
Menjelang sore hari cuaca sedikit gelap. Gerimis pelan-pelan turun dari langit. Aku bersiap-siap pulang. Sesampai di rumah. Mandi lalu makan malam bersama. Malam itu tiba-tiba saja meja makan senyap. Usai makan malam aku menjemput Dinda. Lalu mengajaknya menghabiskan malam di luar. Di dipinggir pantai kami duduk sambil bercerita banyak hal.
"Kamu semakin sibuk sekarang!" ucap Dinda agak cemberut.
"Walaupun aku sibuk Tapi, aku selalu menyampatkan untuk menemuimu," jawabku.
"Tapi tidak sesering sebelum kamu jadi pengacara, kamu lupa kalau dulu kamu pernah bilang tidak mau jadi pengacara, kenapa sekarang malah betah?”
"Kalau ditanya hatiku, aku juga nggak mau. Ini hanya proses ” ucapku berdiri.
"Proses apa, supaya menjauh dariku!" ucap Dinda agak meninggi.
"Bukan itu."
"Jadi apa?" Dinda menyenggakku.
Aku menatapnya. “Aku nggak suka kamu jadi pengacara,” ucap Dinda.
"Bukan kamu saja yang tidak suka, aku juga tidak suka," jawabku. Ucapku keras padanya.
"Kamu membentakku ya" ucap Dinda. Aku tak menjawab.
“Sebenarnya ada satu hal yang belum aku katakan padamu. Aku menjadi pengacara bukanlah keinginku. Tapi ini keinginan dari Ayahku. Ayahku menginginkan aku jadi pengacara. Baginya itu kebahagiaan. Aku tidak mungkin menolak. Aku harap kamu mengerti. Aku tidak sedikitpun punya cita-cita jadi pengacara.”
“Maafkan aku yang sudah menuduhmu. Tapi pesanku jadilah pengacara yang bisa membanggakan keluarga kamu.” Ucap Dinda.
Aku memeluk erat tubuhnya.
“Terima kasih sudah mengerti aku”
Malam semakin larut aku mengajaknya pulang. Mengantarkannya ke rumah setelah itu baru aku pulang.
__ADS_1
Aku nyaris tertidur setengah telanjang setelah tak ingat apa-apa saat pusing kepala datang. Selaman hujan turun dan aku tidak sadar sedikit pun. Di pagi hari yang cerah Selepas sarapan aku ke berangkat ke kantor. Membaca koran. Muncul berita dugaan korupsi di lingkungan oknum anggota dewan. Bang Rewad datang. Lalu kami ke pengadilan mengajukan surat gugatan itu. Lantas kembali lagi ke kantor. Saat hendak ke kantor. Tiba-tiba mobil putih berhenti di depan toko. Seseorang keluar dengan kamera di tangannya. Ia mengambil gambar toko kami. Ketika hendak kudekati, orang itu pergi. Mama juga melihat orang tadi. Tapi mama diam saja.
"Ma, orang yang memoto tadi siapa?" tanyaku.
"tidak tahu Lung."
"Siapalah ya, Ma," ucapku.
"Mama juga tidak tahu."
Tiba-tiba sms masuk ke hpku. Dari Faris, katanya berkumpul di tempat yang biasa siang ini. Aku pun permisi kepada Pak Umbargus. Lalu segera ke sana. Teman-temanku sudah berkumpul semua. Termasuk Pak Anwar.
Semua sudah datang, katanya hanya satu orang enggak tahu jasadnya kemana,
“Gimana pekerjaan kalian, semua beres sama pekerjaannya?" tanya Pak Anwar.
"Beres Pak."
“Saya Pak,” jawabku.
“Tentang apa?”
“Korupsi di lingkungan oknum anggota dewan.”
“Koran dua minggu yang lalu ada yang baca?” tanya Pak Anwar lagi.
Faris ngangkat tangan, “Beritanya sama Pak, tapi cuma koran ini. Di koran lain nggak ada,” ucap Faris sambil menunjukkan korannya.
“Kamu yang nulis ini Eriska?” tanya Pak Anwar.
“Iya, Pak.”
__ADS_1
“Bagus. Pertahankan,” ucap Pak Anwar bangga.
“Kemarin saya juga sempat menulis Pak. Tapi redaksi kami nggak menerbitkannya,” ucap Marvous
“Oke, koran ini kalian simpan. Eriska, kamu telusuri saja kasusnya. Marvous, kamu terus cari berita. Tidak dimuat tidak apa-apa. Beritahu kami semua.”
“Siap Pak,” jawab Marvous.
Pak Anwar pun lantas pergi. Ada urusan mendadak katanya. Hari senin pagi, Eriska mengejar ketua pengadilan. Lantas menyuruh Eriska masuk ke ruangannya.
“Terima kasih Pak atas waktunya” ucap Eriska.
Bapak itu mengambil kartu pers Eriska. Lalu ia berjalan ke belakang. Lantas mengambil Koran. Ia cocokkan nama penulis berita itu dengan kartu pers Eriska. Diliriknya Eriska.
“Kamu mau nanya apa?” tanya ketua pengadilan.
“Sebelumnya minta maaf Pak” ucap Eriska sopan.
“Langsung saja, mau nanya apa?” tanya ketua pengadilan agak keras.
Tangannya menghentakkan ke meja.
“Kamu yang nulis inikan!” tanya ketua pengadilan ngotot, ia menunjukkan koran itu.
Eriska mengangguk. Ketakutan.
“Keluar, atau saya akan beritahu redaktur, agar kamu dipecat,” gertak ketua pengadilan.
“Pak, saya hanya melaksanakan tugasa. Penegakah hokum harus benar-benar berjalan di relnya pak. Lagi pula agar semua orang tahu, hukum harus ditegakkan,” ucap Eriska.
“Kamu baru tahu hukum kemarin, kamu nggak ngerti apa-apa tentang hukum.”
__ADS_1
Bapak itu lantas menelpon pemilik koran itu. Eriska diusir keluar. Kartu persnya tidak diambil. Belum sempat pulang ke rumah, ia pun mendapat panggilan ke kantor segara. Pimpinan redaksi memarahinya, mengatakan kalau sekali lagi memuat berita itu maka ia akan dipecat. Wajahnya bercucuran keringat. Tubuhnya gemetaran. Setiap aliran darahnya selalu bergoncang. Antara patuh atau tidak.