
“Kita pulang, nyalakan mobilnya!” ucap Kak Misya lugas.
Kami pulang detik itu juga. Pulang dengan juara kedua dan satu kemarahan serta kekecewaan yang tidak pantas dan harus disyukuri.
“Aku tahu pasti kakak kecewa karena juara dua kan?” Ia terdiam. Matanya melototiku lewat kaca depan.
“Kak, mau juara berapa pun, kakak harus ikhlas, harus terima dengan lapang dada.”
Ia menarik napas, “Kakak nggak yakin aja sama penampilan kakak yang tadi, makanya kakak kecewa sekali.”
Ia mengusap air matanya. Ada kekesalan dan harapan di sana, saat butiran air jatuh ke pipi.
“Mulai dari awal kakak sangat yakin Galung, kakak sangat percaya diri sekali.”
"Cin, maafkan ike berdua ya, kali ini kita nggak dapat juara satu.”
"Sudah, diam! dari awal aku sudah bosan lihat kalian berdua!” ucap Kak Misya penuh emosi.
Mereka berdua lantas terdiam dan takut kalau Kak Misya sudah marah.
Setiba di rumah managementnya. Dua rekannya turun. Ia pun membuka kaca mobil lantas melemparkan piagam yang baru didapat dari kontes tadi, “Terima kasih buat kalian berdua,” ucapnya.
“Apa-apaan ini Kak.”
Matanya menatapku tajam. Ia sangar sekali. Bibirnya bergetar ingin meluapkan emosi. Aku keluar dari mobil lalu mengambil piala dan sertifikat itu. Kuserahkan kepadanya. Ia menolak.
“Untuk apa ini, enggak perlu!” ucapnya.
Aku meletakkan piala dan sertifikat itu dibagasi belakang.
Lalu kami pulang.
“Kakak enggak menghargai usaha kakak sendiri” ucapku nada tinggi.
“Apa kau bilang?”
“Kau nggak tahu soal modeling, Kau diam saja!” ucap Kak Misya keras.
“Memang Kak, aku enggak tahu apa-apa. Tapi aku selalu menghargai apapun itu. Nggak selamanya kakak selalu juara satu. Tapi malam ini kakak juara dua. Kakak harus terima itu dong!”
“Oh… Jadi kau enggak percaya kalau kakakmu ini juara satu, apa enggak kau lihat saat kakak tampil dewan jurinya berbisik-bisik, ada dua juri standing aplaus. Itu masih kurang?!”
Aku terdiam. Fokus pada jalannya sunyi.
“Sehebat apapun kakak. Tapi pemenang sejati pasti mau menerima kekalahan.”
“Galung,” ucapnya. Matanya berair parah.
Ia mengelapnya.
__ADS_1
“Juara satu bakalan dibawa ke Jakarta. Ikut casting. Pasti jadi artis,” ucapnya lugas.
Aku menarik napas. Aku menoleh kepadanya.
“Itu yang kakak sesalkan Galung, kalau enggak karena itu kakak pasti biasa saja. Dapat juara atau tidak, enggak masalah sama kakak. Justru karena itu Galung. Setiap model tentu memiliki tujuan ke sana. Menjadi artis terkenal.”
Ia mengelap air matanya lagi.
“Dan satu lagi, kontes ini cuma setahun sekali Galung. Itu juga belum tentu tahun depan ada.”
“Oke Kak, aku faham. Saranku kakak harus lebih bersabar, siapa tahu tahun depan giliran kakak yang jadi pemenang.”
"What, tahun depan? Please drive its, you dont know what I Fell."
Sepanjang jalan kami terdiam. Kunyalakan radio agar merobek kesunyian. Kami sampai di rumah, mama menunggu di teras. Kak Misya turun dari mobil lantas buru-buru masuk ke rumah. Mama heran sekali. Kuberitahu ke Mama kalau kak Misya juara dua. Kening mama berkerut."Owh. pantas, tapi!" Mama mengejar kak Misya. Pintu kamarnya sudah terkunci. Mama mengetuk pintunya, Kak Misya bilang kalau ia mau tidur.
Malam itu orang yang tak pernah kalah, dikalahkan oleh keegoisannya. Rasa percaya diri yang berlebihan sering kali membuat seseorang lupa siapa dirinya. Ia pun menangis sepanjang malam. Mama termenung di depan kamar Kak Misya, “Ma, sudah malam, tidur saja. Mungkin besok Kak Misya baru mau diajak bicara.”
"Mama nggak bisa tidur Galung, Mama khawatir sama kak Misya, Entah kenapa-kenapa dia di dalam.”
Ayah keluar dari kamar, membujuk mama agar lekas tidur. Ayah meyakinkan mama, kalau Kak Misya tidak akan berbuat bodoh. Mereka berdua masuk kamar. Sebelum tidur aku dapat sms dari Faris, “Lung besok kita ketemu di kampus”, begitu bunyinya. Aku balas, “Oke.”
Pagi hari matahari cerah menyibak aktifitas kami. Kami jarang bertemu kecuali makan bersama. Kubuka buku yang telah kubaca beberapa hari yang lalu. Buku luar negeri memang membuatku mati penasaran. Entah apa yang menjadi daya tarik buku ini dari luar. Jika covernya diperhatikan sekilas sama sekali tidak mendukung. Namun siapa sangka saat pembaca pertama sepertiku ingin rasanya cepat-cepat melahap buku ini. Aku selalu meluangkan waktu dua puluh menit sehari untuk membaca buku. Aku ke meja makan. Usai sarapan segera ke kampus. Sesampai di kampus, kutelepon Faris, ia menyuruhku naik ke lantai empat. Aku bergegas ke lantai empat. Di lantai empat, Galung seru Faris sambil mengangkat tangannya. Aku kesana menemui Faris. Duduk di sampingnya.
"Lumayan ramai perpusnya?”
“Mau pesan apa?”
"Jus mangga.”
Faris memesannya.
Ia mengenalkanku sama Pak Anwar, dosen mata kuliah Pemberantasan korupsi. "Ini temanku, namanya Galung, Pak.”
"Lung, Bapak ini sudah menulis banyak buku. Rata-rata bukunya Seputar pemberantasan korupsi di negara ini.”
Aku mengangguk-angguk.
“Aku juga kenal sama Bapak ini, kenal begitulah.”
Pak Anwar menyeruput teh hangat, “Faris sudah cerita tentang kamu, katanya korupsi ini yang menyatukan kalian!”
Kami tersenyum, “Iya pak.”
"Iya, kemarin teman advokat bapak bilang, kalau poligami mau disahkan, bagaimana pendapat kalian!”
Kami saling menoleh, lalu melirik Pak Anwar.
Kami tertawa. “Bukannya kami enggak mau menjawabnya, tapi pasti kami berbeda Pak.”
__ADS_1
Pak Anwar kembali menyeruput tehnya.
“Kalian aneh.” Pak Anwar menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi, keanehan kalian itu yang bapak kagumi. Kalian perang pendapat mengenai poligami. Namun, masalah korupsi kalian langsung bersatu. Inikan luar biasa. Kebanyakan jika sudah tak sepaham pasti saling menjatuhkan dan tak mau bersatu. Itulah salah satu kelamahan bangsa ini. Tapi kalian hebat. Pertahankan ini.”
Kami mengangguk-angguk.
Sejujurnya aku dan Faris sangat tersanjung dipuji. Kami juga tak tahu mengapa perbedaan kami justru membuat kami harus berjuang mempertahankan argument yang sama dalam meraih mimpi-mimpi bangsa ini.
“Sekali lagi kalian harus pertahankan seperti ini. Memang akhir-akhir ini korupsi semakin merajalela di negara kita ini. Lihat, hampir semua pemerintahan terlibat kasus korupsi. Sebentar lagi KPK juga akan terlibat korupsi.”
Kami tercengang. KPK korupsi?
“Udah kerlaluan sekali bangsa ini kalau sampai begitu,” ujarku dalam hati.
“Korupsi yang terjadi di negara seperti bara api yang sedang menyala-nyala, bahan bakarnya jabatan dan dibiarkan begitu saja. Kalian bisa lihat di tv, setiap hari kasus korupsi ada. Tapi ya begitu-begitu saja. Selalu ada yang baru. Jadi korupsi ini ibarat film sinetron, selalu bersambung-sambung, entah kapan selesainya.”
Jus pesananku datang. Lantas kuteguk berulang kali. Pak Anwar diam sejenak. Dinginnya jus melebur dan menyegarkan tenggorokan ini.
"Mental kalian sudah siap?”
“Sudah, Pak,” jawab kami, yakin.
“Kalau sudah siap, selanjutnya kalian tahu caranya, Kalian harus memiliki ilmu yang luas. Apa hanya kalian berdua saja?”
“Enggak, Pak. Kemungkinan beberapa orang lagi akan bersama kami.”
“Kalau menurutku lima orang, kamu Galung?”seru Faris.
"Kira-kira lima atau enam orang gitu.”
"Kalian harus cari orang yang sama cintanya seperti kalian,” ucap Pak Anwar mencicipi kue basah.
“Cintanya, memang kami homo Pak?” seru kami ngotot.
Kami tertawa.
“Bukan, tapi bapak yakin saking besarnya cinta kalian sama bangsa ini kalian pun rela berkorban. Bukankah begitu?”
“Iya Pak.” Kami mengangguk.
“Kalian harus cari orang yang mencinta bangsa ini. Tidak usah banyak-banyak. Seadanya saja. Cinta yang tulus dan besar akan menghasilkan pengorbanan yang besar pula.”
Kami terdiam tanpa kata jika cinta dikaitkan dengan bangsa.
"Seperti rumus pacaran Pak?” tanyaku.
“Sepertinya begitu lah,” ucap Pak Anwar.
__ADS_1