
Siang hari udara sangat sejuk. Tidak seperti biasanya. Hujan yang turun dari tadi pagi belum berhenti. Galung masih terbaring di rumah sakit. Mamanya tidak pernah lelah menemani Galung sepanjang hari d rumah sakit. Hari kembali Galung akan diperiksa dokter kondisinya. Dokter Yoseop yang biasa memeriksa Galung. Ia berbicara dengan mamanya Galung. Kemudian masuk ke ruang rawat Galung. Berselang sepuluh menit dokter menemui mamanya Galung.
"Alhamdulillah kondisi Galung makin hari makin membaik"
"Terima kasih dok, kami nggak tahu harus bagaimana" Ucapnya meringis.
Dari balik pintu kaca mama melihat tangan Galung memegang selang infus, spontan ia langsung masuk menemui Galung.
"Anakku, Galung. Ini mama! "
Galung belum bisa membuka matanya. Ia masih meraba-raba selang infus itu. Mamanya menggenggam tangannya.
" Ini tangan mama Galung, pegang erat "
Galung perlahan-lahan membuka kedua matanya"
"Mama... " Ucapnya terbata-bata
" Iya Sayang, mama selalu disamping kamu "
" Apa yang terjadi ma"
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang "
"Ma, aku kenapa bisa disini ma?"
"Tidak apa-apa sayang, kamu hanya sakit sedikit "
Mama mengambil air minum lalu menyeduhkannya ke Galung.
"Bu, alhamdulillah anak ibu sudah sadar, ini tinggal masa pemulihan. Kemarin kita memeriksa ada virus yang masuk ke dalam sel otaknya. Tapi ini perlahan sudah mulai hilang. Kami akan terus berusaha agar virusnya berhenti dan tidak berkembang baik, kami permisi bu. Kami akan terus mengecek perkembangan selanjutnya"
"Terima kasih dok, kami harap anak kami segera sembuh"
"Sama-sama bu"
" Yah, Alhamdulillah Galung sudah pulih dan sadar"
" Iya ma. Ayah segera kesana ma"
Di dalam perjalanan ayah Galung segera menuju rumah sakit. Ia sudah tidak sabar ingin menemui anaknya tersebut. Ia memacu kendaraannya lebih cepat dari biasanya. Beberapa lampu merah yang masih berjalan pun diterobos. ia tiba di parkiran rumah sakit lalu berlari menuju ruang rawat.
Ayah Galung membuka pintu perlahan. Ia berdiri sejenak. Ia berjalan perlahan menuju mama dan Galung yang sedang terbaring di atas kasur.
__ADS_1
"Yah, Galung "
Matanya Ayah berkaca-kaca saat mendekat Galung. Ia pelan-pelan memegang tangan Galung.
"Galung, Ayahmu datang" Ucap mamanya.
"Galung tidak perduli apa yang dibilang mamanya"
"Galung, sayang ayah kamu datang. Kamu sudah mulai sembuh. Ayahmu sangat senang kamu sudah sembuh"
"Galung, Galung...... " Ucap Ayahnya terbata-bata.
"Galung, Ayah minta maaf" Ucap ayahnya diakhiri tangisan. Matanya seketika basah.
"Galung, Ayah nggak tahu harus bagaimana saat kamu tidak sadarkan diri. Sebenarnya Ayah menyesal" Ayah terdiam sejenak air matanya berurai.
"Saat mendengar kamu mulai sadar dan pulih Ayah sangat senang kembali. Ayah tak ada pilihan lain selain melihat kamu secepatnya. Ayah datang mengejarkan kemari untuk melihat anak Ayah pulih. Ayah sekali lagi meminta maaf. Karena semuanya yang ayah lakukan hanya untuk melihatmu bahagia " Ucap Ayahku dibanjiri air mata.
"Galung masih membisu. Ia tak menjawab sedikit pun apa yang dikatakan ayahnya"
Mama memgelus-elus pundak ayah agar bersabar. Ia paham sekali bagaimana Galung. Galung sulit baginya untuk tidak memanfaatkan. Tapi perlahan-lahan ia sendiri akan memaafkan dan melupakan.
__ADS_1
"Galung, Ayah sangat sayang sekali sama kamu. Apa yang kamu inginkan Ayah akan penuhi" ucap Mama.