Hormat Gerak

Hormat Gerak
3 Miliar


__ADS_3

Di kantor kami, Pak Umbargus sangat serius mengerjakan satu gugatan. Ini gugatan berskala besar. Makanya ia yang mengerjakan sendiri. Ia berhenti di sela-sela mengerjakan karena sudah berasa buntu. Lantas mengajak kami berdiskusi. Kemudian kami menemukan jawaban setelah berdsikusi tentang gugatan itu. Siang hari matahari yang cerah, aku ke toko. Lalu kembali ke kantor lagi. Pak Umbargus akhirnya menyuruhku melanjutkkan membuat surat gugatan. Seusai membuat surat gugatan aku disuruh membuat surat kuasa. Setelah selesai kami meluncur ke sebuah hotel. Duduk di restaurant hotel. Pak Umbargus menelpon seseorang, entah siapa. Beberapa orang datang menyambangi kami. Mereka duduk.


“Pak, coba dilihat surat kuasanya?” ucap Pak Umbargus.


Pak Umbargus memberikan surat kuasanya.


“Udah bagus, Pak.”


“Kami berusaha memenangkan kasus Bapak ini,”ucap pak Umbargus.


Seseorang tadi menyerahkan amplop setebal buku 500 lembar. Lalu kami kembali ke Kantor.


Belum lama tiba di kantor, Beberapa orang menerobos masuk,


“Ada Pak Umbargus?” tanya mereka seperti hendak menerkam kami.


“Ada.”


“Saya di sini,” seru Pak Umbargus di pojokan.


“Kita bisa bicara sebentar Pak?”


Pak Umbargus hanya mengangguk. Lalu menyuruhku keluar.


Di balik dinding tak satu pun terdengar jelas pembicaraan mereka.


"Masih kenal sama saya Pak?"


“Masih kenal.”

__ADS_1


“Bapak pernah menangani kasus korupsi Pak Warso juga kan, kasus sengketa tuan takur tanah dan kasus pembunuhan. Semua bapak menangkan!” seru orang tadi agak keras.


“Iya saya ingat semua itu. Kasus yang saya tangani semuanya menang.”


“Oke, lihat ini Pak, lihat.” Ia menunjukkan koran yang dibawanya.


Koran-koran itu jadi saksi. Pak Umbargus tercengang.


“Aku minta sama bapak, jangan lagi ada berita yang muncul seperti ini. Wartawan dan pengadilan itu urusan bapak. Kami tidak mau tahu. Faham!” ucap seseorang tadi bertubuh gempal.


Pak Umbargus memperhatikan detail koran itu, penulisnya juga diingat-ingatnya.


“Kalau muncul lagi dan dan terpaksa harus naik ke sidang, kami mau menang, bos kami divonis bebas.”


“Kalau itu mau kalian, oke!” ucap Pak Umbargus mengangguk.


"Sekarang buat surat kuasanya!” pinta Preman tadi


Preman tadi mandapat telpon dari bosnya. Bercakap-cakap lalu menyudahinya.


“Kami baru ditelpon bos. Katanya kasus ini harus berhenti di tengah jalan!”


“Baiklah, kalau begitu saya minta tiga miliar, gimana?” tanya Pak Umbargus.


“Oke Pak.”


Pak Umbargus sepakat. Mereka pergi.


"Pak, mereka siapa?” Aku masuk ke dalam.

__ADS_1


"Mereka klien bapak, Oh iya, untuk kasus yang kemarin, Pak Regar saja yang menananginya?”


“Memang kenapa, Pak?” tanyaku penasaran.


“Nggak apa-apa, kita bagi tugas. Sebab ada kasus yang lebih besar,” seru pak Umbargus.


"Kasus apa Pak?" tanyaku.


“Korupsi.”


“Klien bapak walikota Belitung?”


“Bukan, itu sudah selesai, ini lebih besar lagi,” seru pak Umbargus serius.


Aku termenung sesaat.


“Kali ini kau harus ikut?” Paksa Pak Umbargus. Aku terdiam.


“Kalau kau nggak bisa, kau menyesal nanti. Kau akan kehilangan kebahagiaan,” tambah Pak Umbargus,


“Maksudnya Pak?” tanyaku lagi.


Pak Umbargus terus mengetik. Tak mau mengulang ucapannya. Aku pun tak bertanya lagi. Hingga sore pertanyaan tidak ada jawaban. Besoknya Faris menelponku, katanya sudah mengungkap kembali kasus korupsi anggota dewan itu. Pak Umbargus kembali ditelepon kliennya.


“Pak, bagaimana ini, kami dengar kasus bos kami mau diungkit lagi?” Seru Preman melalui telepon.


“Tenang saja, itu tidak akan bisa,” ucap Pak Umbargus santai.


“Kami tidak mau tahu, jangan sampai berita itu benar,” ancam Preman lantas menutup teleponnya.

__ADS_1


Malam yang hangat merubahku menjadi setuju atas tindakan korupsi. Ucapan Pak Umbargus tidak bisa dianggap remeh. Aku takut jika tak mengikutinya sesuatu akan terjadi nanti. Namun, bagaimana gimana dengan sumpah kepada Faris dan teman-teman yang lain serta Pak Anwar. Aku memejamkan mata, berharap apapun pilihanku esok adalah yang terbaik. Pagi hari aku terbangun, otakku berpikir lebih cepat tentang dua pilihan. Tapi, aku sudah memutuskan mengikuti ucapan Pak Umbargus. Aku tahu itu sangat menyiksa Faris. Aku akan siap meneriman apapun darinya. Usai sarapan aku segera ke kantor, membuka buku tentang korupsi. Pak Umbargus baru tiba di kantor. Membuka laptopnya. Mengetik sedikit.


__ADS_2