Hormat Gerak

Hormat Gerak
Di Dalam Ruang Sidang


__ADS_3

Pagi hari, mama menanya kemana aku tadi malam, kujelaskan kalau aku ke rumah sakit menjenguk Pak Anwar. Kami sarapan pagi. Ayah duduk di sampingku. Wajahnya pucat. Kutanya, ia hanya bilang Cuma kecapekan. Usai sarapan aku ke kantor, soalnya Pak Umbargus menelponku dari tadi.


“Galung, Lupa kalau hari ini ada sidang?” tanyanya agak marah.


“Maaf Pak.”


“Kamu telpon pak Regar, Berkasnya kemarin saya titipkan sama dia.”


“Baik Pak.”


Aku menelepon Pak Regar.


Pak Regar tiba di kantor. Kami segera menuju pengadilan. Nggak sampai nunggu lama, tiba giliran kami. Hakim membuka sidang. Agenda hari ini Duplik. Hakim menutup sidang kembali. Kami pun ke kantor. Tak terasa lusa sidang korupsi kembali di gelar. Pak Umbargus menyuruhku membuat beberap surat. Hingga pukul sepuluh malam kami di kantor.


“Pak, aku minta maaf. Aku tidak bisa mendampingi koruptor,” ucapku.


“Apa kau bilang, kau nggak bisa?” ucap pak Umbargus tinggi.


Pak Umbargus terdiam sejenak.

__ADS_1


“Pasti kau akan menyesal jika tak bisa,” ucapnya datar.


“Menyesal kenapa pak?” tanyaku.


Pak Umbargus terdiam.


“Menyesal kenapa?”


“Kau akan menyesal, kau pilih mana, ikut atau menyesal?”


Pilihan yang membuat otakku pecah.


Aku keluar kantor. Lalu buru-buru pulang.


Malam ini aku tak ada pilihan lain. Aku tak bisa tidur.


Aku tidur penuh beban.


Pagi-pagi sekali aku sudah duduk di teras. Lalu diajak mama sarapan. Tiba-tiba Pak Umbargus meneleponku, menyuruhku untuk segara ke kantor. Belum habis nasinya aku sudah pergi. Mama sempat marah. Setiba di kantor, Pak Umbargus sedang menyiapkan berkas. Aku menanyai yang kemarin. Ia tak menjawabnya sama sekali.

__ADS_1


“Kau tidak akan menyesal nanti,” ucapnya.


“Kita berangkat,” ajak Pak Umbargus.


Pak Umbargus dan temannya yang enggak kukenal bercapak-cakap di dalam mobil. Sesekali aku melirik dari kaca spion apa yang mereka bicarakan. Kami masuk ke halaman pengadilan. Halamannya dipenuhi awak media. Kami turun dari mobil. Beberapa wartawan mengerumuni kami. Berdesak-desakan. Faris melihatku berdiri di samping Pak Umbargus. Matanya terus-menerus mengekoriku.


“Pak, bagaimana persiapan bapak sidang hari ini?” tanya wartawan sembari memegang micropon.


“Kami dari tim penasehat hukum sudah siap,” jawab Pak Umbargus penuh percaya diri.


“Apakah ada tersangka baru nantinya?” tanya wartawan yang lain.


“Kami tidak tahu, kita lihat saja nanti.”


“Bagaimana Bapak melihat kasus ini? Pandangan Bapak?”


“Saya melihat klien saya sama sekali tidak salah, jadi saya yakin sekali vonis bebas adalah keputasan yang tepat. Jika pengadilan memvonis penjara, berarti hakimnya keliru,” ucap Pak Umbargus lantang. “Terima kasih,” tambah Pak Umbargus. Awak media memberi kami jalan.


Kami segera menuju ruang sidang. Hakim masuk ke ruang sidang. Ruang sidang penuh sesak oleh wartawan. Agenda hari ini pengajuan saksi dari penuntut umum. Hakim memanggil saksi-saksi dari penuntut umum. Saat dibacakan, nama ayahku disebutkan, aku sangat terkejut. Ayahku berjalan menunduk, sama sekali tidak melihatku. Kepalaku rasanya mau pecah. Ayahku masuk ke dalam ruang sidang. Ayahku disumpah. Lalu ditanya-tanya soal kasus ini. Sidang berakhir. Aku tak tahu status ayahku selanjutnya. Usai sidang aku menemui Ayahku. Ia meminta maaf, lalu mengharapkan aku menjadi penasehatnya. Aku terdiam. Ada rasa kesal yang begejolak di hati ini.

__ADS_1


__ADS_2