Hormat Gerak

Hormat Gerak
Tidak Sadarkan diri


__ADS_3

Aku terjatuh dalam kesedihan yang panjang. Aku berpikir negeri ini harus diselamatkan dari perilaku yang tidak baik. Keributan kami ternyata mengundang banyak orang. Tetangga sebelah melihat kami yang bersimbah darah. Aku dan pak Umbargus dilarikan ke rumah sakit. Sekujur tubuh ini rasanya seperti dihantam balok besar. Dan tidur yang panjang tiba-tiba aku terbangun. Aku mengerang kesakitan.


" Aku dimana? "


" Sekarang sedang dirawat di rumah sakit" Jawab seorang suster yang sedang mengganti infusku"


"Pak Umbargus dimana?"


"Lebih baik kamu istirahat saja, jangan pikirkan yang lain!" Ucap mama.


Mama dan Ayah senantiasa berada disampingku.


"Kamu sudah bagian dari pengalaman yang ayah tunggu-tunggu" Ucap Ayah.


"Terima kasih yah, Sebenarnya aku tidak apa-apa yah. Aku tidak sakit. Kenapa aku bisa disini"


"lihat lukamu begitu banyak. Kamu harus lebih banyak istirahat atau kamu mau berlibur"

__ADS_1


Aku Terdiam tanpa banyak kata. Mataku mulai terpejam.


Di kamar yang lain pak Umbargus ternyata sedang dirawat ia sudah tak sadarkan diri sejak dibawa ke rumah sakit. Seluruh keluarganya sudah berkumpul. Deraian air mata tumpah di kamarnya. Anaknya yang berusia sepuluh tahun menangis tak henti-henti. Anaknya yang melanjutkan pendidikan stara 1 di luar negeri di suruh pulang. Saat anaknya pulang. Anaknya mengutuk akan membawa kasus ini ke ranah hukum agar aku bisa dijebloskan ke penjara. Tapi Ayah dan namaku tidak ingin sebab ayah dan pak Umbargus adalah sahabat sejak kecil. Ayah saat pertama kali melihat pak Umbargus tidak menyangka. Air matanya basah dan berulang kali membangunkan pak Umbargus. Tapi sampai sekarang belum juga terbangun.


Matahari siang itu masuk dari celah-celah kaca jendela rumah sakit. Burung-burung terbang bergerombolan. Mereka hingga dikabel listrik yang menghubungkan dari tiang yang satu kepada tiang yang satu. Kicauan burung diartikan orang jaman dahulu bahwa akan ada bencana.


Kedua bola mata pak Umbargus perlahan-lahan terbuka. Penampakannya masih samar- samar. Ia tidak bergerak hingga ia bisa melihat lebih jelas. Lima belas menit matanya menerawang. Tidak ada satu orang pun keluarga yang menemaninya mengetahui hal tersebut. Seorang anak kecil melihat mata pak Umbargus menari-nari. Ia memberi tahu kepada yang lain. Tapi tak ada yang percaya.


" Oom sudah bangun. Yea. Asik"


" Oom sudah bangun, Ya asik"


Istri pak Umbargus yang semulanya terduduk dilantai tiba-tiba berdiri. Ia melihat mata pak Umbargus terbuka.


" Ayah, ayah sudah sadar " ucapnya takjub.


Pak Umbargus masih terdiam.

__ADS_1


"Ayah sudah sadar ya? " Tanyanya sekali lagi.


" Mama" Ucap Pak Umbargus.


Istrinya histeris menjerit bahagia. Ia memeluk erat. Seluruh keluarga berkumpul mengelilingi pak Umbargus. Mereka menangisi kebahagiaan.


Anak pak Umbargus yang ingin membawa kasus ini ranah hukum menangis tersedu-sedu sambil mengucap rasa syukur.


"Terimakasih ya Allah, Wulan sayang sekali sama Ayah, Ayah jangan sakit- sakit lagi ya "


" Wulan ingin tinggal bersama ayah, Wulan nggak mau pisah dari ayah"


Pak Umbargus meneteskan air mata. Ia mencoba berbicara tetapi sedikit sulit.


" Ayah sayang kalian semua " Ucap Pak Umbargus.


Mereka kembali memeluk pak Umbargus.

__ADS_1


Mereka seperti menemukan hal yang paling berharga dalam hidupnya. Yaitu keluarga. Keluarga yang bisa membuat kebahagiaan menjadi berarti. Pak Umbargus mengusap rambutnya anaknya.


__ADS_2