
Malam hari aktifitas sama seperti biasa. Tak ada yang spesial selama aku menikuti pendidikan khusus advokat. Hati ini sebenarnya tidak ingin. Di akhir pendidikan khusus advokat kami diajari habis-habiskan. Diajarkan banyak hal sisi terang dan gelap seorang pengacara.
"Ini pertemuan terakhir kita, ada yang mau bertanya?" tanya pengajarnya. Aku mengacungkan tangan.
"Bagaimana jika seorang advokat yang baik menurut Bapak? Apakah seorang advokat bisa menolak suatu kasus yang dimintakan klien padanya, pada dasarnya klien itu sudah mempercayai advokat tersebut. Lalu bagaimana pendapat bapak mengenai pengacara untuk kasus korupsi?"
“Ada lagi yang bertanya?”
Setelah ditunggu beberapa menit tak seorang pun bertanya.
"Baiklah, saya akan langsung jawab, semua advokat baik jika ia melakukan pekerjaannya secara profesional dan dikatakan tidak baik kalau menjalankan tugasnya tidak sesuai dengan undang- undang tentang advokat. Bisa menolak. Tapi, alangkah berharganya bila advokat itu menerima klien tersebut. Nah, kalau seorang advokat yang membela koruptor. Di sini saya katakan, pengacara itu tidak membela koruptor, dalam tanda kutip. Sebab yang dibelanya adalah hak-hak koruptor. Terkadang hak tersebut tidak terpenuhi. Namun bagaimana pun juga tidak tertutup kemungkinan kalau advokat membela koruptor dengan cara mengurangi hukuman bahlan terbebas dari hukuman.
__ADS_1
Jadi pesan saya jadilah advokat yang bekerja penuh profesionalitas. Dan ingat semakin banyak masalah semakin kalian akan dipakai. Berharaplah permasalahan hukum di Indonesia ini semakin banyak"
Keningku berkerut. Dalam otakku tidak terima bila antara profesionalitas dan penegakan hukum serta kesejahteraan disandingkan. Ketiga kalimat itu tidak saling berhubungan. Sebelum penutupan, seorang advokat senior menceritakan keluh kesahnya selama menjadi advokat. Ia bercerita pernah dibohongi klien, dicaci maki karena tak bisa memenangkan kliennya dan banyak hal lagi. Barulah penutupan. Hari terakhir ini banyak yang kami ketahui. Dan dua minggu ke depan kami akan langsung mengikuti ujian advokat. Aku tidak keluar rumah hingga ujian advokat. Sehari-hari kuhabiskan hanya untuk belajar agar lulus ujian nanti.
Pagi hari yang cerah hujan rintik-rintik turun membasahi bumi. Hpku berdering, Dinda menelpon, mengucapkan semangat ujian nanti. Terima kasih jawabku. Aku mandi lantas turun ke bawah.
“Pagi ini ujiannya?”
“Iya, Yah.”
“Terima kasih Yah.”
__ADS_1
Aku sarapan lebih awal dari Ayah, Mbok Emi tahu kalau aku mau ujian advokat. “Ini susunya diminum supaya ujiannya dapat”
“Iya Mbok, terima kasih”ucapku.
Mbok tersenyum bagaikan bidadari jatuh dari langit.
Usai sarapan aku menuju lokasi ujian. Sudah tampak calon-calon advokat muda masa depan. Berkemeja putih dan bercelana hitam bagi
laki-laki dan untuk perempuan ber-rok hitam. Beberapa orang sibuk membolak-balik undang-undang advokat. Informasi yang diperoleh semua soal ujian diambil dari undang-undang advokat itu. Peserta ujiannya dari segala umur. Tepat pukul delapan kami memasuki ruangan yang sudah ditentukan panitia. Ujian segera dimulai. Seluruh peserta tampak serius mengikuti ujian tersebut. Hingga selesai baru aku kembali ke rumah. Minggu depan hasil ujian akan diumungkan.
Pagi itu aku mendapat kabar kalau aku lulus. Kabar ini antara suka dan duka bagiku. Ayahku memelukku, “Akhirnya kau lulus juga, ayah bangga,” seru ayah.
__ADS_1
“Terima kasih Yah,”ucapku tanpa ekspresi.
Tiga hari setelah lulus ujian advokat aku magang di kantor Pak Umbargus. Aku selalu menyempatkan berdiskusi dengan mereka. Hari-hari yang kulalui sangat sibuk sekali. Sesekali aku berpikir untuk menghubungi satu diantara mereka. Tapi, hatiku berkata bakal aku dikira orang yang tidak berkomitmen. Selama menjadi pengacara hari-hariku jarang sekali kosong. Jika tidak di kantor maka keluar kota. Pak Regar pun mempercayakan aku sebagai anak buah timnya. Kami dipercayakan menangi kasus sengketa tanah. Aku kocar-kacir dibuatnya. Di suruh memahami sengketa yang terjadi. Selama tiga bulan aku hanya tidur enam jam dalam sehari, selebihnya kupelajari objek sengketa itu. Bukan kasus itu saja, tujuh bulan setelah kasus itu berjalan aku juga ikut menangani kasus pembunuhan misterius. Ini lebih seram ketimbang menonton film horor. Sebab sudah ada sepuluh advokat yang dipanggil. Dan kesepuluh itu tak bisa membelanya. Lantaran ada bayangan yang selalu singgah dan menghantui pengacaranya. Jujur, aku sebenarnya takut. Namun, ini merupakan pengalaman berharga bagiku. Dua kasus besar itu akhirnya mengangkat namaku. Dan kemenangan tim di dua kasus itu, mengangkat kepercayaan advokat senior sekantor kepadaku. Aku diberi pekerjaan yang lebih besar lagi. Hampir empat tahun aku selalu menangani kasus perdata yang lebih besardan kasus pidana yang menyerat banyak pihak.