Hormat Gerak

Hormat Gerak
Kontes


__ADS_3

“Oh itu, dia juga teman bapak sewaktu SD dulu. Bapak kenal betul sama bapakmu dan Pak Umbargus itu. Kami selalu akrab.”


Lama kami bercerita banyak hal, anaknya sudah memilih tempat tidur dan meja makan.


Terima


“Pak, tempat tidur ini keluaran terbaru, kalau dipakai malam pertama pasti semakin sukseslah malam pertamanya.”


Bapak itu tertawa. Anaknya yang akan dilamar tersenyum malu.


Anggota mama mengangkat tempat tidur dan satu set meja makan. Lantas mengantarkannya ke rumah bapak tadi.


Usai melayani teman ayah, pelanggaan yang lain datang.


Seorang Ibu bersama anak gadisnya.


“Dik, ada kursi tamu satu set yang model baru?”


“Ini Bu, ini semua baru aja nyampai.”


Tak cukup butuh waktu lama ibu yang tadi sudah tertarik dengan kursi tamu bermerek Varlen produk luar negeri. Setelah tawar-menawar dengan mama. Dan harganya cocok. Karyawan mama segera mengantarnya.


Kak Misya menelponku, sekedar mengingatkan kalau nanti malam jangan lupa menemaninya. Hari ini ia izin agar lebih cepat pulang. Mbok Emi menemaninya di rumah. Mbok sedang membersihkan jendela kaca dan merapikan perabotan rumah tangga.


"Tumben cepat sekali pulangnya, Non?"


"Mau ke salon Mbok, entar malam ada kontes model."


“Wah, pasti menang lagi ini Non."


"Amin, semoga Mbok."


“Mau minum jus Non?”


“Iya Mbok, tolong buatkan jus terong belanda ya Mbok, terima kasih Mbok.”


“Oke Non, sebentar Non,” ucap mbok sambil berjalan menuju dapur.


Beberapa saat kemudian mbok datang, “Ini jusnya Non, silahkan diminum.”


“Iya Mbok, makasih.”


"Mbok mau ikut ke salon, biar makin fresh, makin cantik," ucap Kak Misya usai menyeruput jus kesukaannya itu.

__ADS_1


"Si Non bisa aja, mau diapain pun mbok tetap seperti ini. Kalau dulu mbok dikejar-kejar Non. Dikejar-kejar nyamuk karena belum mandi.”


Kak Misya tertawa.


“Beneran Non, mbok dulu dikejar-kejar sama orang kampung, tapi Kang Maman yang mbok lihat mengejarnya paling serius, makanya mbok pilih dia.”


Mbok menuangkan ceret, "Kalau Non kan masih cantik, sudah punya cowok berapa?”


Kak Misya langsung batuk mendengar pertanyaan Si Mbok.


Wajahnya penuh makna.


"Belum ada, Mbok lah yang carikan.”


"Mbok enggak tahu selera Non gimana.”


Kak Misya tertawa sendiri.


Mbok terlalu serius menanggapi Kak Misya.


“Oh iya Non, kalau Mbok ke salon emang bisa cantik kayak Non, Enggak?” Bisik mbok pelan.


Kak Misya tertawa gali, “Mbok aku harus pergi, nanti kutanya sama tukang salonnya,” seru Kak Misya.


“Iya Mbo.”


Beberapa menit berlalu, Kak Misya sampai di depan salon Follower, segera masuk ke salon.


“Kak Misya yang cantik, apa kabar? Silahkan duduk Kak!”


“Sehat,” ucap Kak Misya hendak duduk.


“Cuek amat Cin.”


Sebenarnya Kak Misya geli dengan waria ini. Tapi semua itu hilang seketika saat salon ini benar-benar diminiati dan memberikan pelayanan yang istimewa. Beberapa kontes model yang diikutinya selalu diawal dari salon ini.


"Mau gimana kita buat Kak?" tanya tukang salon sambil menaruh handuk di bahunya Kak Misya.


"Seperti biasa, nanti malam aku ada kontes. Buat yang paling bagus.”


“Idih... ike akan buat Kak Misya kinclong deh, pasti menang pokoknya, Amin.”


Kak Misya duduk sambil mendengarkan musik roman melow yang sengaja diputar agar pelanggan bisa nyawan saat dilakukan perawatan. Kak Misya setengah tidur. Kak Misya menurut saja wajahnya dibersihkan. Perawatan wajahnya hampir selesai. Kak Misya sampai-sampai tertidur pulas. Lantas Dibangunkan karena perawatan wajahnya selesai.

__ADS_1


“Kak, sudah selesai.”


Kak Misya membuka matanya, ia melihat hasilnya. Aura wajahnya semakin terlihat. Kecantikannya sempurna. Kak Misya mengecek rambutnya yang lurus. Indah mengkilau. Sekali-kali ia merasakan kelembutan rambutnya. Dan sekali-kali ia tersenyum manis di depan cermin.


"Gimana Cin, sudah sesuai permintaankan?” Kak Misya masih sibuk mengamati wajahnya.


“Iya,” ucapnya mengangguk. Ia membayarnya.


Ia bergegas kembali ke rumah.


Malam selepas maghrib kami berangkat ke rumah management Kak Misya. Disinilah tempat kak Misya berlatih modeling. Seminggu empat kali ia belajar modeling. Dua orang sudah menunggu di dalam. Kak Misya masuk, berganti pakaian. Lalu di make up.


"Aduh Cin, makin bening aja ya,” ucap tata rias Kak Misya. Agak sedikit banci. Kak Misya keluar bersama dua orang tadi. Kak Misya makin terlihat cantik. Kami segera berangkat menuju tempat kontes. Jalanan macet, aku melawati jalur pintas, melintasi gang-gang kecil dengan kecepatan tinggi.


"Aduh Cin, ike belum kawin, jangan kencang-kencang," seru perias Kak Misya seraya memegang bangku depan. Aku menutup mulut sambil tertawa.


"Aku juga belum cin, tobat aja belum.” Aku dan Kak Misya tertawa. Mereka semakin takut saat pedal gas kuinjak. Di depan gedung besar kami berhenti, desainer dan tata rias tadi membuka matanya,"Kok berhenti Cin, kita sudah sampai?"


"Iya.”


“Cepat keluar!” seru Kak Misya.


Kami masuk ke dalam gedung. Aku duduk di bangku penonton, Kak Misya dan rekannya tadi menuju belakang panggung. Mendaftar ulang lalu mulai merias kembali wajah Kak Misya. Satu per satu peserta maju ke panggung, mereka menunjukkan kebolehannya. Photographer bersiap-siap membidik model-model cantik dan seksi. Kursi penonton nyaris penuh. Mataku seakan dicuci oleh wanita-wanita cantik yang berlenggak-lenggok. Kini giliran Kak Misya, aku mendekatibpanggung, kupersiapkan kamera. Setiap langkah Kak Misya kufoto. Kak Misya berlenggak-lenggok. Juri tampak membicarakan penampilan Kak Misya. Dua orang juri pun berdiri, memberikan standing aplaus. Seluruh penonton bertepuk tangan menyambut kehadirannya. Kak Misya merupakan salah satu peserta yang selalu dinanti-nantikan.


Malam itu Grand ballroom tumpah dipenuhi fhotografer, media cetak dan elektronik. Ada stasiun tv yang menyiarkan ajang bergengsi ini. Seluruh kontestan sudah tampil, tinggal menunggu pengumuman. Setelah Band ibukota tampil baru diumumkan. Seluruh kontestan berdebar-debar menunggu pengumuman dari dewan juri. Seorang dewan juri bangkit dari kursinya, ia berjalan menuju panggung sambil melambaikan tangan ke penonton. Sontak penonton bertepuk tangan. Siapa yang tidak kenal dewan juri yang ganteng ini. Ia berdiri dan ditangannya secarik kertas. Isi Grand Ballroom pecah oleh teriakan penonton.


Selamat malam!” serunya.


Penonton bersorak.


“Bisa kita mulai?” serunya.


Teriakan penonton dengan sekejap hilang. Bukan hanya peserta yang dibuatnya deg-degan, tapi penonton juga ikut terbius. Terlalu lama pengumunannya dimulai penonton kembali bersorak.


“Oke saya akan mulai.”


Ia pun membacakan hasil keputasan ketiga dewan juri. Mulai dari urutan ketiga. “Charolina” ucapnya lugas. Charolina pun melambaikan tangan ke penonton. Lantas naik ke atas panggung. Ia kembali terdiam. Irama menenggakan menghipnotis seisi gedung. Tak ada yang bisa santai. Semuanya tegang. Saat akan menyebutkan pemenangnya ia kembali menundanya. Ini yang membuat jantung semua orang makin berdebar. Dan ia pun akhirnya mengumunkan juara ketiga dan pertama. Juara pertama gadis manja bernama Anggrek dan juara kedua Misya. Wajah kak Misya seketika berubah. Entah apa yang salah. Mereka bertiga naik diberi hadiah, berfoto-foto. Kak Misya turun dari panggung saat ingin berfoto bersama pemenang. Ketika seorang wartawan hendak mengambil gambarnya, ia menolak lalu menarik tanganku pulang,


“Kak mau kemana?”


“Sudah, jangan tanya!”


Ia masuk ke dalam mobil. Dua orang rekannya tadi masuk.

__ADS_1


Aku tahu mungkin dia kecewa karena juara dua.


__ADS_2