Hormat Gerak

Hormat Gerak
Berdebat


__ADS_3

Di Depan biro fakultas hukum aku berjumpa Faris. Kami naik ke perpustakaan. Beberapa saat kemudian Pak Anwar datang. Bang Abra dan seorang perempuan misterius di sampingnya berjalan menuju ke arah kami. Beberapa orang lagi juga sudah datang.


"Kalian menemukan orang yang tepat" puji Pak Anwar. “Abang kalian inilah yang memperbaiki hampir seluruh organisasi di kampus kita. Dulu, organisasi itu tak tahu apa kegiatannya. Kegiatannya hanya penghias kampus. Strukturnya juga berantakana. Paling cuma hanya nama saja. Tapi, sekarang kalian bisa lihat semuanya berlomba-lomba membuat kegiatan. Namun sangat disayangkan hanya beberapa organisasi saja yang masih mengikuti jejak Bang Abra.”


"Pak, udah cukup. Saya masih banyak kekurangan" ucap Bang Abra.


"Sekarang, bapak minta perkenalkan diri kalian dan gagasan kalian soal perlawanan terhadap korupsi. Jika ada ide silakan. Kita ini adalah kelompok diskusi. Kita sama-sama belajar disini”


“Faris perkenalkan namamu dan misimu.”


Namaku Faris Rayhan. Misiku alam melawan korupsi di Indonesia adalah panggilan dari hatiku yang paling dalam. Sekalipunu nyawa ini taruhannya aku rela berkorban demi tegaknya Indonesia yang bebas dari korupsi. Namaku Galung Vin. Misiku mencintai Indonesia sebagai pemberantas korupsi adalah bukti cinta nyata dan tulus. Di darahku selalu mengalir jiwa-jiwa pemberani, untuk itu aku tak pernah takut apapun. Termasuk membinasakan koruptor. Namaku Abraham. Sampai mati aku akan memberantas korupsi, akan kuserahkan seluruh ragaku untuk Indonesia yang cemerlang di masa depan, aku nggak akan pandang bulu dalam perlawanan korupsi. Namaku Affan Tobing. Tak takut mati demi Indonesia yang sejahtera tanpa praktik korupso, koruptor adalah musuh yang nyata bagiku. Namaku Fatta Wahyu, selamanya akan mencintai Indonesia dengan perlawanan terhadap korupsi, suatu saat aku yakin kita bisa melihat kesejahteraan rakyat, tidak ada lagi kemiskinan dan seluruh kekayaan alam di kelola tanpa praktik korupsi. Namaku Eriska, cinta Indonesia adalah hidup dan matiku, oleh sebab itu takkan kubiarkan Indonesia di masa keemasaannya tumbuh berdampingan dengan koruptor. Koruptor tak boleh hidup bersenang-senang di negara ini, koruptor sudah menyengsarakan hidupku dan keluargaku. Matanya berlinang.


Kami diam sejenak. Satu orang yang dibawa Pak Anwar datang. Duduk disampingku. Namaku Marvous misiku, akan kulakukan semuanya demi KPK dan Indonesia. Aku juga wartawan kampus. Pak Anwar mencatat nama kami satu-persatu, Ada tujuh orang. Aku Galung Vin, Faris Rayhan, Abraham, Affan Tobing, Fatta wahyu, Eriska dan Marvous.


"Baik semua sudah memperkenalkan nama kalian dan misi kalian. Selebihnya kalian bisa saling bertanya. Terima kasih telah mempercayakan bapak sebagai penasehat kalian. Kita di sini adalah tim dan ingat disini adalah ruang diskusi dan tempat belajar kita. Ada yang ingin ditanyakan, Pak Anwar meneguk minumannya, “Untuk saat ini bapak percayakan ketuanya Faris. Kalian harus saling menghargai itu kunci utama.”


"Sebelumnya aku ucapkan terima kasih pada rekan-rekan yang telah bergabung, apa yang tepat kita namai tim ini? Kalau menurut Pak Anwar?" Faris mempersilhkan Pak Anwar.


"Saya serahkan sama kalian saja. "


"Maaf, kalau menurutku, kita nggak usah pakai nama,” cetus Affan.


"Nama itu penting, nama adalah sebuah identitas, jati diri.


Jadi kalau kita mau dianggap harus punya nama” ucapku.


"Iya, Aku sependapat dengan Galung,” ucapnya.

__ADS_1


"Nama itu nggak terlalu penting, identitas adalah kepalsuan belaka. Lihat, berapa banyak pemimpin yang memiliki identitas. Namun, belum bisa menjadi pemimpin yang baik, pencitraan udang basah" ucap Affan blak-blakkan.


"Sekali lagi aku katakan, identitas itu penting untuk mengenali siapa kita, apa tujuan kita, dan bagaimana program kita kedepannya. Yang kita lakukan ini jangka panjang” ucapku.


Kami mulai berdebat tanpa disadari.


"Lung, bukan aku membanggakan diri. Sekali lagi aku minta maaf, aku sudah malang melintang di organisasi, memang identitas itu amat sangat penting dan akan tetapi sisi buruknya akan berpengaruh pada kita, apalagi perkumpulan seperti ini. Kalau banyak yang tahu, pasti yang enggak suka sama anti korupsi mencari-cari kita. Bisa jadi mereka membunuh kita satu-per satu. Jadi sekali lagi aku tidak setuju."


Matanya melirik Bang Affan.


"Apa-Apaan ini, tidak bisa, kita harus punya nama” ucap Fatta berdiri, aku juga ikut berdiri.


"Tidak bisa. Aku tidak setuju.”


Mereka ikut berdiri. Pengunjung perpustakaan menonton kami.


Kami sudah dipenuhi emosi.


Kalian luar biasa hebat, kalian memang benar-benar anak hukum. Kalian sudah menunjukkan identitas kalian tanpa kalian sadari. Anak hukum itu terkenal keras.


Akan tetapi tetap sopan dan berkata-kata baik saat mengutarakan argumentasinya. Kalian sudah punya power mempertahankan argumentasi kalian! Kalian sudah bagus. Sudah duduklah tidak perlu diperpanjang,” ucap Pak Anwar menyuruh kami duduk. Kami melirik Pak Anwar. Lalu kami duduk.


"Jadi, begini, apa pun yang kalian katakana barusan, benar! Tapi, kalau menurut bapak, lebih baik kita membicarakan progres kita ke depan. Memberantas korupsi bisa sehari. Namun, bias mendatangkan seribu koruptor lainnya. Jadi, jika memberantas korupsi dilakukan bertahun-tahun tidak pasti mendatangkan seorang koruptor. Bapak yakin sekali. Yang kita lakukan ini tidaklah mudah. Pasti ada saja rintangan. Apa kalian sudah siap?"


Sejenak kami hening.


"Hayo jawab, Faris?”

__ADS_1


"Siap Pak," jawabku.


"Kami siap!" Kemudian yang lain ikut menjawab.


"Bagus kalau begitu, untuk memberantas korupsi apa yang akan kalian lakukan?” tanya Pak Anwar ingin tahu sejauh mana pengetahuan kami.


"Memaksa koruptor dengan hukuman mati,” jawab Faris.


"Hukuman mati, jadi siapa yang berhak menghukum mati koruptor?" tanya Pak Anwar lagi.


"Hakim," ucap Eriska.


“Apa di negara kita bisa dilakukan hukuman mati?” Kami terdiam.


“Hayo jawab, kenapa diam?” Faris menggeleng.


“Oke, jawabannya tidakkan, Jadi untuk hukuman mati belum bisa kita lakukan. Memang bisa, Namun itu nanti. Sekarang yang kita bicarakan hukuman berat untuk koruptor, sepakat?”


“Sepakat!” seru kami. Faris sedikit kecewa,.


“Saya ingin bertanya lagi, siapa yang bisa menghukum koruptor?”


“Hakim,” jawabku.


“Iya benar sekali, sekarang kita tidak bisa. Sepuluh ribu kali pun kita berkoar-koar, hukum mati koruptor, hukum mati! Namun jika hakim ingin memvonis bebas, bisa saja, benar tidak?”


“Benar Pak,” jawab Eriska lantang.

__ADS_1


“Jadi harapan bapak, ini bukan cuma sekadar organisasi atau apalah, tapi ini lebih kepada action, pergerakan. Bukan ormas kalau ada kertas merah baru turun kelapangan, berkoar-koar. Kata kasarnya membela yang bayar. Bukan. Itu yang tidak Bapak inginkan,” Pak Anwar menghela napas. “Korupsi merupakan kesalahan yang dilakukan dalam ruang lingkup pemerintahan. Sama ibaratnya kalau menangkap ikan. Kalau menangkap ikan, kalian harus di air, enggak akan dapat kalau menangkap ikan di hutan, di udara. Pasti harus di air. Ikan tempatnya di air. Sama seperti koruptor. Koruptor tempatnya di pemerintahan. Cuma orang-orang di pemerintah yang bisa menangkap koruptor.”


__ADS_2