
Galung tiba-tiba tidak sadarkan aku diri kembali setelah kembali dari kamar mandi. Saat ke kamar mandi hendak ditemani oleh mamanya. Namun ia menolak. Sudah hampir setengah hari ia terbaring di ruangan ICU. Tampak kerabat, teman-teman berkumpul di depan ruangan. Mama dan ayahnya menunggu di dalam ruangan.
Pihak rumah berjibaku memberikan pelayanan terbaik.
Seorang teman Galung menanya kenapa awal mulanya Galung tidak sadarkan diri. Mamanya menjelaskan dengan ringkas bahwa Galung sehabis dari kamar mandi tidak sadarkan diri. Dokter rumah sakit masih mencari penyebab Galung tidak sadarkan diri.
Faris menelusuri ruangan dokter
"Dok, kami temannya Galung, kira-kira kenapa Galung tidak sadarkan diri?
" Begini adik-adik sampai saat ini kami dari tim dokter sedang mencari penyebabnya."
" Oh iya dok, sampai kapan kami bisa tahu diagnosa dokter?"
"Secepatnya kami kami beritahu, kami harap teman-teman agar bersabar menunggu diagnosis dari kami. Kami ingin melanjutkan pekerjaan kami"
"Terima kasih, dok"
"Sama-sama"
__ADS_1
Teman-teman Galung kembali menemui mama dan ayahnya Galung.
"Bu, kami sudah menanya dokter, tapi sampai saat ini belum diketahui katanya, kalau sudah keluar diagnosanya akan diberi tahu katanya "
"Terima kasih, nak. Terima kasih kalian sudah kemari semua, ibu berharap kalian doakan Galung ya"
"Kami akan selalu mendoakan Galung bu, kami tidak akan lupa padanya"
"Kami permisi dulu bu, semoga ibu sabar dan Galung cepat sadar "
"Aminnnn, terima kasih nak, hati-hati dijalan"
Menjelang sore hari rumah sakit dipenuhi orang-orang yang ingin berobat. Sesekali mama dan ayah Galung tampak panik karena Galung belum juga sadarkan diri. Tiba-tiba suara pintu terbuka, terlihat bayangan bebadan tegap dengan stelan jas. Laki-laki tegap itu menghampiri ayahnya Galung. Ayah Galung kebingungan. Ia memeluk Ayah Galung.
"Aku mendengar Galung tidak sadar makanya aku datang kemari "
" Terima kasih sudah datang, aku tidak tahu lagi cobaan apa yang datang kepadaku"
"Galung, anakmu yang cukup cerdas san punya integritas yang tinggi. Aku bangga padamu"
__ADS_1
"Terima kasih, terima kasih sudah mengajari Galung banyak hal, terima kasih sudah memberi ilmu yang membuat dia menjadi lebih dari cukup, aku minta, aku berharap kamu memafkan Galung atas peristiwa yang kemarin"
"Iya, aku sudah lupakan itu semua. Galung berharap galung juga masih bisa seperti dulu menjadi advokat. Tapi cobalah bicara baik-baik dengannya agar kemampuannya lebih tepat"
Ayah Galung tidak suka mendengar kata-kata dari temannya itu.
" Aku mau Galung menjadi advokat, itu saja aku mau dia bahagia dan jadi ada yang profesional "
"Pak, anakmu si Galung itu punya kepribadian yang baik, mentalnya juga tidak mudah menyerah, dia punya tujuan sendiri untuk hidupnya" Pak Umbargus menarik Pak Rahmat ayahnya keluar.
" Pak, Umbargus. Ayah si Galung masih tetap kokoh ingin menjadikan Galung advokat, aku bingung pak. Mana yang harus aku ikuti."
"Aku sudah bicarakan tadi sama pak Rahmat, nanti aku bicarakan lagi, bu. Yang sabar ya"
"Terima kasih pak, semoga pikiran ayah Galung berubah ya pak, Aamin "
"Kalau begitu saya permisi bu, semoga Galung cepat sadar dan berikanlah Galung memilih jalan hidupnya sendiri"
"Terima kasih pak"
__ADS_1
Pak Umbargus bersama rekan-rekan berjalan meninggalkan rumah sakit. Pak Umbargus tahu mana yang terbaik untuk Galung dan keluarganya. Peristiwa itu kemarin adalah benang merah dari segalanya. Galung tetap belum sadarkan diri. Diagnosa dokter masih menjadi rahasia.