Hormat Gerak

Hormat Gerak
Akhirnya Wisuda


__ADS_3

Mama bertanya bagaimana hubunganku sama Dinda. Mama melihat selama kedekatan kami, bahwa Dinda adalah anak yang baik. Mama banyak bertanya tentang hubungan kami yang sempat tanpa kabar. Aku menjawab apa yang sebenarnya terjadi. Ayah terlalu serius menyaksikan televisi sehingga cabe rawit yang dikiranya kacang panjang disantap habis. Ayah kepedasan. Ayah mengibas-kibaskan tangannnya. Kami mayun-mayun melihat ayah kepedasan. Mama membuatkan teh manis. Setelah meminum teh manis, rasa pedasnya sudah berkurang. Kami tertawa. Malam itu entah mengapa Ayah sangat berbeda. Gelombang marahnya tidak terlihat. Ia pun terlihat konyol. Usai menghabiskan nasi dipiringnya, ayah menceritakan masa mudanya. Ceritanya membuat mama sedikit cemburu, Mama juga tak mau kalah. Ia menceritakan masa mudanya. Mama yang pernah memiliki mantan seorang anak pejabat. Namun karena pilihnnya adalah ayah. Ia pun mengakhiri hubungannya dengan seorang anak pejabat tadi. Aku dan Kak Misya tak berkomentar. Kami tersipu mendengar cerita mereka. Hingga pukul dua belas malam baru kami tidur.


Di Pagi hari yang cerah aktivitas berjalan seperti biasa. Beberapa hari ini aku di rumah dan menghadiri gladi bersih wisuda. Tak ada aktivitas lain. Malam ini usai makan malam, ayah baru tiba di rumah. Ayah sudah makan malam bersama temannya seanggota DPRD. Ia membawa buah-buahan. Usai melahap buah-buahan kami tidur. Jam lima subuh kami sudah bangun. Aku mempersiapkan toga. Kak Misya, mama dan ayah selesai berpakaian. Usai sarapan kami langsung berangkat ke kampus.


"Akhirnya wisuda juga, selamat ya Dik," ucap Kak Misya.


"Iya Kak, Terima kasih Kak.”


"Dinda enggak datang?" tanya Kak Misya.

__ADS_1


"Dia nggak bisa Kak.”


Kami tiba di auditorium. Hari ini ada ribuan wisudawan. Beberapa jam lagi akan terbentang sayap-sayap garuda Indonesia. Ada yang terbang lebih tinggi, ada yang biasa saja dan ada pula yang bertahan. Sungguh bahagianya acara wisuda ini bagi mahasiswa sepertiku. Tata tertib acara berjalan mulus. Hingga berakhirnya acara, tak satu pun susun acaranya berantakan. Aku keluar auditorium dengan senyuman lebar. Semua wisudawan menemui keluarganya masing-masing. Berfoto bersama Ayah, mama dan Kak Misya. Hari ini beban dipundakku jelas ada. Sarjana bukan kesenangan semata melainkan amanah yang harus kujaga. Apalagi sarjana hukum. Persoalan hukum di negeri ini khususnya kasus korupsi nyaris sulit diberantas. Sebagai sarjana hukum seperti kami yang masih memilii pemikiran jernih, sangat diperhitungkan dalam menegakkan hukum dan keadilan.


Matahari bertengger di atas kepala. Kami berhenti di salah satu restauran. Makan siang bersama. Kak Misya mengajak kami selfie, ia sangat bahagia. Ia membelikanku bunga, “Selamat ya Dik, semoga ilmunya berkah,” ucap kak Misya. “Terima kasih Kak” jawabku. Ayah dan mama juga mengucapkan itu. Mama mengecup keningku, “Nak jadilah anak yang berbakti kepada orang tua, agama dan bangsa” Air mataku nyaris jatuh.


“Iya Ma, Terima kasih Ma”


"Iya Yah, terima kasih Yah" ucapku datar.

__ADS_1


"Tapi kenapa Ayah harus menyuruhku jadi pengacara?"


"Nanti kau akan tahu" ucap ayah.


Aku semakin penasaran, soalnya ayah tak pernah memberitahu alasannya mengapa aku harus jadi pengacara.


"Nanti kalau kau jadi pengacara, bakal banyak teman kakak yang memakai jasamu, nanti kakak promosikan."


"Betul sekali Kak, aku akan jadi terkenal!"

__ADS_1


Jawabanku adalah musuh, musuh yang akan membanggakan diriku. Aku berusaha berpura-pura tak sadar saat mengucapkan kalimat tadi.


Usai makan siang. Ayah mengajak kami ke pantai. Mbok Emi dan Kang Maman ikut. Sampai di pantai kami duduk di pondok. Udara segar menyelimuti kami. Bias ombak membuat tubuh ingin menjamanya. Aku berganti pakaian, lalu merebahkan tubuh di pasir putih. Seketika ombak datang menyentuh tubuhku.


__ADS_2