
Pagi hari Mbo Emi masih memasak nasi goreng. Masakan nasi goreng mbo emi selalu meningkatkan selera makan. Butiran cabai yang diiris-iris lalu ditaburkan di atas nasi goring semakin menambah rasa pedas yang meledak. Nasi goreng yang lezat itu sudah tersedia di meja makan. Kami segera menuju meja makan. Ayah kembali mengingatkanku.”Galung, ingat pesan ayah tadi malam. Ayah yakin kamu bakalan jadi pengacara hebat dan terkenal. Jasa pengacara disin semakin dicari banyak orang. Apalagi kasus-kasus semakin banyak”
“Pengacara itu tidak seperti yang sesungguhnya yah. Masa orang salah dibela” ucapku.
Ayah tetap tak perduli.
“Kalau semua itu bisa iya dan bisa tidak, kau sudah mempelajarinya, apapun itu ayah mau kau jadi pengacara. Ngerti!” ucap Ayah agak keras.
“Sudah, sudah Galung Kalian tidak usah bersuara keas” ucap mama seraya menangis ketakutan.
Aku tertunduk lalu menoleh ke arah mama. Mama terus-menerus menangis.
"Iya Yah, aku mau jadi pengacara" jawabku datar. Aku menarik napas.
"Galung, pengacara itu pekerjaan profesional, saat ini pengacara itu sedang naik daun. Sebentar lagi setiap orang harus memiliki pengacara. Jadi itu sebuah keutungan besar bagimu" ucap kak Misya meraih piring.
"Iya Kak, aku sudah paham. Aku mau makan dulu."
Pagi itu aktivitas berjalan seperti biasa. Aku sudah berjanji bertemu Faris dan teman lain. Usai sarapan aku segera ke kampus. Saat aku tiba di lantai empat perpustakaan, Faris ternyata datang dari belakangku secara diam-diam. Dan beberapa menit kemudian kami sudah berkumpul. Pak Anwar datang memegang sebotol kopi ditangan kirinya. Ia duduk lalu meneguk kopinya, ia mengatakan kalau kopi bisa membuka pikiran kita, lihat orang barat setiap pagi meminum kopi, Kopi itu sangat bagus untuk otak dan banyak penelitian mengatakan kalau kopi merileksasikan otak dan membuat berpikir semakin mudah.
"Baik, kita kembali berkumpul dalam keadaan sehat. Semangat adalah kunci dari segalanya. Pertemuan lalu kita sudah bicarakan tahapan-tahapan dari tujuan kita. Kemarin kita sudah bicara tentang pahlawan-pahlawan anti korupsi. Jadi kali ini kita akan menentukan dan dengan kekuatan bersama ini tujuan kita mudah-mudahan tercapai. kita harus menentukan siap hakim, wartawan, jaksa, kalau polisi kalau ada yang bisa. Para koruptor saat ini menyusun segala macam rencana untuk meluluskan diri dari tindakan korupsi. Untuk itu kita juga harus menyusun strategi agar bisa melawan mereka. Hakim, jaksa, kepolisian atau penyidik dan wartawan atau pers, itu semua pahlawan yang mampu membawa bangsa ini terbang ke angkasa tanpa korupsi" seru Pak Anwar.
"Kalau pengacara Pak, Apakah pengacara bisa menjadi bagian dari pahlawan korupsi?" tanya Faris.
__ADS_1
"Bisa iya bisa tidak Faris. Kemarin bapak katakan pengacara. Tapi, pasti akan sulit menjalaninya. Faris, kamu mau jadi apa?”
"Hakim Pak."
"Bagus, Abra?”
"Hakim juga Pak."
"Affan?"
"Jaksa Pak, Tapi tidak mungkin. Saya jadi wartawan saja,
Pak."
“Tidak ada yang tidak mungkin, coba dulu.”
“Jaksa, Pak.”
“Eriska?”
“Wartawan, Pak.”
“Marvous?”
__ADS_1
“Wartawan, Pak.”
"Galung?"
"Pengacara, Pak.” Semua melototiku.
"Kau mau jadi pengacara, bukannya kita sudah berjanji tak akan ada lagi pengacara!" ucap Faris kecewa.
"Kau keterlaluan, kau mau jadi pengacara. Kau busuk!"
"Galung, padalah kau sudah faham tentang betapa merosotnya integritas penegak hukum di negeri ini. Lihat apa sebenarnya jasa pengacara yang bisa membantu Indonesia mengurangi korupsi" ucap Bang Affan sambil menggelang-gelengkan kepalanya.
"Sudah, sudah! kita tidak boleh menghakiminya, kita tanya dulu apa alasannya, apa dia bisa mempertanggung jawabkannya, apa alasanmu jadi pengacara?”
Aku menarik napas, "Sebelumnya aku minta maaf, jujur dari lubuk hati yang paling dalam keputusan ini memang sangat bertolak belakang dengan keinginanku. Tapi gimana lagi. Ini kehendak ayahku. Aku minta maaf."
"Tidak bisa!" seru Faris lantang.
"Tidak bisa Galung, kau harus tetap pada pendirianmu."
“Kami gak mau tahu apa alasannya, kami gak mau kau jadi pengacara” ucap Marvous.
Semua berontak, “Tidak bisa, kami nggak terima.”
__ADS_1
"Oke, kita harus buat kesepakatan. Begini saja jika nanti Galung sudah jadi pengacara, haram baginya menangani kasus korupsi, gimana galung?" ucap Pak Anwar menengahi.
"Bisa Pak, kalau cuma itu syaratnya."