
Hujan tipis-tipis membasahi bumi. Langit yang pekat dilukis guratan matahari membentuk gambar yang memukau. Orang- orang mengurung diri di rumah masing- masing. Galung sudah mulai pulih dari luka yang menarik di wajah. Galung meraih segelas susu segar lalu menyeduhnya.
" Hari ini cuaca cukup dingin sekali, di luar sana kebanyakan orang-orang memilih bertahan"
"Yah, aku ingin berlibur? " Ucap Galung.
" Kemana saja kamu mau berlibur silakan, Ayah tahu keinginan kamu sekarang"
" Terima kasih ya, kalau Ayah sudah tahu. Tapi Yah satu lagi yang galung inginkan, Galung ingin sudahi menjadi advokat"
" Kamu kembali memulai apa yang sebenarnya Ayah tidak setujui"
" Yah, lihat bagaimana aku dan Pak Umbargus setelah menjalani ini semua. Kami dilaga, lagi saling pukul. Karena kami tidak sepaham Yah, itu tanda kalau galung tidak cocok jadi advokat, Ayah tidak mengerti itu semua "
" Kamu tidak boleh menyalahkan status pekerjaannya saat ini sebagai advokat yang membuatmu bertengkar dengan pak Umbargus "
" Kenapa tidak, tapi Ayah sendiri melihat faktanya. Apa kurang parah lagi pertengkaran kami? "
Ayah Galung menghela nafas. Mama Galung mengambil minum.
" Kamu tidak boleh begitu nak, dengan Ayahmu"
__ADS_1
Galung terdiam.
Mama menarik tangan suaminya itu ke luar.
"Yah, Galung sepertinya ingin istirahat, kita biarkan saja. Kita ikuti kemauannya"
"Istirahat bagaimana Ma? "
" Iya Yah, Istirahat, dia ingin meninggalkan dunia advokat, kita biarkan saja. Mama yakin suatu waktu dia kembali menjadi pengacaranya seperti yang ayah ingin"
" Mama yakin? "
" Mudah-mudahan yah"
Mama sejenak terdiam.
"Itu kan, mama terdiam. Mama belum bisa menjawabnya"
" Sudahlah ma, Ayah tidak akan kasih kesempatan kepada Galung, Ayah yakin kalau sudah dikasih kesempatan sekali ini pasti dia tidak akan mau jadi pengacara lagi"
" Yah, mama ingin kasih kesempatan kepada Galung, Walaupun tidak bisa dipastikan. Tapi mama berharap ayah mengerjakan mama"
__ADS_1
Ayah mengangguk, "Tapi semua setelahnya terserah mama"
"Terima kasih, Yah"
Mereka masuk ke dalam ruangan. Galung tertunda lesu. Mama menghampiri Galung.
"Galung, Ayah sudah memberikan izin kepadamu untuk istirahat."
" Terima kasih, ma. Galung mau rehat sejenak dari dunia advokat, tapi bukan berarti Galung meninggalkan dunia ada yang telah membesarkan Galung dan keluarga kita"
"Syukurlah kalau begitu, mama juga senang. Mama yakin kamu tidak akan mengecewakan kami, iya kan Yah"
Ayah hanya terdiam.
Siang hari yang cerah teman-teman Galung datang berkunjung melihatnya. Dari awal mereka sudah beberapa kali menjenguk Galung. Walaupun hati mereka sebenarnya kecewa melihat Galung yang tidak ingin berlabuh dari pengacara tapi mereka memegang teguh persahabatan. Mereka menghibur Galung dengan bercanda. Berusaha melupakan peristiwa yang telah terjadi padanya.
"Kawan-kawan lihat Galung, sudah mulai sehat. Kalian lihat matanya sudah cerah kayak matahari"
"Matahari, kayaknya bukan matahari tapi ini seperti bulan yang bersinar"
Galung tersipu. Matanya berbinar-binar. Faris selalu membawakan cerita-cerita lucu yang membuat semuanya tertawa. Galung tak bisa tertawa lebar sebab dadanya masih terasa sesak.
__ADS_1
Makanan dan minuman memenuhi isi ruangan Galung. Sesekali mama Galung ikut bercerita bersama kawan-kawannya. Karena sudah menjelang malam, mereka berpamitan untuk pulang ke rumah. Galung tak lupa mengucapkan terima kasih atas kunjungan rekan-rekannya tersebut.
"Galung, tetap semangat kami selalu mendoakan yang terbaik kami ingin kita tetap bersama seperti biasa" Ucap Faris.