
Ayah terduduk dibawah di sebelah tempat tidur Galung. Wajahnya termenung. Ia tak bisa banyak bicara. Air matanya berair terus menerus.
"Ma, apa Galung makin tidak mau memaafkan Ayah ya "
"Tidak begtu Yah, Anak kamu itu pemaaf. Dia tidak pernah menyimpan dendam yang berlebihan"
"Tapi ma, dari tadi hingga sampai saat ini ia tidak bicara sepatah kata pun"
"Yah, kemungkinan dia sedang beristirahat Yah, namanya dia baru sadar, baru sembuh wajar kalau dia agak sulit diajak bicara"
"Ayah, yang sabar ya. Insha Alloh Galung pasti memaafkan Ayah. Semua akan kembali seperti biasa"
"Mudah-mudahan ma"
Rumah sakit umum Daerah menjadi satu-satunya rumah sakit terbesar di Bengkulu. Maka tidak heran rumah sakit itu selalu dipenuhi banyak orang berobat maupun hendak menjenguk yang sakit.
Kak Misya menelpon mama,
"Ma, bagaimana keadaan Galung?
"Alhamdulillah, kak, membaiknya ini sudah sadar. "
" Alhamdulillah ma, siang nanti kakak akan ke rumah sakit sekalian mengambil pakaian di rumah "
__ADS_1
"Iya kak. Terima kasih, hati-hati di jalan"
"Iya ma"
Tepat jam setengah satu siang kak Misya menuju rumah. Ia melihat rumahnya seperti tidak berpenguni. Hampir sebulan lebih mereka tak pernah tidur di rumah. Kak Misya berjalan mendekati foto keluarga yang bergantung di dinding dekat Aquarim. Ia memang sangat wajah adiknya Galung. Ia Perlahan menangis seketika sambil mengusap air mata. Dengan sadar ia bergegas ke. Kamar lalu mengampuni beberapa pakaian untuk dibawa ke rumah sakit. Sebelum meninggal rumah ia kembali berkeliling melihat kondisi rumah lalu berangkat menuju rumah sakit.
Di dalam perjalanan handphonenya berdering. Ia memarkirkan mobil.
"Iya Hallo, ini siapa? " tanyanya.
" Ini dengan Kak Misya ya, kakaknya Galung"
"Iya, ini siapa? "
"Ini Dinda kak?
Kak Misya terdiam sejenak.
"Oh..... Iya kakak baru ingat, apa Dinda?"
"Alhamdulillah baik kak"?
"Kak, Dinda minta maaf, belum banyak melibatkan Galung. Semoga dia Sehat-sehat. Dinda titip salam"?
__ADS_1
"Iya de. Insha Alloh nanti kakak Sampaikan, terima kasih ya dik"
"Terima kasih juga kak. Assalamualaikum"
Kak Misya kembali menyala mobil lalu bergegas menuju rumah sakit. Di dalam mobil sepanjang jalan ia mengingat-ingat Dinda yang mengaku temannya Galung. Ia sedikit lupa guratan wajah Dinda. Sebab sudah lama sekali ia tidak bertemu Dinda.
Jalananan siang itu macat sekali. Padahal hari itu hari biasa tidak apa kegiatan yang besar.
Kak Misya tiba di parkiran rumah sakit. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu adiknya. Ia mengampuni satu tas pakaian dari belakang mobil lalu merangkul dan bergegas menuju rumah sakit. Ia bertemu dengan banyak orang saat melintasi lorong-lorong rumah sakit. Semua orang tersenyum kepadanya.
Ia berhenti sejenak di depan pintu kamar rawat adiknya. Nafasnya tersengal-sengal. Ia membuka pintu kamarnya lantas berjalan perlahan mendekati Galau. Tanpa sengaja air matanya berurai basah mendekati pipinya. Kaki guntai saat berjalan. Ia mendekati mamanya lalu memeluk erat.
"Adik kamu sudah sadar, ia sudah bisa tersenyum seperti biasa"
"Ma, Galung beneran sudah sadar kan ma? "
"Lihatlah sayang. Kamu sudah bahagia"
Kak Misya belum berani melihat Galung.
"Beneran sudah sadar ma? "
"Sayang, Lihatlah adik kamu sudah sadar. Ia sudah bisa kembali tersenyum kepadamu"
__ADS_1
"Ma, kakak masih takut melihatnya."
"Coba kamu lihat kembali" Pinta mama.