Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Loveable


__ADS_3

...BAB 32...


...LOVEABLE...


...a novel by youmaa...


...❝Keajaiban bisa merubah, namun takdir tidak akan pernah bisa merubah segalanya.❞...


...Happy Readingβ™₯...


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


"Aku tidak ingin kehilangan dia hanya karena hal konyol ini dan kalian harus membantuku sekarang!"


Seruan dari gadis itu langsung menginterupsi kedua lawan bicaranya. Saat ini dia tengah membelakangi kedua makhluk itu dengan air muka dingin yang dia keluarkan.


Kedua hantu itu sontak saling tatap satu sama lain ketika mendengar permintaan gadis itu. Pikiran mereka saat ini langsung terpaku dengan sesuatu hal.


Beraninya gadis ini memerintah mereka saat ini, itulah yang ada dipikiran kedua hantu tersebut.


Hantu bertubuh gempal itu berdecak pelan. "Jika kami membantu rencana ini. Kami berdua akan mendapatkan apa darimu?" tanyanya, menginterupsi.


Gadis itu meremat kedua tangannya kuat, sehingga membuat buku jarinya memutih. Ditambah dengan rahangnya yang mengetat setalah mendengar balasan dari salah satu hantu itu.


Kedua hantu ini rupanya meminta imbalan atas apa yang dia minta.


Namun pikiran gadis itu langsung terjebak dalam dilema. Jika dirinya tidak meminta bantuan kedua hantu itu, memangnya siapa lagi yang akan mau membantunya nanti?


Sebuah kenyataan sontak menamparnya kuat-kuat.


Gadis itu menghela napas pelan, seraya membalikkan badan menghadap ke lawan bicaranya. Dia menatap keduanya secara bergantian dengan tatapan tajam yang nampak dingin.


Gadis itu mendengus pelan. "Baiklah. Jadi apa yang kalian inginkan?" tanyanya, penuh penekanan.


"Apa kalian menginginkan kehidupan kalian kembali?" lanjutnya.


Setelah mendengar perkataan dari gadis itu, kedua makhluk tersebut langsung mengangkat sudut bibirnya. Hal itu sontak membentuk sebuah senyuman sarkasme yang menakutkan.


Hantu bertubuh kurus itu melipat kedua tangannya didepan dada. "Jadi, apakah rencanamu hanya itu?" sahutnya.


Gadis itu terkekeh dengan nada sarkasme. Wajah cantik itu seketika langsung berubah menjadi wujud iblis, namun tidak banyak yang mengetahui hal tersebut.


Setelah itu, dia melangkahkan kaki untuk mendekat menuju pada kedua lawan bicaranya. Namun dia tetap melangkahkan kaki, sehingga membuat kedua makhluk tersebut langsung mengekorinya.


Mereka bertiga melewati lorong lembap dan gelap, karena pencahayaan pada malam hari yang minim. Hanya terdengar decikan air yang terbelah oleh langkah, juga dilengkapi dengan suara tetesan air.


Gadis itu mendadak menghentikan langkah. Karena hal tersebut, sontak membuat dua makhluk yang ada dibelakangnya ikut berhenti.


"Sebaiknya kalian memulainya sekarang," sahut gadis itu, menginterupsi.


"Aku akan membantu kalian mengambil buku mantra itu," lanjutnya.


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


"Hei, bangun. Kenapa kamu tidur disini?"


Shaula tersentak karena sebuah seruan langsung menusuk ke dalam indera pendengarannya. Tidak hanya itu saja, sebuah senggolan juga membuat dirinya kontan membuka mata.


Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah seorang murid asrama Ravenclaw yang berdiri disampingnya. Shaula menyempitkan pandangan ketika arah tatapannya ke atas, karena hari sudah siang.


Terik matahari itu membuat indera penglihatannya menjadi silau.


"Kenapa kamu tidur dibawah pohon pada siang hari?" tanya murid tersebut.


Shaula membuang mukanya ke bawah. Setelah itu, pikirannya mencoba mengingat memori sebelum dia berada disini. Namun yang dia ingat hanyalah memori ketika dirinya membersihkan perpustakaan.


Shaula melemparkan tatapan ke arah sang lawan bicaranya. "Ah~ aku hanya sedang tidur sebentar. Karena aku baru saja selesai kelas," dustanya.


Murid Ravenclaw itu langsung melemparkan tatapan penuh selidik yang nampak dari balik kacamatanya. Sepertinya alasan itu langsung membuat respon yang sejak tadi Shaula pikirkan.


"SHAULA!"


Karena seruan dengan nada berat itu, sontak mencuri perhatian kedua gadis itu. Terlihat seorang laki-laki dengan seragam Ravenclaw yang melangkahkan kaki mendekat.


Dapat dilihat dari kejauhan, jika laki-laki itu tengah melemparkan senyum tipis.


Gadis dengan seragam asrama Ravenclaw itu sontak melemparkan tatapannya ke arah laki-laki tersebut. Karena respon itu, langsung membuat sang empu menetralkan raut mukanya.


"Ah~ kau rupanya Soobin," kata murid tersebut.


"Sepertinya kau harus mengurus gadis asrama Hufflepuff ini. Karena aku ada urusan lain," lanjutnya.


Setelah mengatakan hal tersebut, gadis tersebut langsung pergi meninggalkan kedua murid yang dilanda api asmara itu. Melihat jika gadis itu telah menjauh, lantas Soobin langsung menatap Shaula yang nampaknya masih diam dengan pikirannya.


Entahlah hal apakah yang dipikirkan oleh gadis itu.


Sebenarnya didalam foto itu siapa, batin Shaula.


Soobin menepuk pundak Shaula pelan. "Shaula?" sahutnya.


Karena tepukan tersebut, sontak membuat Shaula tersentak kecil. Kemudian dia langsung menatap ke arah Soobin yang tengah memperhatikannya.


Shaula mencoba untuk menetralkan sikap dengan daheman kecil.

__ADS_1


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Soobin.


Shaula sedikit terkejut dengan kedua alis yang naik. Namun ketika manik matanya bertemu dengan Soobin, dia merasakan jika ada rasa kekhawatiran dalam netra laki-laki itu.


Lantas Shaula menggeleng pelan sebagai jawaban.


GREP!


Setelah melihat respon singkat dari Shaula baru saja, Soobin langsung menarik pergelangan tangan gadis itu. Karena sikap manis dari laki-laki itu, sontak membuat kedua sudut bibir Shaula terangkat tipis.


"Kita harus ke auditorium sekarang. Akan ada persiapan kelulusan untuk angkatan kita," balas Soobin, antusias.


Shaula tidak pernah melihat sikap antusias dari Soobin sebelumnya. Mungkin bisa saja hanya dirinya yang saat ini dapat melihat sikap menggemaskan laki-laki ini.


Karena terus memikirkan Soobin, dia melupakan jika hari ini adalah hari persiapan. Shaula terkekeh kecil ketika dia lupa jika besok adalah hari kelulusannya dari Hogwart.


Ketika mereka berdua sampai pada ruang auditorium, terdapat banyak sekali kegiatan. Hampir semua murid mempersiapkan keperluan untuk hari kelulusan yang akan diakan esok hari tersebut.


Manik mata Shaula berbinar ketika melihat persiapan ini.


GREP!


Soobin kembali menarik Shaula untuk menduduki salah satu kursi yang ada diposisi paling atas. Pada saat ini, sudah beberapa murid yang memenuhi kursi yang tersedia.


"Aku ingin mengatakan hal penting yang waktu itu belum aku katakan," sahut Soobin, menginterupsi.


Mendengar suara berat dari Soobin, sontak membuat Shaula langsung melemparkan tatapannya. Manik mata mereka pun bertemu selama beberapa detik.


Wajah tampan Soobin langsung membuat Shaula terdiam. Dia merasa masih tidak percaya jika laki-laki yang ada didepannya saat ini mencintainya. Bahkan dia sempat kehilangan harapan karena sikap dingin yang dikeluarkan oleh Soobin.


Soobin menunjukkan perhatiannya dengan cara yang berbeda, itulah yang dia rasakan.


"Aku mencintaimu," kata Soobin.


DEG!


Dua kata yang terlontar dari mulut Soobin, langsung membuat Shaula terdiam. Bibirnya sama sekali tidak bergeming dengan pacuan jantung yang berdegup kencang.


Karena hal tersebut, Shaula mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas.


Shaula menarik punggung tangan Soobin, lalu menggegamnya erat secara diam-diam. Sepertinya drama kecil itu sama sekali tidak membuat pusat perhatian sekelilng mereka teralihkan.


Soobin langsung menatap Shaula karena genggaman tangan tersebut. Sepertinya laki-laki itu terkejut dengan tindakan yang dikeluarkan oleh gadis yang ada disampingnya tersebut.


"Aku menunggu kamu mengatakan hal ini," kata Shaula tanpa menatap ke arah Soobin.


"Aku merasa senang bisa mendengar hal ini darimu langsung," lanjutnya.


Soobin tidak bergeming selama beberapa detik karena perkataan Shaula. Setelah itu perhatiannya langsung mengarah pada sesuatu yang ada didepan. Setelah itu dia mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas, sehingga dimple itu nampak jelas.


"Ah~ pasti kamu sudah mengetahuinya sejak awal, bukan?" lanjutnya.


Soobin menggeleng pelan dengan senyuman yang tidak dia lunturkan. Padahal menurut sisi pandangan dari Shaula, dia adalah laki-laki misterius yang sepertinya tidak memiliki rasa cinta.


Tapi bagaimana bisa Soobin mengatakan hal gila yang berbanding terbalik itu?


"Aku harap ini tidak terlambat," sahut Soobin.


Shaula langsung melunturkan senyumnya secara perlahan karena perkataan dari Soobin yang baru saja terlontar. Dia dapat melihat jika ada guratan kesedihan yang nampak pada raut wajah dari laki-laki itu.


"Apa yang kamu katakan?" kata Shaula seraya terkekeh pelan.


Soobin melemparkan tatapannya ke arah Shaula. "Apapun yang terjadi nanti, aku akan tetap bersamamu. Aku akan tetap berada disampingmu," balasnya.


Perkataan ambigu dari Soobin membuat dia mengerutkan alis. Shaula meresakan ada hal ganjal yang terjadi, namun dia tidak berani menebaknya. Dia harap ini bukanlah sebuah perpisahan yang akan terjadi diantara mereka.


Soobin menghela napas pelan. "Jika kita tidak ditakdirkan bersama pada kehidupan ini," katanya.


Lalu dia menatap ke arah Shaula. "Aku ingin menjadi pasanganmu dikehidupan lain," lanjutnya.


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


"Yang mulia, kirim saya untuk menjemput tuan putri pada saat kelulusan murid Hogwart besok."


Perkataan dari sang panglima tidak membuat sang raja membalikkan tubuh, dengan kedua silangan tangan. Arah tatapannya terpusat pada kolam kecil yang ada dibawahnya saat ini.


Mungkinkah sang raja tengah memikirkan perang yang akan terjadi nanti?


"Yang mulia?" sahut panglima, lagi.


Sang raja langsung mengangkat salah satu tangannya dari tautan tersebut. "Segera jemput dia dan pastikan tuan putri aman," katanya.


Sang raja mengatakan perintah tersebut tanpa menatap ke arah si lawan bicara. Melihat sikap dari pemimpin negara itu, panglima langsung memundurkan langkah setelah membungkuk dalam.


"Baik, yang mulia!" seru panglima.


Setelah itu, panglima langsung berhambur pergi meninggalkan paviliun istana. Merasakan jika si panglima telah pergi, sang raja sontak menghela napas pelan.


"Akan jadi apa kerajaanku ini?" gumam sang raja.


DRAP DRAP DRAP..


Secara tidak sengaja, telinga sang raja langsung mendengar suara langkah. Dia meyakini jika pemilik langkah tersebut adalah pangeran putra mahkota.

__ADS_1


"Abeonim," sahut sang pangeran seraya membungkuk dalam.


Sang raja langsung membalikkan badan untuk menatap putra sulungnya itu. Setalah melihat sekilas raut wajah yang saat ini sang raja lontarkan, sontak hal itu langsung membuat Mars menghela napas.


"Saya yang akan menjaga tuan putri untuk anda," kata Mars.


"Putraku, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu," tanya sang raja.


Mars mengerutkan kening ketika mendengar suara pelan dari sang ayah. Dia merasa jika ada sesuatu hal sangat penting yang akan disampaikan padanya.


GREP!


Sang raja menepuk pundak Mars pelan. "Aku harap kamu akan senantiasa menjaga tuan putri. Karena aku memiliki firasat buruk," katanya.


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


"ADARAA!!"


Shaula langsung memeluk Adara erat setelah menyerukan nama gadis itu. Seruan dengan nada penuh antusiasme itu terlihat sedikit berlebihan, namun Shaula sama sekali tidak memperdulikannya.


Shaula nampak sangat bahagia karena banyak hal indah yang terjadi padanyaβ€”Soobin membalas perasaannya.


Adara langsung menepis pelukan Shaula. Padahal dirinya sedang sibuk membaca buku secara tenang, namun seenak jidat gadis itu justru memeluknya. Pelukan itu membuatnya tercekik, sehingga dia merasa sulit bernapas.


Adara berdecak pelan. "Kamu kerasukan? Atau kamu sudah gila?" sambarnya, ketus.


Mendengar balasan dengan nada ketus itu, sontak membuat Shaula mengerucutkan bibirnya. Setelah itu dia duduk disamping Adara dengan kedua tangan yang menopang dagu.


Ditambah dengan senyuman yang tidak Shaula lunturkan tentunya.


Adara menatap Shaula datar, namun dengan raut wajah dingin. "Kamu benar-benar sudah gila," katanya.


TUK!


Shaula langsung memukul Adara menggunakan bantal yang berada tidak jauh darinya. Karena hal tersebut, sontak membuat sang empunya mengaduh kesakitan.


"Aish, kenapa kamu mengataiku?" sungut Shaula.


TUK!


Adara memukul Shaula menggunakan bukunya. Pukulan itu lumayan keras, sehingga membuat sang empunya berteriak memprotes.


"ADARA!" seru Shaula seraya menaikkan beberapa oktaf.


Setalah pertengkaran kecil itu berlangsung, kemudian keduanya saling tatap satu sama lain. Setelah itu Adara kembali membuka buku dan melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.


Shaula berdecak pelan. "Dengarkan aku sebentar saja," katanya, merengek.


Adara menghela napas gusar, lalu menutup bukunya dengan kasar. Setelah itu dia menatap ke arah Shaula dengan senyum yang nampak sekali jika dipaksakan.


"Baiklah, Shaula yang tercinta!" kata Adara, penuh penekanan.


Shaula mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas, lalu mendekat ke arah Adara dengan menggeser pΓ ntatnya. Namun jari telunjuk milik Adara yang mendarat pada dahi Shaula, sontak membuat pergerakan gadis itu terhenti.


"Aku tahu apa yang akan kamu perbincangkan padaku," sahut Adara seraya menurunkan tangannya.


Shaula menaikkan alisnya sebelah. "Apa yang kamu ketahui?" tanyanya.


Adara melipat kedua tangannya didepan dada, lalu memutar bola mata malas. "Kamu tidak akan menjadi orang gila seperti ini jika bukan karena seorang Choi Soobin," balasnya, penuh penekanan.


PUK!


Shaula langsung memukul Adara menggunakan bantal seraya tertawa lepas. "Ah~ kamu bisa saja menebaknya," katanya.


Setahu Shaula, Adara adalah tipe penyihir paling pengertian yang pernah dia temui. Namun dia tidak melupakan jika gadis ini memiliki ketepatan firasat yang baik.


"Jadi?" sahut Adara, datar.


Shaula menatap ke arah atap seraya bergumam. Setelah itu Adara menutup bukunya, karena dia tidak ingin menjadi korban atas kekejaman temannya ini jika sedang tertawa ataupun kesal.


Karena Shaula tidak kunjung mengatakan hal lain lagi, hal itu membuat Adara mendengus kesal.


"Bisakah kamu tidak menggangguku?" sungut Adara, ketus.


"Aku sedang kesal sekarang," lanjutnya.


Shaula menaikkan salah satu alisnya atas perkataan ambigu yang saat ini Adara lontarkan padanya. Baru kali ini dia melihat temannya itu sekesal yang dia lihat.


"Kenapa kamu marah? Aku hanyaβ€”"


"SEMUA LAKI-LAKI SAMA SAJA!" potong Adara.


Shaula membulatkan mata. "Apa kamu menyukai seseorang? Cintamu ditolak?" tebaknya, asal.


Adara mendesis kesal. "Aku membicarakan Profesor Sean," balasnya, datar.


Shaula terdiam dengan jawaban yang saat ini Adara katakan saat ini. Dia bisa menebak pasti temannya itu kesal karena hukuman unik dari sang profesor.


"Ada apa dengannya?" tanya Shaula.


"Dia tampan!" seru Adara.


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...

__ADS_1


...See you next part~...


__ADS_2