Hormat Gerak

Hormat Gerak
Untuk Indonesia


__ADS_3

Di saat itu pula teman perempuan melintas lantas mengucilkannya. Di tangannya ada Koran yang sama. "Dasar perempuan murahan, model kotor mana pernah menang.” Misya bangkit, ia ingin melawanannya. Eva menahan, menyuruhnya


duduk kembali, "Kamu yang sabar ya, semua enggak ada yang sempurna."


“Apa? Mau melawan!” seru perempuan tadi.


Napas Kak Misya naik turun. Tangannya bergetar dan sudah mengambil ancang-ancang.


Eva merayu kak Misya agar duduk. Lantas menyuruh permpuan tadi pergi. Barulah kak Misya mau duduk.


"Aku nggak tahan begini terus Va, yang kulakukan selalu salah dimata mereka."Air matanya bercucuran.


"Aku tak pernah bermimpi bekerja di kantor sebagus ini, mimpi aku adalah menjadi model Va."


"Iya, sabar ya, semua pasti ada prosesnya."


"Jangan dengarkan apa kata mereka. Kita kerja dulu, sore baru kita ke pantai.”


Misya memeluk Eva, “Terima kasih Eva.” Mereka kembali bekerja.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"Galung ke mana saja kau?"


"Maaf ada urusan mendadak." Aku lewat saja di depannya.


“Jangan lupa Galung, cari yang mampu mencintai Indonesia ini.”

__ADS_1


“Beres" ucapku sambil mengacungkan jempol.


Aku ke kantin. Disana pasti berjumpa banyak teman lama. Aku mencari meja. Teman-tenamku yang sudah tahu maksud kedatanganku segera bangkit dan pergi. Bagi yang tetap duduk mungkin sudah tahu dan bosan mendengar ucapanku soal korupsi. Aku disambut dengan kehampaan. Ada yang berbisik-bisik dengan teman sebelahya. Aku meminta waktu, menjelaskan kepada mereka soal korupsi yang terus-menerus menghancurkan bangsa ini. Mereka mengatakan, kami saja masih butuh uang. Tak penting uang halal atau haram. Sulit sekali menolak korupsi, kata mereka. Mereka belum sanggup. Aku tak memaksa. Aku keluar dari kantin. Lalu berjalan menuju mahasiswa yang berkumpul. Kubuka percakapan dengan statemen, “Sepertinya korupsi di negeri ini tidak kehabisan air, selalu saja mereka memiliki air yang banyak."


"Kau kuliah di Fakultas Hukum?" tanya seseorang dengan lantang.


"Iya." Aku menatapnya.


"Aku juga Fakultas Hukum, kau semester berapa?"


"Semester akhir."


"Kau bilang apa tadi?"


"Korupsi di Indonesia seperti hanya punya satu musim, musim hujan. Lihat saja berita korupsi di TV tidak pernah sepi. Berarti yang ada hanya musim korupsi.”


Aku memandangnya. Aku baru tahu orang yang sedang berbicara denganku pernah menjuara lomba debat se-provinsi. Meskipun begitu aku tak takut.


"Yang kulakukan hanyalah berusaha mengajak, berdisukusi dan sama-sama mencari ide agar korupsi perlahan hilang”ucapku penuh keyakinan.


"Menghilangkan korupsi, Memberantas korupsi, memang kau bisa apa? Kau siapa? Kau bukan KPK, kau bukan hakim, kau bukan jaksa apalagi polisi. Jangan terlalu tinggi berkhayal kawan! Korupsi sudah menjadi budaya kita."


"Budaya! Kau bilang korupsi itu budaya?" Aku nyengir.


Ia menjawab pertanyaanku secara rinci. Aku tersenyum menanggapinya.


"Aku tahu kau punya seribu argument soal korupsi di Indonesia enggak bisa diberantas. Tapi ingat, selama napas ini dan disetiap hembusan napas itu aku memiliki triliun semangat untuk memberantas korupsi. Dan akan mengalahkan ribuan argumenmu. Aku cuma minta agar kita, siapa saja mau membuat gagasan anti korupsi, mau sama-sama menuangkan ide, mencari jalan perubahan untuk Indonesia" ucapku datar.

__ADS_1


Ia marah sekali dengan perkataanku barusan. Ia tak puas. Lantas mengolok-olokku. Ia menyebut aku mahasiswa “bodoh”. Lantas membanggakan lomba debat yang pernah diraihnya. Ia bediri dan menyalakan amarah di wajahku. Kami hampir berantam. Tapi aku sedikit pun tidak marah. bahkan menurunkan emosinya. Emosinya ternyata makin melonjak. Ia menarik kera bajuku. Untung saja ada yang melerainya. Dia berpesana padaku akan mempengaruhi mahasiswa agar tidak mau bergabung denganku. Aku meninggalkannya. Pindah ke tempat lain. Ada lima mahasiswa ngotot memojokkanku, mereka bilang kalau yang kulakukan sia-sia. Hanya sekedar membuang-buang waktu. Ada juga yang bilang, Indonesia itu seperti ini. Korupsi itu sudah hal yang wajar dan yang paling sakit lagi, mereka bilang aku makhluk sok suci. Aku menghindar. Aku mengalah. Kuhampiri mahasiswa lain. Mereka juga takut dikutuk pemerintah. Aku mulai mengerti arti semua ini.


Keyakinanku soal pemberantasan korupsi sudah mulai terkikis. Kata-kata mereka yang sadis seolah terus-menerus berdengung di telinga ini. Laraku menjerit keras tanpa suara. Pandanganku mulai kosong, hanya tersisah secuil semangat. Aku sudah buta soal angkernya korupsi. Sore itu aku kembali ke toko. Sepertinya aku sudah kehilangan selera soal pemberantasan korupsi. Entah kenapa, aku juga tak bisa menjawabnya.


Bangsa yang besar dan segelintir orang tak berjiwa besar.


**********


Di sore hari megah, selepas pulang dari kantor, Kak Misya dan Eva ke pantai. Pantai ibarat kolam kepedihan bagi siapa saja yang ingin mencurahkannya. Disanalah Kak Misya berkeluh kesah. Membongkar segala rasa amis itu.


"Va, coba kau lihat ke sana. Ombak itu menggiring sampah ke bibir pantai. Apa kehidupan seperti itu. Siapa yang kotor, berdosa akan terasingkan?" tatap Misya.


"Misya, laut itu jernih. Jadi ia tak mau dicemari oleh kotoran. Akan tetapi tidak semua yang dipinggirkan laut itu sampah, kotoran, apa lagi tidak bermanfaat sama sekali. Sebahagiannya pasti bermanfaat! Yang bermanfaat itulah yang paling dicari. Tidak ada yang diasingkan dan terasingkan. Tidak ada kehidupan yang gelap gulita kecuali gelap itu datang dan dibiarkan. Jangan pernah menyesal untuk berubah menjadi lebih baik.”


"Tapi Va, aku udah enggak sanggup sama ejekan mereka. Aku memang modeling lewat pentas-pentas di club malam, di cafe-cafe. Aku pikir itu dulu sia-sia. Aku juga sadar kalau semua itu hanya proses. Berkat sering mengikuti kontes aku semakin yakin dengan hobiku bahkan mimpiku ini, lihat aku sudah meraih berbagai penghargaan. Aku sama sekali enggak pernah mabuk, aku masih menjaga kesucianku. Adikku selalu menemaniku saat kontes. Kontes di club malam itu hadiahnya jutaan rupiah. Pernah aku ditawari pengusaha. Adikku langsung menggertaknya. Aku dulu sampah. Pakaianku lebih parah dari sekarang. Aku seksi. Seksi yang kulakukan demi impianku. Aku tidak suka mabukan. Apalagi mereka pikir aku pelacur. Apa salah, kalau aku punya mimpi jadi model bahkan artis terkenal?"


Air matanya bercucuran.


"Misya, selama kau mau memperbaiki diri, biarkan mereka bilang apa, ada yang maha tahu bagaimana kau sebenarnya"


Mata Misya melirik Eva.


"Terima kasih Va, kau sahabat terbaikku."


Ia memeluk Eva.


Mereka berdua berjalan di tepi pantai. Terkadang ombak mencumbui kaki mereka. Tangan Eva merangkul Misya. Terpancar senyum di wajahnya. Ombak makin berdesir. Ombak sore membentuk gundukan. Suaranya berirama memecah kesunyian. Seombok cahaya mengintip dari balik laut. Memisahkan kegelapan di antara para pencari rezeki. Sepertinya Misya mulai pudar dari hinaan itu. Namun, siapa sangka, jika esok hari akan datang lagi cobaan yang lebih besar. Sebelum matahari tenggelam, mereka pulang. Misya mandi. Lalu makan malam. Tubuhnya bak rongsokan saat terbayang akan cemoohan orang-orang yang tidak mengerti. Matanya terpejam saat bayangan ejekan itu datang. Malam cepat berlalu. Ia berusah mengubur bumbu-bumbu busuk itu di alam liar.

__ADS_1


Pagi hari aku harus buru-buru ke kampus. Aku berharap ada yang bergabung membuat pergerakan era milenials ini. Caraku masih sama. Mulai dari memperkenalkan diriku, memberikan gagasan dan alasanku mengajakanya bergabung bahkan membuka jalan pikiran agari berguna untuk Indonesia kedepan. Tapi ini bukan MLM. Sejak pagi hingga petang tak seorang pun mau bergabung. Jangankan untuk bergabung mendengar pegerakan, ide-iden saja mereka tidak mau tahu. Aku duduk di pinggir danau. Mereka memandangku aneh. Kupandangi wajahku yang lesu ini dari balik air. Akhirnya kuputuskan untuk menyerah. Itu keputusan terbaik yang kubuat. Kubiarkan Indonesia negara korupsi. Aku mengambil daun. Lantas kuhanyutkan di danau itu. Begitulah aku melepas kegilaan memberantas korupsi. Membiarkan daun itu menyusuri air. Sama halnya aku membiarkan bangsa ini terus-menerus digrogoti tukang-tukang uang. Indonesia memang pantas bergelar terkorup. Mulai detik ini aku tak perlu membahas korups-korupsi dan korupsi. "Indonesia lahir sebagai negara terkorup", kuukir tulisan itu di tanah. Aku bangkit saat Faris ingin menemuiku. Aku terus melangkah tanpa menyapanya.


__ADS_2