
Teman-teman yang lain masih tidak senang, tetap menolak.“ Kami tidak bisa Pak.”
Pak Anwar menghela napasnya.
“Aku minta maaf” ucapku memohon kepada mereka.
“Seandainya jika dia mendamping tersangka korupsi apa hukumannya Pak?” tanya Marvous.
Pak Anwar terdiam.
“Kami tidak bisa Pak. Kami tetap tidak bisa menerimnya” ucap Marvous.
“Keadaan dan waktu yang akan menghukumnya” ucap Pak
Anwar.
“Bagaimana kalau dia kita selesaikan?”
Aku tersentak, “Aku nggak bisa, terlalu berlebihan,” ucapku menggelang-gelengkan kepala.
“Oke, kita buat surat kesepakatan seperti yang dikatakan Pak Anwar tadi, aku percaya samamu Galung, aku kenal siapa dia” Ucap Faris. Ia menutup kekecewaanya.
Faris membuat surat kesepakatan itu. Sebelum menandatanganinya ia menoleh ke arah pak Anwar. pak Anwar mengangguk. Lalu faris menandatanganinya. Kini giliran pak Anwar, dan dioper kepada teman yang lain. Saat surat pernyataan itu ditangan bang Affan, ia terdiam sejenak.
__ADS_1
“Bang Affan!” seru Eriska.
Bang Affan pun menandatanganinya. Lalu terakhir aku yang menandatanganinya.
"Kita sudah memulai satu tahap menuju Indonesia yang bersih dan memiliki kekuatan yang besar, jadi jangan ada diantara kita yang mengacaukannya, Jangan lagi ada yang coba-coba merusak setapak demi langkah kita ke depan. kapan kalian wisuda?" ucap Pak Anwar sangat berharap.
"Minggu depan."
"Bagus kalau begitu, lebih cepat lebih baik. Harapan bapak, untuk saat ini hingga beberap tahun, setahun atau dua tahun ke depan, kalian tidak usah berjumpa dulu, tunggu ada arahan dari saya atau dari Faris, baru kita kumpul bersama, kalian fokuslah dulu kejar impian kalian tadi. Setelah itu kalian dapatkan baru kita menyatukan kekuatan. Karena kita sudah memiliki kekuatan penuh sehingga bapak yakin mimpi kita yang besar untuk Indonesia ini lebih muda diraih. Kita lihat siapa yang benar-benar bertahan. Saya juga mau keluar negeri urusan S3 saya."
"Iya, tapi Pak" ujarku.
"Kalian harus nurut" ucap Pak Anwar.
“Aku percaya samaku, nggak apa-apa” Faris memang teman terbaikku.
Aku mencari buku yang kubaca beberapa hari yang lalu. Aku menjelajahi setiap sudut raknya. Aku menemukannya di rak yang sama. Kubaca kelanjutan isinya. Aku bergeming pada satu kalimat. Kutelaah kalimat itu. Hpku berdering, Faris mengirim pesan kalau dia dan teman yang lain sudah berada dikantin. Mereka menungguku. Aku segera kesana menemui mereka.
Mereka terlihat sedikit berbeda dari seperti biasanya. Bang Affan sudah mulai mengerti dengan keadaanku. Ia pun tampak sudah seperti biasa. Kami makan siang bersama. Sesekali bercanda bersama. Usai makan siang aku segera pergi ke toko. Hari itu toko sepi. Hanya dua orang dari pagi hingga siang yang mampir.
"Ma, Galung dan teman-teman membentuk persatuan anti korupsi"
"Apa!” Mama terkejut.
__ADS_1
Karyawan bengong melihat mama terkejut.
"Kami berkumpul ada beberapa orang. Kami melakukan riset kemudian dari hasil riset itu menunjukkan bahwa mengapa Indonesia tidak sejahtera, mengapa Indonesia selalu tertinggal dengan Negara lain. Jawabannya karena kasus korupsi semakin banyak dan semakin banyak. Jadi dengan alasan itu kami membentuk tim anti korupsi. Tim ini berjenjang ma, memiliki sterategi dan rencana panjang ma. Bagus kan ma?”
"Mama bukan melarang, Tapi Gimana kalau ayahmu tahu? Ayahmu menyuruhmu jadi pengacara, itukan sangat bertolak belakang sama pengacara."
"Mama jangan bilang sama ayah.”
"Tapi, kalau ditanya ayah mama nggak bisa bohong.”
"Ya sudah Ma, semua tergantung mama" ucapku pasrah.
Sore hari pukul lima kami menutup toko. Mama lebih dulu pulang. Aku masih duduk di depan toko. Mengobrol dengan karyawan mama. Menjelang malam hari aku baru pulang. Setiba di rumah, segera mandir. Lalu sebentar membaca buku. Kak Misya memanggilku, menyuruh makan.
"Galung, lusa kamu wisuda?" tanya Ayah.
"Iya Yah,"
"Ayah sudah sediakan jadwal agar bisa hadir diwisudamu "ucap Ayah.
"Terima kasih Yah.”
"Kakak juga Galung, Kakak sudah izin."
__ADS_1
Aku senang sekali. Hari wisuda adalah hari berharga bagiku. Aku akan meraih gelar yang akan kubawa untuk membawa Indonesia lebih terbang ke angkasa.