
"Oh… iya, iya, aku tahu pasti itu juga kan" seru Vano, kepalanya mengangguk-angguk.
Kami makan siang di kantin. Tiba-tiba saja sekelompok orang datang membabi buta. Mereka menyingkirkan apa saja yang ada di atas meja. Bahkan meja kantin dirusak. Semua orang ketakutan. Untung penjaga kantin menemui mereka. Menyelipkan uang disaku mereka. Lalu Mereka pergi, piring-piring dan makanan yang tak sempat dimakan diganti kantin. Botol-botol minuman berserakan dan Pecah dalam beberapa menit saja.
“Kau kenal orang tadi?”
“Enggak, Memang siapa?”
“Cerita orang aku dengar mereka itu dekat sekali sama rektor.”
"Masa!"
"Aku dengar begitu, mereka punya misi, tapi misinya rahasia,” ucap Vano sambil menyantap.
"Kenapa kau bisa tahu?”
“Aku tahu, kau harus lebih hati-hati!”
Dinda menelponku. Katanya sudah menunggu di depan.
"Aku harus ke sana, Dinda sudah menunggu.”
“Oke, Lung. Semoga sukses.” Aku tersenyum. Aku segera menuju ke tempat Dinda.
“Maaf telat” ucapku.
Wajahnya sudah berubah. Aku mengajaknya ke pantai. Ia pun tersenyum. Kami tiba di pantai terindah. Pasir itu bagaikan butiran surga yang turun dari langit. Kami duduk di pondok. Sesekali air laut menghujam kaki-kaki pondok kami. Angin bersiul berseleweran di antara kami. Ombak-ombak bergumulan di hadapan kami. Aku menggenggam tangan Dinda Penuh aroma cintah dan kasih sayang,
“Dinda mau pesan?”
“Seperti biasa.” Ia menatapku dengan senyuman manis. Penuh cinta.
Aku memanggil penjaga warung yang sedang melintas, lalu memesan makanan. Ombak datang makin kencang. Saling menerjang. Pengunjung pantai mulai ramai. Pantai ini jadi tempat favorit keluarga yang hendak mengahabiskan sore hari. Kami bercerita tentang banyak hal. Kemudian Tertawa melihat orang tua terjatuh saat mengejar anaknya. Ia pun menyandar di bahuku. “Galung, aku bersyukur mengenalmu, aku ingin selamanya berada dibahu yang empuk ini.”
“Terima kasih, Dinda.” Aku menatapnya.
“Aku pernah bermimpi menemukan orang yang aku sayangi, tapi dia masih menyimpan rasa kepada seseorang.”
__ADS_1
Aku melongok menantapnya. Heran.
“Ah, terlalu serius, Aku cuma bercanda.” Jangan lihat begitu, ia mengelus wajahku.
Aku tersenyum sinis.
"Ma, aku yang panggil Kak Misya."
Sebelum maghrib kami pulang. Sesampai di rumah aku mandi, lalu makan malam bersama keluarga.
Mama mengangguk. Aku segera menuju kamar Kak Misya. Berdiri di depan pintu kamarnya.
“Kak, Mama sudah menunggu makan malam."
Kak Misya membuka pintu kamarnya, “Iya Galung, kau duluan saja, nanti aku nyusul."
"Janji ya Kak?"
"Iya."
“Ma, bentar lagi anak mama yang cantik turun" ucapku sambil meraih piring.
Kak Misya menarik kursi di sampingku lalu ia duduk. Aku meliriknya, matanya lebam.
Aku menyengir menoleh Kak Misya, Ia tiba-tiba melirikku.
"Mama!" Ia bangkit lalu memeluk mama. Air matanya berjatuhan.
"Sabar ya Sayang, lain kali kamu pasti menang."
"Iya, tapi Mama, yang juara satu dibawa ke Jakarta, jadi artis Ma."
"Iya Sayang, Mama tahu, mungkin lain kali kamu yang akan juara, yang sabar ya Sayang, kamu makan dulu."
Kak Misya meraih piring. Air mata diusapnya.
"Kak, Ayah ke luar kota, katanya seminggu baru pulang."
__ADS_1
"Iya Ma?" tanya Kak Misya penasaran.
"Iya Sayang." Usai makan malam, aku kembali ke kamar. Mama dan Kak Misya mengobrol. Kubaca lagi buku tentang korupsi itu. Lamat-lamat mataku terpejam.
Di balik matahari yang indah ada tanda kebesaran-Nya. Pagi itu cerah sekali. Awan gembira menyambut munculnya sang cahaya. Kak Misya berdiri di depan cermin. Memperhatikan kedua matanya yang terkuras selama dua hari. Ada sedikit bekas di matanya. Lalu merapikan pakaiannya. Ia sudah rapi lantas melangkah ke kantor. Raganya berusaha keras melupakan kepedihan kemarin. Ia cantik hari ini kalau tidak menangis.
“Ma, aku duluan" sahutnya menenteng tas merah.
“Iya sayang, yang semangat ya. Hati-hati.”
Kak Misya berangkat. Jalanan macet makanannya sehari-hari. Ia tiba di kantor sepuluh menit sebelum waktu masuk. Di atas mejanya dua koran bertumpuk. Teman kantor menanyainya, kenapa tidak masuk kerja. Ia menjawab tidak enak badan. Ada senyuman sinis dari teman sekantornya. Ia tak peduli. Teman yang menanyai tadi meninggalkannya sendiri.
"Misya," sapa Eva teman akrab Misya. Eva duduk di samping Kak Misya.
Kak Misya balas menyapa, “Eva.”
“Kemana aja kamu?” tanya Eva.
“Jangan bilang kamu nggak enak badan,” ucap Eva sambil tersenyum.
“Jadi aku harus jawab apa?” jawab Kak Misya sambil mendelik.
“Aku sudah tahu kok,” ucap Eva.
Kak Misya membuka koran itu, gambarnya terpampang jelas saat menerima hadiah juara dua kontes model. Di koran itu dijelaskan kalau juara satu akan dibawa ke jakarta, bakalan jadi artis. Hatinya kembali terpukul. Orang sekantor juga tahu kalau Misya enggak dapat juara satu. Ia meletakkan koran itu. Wajahnya kembali murung.
“Pasti gara-gara koran tadi” ucap Eva
“Eva" ucap Kak Misya sambil memeluk Eva.
“Sudah, jangan nangis, malu dilihatin orang-orang” ucap Eva seraya mengusap air mata di wajah Kak Misya.
“Eva, aku kalah” ucap Kak Misya bermanja.
“Kamu bukan kalah, tapi ada sesuatu yang lebih besar dan pantas menunggumu. Kamu haru yakin itu" ucap Eva.
Kak Misya secepat mungkin melepaskan dekapannya, “Kamu serius, Va?”
__ADS_1
“Iya, aku serius.”
Kak Misya menghapus air matanya, “Aku percaya sama kamu Va,” ucap Kak Misya.