
"Galung" sapa Faris.
"Hey, Galung."
Aku tetap berjalan tanpa menggubris panggilannya. Ia mengejarku. Lalu berdiri di hadapanku "Aku baru bertemu sama Pak Anwar, dia sudah ketemu sama mahasiswa yang dikatakannya waktu itu. Mahasiswa itu menyambut baik ide kita, bahkan mendukung dengan semangat" ucapnya bangga.
Aku tak menjawab langsung. Mataku melotot kearahanya. Lalu kutarik kera bajunya.
"Aku sudah cukup mengikutimu, aku tak bisa menghitung berapa banyak cacian yang mendarat di telingaku. Orang bilang aku sok suci, gila, banyaklah! Mulai sekarang kau saja yang mengurusi bangsa ini. Aku nggak bisa." ucapku sambil melepaskan keranya.
Aku meninggalkannya.
"Galung, Galung sebentar, kenapa tiba-tiba kau seperti ini?" Ia terus mendekatiku dan menghalangiku.
“Sudah, jangan tanya!” bentakku.
"Aku tahu, apa yang kita lakukan tidak mudah. Tapi, yakinlah apa yang kita lakukan saat ini untuk bangsa Indonesia kedepan. Yakinlah suatu saat orang akan menilai kita dan mendukung kita," ucap Faris.
“Ah, omong kosong” ucapku sambil mendorong. Ia terjatuh.
Aku tak peduli apa katanya. Aku menabraknya. Ia berdiri kemudian kembali menghalangiku. Ia menutup ruangku berjalan. Aku mendorongnya lebih kuat. Ia menarik tanganku sehingga kami terjatuh.
“Sudah kukatakan, aku nggak bisa!” ucapku sembari menekan wajahnya berkali-kali.
“Kau keras kepala, kau memaksaku.”
Aku lebih kuat menekan wajahnya. Ia berusaha melepaskan itu. Tanpa sengaja aku mendaratkan tanganku di bibirnya. Tanganku bercak darah. Ia menyeringai kesakitan.
"Galung," ucap Faris seraya mengelap wajahnya yang penuh darah.
Faris bangkit. Darah di wajahnya bercucuran. "Galung, aku tahu kau sangat kecewa. Tapi usaha yang kau lakukan ini akan dikenang banyak orang. Anak cucu kita akan mendapatkan manfaat dari usaha yang kita lakukan hari ini. Sekarang kau bisa bilang sia-sia! Apa kau nggak pernah berpikir, kapan lagi jutaan jiwa hidup sejahtera, harga kebutuhan pokok seimbang, prilaku korupsi ditakuti, kehidupan masyarakan diutamakan Negara. Semua akan terpenuni dengan baik dan sempurna. Semuanya tanpa ada tindakan korupsi. Bangsa ini butuh pahlawan dengan jutaan semangatnya. Mungkin kau butuh suntikan agar kau sadar bangsa ini dalam level berbahaya soal korupsi. Perbanyaklah menonton berita, membaca koran. Pasti kau akan sadar" ucap Faris sambil menahan darah yang mengalir dari bibirnya.
Aku pergi meninggalkannya berlumuran darah. Orang-orang menyaksikan kami.
__ADS_1
Malam itu pikiranku bercabang. Malaikat cantiku Dinda senatiasa berada di sampngku. Ia yang menemaniku di pantai. Kami menghabiskan malam itu di pantai. Saat bulan jatuh di ujung laut sana, saat itu pulalah aku kembali mengingat-ingat seseorang di masa lalu. Dinda tak suka kalau aku mengkhayal.
"Pasti mikirin Reiny lagi kan, emang enggak bisa lupain dia ya?" ucapnya cetus.
"Nggak kok, aku nggak mikirin dia," ucapku sambil menggeleng-geleng.
"Udah, jujur aja?" tanyanya lagi. Diam terpaku. Bibirku seketika tak mau berbicara.
Wajahnya asam seasam jeruk purut. Ia berdiri. Lalu mengajak pulang. Padahal aku masih ingin menikmati ombak di pantai. Kami akhirnya pulang. Sepanjang jalan hanya suara mesin yang didengar tanpa sepata kata pun. Mulutku enggan berbicara. Ia turun dari mobil tanpa mengucapkan kata sepatah kata pun. Aku kembali menutup pintunya. Ia masuk rumah tanpa rasa berdosa. Aku menyalakan mobil lantas menginjak pedal gas dengan kuat. Malam itu bagiku adalah malam terkelam sepanjang hidup. Aku tiba di rumah. Sebelum tidur mama mengingatkan, kalau Ayah besok subuh akan sampai di rumah. Malam hari kupejamkan mata dengan kecanggungan. Apakah cintaku masih bisa dipertahankan?
Pukul lima subuh terdengar seseorang menggedor-gedor pintu. Aku tersentak. Buru-buru turun ke bawah lalu membukakan pintu. Ayah berdiri di luar. Kantong kresek penuh di tangannya dibawa masuk. Ayah beristirahat di kamar. Tak lama kemudian ia bersiap-siap ke kantor. Misya membuka kantong kresek itu. Ada buah kesukaannya. Lalu dihidangkan di atas meja. Aku dan mama mencicipi oleh-oleh yang dibawa ayah. Ayah keluar dari kamar. Ayah duduk di sampingku. Misya duduk
saat ayah selesai sarapan.
"Anak ayah yang paling cantik, kemarin kenapa nangis?"
"Misya juara dua Yah, padahal kalau juara satu Misya udah dibawa ke Jakarta. Bakalan jadi artis."
"Ya sudah jangan bersedih lagi. Terima saja. Berarti kurang latihan. Lagi pula tahun depan kan masih ada kontesnya."
"Itukan cuma hobi kamu, sekarang kan kamu sudah bekerja." Misya terdiam. Wajahnya sedikit berubah.
"Yah, minggu depan Galung wisuda," ucapku kegirangan.
"Undangannya mana?"
"Belum keluar Yah, mungkin nanti."
“Kalau sudah keluar beritahu ayah secepatnya ya.”
Usai sarapan Ayah segera berangkat ke kantor. Aku juga berangkat ke kampus. Sampai kampus, aku mengambil undangan lalu menuju rumah Dinda.
“Aku minta maaf soal tadi malam?” ucapku sembari menjulurkan tangan.
__ADS_1
Ia tak menoleh sedikit pun. Suasana hening seketika.
“Baiklah, kalau kamu nggak mau, aku akan pergi,” ucapku sambil melangkah.
“Tunggu” ucap Dinda.
“Aku maafkan, tapi kamu harus janji jangan mengingat-ingat Reiny lagi” ucapnya sambil menggenggam tangaku.
“Aku janji” jawabku sambil menguatkan genggamannya. Mamanya menyuruh kami masuk.
“Aku ke dalam sebentar ya” ucapnya.
Aku mengangguk. Ternyata cintanya kepadaku lebih besar dari rasa marahnya. Aku nggak bisa menyimpan kebohongan ini. Hari ini aku entah milik siapa. Dinda atau Reiny. Apakah rasa cintaku kepada Reiny sudah dipatahkan oleh hati mulia Dinda. Hatiku pun terus-menerus disiksa keadaan. Aku menunggunya di ruang tamu. Papa dan mamanya menyapaku. Papa dan mama sangat ramah sekali kepadaku, Aku membaca koran di atas meja. Tiba-tiba Ayahnya mengahampiriku, lalu duduk di hadapanku. Aku melipat kembali koran yang tadi. Jujur aku sangat grogi. Namun, tetap untuk berusaha tenang berhadapan dengan papanya. Papanya ramah, kami bertukar kabar. Papanya menanyai soal keluargaku. Aku pun menjawab apa adanya. Papanya pun menceritakan soal keluarganya, khususnya Dinda.
“Dinda itu memang anaknya agak cengeng. Sewaktu SD dulu sering ditungguin sampai pulang sama mamanya. Itu
sewaktu dia SD. Alhamdulillah masuk SMP dia sudah besar sifat cengangnya mulai berkurang meskipun masih tersisa dan orangnya pemalu sama teman-temannya,” ucap papanya Dinda.
Aku hanya bisa meng-iyakan. Masih banyak lagi soal Dinda yang diceritakannya.
“Dan satu lagi, Om bangga dia punya pacar sepertimu, dia sangat sayang sama kamu. Dia juga sering menceritakan kamu” ucap papanya usai menyeruput teh.
“Terima kasih Om,” balasku.
“Jaga dia ya Nak Galung” seru papanya sembari melangkah ke teras.
“Iya Om,” jawabku tersenyum.
Aku membuka halaman koran yang tadi. Aku baca setiap judulnya. Halaman depannya mengenai korupsi. Kubalik lembarannya lagi. Sama juga. Ternyata Dinda sudah berdiri di depanku.
"Ehem, serius sekali membacanya.” Matanya menjulur kepada yang kubaca.
"Oh korupsi, semua orang pasti pernah korupsi. Berangkat yok?" Dinda menarik tanganku.
__ADS_1
Aku segera berdiri. Aku permisi kepada mamanya, lalu kami berangkat ke acara ulang tahun adik temannya. Dinda menyuruhku jadi Mc. Aku bisa menghibur adik-adik itu dengan guyonanku. Dinda ikut terbahak-bahak mendengar stand up comedy-ku. Dari raut wajahnya aku tahu, ia bahagia sekali melihatku. Acara ulang tahun pun selesai. Kami diberi makan nasi goreng. Usai makan kami pulang. "Galung, aku bangga punya pacar sepertimu.” Ia meraih tanganku.