Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Demon's Periculum


__ADS_3

...BAB 10...


...DEMON'S PERICULUM...


...a novel by youmaa...


...โKetakutan terdalammu akan segera datang, kamu hanya perlu menunggunya saja.โž...


...Happy Readingโ™ฅ...


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"Aku tidak akan memberitahumu tentang hal itu."


Entah ada hal gila apa yang membuat pikiran Shaula terjebak dalam lingkup ini. Namun kepalanya terus terngiang mengenai perkataan yang sempat Soobin katakan padanya saat laki-laki itu usai melempar batu pelangi itu.


Apakah itu adalah sebuah teka-teki yang harus ditebaknya?


Shaula berdecak pelan. "Ah~ entahlah," helanya, frustasi.


Manik mata Shaula kini menatap keluar jendela dengan tangan yang terlipat sebagai tumpuan. Dagu yang mendarat dilipatan itu membuat dirinya merasa nyaman dengan posisinya saat ini.


Langit gelap dengan taburan benda putih tersebar secara abstrak dengan benda bulat bersinar kuning keemasan itu yang dilihatnya saat ini. Nampak sangat memukau, seperti pada malam-malam sebelumnya.


Atmosfer malam ini membuatnya terbuai.


Ketika tengah sibuk memperhatikan lukisan langit yang memukau, manik mata Shaula secara tidak sengaja menatap sesuatu hal. Memang tidak terlihat dengan jelas, namun hal itu sempat membuatnya terkejut.


"Astaga, benda apa itu?" gumam Shaula seraya mendongakkan pandangannya.


Karena rasa penasaran yang membuatnya ingin beranjak dari posisinya, dia pun berjalan tergopoh untuk memngambil sapu terbangnya. Dia terbang melewati jendela kamarnya untuk menembus langit malam ini.


Obsidian hazel itu menatap dengan seksama, tanpa tertinggal sesenti pun.


"Dimana benda itu jatuh?" gumam Shaula seraya menatap ke arah yang ada dibawahnya.


Setelah terjebak dalam kebingunggan, tatapan Shaula pun menangkap benda yang tergeletak tidak jauh darinya. Setelah mengetahuinya, dia pun memutuskan untuk turun dan melihat benda asing itu.


Dia sempat mengira jika itu adalah sebuah UFO atau makhluk dari planet asing. Ternyata dugaannya salah, mana ada benda seperti itu didunia sihir ini?


Shaula baru sadar jika benda yang terbakar itu adalah sebuah permadani terbang.


Setelah itu, manik matanya menatap ke sekeliling disetiap sudut penjuru hutan yang saat ini diinjaknya. Namun dia tidak melihat ada seorang pun ditempat ini kecuali dirinya seorang diri.


Apakah sosok yang menaiki permadani ini sudah menghilang?


Mendadak indera penciuman Shaula mencium bau aneh. Kemudian kedua alisnya pun mengendur dengan bahu yang merosot secara perlahan.


"Apakah ini adalah penyihir dari Negara Demon?" gumam Shaula, pelan.


SREKK SREEKK..


Shaula perlahan mengeluarkan tongkat sihirnya secara diam-diam, lalu dia mulai mengeluarkan sikap waspadanya. Manik mata gadis itu tidak lepas dari suasana sekitar sejak beberapa detik yang lalu.


"Dia mau bermain-main denganku rupanya," gumam Shaula, pelan.


Manik matanya terus menyusuri suasana sekitar dengan tatapan tajamnya saat ini. Namun setelah dia memeriksanya, tidak ada siapapun ditempat ini.


Sepertinya itu adalah ulah hewan yang menghuni hutan ini.


GREP!


Shaula terkejut ketika lengannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang yang berada dibelakangnya. Dia ingin teriak, namun mulutnya juga didekap rapat-rapat. Karena hal ini, dia meronta untuk dapat menepis serangan ini.


Namun, dia gagal melakukannya.


"Diamlah, jangan berteriak."


Mata yang tadinya terpejam, kini terbuka dengan sempurna ketika telinga Shaula mendengar suara berat ini. Dia mengenal suara ini karena sebelumnya dirinya sempat memperkenalkan diri pada sosok ini.


Hwang Chang Hyunโ€”dia adalah pelakunya.


Shaula kontan membulatkan matanya. "Tuan Hwang? Bagaimana bisa anda berada ditempat ini," bisikku, pelan.


Tuan Hwang menarikku untuk berjongkok dibalik semak-semak. Kemudian kepalanya menyembul untuk memantau suasana, apakah sudah aman atau belum.


"Aku melihat sesuatu yang sama seperti yang kamu lihat," balas Tuan Hwang.


Shaula mengerutkan kening. "Seperti yang aku lihat?" ulangnya.


Tuan Hwang menggangguk. "Ya, pemikiran kita sama. Pasti ini adalah ulah negara Demon," balasnya.


"Ada penyihir negara Demon yang datang ke negara Kuan," lanjutnya.

__ADS_1


Ternyata firasat dari Shaula juga dimiliki oleh Tuan Hwang. Memang benar apa yang dipikirkannya mengenai permadani yang terbakar ituโ€”pasti itu adalah milik dari penyihir negara Demon.


"Aku merasa jika penyihir itu berhasil keluar dari permadani," sahut Tuan Hwang.


Tebakan Shaula tepat. Karena jika penyihir itu berada dipermadani pasti bangkai mayatnya akan ditemukan disekitar permadani yang terbakar.


Apakah penyihir ini mengetahui banyak hal mengenai negara Kuan?


"Sebaiknya kamu kembali ke asramamu. Karena ditempat ini tidak aman untukmu," sahut Tuan Hwang.


"Baiklah," balas Shaula.


Tuan Hwang melipat kedua tangannya dibelakang punggung. Namun ketika Shaula baru saja menaiki sapu terbangnya, pergerakannya sempat tertunda.


"Tunggu, Shaula!" seru Tuan Hwang, menginterupsi.


Shaula membalikkan pandangannya untuk menatap ke arah Tuan Hwang. "Ada apa?" tanyanya.


Tuan Hwang melangkahkan kakinya mendekat ke arah Shaula, lalu salah satu tangannya terulur dengan sekantong daun waru. Karena hal tersebut, gadis itu mengerutkan kening dalam.


"Untuk apa daun waru ini?" tanya Shaula.


"Bawa saja," balas Tuan Hwang.


Shaula hanya menggangguk dan memasukkan sekantong daun waru itu ke dalam saku seragamnya. Lalu dia terbang menembus langit untuk kembali ke asramanya.


Ketika dirinya tengah kembali menuju ke asrama Hufflepuff, tiba-tiba ada sebuah lesatan cahaya berwarna hitam menyala datang dari arah bawah.


ZLAP!


Shaula terkejut ketika lesatan cahaya itu mendadak menyerangnya. Dia pun mempercepat laju sapu terbangnya, beruntungnya dia dapat lolos dari serangan tersebut.


"Siapa yang menyerangku?" gumam Shaula, pelan.


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"Anda sedang tidak mengkhayal, bukan?"


Profesor Aludra terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sang lawan bicaranya. Setelah mendengar hal itu dari sang lawan bicara, dia pu melepas kacamatanya.


Lantas dia menghela napas gusar. "Tuan Hwang, apakah penyihir itu menyerang murid-murid saya?" tanyanya.


Tuan Hwang menggeleng pelan. "Sepertinya salah satu murid anda diserang oleh penyihir itu. Tapi saya sudah memberikannya jimat untuk menangkalnya," balasnya.


Tuan Hwang menggangguk. "Ya, profesor. Penyihir itu menyerang salah satu murid anda tapi syukurlah dia dapat lolos," jelasnya.


Profesor Aludra menghela napas lega karena mendengar pemaparan yang dilontarkan oleh sang lawan bicara. Lalu dia menegakkan punggung dengan kedua tangan yang dia daratkan diatas meja.


"Bagaimana kronologi kejadiannya?" tanya Profesor Aludra seraya beranjak dari duduknya.


"Semalam saya sedang berjaga seperti biasanya. Tapi ada sesuatu yang menarik perhatian saya," jelas Tuan Hwang.


"Ternyata dugaan saya mengenai penyihir Demon itu benar. Saya menemukan permadani yang terbakar di hutan dekat asrama Hufflepuff," lanjutnya.


Sang profesor membalikkan tatapannya dengan kedua alis yang terangkat. "Dekat asrama Hufflepuff?" tanyanya, ulang.


Tuan Hwang menggangguk pelan. "Benar, profesor. Saya takut jika firasat saya memang benar," balasnya.


BRAK!


Profesor Aludra memukul meja dengan kepalan tangannya. Karena hal tersebut, sempat membuat Tuan Hwang sedikit terkejut dengan ulah sang profesor yang terlalu tiba-tiba itu.


"Lalu langkah apa yang akan anda ambil, profesor?" tanya Tuan Hwang.


Profesor Aludra menarik kursi putarnya, lalu mendaratkan pร ntatnya diatas benda itu. Setelah hal itu, dirinya memijit pelipis pelan secara asimetris karena masalah yang saat ini menimpa Hogwart.


Tidak bisakah kedamaian yang terjadi saat ini?


"Sebenarnya saya hendak memberantas penyihir itu bersama dengan para auror," balas sang profesor.


"Tapi sepertinya saya harus mengurungkannya karena satu hal," lanjutnya.


Kening Tuan Hwang mengerut. "Satu hal?" tanyanya dengan nada binggung.


"Shaula," balas Profesor Aludra, singkat.


"Ada apa dengan gadis itu?" tanya Tuan Hwang.


Profesor Aludra melepaskan tangan dari pelipisnya dan berganti menatap ke arah sang lawan bicara. "Karena gadis itu memiliki darah murni," balasnya.


Tuan Hwang kontan membulatkan matanya. "Jadi benar apa yang selama ini saya lihat," gumamnya, pelan.


"Profesor."

__ADS_1


Kedua laki-laki itu tersentak karena bias suara yang datang dari balik pintu mendatangi mereka. Ternyata pelaku dari hal ini adalah Profesor Sean yang baru saja memasuki ruangan.


Ketika Profesor Sean menatap ke arah Tuan Hwang, lantas dia membukukkan badan.


"Ada apa, Profesor Sean?" tanya Profesor Aludra.


"Saya ingin menyampaikan berita gembira kepada anda, profesor. Salah satu murid kita berhasil membawa bola kristal itu kembali," jelas Profesor Sean.


Air muka Profesor Aludra berubah seratus delapan puluh derajat. "Benarkah?" kejutnya.


"Ya, profesor. Dia ada disini sekarang," kata Profesor Sean.


Profesor Aludra menggangguk pelan dengan salah satu sudut bibir yang naik. "Kalau begitu, bawa dia masuk."


Salah seorang gadis masuk dengan kedua tangan yang memegang bola kristal. Namun ada sesuatu hal yang membuat perhatian Tuan Hwang terhadapnya.


"Apa ini?" gumamnya, pelan.


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"Apa yang dia lakukan? Apa dia sudah gila?"


"Kenapa dia bodoh karena berani melawan pangeran angkuh itu?"


Shaula yang sedang sibuk berjalan dikejutkan dengan bisik-bisik yang beberapa murid lontarkan. Lantas pandangannya mengarah ke arah yang ada disampingnya.


Langkahnya langsung terhenti dengan bahu yang merosot secara perlahan. Mendadak perasaan Shaula menjadi tidak enak karena hal ini.


Dia menyela kerumunan yang ada didepannya.


"Permisi," katanya.


Pemandangan yang pertama kali dia lihat ini membuatnya terkejut setengah mati. Dia kontan membulatkan matata ketika melihat Hena yang tengah bertarung dengan seseorang.


Itu adalah El Nath.


Nampak disana jika El bertubi-tubi menyerang Hena, tanpa memberikan sedikit celah untuk gadis itu menyerangnya balik. Bukankah laki-laki ini sudah gila karena beraninya menyerang seorang gadis?


"Kau bodoh, Hena. Kenapa kau biarkan masalah ini begitu saja?" sungut El dengan nada gahar.


Shaula dapat melihat jika Hena tidak menyerang El sama sekali. Apakah gadis itu sudah gila dan ingin mati ditangan laki-laki angkuh tersebut?


"Apa yang kamu lakukan, Hena?" gumam Shaula, pelan.


Shaula belum melakukan apapun, mendadak dia kaku ditempat karena rasa terkejutnya. Dia hanya berdiri diantara kerumunan itu, tanpa ada niat untuk membantu temannya.


Mendadak kakinya melemas dalam waktu singkat.


Bukannya melawan, Hena justru terkekeh pelan disana dengan kepala yang tertunduk. Banyak luka yang saat ini menggores kulit putihnya.


Mungkin benar jika Hena sudah bosan untuk hidup.


"Kamu yang bodoh, El Nath. Kamu yang tidak mengetahui apapun yang kulakukan," desis Hena.


Shaula sama sekali tidak mengerti apa yang saat ini tengah diperbincangkan oleh El dan Hena. Ranah pembicaraan ini sempat membuatnya bertanya, apa hubungan mereka berdua dengan semua hal yang mereka bicarakan?


Apakah hal ini ada kaitannya dengan pertarungan mereka?


El menggertakkan gigi dengan rahang yang mengetat, sehingga urat yang ada dilehernya itu nampak.


"Kau sudah gila dengan mengembalikan benda itu?" sambar El.


ZLAP!


Tanpa mengatakan hal apapun, Hena langsung menyerang El yang saat ini tengah mengatakan sesuatu. Karena hempasan yang sempat menyerang El, membuat laki-laki itu terseret dari posisi awalnya.


"Kenapa mereka membuatku perpikir?" gumam Shaula, berbisik.


TUK!


Shaula tersentak ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya. Karena hal tersebut, dirinya langsung membalikkan pandangan untuk dapat melihat pelaku yang baru saja menepuk pundaknya.


Namun, kedua alis gadis itu lantas menyatu karena merasa asing dengan laki-laki yang ada didepannya saat ini.


"Siapa kamu?" tanya Shaula.


"Tidak perlu tahu siapa aku, karena aku hanya ingin mengatakan sesuatu hal padamu," kata laki-laki misterius itu.


Shaula mengerutkan kening dalam. "Maksudmu?" tanyanya.


"Jangan pernah mempercayai siapa pun."


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...

__ADS_1


...See you next part~...


__ADS_2