
Aduhai pasir itu sangat halus. Layaknya tangan bidadari. Kang Maman yang juga dulunya anak sungai segera mengganti bajunya, lalu menerobos ombak besar. Ia hampir hanyut. Tubuhnya diliuk-liuk ombak besar. Kami sempat panik. Ia pun muncul sambil tertawa. Ternyata kami ditipu. Tak mungkin anak sungai yang sudah terbiasa bermain arus dan lebih lama di sungai dari pada di darat bisa hanyut. Mbok Emi pun panik ia langsung menuju ke bibir pantai ingin melompat, untung saja air matanya tak banyak jatuh.
“Mbok takut juga ya kehilangan Kang Maman?” tanyaku. Ia nyengir.
“Siapa yang takut?” ucap Mbok, bibirnya bergelombang.
“Tuh, air mata Mbok menetes” ucapku.
“Mana ada” ucap Mbok. Buru-buru menghapusnya.
Kami hanya bisa menahan tawa.
Kang Maman menghampiri Mbok.
“Kang, hati-hati toh, aku takut kalau kang hanyut” seru Mbok Emi.
__ADS_1
“Ah yang bener?” ucap Kang Maman.
“Iya lho, Kang"
“Aku nggak akan hanyut kecuali hanyut di hati kamu” gombal Kang Maman.
Kami semua tertawa. Ternyata kang Maman bisa romantis juga. Mbok Emi terkesipu malu. Matanya berbinar-binar digombal Kang Maman.
Kak Misya membaringkan tubuhnya di pantai. Kaca mata hitam yang dipakainya makin bersinar terkena cahaya matahari. Mama dan ayah duduk berdampingan. Mereka bagaikan sepasang kekasih yang sedang berbulan madu. Sesekali Ayah dan mama tertawa. Entah apa yang membuat mereka selalu tampil mesra.
Kak Misya tak mau ketinggalan ber-selfi.
Kami pun mengerumuni Kak Misya. Kami ber-selfie bersama Mbok dan Kang Maman. Kami sangat bahagia sekali. Kami berteman dengan pantai hingga sore. Semuanya kami nikmati. Kami juga sempat menaiki banana boat. Pergi naik kapal hingga ke tengah laut. Kami melihat keindahan alam bawah laut. Di tengah laut ad sebuah pulau kecil. Kami berhenti disitu. Pasir pantainya sangat putih dan bersih. Kami berlari-lari di pantai itu. Pulau itu masih terlihat perawan.
Menjelang senja kami kembali ke rumah. Jam tujuh malam kami baru tiba di rumah. Puas rasanya hari ini. Tak sempat makan malam, kami pun tergeletak.
__ADS_1
Di pagi hari yang cerah Mbok Emi sudah menyiapkan sarapan. Usai sarapan, aku segera menuju ke tempat pendidikan khusus advokat. Hanya sebulan saja. Setelah itu ujian. Menangani beberapa kasus baru jadi pengacara. Saat itu seusai pulang dari kantor Pak Umbargus, aku menyempatkan ke rumah Dinda. Kuajak ia berkeliling sekedar menghabiskan waktu bersama. Ada taman yang rindang di tengah kota. Sambil menikmati olahan es kelapa muda kami duduk di bawah pohon besar.
"Jadi masih lama pendidikannya?" tanya Dinda.
"Enggak juga, paling beberapa hari lagi."
“Selamat ya atas wisudanya” ucap Dinda sambil memberikan hadiah kepadaku.
“Terima kasih, boleh dibuka” tanyaku.
“Nggak boleh, di rumah aja nanti ya” serunya.
“Maaf nggak bisa datang.”
“Ya udah nggak apa-apa” ucapku.
__ADS_1
Kami bercerita banyak hal. Ia juga juga menceritakan kehilangan uang dua juta saat pergi ke rumah bibinya. Padahal uang itu upah mengajarnya. Aku mengingatkan agar sekali lagu uang itu di simpan baik-baik. Hari sudah mau gelap. Kami pun pulang.
Setiba di rumah Aku membuka kadonya, ternyat isinya baju kaos bola favoritku. Aku senang sekali. Kusimpan di lemari. Lalu menuju pulau kapuk. Berlayar bersama mimpi yang indah.