
"Terima kasih, aku juga bangga padamu." Aku menggenggam erat tangannya. Ia tersenyum manis. Lantas bermanja di bahuku. Kami sampai di rumah. Dinda membuatkanku minuman dingin. Koran yang tadi kembali kubaca. Hampir seluruh isi surat kabar memberitakan korupsi. Dan yang paling disorot di koran itu tentang dugaan korupsi oknum anggota DPRD melakukan tugas fiktif. Mataku langsung mendelik. Aku takut sekali jikalau ayahku terlibat. Paling akhir di koran itu tertulis "Indonesia menuju Kemiskinan akibat korupsi." Keningku berkerut. Kututup koran itu lalu ku buka koran yang lain. Beritanya tidak jauh berbeda. Headline depan juga memberitakan korupsi oknum menerima suap dari pihak eksekutif. Menjelang senja, aku permisi pulang. Tiba di rumah menyaksikan televisi, lalu mandi dan makan malam. Malam itu Kak Misya sudah di meja makan. Misya menambahkan nasinya, katanya kelaparan usai pulang dari kantor.
"Galung, tadi jadi ke kampus?" tanya ayah juga ikut nambah.
"Jadi Yah."
"Mana undangannya?"
“Sebentar, Yah.” Aku mengambil undangan di kamar. Lalu kembali lagi ke meja makan. Selesai ayah makan, ia membuka undangan wisuda itu. Ayah membaca undangan itu.
"Bagus, selamat Nak." Ia menepuk bahuku.
"Terima kasih Yah."
Ayah pun berangkat ke kantor. Misya juga ke kantornya. Aku merenung di kamar. Masih belum percaya kenapa aku tidak tertarik lagi sama korupsi. Aku ke bawah, menonton tv. Setengah jam menonton, delapan puluh persen beritanya tentang korupsi. Bincang-bincangnya juga mengangkat tema korupsi. Aku menyaksikan bincang-bincang itu setiap hari. Seminggu ke depan, hatiku perlahan-lahan terbuka. Hatiku menerima kenyataan bawah korupsi adalah virus mematikan. Ternyata bangsa yang besar ini bisa menjadi kaya raya kalau korupsi tidak ada. Usai sarapan aku langsung ke kampus. Kulihat Faris berdebat dengan seorang mahasiswa. Aku mendekatinya. Faris selalu ngotot mempertahankan argumennya. Hingga urat lehernya mau keluar.
"Kau bilang aku nggak cinta sama bangsa ini, jaga mulutmu ya!" ucap seorang mahasiswa penuh emosi.
"Buktinya, kau selalu menjelek-jelekkan bangsa ini, dari beberapa hari yang lalu kau nggak bisa berbuat lebih untuk bangsa ini. Kau tahu boroknya tapi kau diam saja" jawab Faris.
"Jadi maumu apa sekarang?” tanya seorang mahasiswa tadi menyerah.
"Aku cuma ingin indonesia bebas dari korupsi, kita buat sebuah pergerakan anti korupsi, kita berpikir, menuangkan ide dan kau harus ikut!" seru Faris.
"Korupsi!" ungkap seorang mahasiwa tadi.
"Iya, semakin hari korupsi di Indonesia mengalami peningkatan, seperti wisatawan mancanegara yang setiap tahunnya bertambah mengunjungi Indonesia.”
“Saya juga sudah bergabung" ucapku disela-sela mereka berbicara.
Faris menolehku. Andi, teman di sebelahku membisikkanku, "Galung, Abang itu aktivis kampus, masa kau nggak kenal."
"Aku kenal, berarti dia sudah potong rambut" ucapku
pelan.
"Iya, dia sudah merubah penampilannya.”
Aku membisikkan ke telinga Si Faris. Ia mengangguk-angguk.
"Baiklah aku ikut. Karena aku kalah berdebat. Tapi kita lihat kedepan bagaimana selanjutnya”
__ADS_1
Kami tersenyum. Menjabat tangannya.
"Terima kasih Bang, semoga ini awal yang baik untuk kita” ucap Faris sambil menjabat tangan.
Faris mengatakan kalau sudah dua hari ia membujuk abang senior itu. Selama dua hari itu mereka selalu berdebat. Abang senior itu berjanji jikalau kalah berdebat ia akan bergabung. Janjinya pun ditepatinya. Hari ini ia kalah dan resmi menjadi bagian dari pergerakan perlawanan korupsi.
"Faris, aku minta maaf soal kejadian yang kemarin. Aku baru sadar kekayaan alam kita bisa membuat kita sejahtera asal dikelola tanpa adanya praktik korupsi" ucapku.
"Syukurlah kalau begitu. Aku juga minta maaf." ucap Faris.
Aku menjabat tangannya. Aku memeluk erat tubuhnya.
"Jadi berapa orang lagi?" tanyaku.
"Berapa saja, nggak masalah," serunya.
Aku meninggalkan Faris. Tak peduli apa kata orang. Aku mengitari kampus lagi. Tak banyak bicara, hanya siapa saja yang mau ikut dalam perlawanan korupsi menuju Indonesia yang bebas korupsi di masa yang akan datang. Mereka masih ingat kepadaku. Dua orang mahasiswa yang kukenal lantas kenal menuju ke arahku. Mereka penasaran terhadap cerita anak kampus tentang diriku. Lantas kujelaskan kepada mereka soal korupsi serta target memberantasnya dan ide-ide dibutuhkan dalam pergerakan ini. Usai menjelaskan kupersilahkan mereka berbicara dan menyarankan untuk kritis.
"Kami tahu Indonesia sudah seperti ini, apakah ini bisa diberantas?" tanya salah seorang dari mereka.
"Kalau diberantas bisa, asalkan lebih banyak obatnya dari pada virusnya. Sekarang ini lebih banyak virus dari pada obatnya."
"Baiklah, kami ikut. Kami akan banyak belajar di dalam"
“Terima kasih, ini kelompok orang-orang yang mau banyak belajar. Di dalamnya bukan hanya kita. Tapi kita akan kenal banyak orang”
Aku membawa mereka menemui Faris. Kami duduk di taman. Paling senior namanya bang Abra. Ia dikenal penjelajah kampus. Hampir seluruh organisasi di kampus pernah dipimpinnya. Hingga akhirnya bisa juga wisuda bersama kami. Dua orang lagi Affan dan Fatta. Aku yang membawa mereka. Aku yakin sama pemahaman mereka yang tanggap dan cermat. Dan mereka juga anti sekali terhadap korupsi. Faris pun membuka perkenalan singkat ini. Ia menulis nama-nama kami di kertas, “Alhamdulillah, jumlah kita ada enam orang” ucapnya.
"Tujuh orang, satu orang lagi akan datang juga" ucap Bang Abra. Kami bengong.
"Siapa satu orang lagi?"
Bang Abra tersenyum. "Cewek paling cantik diantara kita."
“Kalau ada yang mau bergabung dengan kita lagi, silahkan. Bagi teman-teman di sini jika ada teman yang lain mau bergabung masih kita buka pintu lebar-lebar,” ucap Faris.
Tak bisa berlama-lama dan tak sempat berkenalan lebih detail, kami segera bubar. Bang Abra juga sibuk mengurus organisasi yang akan ditinggalkannya selamanya.
Aku ke toko membantu mama menutupnya. Hari ini mabel mama terjual banyak.
"Galung, besok pesanan ayah akan datang, besok pagi subuh kau sudah di toko."
__ADS_1
"Subuh, kenapa subuh Ma?" tanyaku penasaran.
"Mama juga enggak tahu, tadi ayahmu pesan begitu."
"Ya sudah Ma."
Kami pulang ke rumah. Sebelum maghrib kami sampai rumah.
Kak Misya duduk di meja makan. Aku dan mama langsung makan malam. Beberapa saat kemudian ayah juga baru pulang kerja. Duduk lalu makan malam. Usai makan malam ayah mengingatkanku agar sebelum adzan subuh sudah berada di toko.
“Besok jangan lupa ya Galung.”
“Iya, Yah.”
Usai makan malam aku mandi lalu tidur.
Pagi hari alarm hpku berdering. Aku segera ke toko, rupanya ada truk besar di depan toko kami. Mereka memastikan kalau aku anak Pak Rahmat. Kubuka toko, merek pun mengangkati perabotan itu ke dalam toko.
"Pak, kenapa harus pagi-pagi?”
"Kami tidak tahu, kami hanya diperintahkan."
Semua perabot sudah dipindahkan. Mereka pergi. Aku mengecek ulang perabotan tadi. Menurut catatanku sudah pas, aku kembali ke rumah.
Pagi hari kami sarapan bersama. Mbok Emi memasak bubur ayam gristik.
"Tadi pagi jadi ke toko?" tanya Ayah.
"Jadi Yah, kenapa pagi subuh?"Ayah melahap bubur itu.
"Yah, kenapa harus pagi-pagi?" tanyaku sedikit maksa.
Pertanyaanku tak dihiraukannya. Aku menghela napas.
"Kamu nanti akan mengerti Galung. Bukan sekarang. Tapi nanti tunggu saja!"
“Ini memang seperti biasanya, aku harus membuka toko di pagi buta” Gumamku dalam hati.
Aku terdiam. Ayah berangkat ke kantor. Aku membuka hp-ku. Tadi malam Faris mengirim pesan di hp ku, kalau pagi ini berkumpul di perpustakaan, tempat biasa. Aku bersiap-siap, lalu berangkat. Di tengah jalan aku berjumpa Bang Abra. Ia bilang akan segera
menyusul ke perpustakaan.
__ADS_1