Hormat Gerak

Hormat Gerak
Menguji Profesionalitas


__ADS_3

Pagi hari fajar belum terlihat Kang Maman sudah bangun terlebih dahulu. Di pagi hari buta itu Kang Maman mandi. Itu kebiasan yang sudah dilakukannya sejak muda. Pesan neneknya di kampung dulu bahwa Mandi di pagi buta itu bisa mambuat tubuh sehat bahkan menyembuhkan penyakti. Saat adzan berkumandang Kang Maman membanguniku. Setiap pagi ketika matahari sudah agak terlihat Kang Maman menyiram bunga dan memberi makan burung peliharaannya. Hamper seminggu sekali Kang Maman memandikan burung-burungnya itu. Ia merawat burung itu dengan sungguh-sungguh. Katanya kelak; kalau sudah mati, burung itu yang akan mendoakannya. Entah benar atau tidak, yang penting aku iyakan saja Perkataannya. Aku mandi.


"Yah, Galung mana?" tanya Kak Misya.


"Tadi malam dia tidur lama sekali.”


"Kenapa?"


"Katanya nggak bisa tidur.”


Aku menuju meja makan lalu duduk di samping ayah. Nasi goreng buatan Mbok Emi pedas sekali. Ayah suka sekali na yang pedas-pedas. Usai sarapan aku segera ke kantor. Pak Umbargus belum datang. Petugas Cleaning service kantor sudah datang, mereka sangat rajin. Setiap pagi mereka dengan semangat membersihkan kantor kami. Kantor kami tak pernah kotor. Di pagi hari itu loker Koran datang dan meletakkan Koran di pintu depan. Aku mengambil Koran tersebut lantas membacanya. Aku membaca halaman dengannya tentang kasus korupsi. Untung saja bukan di daerahku. Di dalam Koran tersebut disebutkan ada sejumlah inisial yang diduga melakukan penyelewenangan dan sedang dalam pemeriksaan tim tipikor. Aku meletakkan koran itu. Pak Umbargus datang, ia menyapaku penuh semangat.


"Apa kabar Lung?" tanya pak Umbargus.


"Sehat Pak,"


"Udah tahu apa agenda sidang kita ini, putusan kata Bang Rewad.”

__ADS_1


"Iya putusan, kau harus lebih waspada, bapak yakin kalau pledoi kita diterima dan hukuman klien kita dikurangi paling tidak jangan sampai hukuman mati. Ini yang membuat kita akan diserang, inilah profesionalitas hukum. Namun,tidak dilihat oleh kaca mata hati.”


Pak Umbargus menunjuk dadanya.


"Iya, aku sudah mulai paham," ucapku.


Bang Rewad datang, katanya ia habis mengantar anaknya sekolah.


Setlah mempersiapkan berkas yang aka di bawah maka kami segera berangkat.


"Kita jalan potong Galung, tahu jalannya kan?” "Tahu bang," ucapku.


Kami duduk di kantin sembari menunggu giliran sidang. Pak Umbargus memesan tiga gelas kopi. Setiap penjuru pengadilan dijaga polisi. Aku menyeduh teh kopi yang lezat. Aku merasakan bahwa ini tidak bermimpi. Aku melihat beberapa media nasional turut serta meliput sidang yang digelar hari ini.


"Galung, nanti kalau teman-teman wartawan bertanya tidak usah banyak bicara, kalau bisa seusai sidang kita segera pergi.”


"Oke Pak" ucapku.

__ADS_1


Sidang akan segera dimulai. Kami masuk ruang sidang. Sidang pun dimulai. Keluarga korban memadati ruang sidang. Aku ketakutan. Hakim membuka sidang. Keluarga korban bersorak dan lagi-lagi hakim menyuruh diam. Sidang kali ini tidak begitu efektip. Beberapa menit dihentikan akibat adanya keributan di dalam sidang.


“Jika masih ada yang rebut, saya tidak akan baca putusannya,” ucap hakim tersebut.


Setelah tak terdengar lagi suara gaduh, ia pun mulai membacakan putusannya. Keluarga korban memanas. Bangku-bangku dirusak. Berkali-kali polisi mengeluarkan orang yang berbuat keributan dari ruang sidang. Polisi tak bisa mengendalikan. Belum sempat sidang ditutup, suasana ricuh kembali. Seseorang hendak mengejar hakim. Namun, segera diamankan polisi. Sidang pun harus di score. Di luar ruang sidang juga ternyat massa yang kontra terhadap terdakwa memaksa masuk. Halaman pengadilan dilumuri berbagai macam buah-buahan busuk. Satu oknum polisi terkena lemparan buah yang berisi batu-batu kecil. Oknum polisi tadi langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.


Kami menuju kantin. Polisi terus mengawal kami. Orang-orang keluar dari ruang sidang. Di luar, mereka meneriakkan tentang sistem hukuman di negara ini, lima menit kemudian hakim memasuki ruangan lalu melanjutkan persidangan, lantas mengakhiri persidangan itu. Hakim membacakan putusannya bahwa klien kami tidak dihukum mati. Ibu keluarga korban menjerit. Nyaris pingsan. Kami pun diburu wartawan. Pak Umbargus yang menjawab setiap pertanyaan wartawan. Ia menjelaskan “ Bahwa ia hanya menjalankan tugas advokasi secara professional. Adapun putusan hakim hari kami sangat bersyukur. Kami akan selalu ikut prosedur. Bila nantinya jaksa penuntut umum akan mengajukan banding. Kita akan siap. Jadi Segala sesuatu yang mengikuti aturan hukum kita akan jalankan. Sekali lagi kami hanya menaati putusan pengadilan.” Masih banyak lagi pertanyaan wartawan. Namun, Pak Umbargus enggan menjawabnya. Kami segera meninggalkan pengadilan. Mobil kami penuh tomat dan kotoran manusia saat melintas depan pengadilan. Mereka juga menghantam kaca mobil kami dengan batu.


Kami sampai di kantor. Aku memeriksa kaca mobil belakang. Setengah pecah. Mereka berdua hanya tertawa.


"Galung, tidak usah panik. Kadang-kadang ya begini. Di negeri ini masih banyak yang belum bisa menghormati putusan pengadilan" seru Bang Rewad.


"Tapi Pak, jika berbicara putusan pengadilan. Masyarakat awam masih tak percaya sepenuhnya dengan penegakan hukum di Indonesia. Tidak percaya hakim dan keputusan hakim saat ini jauh dari nilai-nilai kemanusiaan," ucapku.


"Kamu ini pengacara. Kamu tak perlu amini apa kata masyarakat, yang penting kau bekerja secara profesional" ucap Pak Umbargus.


Aku mengangguk. "Aku mengerti Pak."

__ADS_1


Pak Umbargus menyalakan televisi. Aku disuruhnya membuat surat gugatan. Sebelum terbanam matahari sore gugatan itu sudah selesai. Besok pagi akan mengantarnya ke pengadilan. Sebelum jam lima, Pak Umbargus pulang lebih awal. Aku dan dan Bang Rewad yang masih berada di kantor. Bang Rewad sibuk bermain game di laptop. Aku membuka-buka fila di laptop yang lain. Kubaca surat-surat gugatan itu. Teman ayahku ini memang lihai memainkan setiap kasus. Bayarannya juga tak tanggung-tanggung. Paling murah lima puluh juta. Hari sudah mau maghrib. Aku pulang. Bang Rewad belum beranjak dari tempat duduknya, bokongnya mungkin sudah menyatu sama bangku. Rupanya ia tidak bermain game. Tapi menonton.


__ADS_2