Hormat Gerak

Hormat Gerak
Seperti MLM


__ADS_3

Menjelang siang perpustakaan semakin ramai. Mahasiswa membuat kelompok belajar, berdiskusi dan ada yang berpacaran. Memesan makanan atau minumun bila perlu. Pak Anwar memberitahu kami kalau ia memiliki kenalan salah seorang mahasiswa yang memiliki ambisi sama seperti kami. Bapak itu tak bisa berlama-lama bersama kami, karena masih ada masuk mengajar mata kuliah lagi.


“Bapak harus turun duluan,” ucapnya saat berdiri. "Iya Pak, terima kasih.” Aku menjabat tangannya. "Kalau ada yang ingin dibicarakan hubungi saja.” “Oke Pak!”


Tidak berapa setelah Pak Anwar pergi, Faris berdiri dari bangkunya, “Mau kemana Faris?” tanyaku


“Cari orang yang memiliki cinta,” ucapnya datar.


“Yang mencintaimu kan?” ucapku.


“Nanti kau cemburu?” Aku tertawa.


Aku bangkit, berjalan menuju rak buku. Memilih rak buku tentang hokum di Indonesia. Aku melihat-lihat buku lantas kuambil salah satu buku. Lalu kubuka halamannya berderet-deret. Tanganku berhenti di salah satu sub judul. Tulisannya sangat menarik.


Klektokrasi panggung korupsi, perjuangan melawan korupsi adalah perjuangan yang sia-sia jika diawali dengan niat sementara. Sementara mencari pencitraan, sementara mencari keteneran, semantara memperbaiki bangsa ini dan sementara mencari kesuksesan.


Hatiku langsung bergeming.


Ulasan kata-kata itu sangat cepat merambat ke otakku. Bahkan tak pernah lupa jika ajal pun kan menjemput. Banyak hal lagi yang membuat hatiku cerah dan termotivasi oleh buku ini. Kuletakkan buku itu, lalu turun. Aku pun mulai berpetualang. Aku mendekati temanku yang duduk. Mengajaknya berbicara mengenai korupsi. Lantas mengajaknya bersama melawan korupsi. Mereka menolak mentah-mentah. Aku bergerak lagi ke tempat lain. Saat kusinggung mengenai korupsi, wajah mereka berubah jadi jeruk purut. Pesimisme yang terlihat. Hari mendekati malam dan mereka menyebutku MLM, aku makin tak peduli. Satu tempat ke tempat lain. Dimana ada mahasiswa berkumpul aku mendekatinya. Menjajakan lidah dan ludah untuk mengumpulkan tenaga demi bangsa yang besar ini. Aku tak menemukan seorang pun yang memiliki cinta sepertiku, seperti mencintai bangsa ini. Petualanganku hari ini berakhir tanpa hasil.


Aku pergi ke toko.


“Ma, Kak Misya masih ngambek?”


“Masih,” ucap mama sambil mengelap perabotan.


Aku menemani pembeli memilah-milih perabot. Ia menawar harga. Mama mengurangi harganya karena sudah langganan. Akhirnya jadi juga membeli. Selain itu tak ada lagi pembeli. Sore itu gelap sekali. Kami menutup toko lantas pulang. Mandi, lalu bersiap-siap makan malam bersama. Kak Misya nggak makan malam. Mama bangkit, lalu melangkah ke kamar Kak Misya.


“Misya, makan yuk, Ayah dan adikmu sudah nunggu di bawah.”


Entah sampai berapa kali dipanggil mama, baru Kak Misya mau menjawab.


“Nggak mau Ma.”


Mama menjumpai Mbok Emi, menanyakan apa Kak Misya tadi makan siang. Mbok Bilang, Kak Misya makan siang. Tapi nasinya diantar. Mama kembali ke kamar Kak Misya.


“Sayang, mama ambilin nasinya ya?” seru mama penuh kasih.


“Iya, Ma.”

__ADS_1


Mama mengambil nasi lantas ke kamar Kak Misya lagi.


“Sayang, nasinya sudah mama ambil, bukalah pintunya.”


“Iya, “ jawabnya datar.


Kak Misya menjulurkan tangannya mengambil nasi, lantas menutup pintu. Mama Tarik napas di depan pintu.


“Sayang, Mama boleh masuk?”


Mama menarik napas, lantas pergi ke meja makan.


“Yah, Kak Misya bagaimana tuh?”ucap mama murung.


“Ya sudah enggak apa-apa Ma, nanti dia juga bosan.”


“Tapi Yah, nanti ntah kenapa-kenapa dia di dalam.”


“Mama jangan khwatir, mama makanlah, nanti juga dia akan berubah.”


“Iya, Yah?” tanya mama memastikan.


Seusai makan mama duduk di teras. Sesekali ia ke kamar Kak Misya, sekedar menyapanya. Kak Misya juga menyahut.


Pertengahan malam mama pun dibujuk ayah agar tidur. Mama menangis, “Yah, mama enggak tenang.”


Ayah diam saja. Mereka berdua masuk kamar. Di dalam kamar mama termenung. Dan entah jam berapa mama baru tidur.


Pagi hari cerah. Aku berdiri di depan jendela. Memandang keluar. Sepertinya baru turun hujan. Di ujung dunia sana kulihat pelangi mempesona. Usai mandi aku turun ke bawah. Saat hendak makan bersama, Kak Misya belum ada juga. Aku ke kamarnya.


“Kak sarapan yuk?” ucapku sembari mengetuk-ngetuk pintu.


Tak ada suara darinya. Hingga beberapa kali kupanggil, juga tidak ada jawaban darinya. Mama dan ayah berlari mendatangiku.


“Kenapa galung?” tanya ayah panik.


“Dari tadi Galung panggil-panggil. Tapi, Kak Misya enggak nyahut yah.”


“Kak Misya, buka pintunya. Ini Ayah!” Ucap ayah sedikit keras.

__ADS_1


“Ketiduran Yah,” jawab Kak Misya polos. Kami menghela napas. Mama dan ayah menyapu dadanya.


“Sayang, sarapan atau mama ambilkan nasinya?”


“Ma, Ayah mau keluar kota lho.”


“Sayang, ayahmu keluar kota.”


Tak ada jawaban. Ayah pasrah ke meja makan.


Mama mengambil nasi kak Misya. Lantas memberinya.


Seperti biasa cuma tangan kak Misya yang meraih piring itu dari balik pintu.


Mama menyiapkan koper Ayah.


“Berapa lama Yah?”


“Kira-kira seminggu, Lung.”


“Kapan wisuda?”


“Bulan ini Yah, tapi belum tahu kapan.”


“Bereskanlah supaya kau wisuda tahun ini,” ucap ayah sembari mengambil nasi.


“Iya, Yah.”


Usai sarapan ayah berangkat. Ayah tersenyum saat meninggalkan kami. Tapi ada wajah yang tak puas yang disimpan. “Kak Misya” Kak Misya enggak mau menemuinya. Mama mengecek buku toko. Ia duduk di depan TV.


Aku masuk kamar. Kemudian kembali lagi di depan jendela. Udara Indonesia adalah ragaku. Aku menyiapkan berkas adminstrasi persyaratan wisuda. Merapikan kamar. Lalu ke kampus. Di kampus, Faris menelpon. Ia menyuruh bertemu di kantin. Usai menyerahkan berkas wisuda, aku ke kantin. Faris memanggilku. Aku duduk di sebelahnya. Ia mengenalkanku sama temannya. Temannya mengapresiasi ide kami. Kami mulai membicarakan pemberantasan korupsi. Vano bilang, pemberantasan korupsi di negara ini sama seperti memainkan wayang. Artinya bahwa ada orang yang menggerak-gerakkannya.


Pembicaraan kami makin serius. Bahkan ada orang yang mendengarkannnya. Pembicaraan kami kandas di meja makan setelah jenuh. Ternyata kami kadang jenuh juga membicarakan hal yang formal itu.


"Lung, aku dengar kau pacaran sama Reiny?” tanya Vano.


“Enggak lagi, Gar.”


"Siapa pacarmu sekarang?”

__ADS_1


Faris membisikinya.


__ADS_2