Hormat Gerak

Hormat Gerak
Para Koruptor


__ADS_3

Aku duduk dibawah langit yang biru. Kubuka koran yang masih hangat. Tak ada berita mengenai sidang yang seharusnya digelar hari ini. Mobil Pak Umbargus mendarat. Ia masuk begitu saja ke kantor. Aku pun menghampirinya.


“Pak, hari ini kita enggak sidang?” tanyaku.


“Nggak,” jawabnya enteng.


“Jadi, kasus yang koruptor yang kemarin sudah selesai?” tanyaku ngotot.


Pak Umbargus berjalan meraih gelas, lalu mengambil air minum. Diteguknya sekali.


“Sudah, kenapa?” tanyanya.


Dahiku mengernyit.


“Apa sudah putusan Pak?” tanyaku.


“Itu bukan urusanmu, Kau diam saja, Urus ayahmu!” ucapnya tanpa rasa iba.


Aku makin curiga padanya.


“Ini yang kemarin,” ucapnya seraya meletakkan amplop di depanku.


Hpku berdering, “Sebentar Pak,” ucapku


Aku keluar. Faris menelponku, marah-marah. Katanya harus cepat datang ke tempat biasa. Aku pun langsung meluncur kesana, ia marah-marah sebab aku masih saja jadi penasehat koruptor. Aku terdiam mendengarkan ocehannya. Nyaris ia tak mau melanjutkan perjuangan ini. Ia pun beranjak dari bangkunya, lalu kuhadang. Kusuruh duduk.


“Ada yang ingin kujelaskan,”ucapku pelan.


“Sudah, nggak perlu,” ucap Faris marah.

__ADS_1


Ia masih kecewa.


“Aku minta maaf, dengar dulu penjelasanku. Kalau memang kau mau membubarkan gebrakan kita ini, silahkan. Tapi dengar dulu penjelasanku.” Ia pun akhirnya duduk.


“Apa?” tanyanya.


“Aku sudah bilang berkali-kali sama Pak Umbargus kalau aku nggak bisa mendampingi klien koruptor. Tapi dia bilang apa! Katanya aku akan menyesal nanti. Ternyata apa yang dikatakannya terbukti. Tadi pagi ayahku jadi saksi dari penuntut umum.”


Faris tercengang. Ia pun tak tahu itu.


“Saksi!”


“Pak Umbargus tahu,” tambahnya.


Belum sempat selesai menjelaskan semuanya kepada Faris, Pak Umbargus menelponku. Menyuruhku ke kantor


sekarang.


“Ada apa Pak?” tanyaku buru-buru.


“Ini amplopmu, tadi sudah bapak tambahi,” ucap Pak Umbargus sambil membuang asap rokoknya.


Mataku melotot.


“Pak, berarti kasus koruptor oknum anggota dewan itu sudah selesai?” tanyaku.


“Galung.”


Pak Umbargus berdiri dari bangkunya. Ia ke tengah.

__ADS_1


“Kau nggak dengar aku bilang tadi, kasus itu sudah selesai.”


Ucapnya meninggi.


“Secepat itu Pak!” Mataku mendeliki lagi.


“Aku sudah puluhan tahun jadi pengacara, tapi kehidupanku begini-begini saja. Memang aku sudah miliki apa yang aku inginkan. Tapi, rasanya itu belum cukup. Sementara lihat teman-temanku yang lain, kau kenal Romandu Sihotang,


pengacara termahal di Indonesia. Siapa yang tidak iri melihat kekayaannya dimana-mana.”


“Oke, aku mengerti. Tapi, kenapa ayahku jadi korbannya, kenapa ayahku tiba-tiba jadi saksi, kenapa?” Emosiku sudah tak stabil.


Pak Umbargus terduduk. Tak bisa menjelaskan sedikit pun.


“Kenapa diam, jawab!” paksaku.


“Oh, ayahku dijebak ya!” Aku menarik napas.


“Atau ini semua ide busuk bapak agar mendapatkan harta berlimpah itu!”


“Kau banyak cakap.” Pak Umbargus melayangkan pukulan ke arahku.


Aku tersungkur. Beberapa kali dihajarnya.


“Bapak, pengacara atau penghianat hukum!” ucapku.


Tak banyak bicara, dihajarnya aku habis-habisan. Setelah ia kelelahan. Aku berdiri dan mendorong perutnya, lantas ia terjatuh. Kutendang beberapa kali.


Ia Memegang perutnya kesakitan.

__ADS_1


“Pak, kita ini orang hukum. Semua orang bilang kitalah yang paling mengerti hukum. Tapi, kenapa kita meludahi hukum itu sendiri. Meludahi bangsa yang katanya negara hukum. Pak, cintailah bangsa ini setulus hati.”


__ADS_2