
4 Tahun Kemudian………
Di suatu saat Pak Regar mengajakku menangani kasus korupsi, aku menolak dengan berbagai macam alasan. Akhirnya satu kantor itu tahu kalau aku belum bisa menangani kasus korupsi. Asal ditanya kujawab, aku belum sanggup. Sore itu aku duduk termenung di luar kantor. Pak Regar datang menghampiriku.
“Sepertinya mau hujan ya Pak?” ucapku sambil memandang langit.
“Iya Galung,” jawab Pak Regar.
“Galung, sudah berapa lama kamu jadi pengacara?” tanya Pak Regar
“Jalan empat tahun Pak.”
“4 tahun, lumayan lama juga ya, nggak terasa.”
Aku senyum, “Iya, nggak terasa ya Pak,”
“Ada yang ingin bapak tanyakan sama kamu, tapi bapak segan. Takut kamu nggak suka sama bapak” seru Pak Regar.
Aku memandang wajah bapak itu.
“Maaf Galung, tidak jadi,” ucapnya buru-buru.
“Tidak apa-apa Pak, tanyakan saja jika itu mengganjal di hati Bapak.”
“Baiklah kalau kamu memperbolehkannya. Begini Galung, kamu sudah menjadi pengacara selama empat tahu dan kalau bapak nilai, kamu itu sudah mahir. Bahkan kamu itu lebih mahir daripada kami. Kamu kan rajin membaca. Tapi, mengapa saat kami ajak kamu selalu menolak menangani kasus korupsi?”
Napasku membuncah.
“Aku belum siap untuk menjawabnya Pak, nanti bapak akan tahu. Aku belum siap secara mental” jawabku datar.
“Tapi kamu kan cerdas!”
“Ada satu hal yang belum bisa kukatakan kepada bapak, permisi Pak" ucapku.
Aku ke dalam. Membuat kopi. Duduk santai menyaksikan TV. Hujan datang diberengi angina kencang. Hujan berhenti setengah lima sore, Aku ke toko. Mama dan karyawannya menutup toko. Aku ikut membantu. Kami pulang ke rumah bersama.
Jam sepuluh malam aku mendapat telpon dari Faris,
“Galung,”
__ADS_1
“Iya, saya Galung.” Aku senang sekali.
“Masih ingat sama aku,” tanya Faris.
“Aku selalu menunggu telpon darimu.”
“Tiga hari lagi kita berkumpul, tempatnya sedang dicari,” ucap Faris.
“Sudah kabari yang lain?” tanyaku.
“Sudah.”
“Kemungkinan akan ada yang gugur” seru Faris.
Malam hari bintang bersinar. Aku duduk di depan rumah. Kupandangi bintang yang bersinar indah itu. Di dalamnya bidadari sedang duduk manis bersama pangeran. Aku baru ingat, saat tadi mengisi BBM aku melihat perempuan mirip sekali dengan Reiny. Aku yakin itu bukan dia kembarannya. Aku masih menyimpan Senyumannya itu yang membuatku lekat. Ini sungguh membuatku gundah sebab cintaku kepada Dinda makin besar. Namun, seketika melihat sosok Reiny, cinta yang besar itu tergantikan. Aku tak tahu, Reiny atau Dinda yang diberikan tuhan untukku. Hujan kembali turun, aku ke kamar. Berselimut raut wajah dua gadis ciptaan tuhan.
Jam sepuluh pagi aku baru saja meninggalkan ruang sidang di pengadilan. Faris menelponku, katanya harus segera ke warung makan rel. Usai mengantar Pak Regar ke kantor aku lantas ke sana. Aku berdiri di depan mobil. Faris memanggilku, Ia masuk ke warung itu. Ia memelukku erat.
“Aku pikir kau nggak datang?”ucapnya.
“Mana mungkin aku nggak datang, aku rindu samamu,” seruku.
“Kenapa nggak mungkin?”
“Oh iya, kau pernah bilang ada satu kalimat Reinya yang kau ingat, cintai aku sebagaimana kau mencinta bangsa ini dan cintai bangsa ini sebagaimana kau mencintaiku. Pasti kau mau membuktikannya kan?” ucap Faris.
Aku tertawa, “Kau tahu aja,” jawabku.
"Apa kabar Galung?"
"Sehat, kau apa kabar?"
"Sehat, kau makin ganteng sekarang."
“Terima kasih, kau juga.”
Pak Anwar datang. Dan di susul Abra, Affan, Eriska dan Marvous.
“Kenapa kalian bisa sama, pasti kalian sudah janjian?”
__ADS_1
Mereka tersenyum.
“Apa kabar semua?” tanya Pak Anwar semangat.
“Sehat, Pak.”
“Saya juga sehat.”
“Tunggu, tunggu, ada yang berbeda ini. Baju kalian yang membuat beda, bapak bangga” ucap Pak Anwar.
Pak Anwar menghitung kami, ia mengeluarkan kertas. Lantas menyebut satu persatu nama-nama kami. Cuma Fatta wahyu yang tidak ada.
“Ada yang tahu dia ke mana, Faris?” tanya Pak Anwar.
“Saya sudah menghubungi Pak, nomornya nggak aktif tadi, kalau aktif enggak diangkat, saya sms juga sudah Pak. Tapi, nggak dibalas.”
“Lihat, inilah kalian yang bertahan. Saya sudah katakan sebelumnya kalau apa yang kita lakukan ini bukan untuk sehari dua hari. Tapi, dalam jangka panjang. Oleh karena itu kita perlu persiapan yang matang. Sekarang kalian sudah temukan mimpi kalian semua, itulah senjata kita nanti, sudah kalian temukan kan?”
“Sudah, Pak.”
“Kalian ingat kasus korupsi saat kalian kuliah?”
“Ingat pak, oknum anggota dewan Pak,” ucapku.
“Iya, lihat mana hasilnya! Sampai di mana berkas itu. Affan kamu jaksakan, gimana hasilnya?” tanya pak Anwar.
Affan terdiam.
“Affan?”
“Aku tidak tahu Pak, tidak ada lagi berkasnya di kejaksaan” jawab bang Affan.
“Lihat, sudah berapa milyar negara dirugikan, KPK saat ini juga belum bisa leluasa. Kepemimpinan di atas segala-galanya.”
Pak Anwar meneguk sebentar kopinya.
“Bapak tahu, selama ini kalian tunduk sama atasan, agar meraih jabatan yang lebih tinggi. Tapi, untuk ke depannya beranilah melawan atasan jika ia salah. Kalian masih ingat ikar kalian kan?”
“Masih Pak,” jawabku.
__ADS_1
"Bapak cuma ingin kalian fokus. Kasus korupsi ini sudah lama. Kalian harus bongkar itu kembali.”
"Maaf saya tidak bisa lama-lama, ada mahasiwa yang mau bimbingan skripsi. Pesan saya, bongkar kembali kasus ini, kembalikan kerugian negara. Semakin lama kalian beraksi semakin muncul pula koruptor yang baru” ucap Pak Anwar. Lantas meninggalkan kami.