
“Kau takkan menyesal kan Galung?” ucap Pak Umbargus bernada menyindir.
“Pak, kalau bapak tahu, kenapa tidak bilang,” ucapku sedikit marah.
Ia tak mau menjawab. Aku sudah mulai curiga kepadanya .
Kutinggalkan dia sendiri. Kak Misya dan mama terkejut saat kuberi tahu kalau ayah dijadikan saksi. Mereka tak percaya. Mereka segera ke pengadilan.
“Mana Ayahmu,” tanya mama ketakutan
“Nggak tahu Ma, tadi ia keluar sama staffnya,” ucapku.
Kutelepon, Hp-nya nggak aktif lagi. Faris ternyata mengintaiku.
Wajah mama pucat, kami pun pulang ke rumah. Tiba di rumah, aku kembali menelepon ayah, nomornya sudah nggak aktif. Mata mata basah seketika. Ia mangadu padaku, “Galung, ayahmu kemana,” ucapnya berung kali. Kak Misya memeluk mama. Mama menghempas-hempaskan tangannya ke lantai. “Galung ayahmu mana, ayahmu mana, mana?” ucap mama tak henti-henti. Perlahan-lahan air mata Kak Misya tumpah. Kak Misya meminumkan air putih, “Ma, mama harus sabar ya, Ayah nggak kenapa-kenapa.” “Ayahmu mana” ucapnya tak henti-henti. Mama pun kelelahan. Ia terdiam. Sesekali menanyai ayah. Mbok Emi ikut menangis.
Mata mama masih menerawang. Mama tertidur. Ayah kembali kutelopon lagi, Hp-nya baru aktif. Katanya akan pulang. Kami menunggu di rumah. Sesekali kuperhatikan jam dinding. Sudah pukul dua siang, Ayah belum juga. Kak Misya membanguni mama agar makan siang. Mata mama terbuka, “Mana ayahmu?” ucapnya terkejut.
“Ayah masih kerja Ma,”
__ADS_1
“Dia enggak kerja, cari dia,” ucap mama pelan.
“Iya Ma.”
Kak Misya membujuk mama agar makan siang. Akhirnya mama mau. Kami makan siang. Pikiranku pun kacau. Mbok Emi membuatkanku jus.
“Yang sabar ya Nak,” ucap Mbok Emi seraya meletakkan jus di meja. Enam jam kemudian ayah belum pulang juga. Mama masih terbaring lemas. Terkadang matanya berair tiba-tiba. Hingga pukul sembilan malam, barulah ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka bukan ayah. Dinda datang. Aku terkejut. Ia bersama adiknya.
“Maaf mengganggu,”ucapnya datar.
“Enggak kok,” ucapku.
“Terima kasih,” ucapku sembari tersenyum. Aku menerimanya.
“Aku tahu, kamu ada masalah besar, kamu yang sabar ya, semoga masalahnya cepat selesai.”
Dinda dan adiknya segera pulang. “Dinda, ternyata malaikat yang selalu ada buatku,” ujarku. Dinda dan Reinya sama-sama sempurna. Aku harus berserah siapakah yang dipilihkan Tuhan untukku.
Ada ketukan pintu lagi. Aku membukanya, ternyata ayah. Aku memeluknya. Wajah ayah pucat sekali.
__ADS_1
“Dari mana saja Yah? Kenapa tidak bilang kalau ayah jadi saksi,” tanyaku.
“Ayah kerja Nak, tadi sehabis dari pengadilan ada rapat di partai.”
“Tapi, enggak pernah sampai malam begini.”
“Yah, kenapa nggak bilang kalau jadi saksi?”
Ayah tak menjawab. Mama duduk. Sesekali ayah menyuapkan mama roti.
“Ma, ayah sehat-sehat saja kok.”
Mama memeluk Ayah. Air matanya tumpah.
“Mama takut kalau ayah enggak di rumah ini lagi, kenapa nggak bilang kalau ayah jadi saksi, kami semua di rumah ini menunggu ayah,” ucap mama dibanjiri air mata.
“Ma, enggak boleh ngomong gitu. Ayah nggak bakalan ninggalin kalian semua,” seru ayah dengan senyuman.
Malam yang membuatku menangis. Masih ada pertanyaan yang belum terjawab malam ini. Mbok Emi pun mengusap air matanya. Kang Maman tak sanggup melihat. Ia ke belakang mencurahkan air matanya. Lantas kembali lagi. Ini akan terasa pahit jika harus berpisah diantara kami.
__ADS_1
Hujan baru saja selesai pagi itu, aku tahu hari ini biasanya sidang kasus korupsi yang ditangani Pak Umbargus. Usai sarapan pagi aku menelponnya. Sepuluh panggilan tak terjawab. Aku menutup telponku, menonton tv. Kuhubungi lagi. Katanya sedang di jalan. Aku ke kamar, membaca buku mengenai korupsi. Aku masih heran saat Pak Umbargus tahu kalau ayahku akan menjadi saksi. Padahal itu saksinya dari penuntut umum. Dan yang membuatku semakin curiga lagi kalau hari ini ia tak buru-buru menelponku untuk ikut sidang. Aku segara mandi lalu berangkat ke kantor.