Hormat Gerak

Hormat Gerak
Patuhilah Cinta


__ADS_3

Pak Umbargus masih asyik mengetik di leptopnya. Sesekali ia menyeduh kopinya lalu kembali mengetik.


“Galung, kasus ini sebenarnya bukan bapak yang mendampingi. Yang mendampingi sudah wafat,” ucap Pak Umbargus sembari menyalakan rokoknya.


“Tiga tahun kasus ini berjalan di tempat. Dan sekarang muncul lagi,” tambahnya.


Perlahan aku semakin curiga. Semuanya membuat mata batinku terbuka. Apakah Pak Umbargus berbohong soal meninggalnya pengacara yang mendampingi kasus itu. Waktu begitu cepat berputar. Jadwal persidangan hari itu tengah menanti kami.


Kami berangkat menuju pengadilan. Faris meng-sms aku. Katanya kita tetap pada jalur dan mengingatkanku untuk tidak pernah menangani kasus korupsi. Aku tak sempat membalasnya. Sidang segera digelar. Kami masuk. Entah kenapa sidang ini bagaikan hiburan rakyat. Hakim-hakim menutup persidangan. Teman-teman wartawan mengerumuni kami. Pak Umbargus menjawab semua pertanyaan wartawan. Lalu kami kembali ke kantor. Hari-hariku semakin sibuk. Sms dari Dinda jarang kubalas. Tak tahu apakah semuanya akan berakhir percuma.


Siang hari aku mendapat sms dari Faris, katanya segera meluncur ke tempat biasa. Aku pun segera ke sana. Semua sudah berkumpul.


“Gimana tadi sidangnya Galung?” tanya Faris.


“Lancar-lancar saja.”


“Katanya pengacaranya dari kantor Pak Umbargus, siapa Galung?” tanya Faris,


“Pak Umbargus...” Aku diam sejenak. Menghela napas.


“Aku juga terpaksa harus jadi penasehatnya,” ucapku tanpa rasa bersalah.


“Apa, kau jadi penasehatnya?” tanya Faris melotot. Ia memegang bajuku.


“Kau pengacaranya?” tanyanya keras.


“Iya,” jawabku.

__ADS_1


“Kau lupa sama perjanjian kita dulu!” Wajahnya berubah.


Terlihat sangar.


Teman yang lain berusah melerai. Namun Faris, tetaplah Faris. Ketika sudah marah ia bagaikan singa yang tak makan bertahun-tahun.


"Kau lupa sama janji kita dulu?" tanyanya agak keras


"Janji apa?" jawabku.


"Janji kalau kau takkan membela koruptor," ucap Faris


keras.


"Maaf, aku nggak bisa. Ini hanya tuntunan pekerjaan. Aku sudah benar-benar menjjadi advokat profesional," ucapku pelan.


Faris meninggalkanku. Dan mereka mengejar Faris, berusaha membujuknya. Teman-teman yang lain mengacuhkanku. Bola mata Bang Affan tajam melihatku, “Kau pecundang!!” ucapnya lantas pergi. Suasana siang itu berbeda sekali. Pemilik warung langganan kami heran. Kami memangt tidak seperti biasanya.


Aku segera ke rumah. hanya bisa sendirian di kamar. Jiwaku sepertinya sudah hanyut dalam dunia advokat. Mataku terlelap sesaat semua teringat. Pikiranku bak digoncang gempa. Aku terlelap meninggalkan dunia ini sesaat. Malam hari Ayah belum pulang. Aku duduk di depan rumah. Pak Anwar meng-smsku, Katanya aku orang yang paling penghianat diantara seribu penghianat. Kepalaku sempat ingin kubenturkan ke dinding, Tpai ituhanya percuma. Rasa kesal bercampur entah jadi apa. Aku berharap keajaiban datang padaku. Bagiku perkataan Pak Anwar lebih bising ketimbang pengeras suara diskotik. Aku seperti ingin berlari. Namun tak bisa. Aku kembali ke kamar. Aku terlelap bersama kata-kata pedas itu.


Pukul tiga subuh saat mataku belum terbuka total, Faris menelpon. Katanya Pak Anwar masuk rumah sakit. Sedikit tak percaya. Sebab baru tadi malam ia meng-smsku. Dengan seribu perasaan kesal aku ke sana. Setiba di rumah sakit, lantas buru-buru


masuk ruang UGD. Mereka sudah berdiri-diri di depan pintu. Wajah Faris masih tegang menatapku. Sedangkan teman yang lain enggan mau melihatku. Hanya Eriska yang menyambutku dengan senyuman. Aku membalasnya.


“Gimana keadaan Pak Anwar?” tanyaku.


“Lihat aja di dalam, ia sering menyebut namamu,” ucap Bang Affan.

__ADS_1


Aku masuk ke rung UGD. Kutemui pak Anwar yang terbaring lesu.


“Pak, aku Galung,” bisiku ke telinganya.


Beberapa kali kusebutkan namaku, baru matanya terbuka.


“Ga… Lung,” ucapnya patah-patah.


“Saya Pak..”


Air mataku nyaris tumpah. Apa karena aku yang tidak patuh makanya Pak Anwar masuk rumah sakit. Aku telah menghianatinya. Ini salah dan Dosaku.


“Kalian semua sudah berkumpul?” “Sudah Pak.”


“Kalian harus memperjuangkan misi kalian, Galung! Seriuslah mencintai bangsa ini sebab ia akan datang juga kepadamu nanti, Reiny menunggu perjuangan cintamu kepadanya sebesar perjuanganmu kepada bangsa ini. Kalau kau mau ia datang, maka perjuangkanlah cinta itu. Jangan terbawa ego. Pasti banyak yang menunggu gebrakan kalian,” ucap Pak Anwar.


Pak Anwar menarik napas. Lantas terbatuk-batuk. Mengeluarkan darah.


“Pak,” seru kami bersama-sama.


“Tidak apa-apa, ini sudah biasa.” Perawat mengelapnya.


“Yakinlah, kalian pasti akan dikenang. Jangan sesekali melakukan ini sebagai pencitraan. Bukan harta, wanita, tahta yang mempersatukan kita. Ingat Hormat Gerak! Hormat Gerak! kalian sering menyebutnya. Kalian menghormati bendera itu penuh kepatuhan. Patuhilah cinta yang besar kepada bangsa ini. Hanya merah putih yang mempersatukan kita. Satukan kembali bangsa yang hampir pecah ini akibat ulah koruptor. Koruptor adalah musuh kita semua.”


Mata kami sembab seketika. Aku seperti ditampar tangan Pak Soekarno. Tangan yang memberikan beribu semangat.


perawat datang, Ia menyuruh kami keluar. Katanya Pak Anwar harus banyak istirahat.

__ADS_1


Faris melirikku. Ucapan Pak Anwar kembali membuka hatiku. Aku meminta maaf sama Faris dan teman yang lain. Sebenarnya mereka sulit memaafkanku.


__ADS_2