
Pak Anwar beranjak dari tempat duduknya. Kami mulai berdisukusi, menyusun sterategi. Aku paling ahli dalam hal ini. Affan mencatat langkah-langkah yang harus kami lakukan. Aku menjelaskan perihal pencegahan dan pelaksanaan penaganan kasus korupsi yang sedang berjalan. Kami membedah kasus demi kasus korupsi, baik yang sudah sampai pengadilan hingga dijatuhi hukuman maupun yang masih tahapan pemerikasaan. Waktu berputar terus pembahasan kami semakin tajam dan tukar wawasan adalah kebiasaan kami. Menjelang siang hari kami berhenti sejanak. Kami makan siang. Usai makan siang, aku di telpon Bang Rewad. Katanya setengah jam lagi sidang. Usai makan siang aku dualan kembali ke kantor.
"Kamu kemana saja?" tanya Bang Rewad. "Tadi keluar sebentar Bang," jawabku. "Sebentar lagi kita sidang, buat pledoi."
Aku duduk di depan laptop. Usai membuat pledoi langsung berangkat ke pengadilan. Kami menangani kasus pembunuhan berencana. Ini sudah sidang yang ke lima. Klien kami diduga otak dari perencanaan pembunuhan ini. Hakim menutup sidangnya dan sidang dilanjutkan minggu depan. Semua orang sontak melihat sidang kali ini. Dalam hati mereka bertanya-tanya, “ Mengapa sidang ini begitu singkat?. Mengapa sidang ini seperti ditunda?. Mengapa sidang ini ingin seolah menghilangkan terdakwa?. Kami segera keluar dari ruang sidang. Di depan sejumlah wartawan sedang menunggu kami. Wartawan dengan sigap mengerumuni kami. Pak Enggar menghindar. Lalu buru-buru masuk ke mobil. Mobil kami tidak bisa bergerak sebab dikerumuni wartawan dan sebagian orang yang tidak kami kenal. Diantara mereka ada yang mengetuk-ketuk pintu kaca da nada pula yang memaki-maki menunjukkan wajah yang maraha. Petugas keamanan mendekati mobil kami dan mengahalangi orang yang hendak mendekati. Ketika hendak keluar dari pagar pengadilan mobil kami dilempari dengan batu. Kami sampai di kantor.
"Padahal Bapak tadi mau menjelaskan kepada teman-teman wartawan, tapi bapak lihat kamu pun bergerak cepat, bapak ikut bergerak juga."
"aku wartawan berdatangan dan ada seperti preman lagi pula dan Bang Rewad masuk ke mobil," ucapku.
"Besok kita jam sembilan sidang juga, berkasnya sudah diselesaikan. Mungkin besok putusannya."
Pak Umbargus baru keluar kota. Mereka menyelesaikan kasuss perdata. Ia banyak membawa oleh-oleh. Kami melahap. Sore hari aku ke toko sebentar. Toko kami padat. Barang yang datangnya subuh-subuh tak pernah putus. Ayah tak mau menjelaskan mengapa barang itu datangnya saat orang masih berselimut. Aku membantu mama menawarkannya kepada pembeli. Aku lupa kalau ada anak pejabat yang akan menikah. Kadonya paling kecil adalah kulkas dan kebanyakan perabot rumah tangga. Mereka tak menawar, berapa pun harganya pasti diambil.
Lima orang jadi membeli meja makan lengkap. Dan satu tempat tidur. Karyawan toko segara mengantarkannya. Hp berdering, Kak Miysa menelpon. Katanya nanti malam minta temanin melihat kontes model. Aku bilang iya.
Hari menjelang sore. Kami menutup toko. Lalu segera kembali ke rumah.
Kak Misya sama ayah sedang duduk di depan rumah. Entah kenapa hari ini ayah pulang lebih awal.
"Tumben hari ini pulang cepat Yah," ucapku.
"Iya, tadi ayah lagi tidak enak badan."
"Memang kenapa, Yah"? tanyaku.
"Nggak apa-apa Lung."
"Jam berapa kita berangkat Kak?" tanyaku.
"Habis makan."
"Ya udah, Galung siap- siap dulu ya," ucapku.
Usai makan malam aku duduk di depan rumah. Kak Misya masih berdandan. Sebelum melangkah ke mobil aku berhenti sejenak. Kutatap langit yang indah. Mungkin sejuta bintang memancarkan romansa keindahan. Ada lagi bulan yang agung. Kak Misya mengagetkanku.
"Sebantar Kak," ucapku tak peduli.
"Kau melihat apa?" tanya Kak Misya.
"Bukankah bulan dan bintang itu selalu berdekatan, lalu mengapa yang dekat belum tentu menetap sama. Coba kakak lihat ke atas sana. Bintang, bulan indah sekali Kak."
__ADS_1
Kak Misya mengarahkan wajahnya.
"Iya Galung, Indah sekali."
"Kak, kita mau kemana?" ucapku mengingatkannya.
"Oh iya, kakak hampir lupa, ke kontes." Kami segera berangkat.
"Kak, cantik sekali malam ini," godaku.
"Gombal," ucap Kak Misya. Aku tertawa.
"Beneran Kak."
"Oh iya, pacar kamu yang dulu siapa?"
"Kakak ini, selalu saja."
"Siapa Galung, kakak lupa!"
"Reiny, kenapa Kak?"
"Nggak apa-apa."
"Ngejek lagi."
"Ku gas, ya?"
kuinjak pedalnya. Mobil melajut semakin cepat.
"Galung, Galung, jangan!" seru Kak Misya ketakutan.
Wajah Kak Misya pucat. Ia pun menutup matanya. Berulang kali mengingatkanku agar memperlambat mobilnya. Beberapa menit kemudian kami sampai di Musenat corp.
"Kak, ramai sekali ya," ucapku.
"Iya, Galung."
"Ini kontes apa?" tanyaku.
"Ini khusus untuk pemula saja."
__ADS_1
Kak Misya bertemu managementnya. Ada dua orang yang diusung mangemannya. Managementnya pun berlalu. Mereka hanya menyapa Kak Misya dengan senyuman manis. Kami berpindah tempat. Kak Misya bertemu temannya.
"Misya, ya?"
"Iya, Wardah, kan?"
Kak Misya merangkul temannya. Teman kak Misya sedang menemani sepupunya ikut kontes modela. Aku berjabat tangan dengan sepupuhya. Ia mirip Reiny, mantanku. Jantung berdesir.
"Galung," ucapku.
"Anggrek" ucapnya lembut.
Kami duduk bersama Kak Wardah, sementara Anggerek sudah masuk ke berkumpul bersama kontestan yang lain. Kontes segera dimulai. Anggrek seperti puteri yang kecantikannya tanp kekurangan. Sesekali mataku terfokus pada kecantikannya. Penonton bergemuruh menyaksikan kontestan bergaya di atas caty walk. Kak Misya mengobrol sama temannya tentang kontes ini, mulai dari peserta yang mengikuti kontes lalu siapa pemenangnya. Teman Kak Misya tentu menjagokan Anggrek. Ini kali pertama Anggrek ikut. Kak Misya masih memperhatikan siapa yang dijagokannya.
Ada satu nama yang mencuri hati Kak Misya, Alesha. Dia perempuan berkulit putih, wajahnya lebih mirip artis Irena Shaek. Sudah setengah jam kami menonton. Namun, belum berakhir juga kontesnya. Kak Misya pamit. Lalu kami pulang.
"Kak, tadi yang ikut kontes sepupunya teman kakak ya?" tanyaku.
"Iya, kenapa Galung? Hayo kamu suka ya!"
"Bukan begitu Kak."
"Jujur aja, nanti kakak sampaikan sama Anggrek," ucap Kak Misya menggoda.
"Kak, dia itu mirip Reiny," ucapku spontan.
"Apa!"
"Dia mirip Reiny, masa Kakak nggak perhatiin!"
"Iya, emang Kakak nggak perhatiin dia, hayo berarti kamu perhatikan ya, tapi kayaknya enggak!" ucap Kak Misya.
"Bener Kak, bedanya sekarang Reiny terlihat lebih gemuk, badannya tidak dirawat."
"Jadi kamu masih MAPP ne,?”
“Apa itu MAPP Kak?”
“Mantan Adalah Perempuan Pujaan," ucap Kak Misya.
Aku tertawa geli.
__ADS_1
Kami tiba di rumah. Aku duduk termenung di meja makan. Kak Misya menegurku. Teringat kembali sosok yang dulu. Sudah jam dua belas malam, aku tak bisa tidur. tepat pukul dua malam aku tertdur di depan televisi.