


“Iya Kak.”


"Gimana persiapannya Kak?" tanya ayah.


"Sudah Yah, nanti mau ke salon lagi supaya kelihatan fresh.”


“Ayah doakan semoga anak ayah yang cantik menang, amin.”


“Amin, makasih Yah.”


Ayah lebih dahulu selesai makan. Ia segara berangkat kerja. Kak Misya kembali ke kamar sebentar, lalu menyiapkan sepatu lantas berangkat. Mama sebentar lagi ke toko mebel. Ia punya janji sama seorang pembeli. Biasanya toko belum buka pagi begini. Namun karena sudah berjanji dengan pelanggan mau tak mau harus ditepati. Usai sarapan aku mandi, lalu berangkat ke kampus. Aku bertemu Faris, kutanyakan lagi maksud perkataannya kemarin. Ia cuma katakan berpikirlah. Dua jam aku termenung, bolak-balik perpustakaan. Lalu membuka-buka buku meskipun pikiranku sedang terbang menyusuri perkataan Faris. Di sudut perpustakaan baru kutahu maksdunya. Aku turun ke bawah, kutemui Faris. Lalu kuajak membicarakan Korupsi.


“Kau sudah tahu maksdunya?” tanya Faris.


“Iya, aku sudah tahu,” ucapku sembari tersenyum.


Aku mengajaknya ke kantin. Kami duduk di kantin.


Memesan kopi.


“Kalau kita berdua pun nggak sanggup, kita harus ajak mahasiswa yang lain juga.”


"Kau yakin semua mahasiswa punya niat yang sama dengan kita?" ucapku sambil menyeruput kopi hangat.


"Nggak harus semua Galung, lima atau enam orang saja bisa, kau ingat Pak Soekarno pernah bilang, berikan aku sepuluh pemuda akan kugoncangkan dunia," ucap Faris menirukan gaya Soekarno.


Aku terkekeh melihatnya.


“Iya, iya.” Aku menganguk-angguk.


"Kita, baru Indonesia yang mau digoncangkan, masa enam orang saja nggak bisa!" Jari-jarinya membentuk globe besar dan kecil, “Dunia dan Indonesia berbeda jauh Galung. Indonesia ini nggak seberapa,” tambahnya.


“Aku mengerti Faris.”


“Bagus kalau kau sudah paham.”


Kami menikmati roti yang disajikan kantin. Aku mencelupkan roti itu ke dalam kopi. Lapisan roti yang dibalut kopi menambah hangatnya obrolan kami. Menjelang siang kantin semakin ramai. Kami memesan makan siang. Usai makan siang, Faris mengatakan, “Kita harus ikut jejak Soekarno, nggak perlu banyak. Namun sanggup.”


“Jangan khawatir,” ucapku. Siang ini ia ingin menemui dosen mata kuliah korupsi. Ia menuju ruang dosen. Dan siang ini pula pengumuman syarat-syarat wisuda akan ditempel di mading. Tepat pukul dua siang bagian administrasi kampus baru saja selesai menempel pengumuman itu. Kami berdesak-desakan dengan mahasiswa lainnya hendak melihat pengumuman itu. Aku bertemu dengan Boy, teman yang pernah dekat denganku dulu.


“Akhirnya kita wisuda juga Lung.”


“Iya Boy. Eh, Sebentar, Penampilanmu sudah berubah ya, wah.”


“Dengar-dengar kau sudah putus sama pacarmu ya.”

__ADS_1


“Begitulah Boy.”


“Kenapa kalian bisa putus?”


“Nggak mungkin kuceritakan di depan orang banyak begini Boy.” ucapku sambil mengedipkan mata.


“Kau pasti malu kan kalau bukan kau yang memutuskan perempuan secantik dia.”


“Boy, kau nggak pernah tertarik sama perempuan seperti dia itu, cantik, pintar smart. Dia macam mobil mercy yang baru keluar dari pabrik Boy.”


Boy menggangguk-angguk, “Aku cuma nanya, siapa yang mutusin, kau atau dia?”


“Bukan aku dan bukan dia juga.”


“Lalu siapa?”


“ Hanya Waktu, Boy.”


“Ah, sudahlah kau akui saja kalau ia memutuskanmu!” ucap Boy tak percaya.


“Terserahlah Boy.”


“Siapalah yang tidak tertarik sama perempuan seperti itu,” ucapnya, ia menarikku menjauhi mading.


“Apa Boy, kau juga suka sama dia.”


“Iya tadi kau tanya sama aku, sekarang aku jawab kau marah.”


“Oke, oke. Kami bukan hanya putus. Tapi ia menghilang Boy. Sampai sekarang aku kehilangan jejaknya. Ia tiba-tiba menghilang Boy. Kata-kata terakhir begini Boy, “Cintai aku sebagaimana kau mencintai bangsa ini. Dan cintai bangsa ini sebagaimana kau mencintaiku. Begitu Boy.”


Andri, kekasihnya Boy menghampiri lalu menarikknya. “Maaf, aku ada urusan lagi, lain kali kita jumpa ya, cari aja dia, mungkin dia ingin bukti darimu” ucapnya jauh.


“Makasih sarannya Boy.”


Aku menemuai Faris di depan ruang dosen. “Sebantar lagi kata bapak itu, katanya dia lagi makan siang, besok kukabari hasil pembicaraan kami nanti.”


“Oke, kalau begitu aku duluan pulang.”


“Oke.” Aku melangkah meninggalkannya.


Aku ke toko mama. Truk terparkir di depan toko. Mereka membongkar perabot yang baru. Mama menyuruhku mengecek barang-barang yang sudah diturunkan. Berbagai macam jenis perabot siap menghiasi toko kami. Setelah selesai, baru truk itu pergi. Mama selalu memberikan uang tambahan untuk anggota truk itu. Sebuah mobil mendarat di depan toko kami. Satu keluarga turun dari mobil.


“Ini jepara Pak Rahmat ya?” tanya bapak.


“Iya Pak,” ucapku dengan senyuman.


“Kami boleh melihat-lihat?”


“Silahkan Pak,”


Mereka memilah-milih perabotan. Sesekali ia bertanya bagaimana merawat jepara ini agar bertahan lama. Kujelaskan secara singkat. Ia juga dulu pernah beli di toko jepara. Katanya jepara itu tiruan. Sebab tidak lama kayunya langsung lapuk. Ia lelah lantas duduk. Anak-anak dan istrinya dibiarkan memilih.


“Kamu anak bapak itu ya?”


“Iya Pak.”


“Bapak kamu itu teman saya dulu, terus kamu kenal juga pengacara namanya Pak Umbargus.”

__ADS_1


“Iya kenal sekali Pak, itu kantornya di sebarang sana.” Aku menunjuk ke seberang.


__ADS_2