
...BAB 26...
...ETERNITY DREAM...
...a novel by youmaa...
...❝Dunia ajaib dengan berbagai misteri yang akan menuntunmu. Berhati-hatilah jika tidak ingin terjebak didalamnya.❞...
...Happy Reading♥...
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
"Tempat apa ini?"
Alis Shaula mengendur ketika manik matanya menangkap pemandangan hutan dengan pemandangan unik. Banyak terdapat rumput dan pepohonan dengan warna ungu yang cantik. Dia langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam hutan indah itu tanpa pikir panjang.
Shaula dapat merasakan banyak aura positif yang ada didalam hutan ini, akan tetapi dia sama sekali tidak mengerti. Yang berada didalam pikirannya saat ini adalah apa hubungan antara dirinya dengan tempat ini.
Bagaimana bisa dirinya berada ditempat ini?
Shaula sama sekali tidak mengetahui kemana langkah ini akan membawanya pergi. Namun dia selalu beranggapan jika tempat ini adalah jalan keluar yang akan mengantarkannya kembali ke asrama.
Namun mendadak perasaannya menjadi tidak enak.
Tanpa memperdulikan suasana sekitar, Shaula terus melangkahkan kaki. Banyak suara aneh yang sejak tadi muncul dalam indera pendengrannya. Karena hal tersebut, membuatnya sesekali menoleh ke arah belakang.
Sayangnya dia tidak menemukan apapun disana.
SREEKK SRREEKK..
Tiba-tiba Shaula tidak sengaja mendengar suara gemerusuk dari arah semak-semak. Lantas dia langsung melempar pandangan ke arah dimana datangnya suara itu datang. Dia pun memberanikan diri untuk mendekat ke arah semak yang ada didepannya.
"Siapa disana?" sahut Shaula dengan nada gugup.
Tangan Shaula langsung terulur untuk menyela semak tersebut agar dia dapat mengetahuinya. Setelah terbuka dengan sempurna, manik matanya sama sekali tidak melihat keberadaan siapa pun.
Mendadak gadis itu menjadi merinding sendiri.
"Aku peringatkan padamu. Keluar dari tepat persembunyian itu," kata Shaula.
"Jika kamu tidak melalukannya, aku akan—"
SLAP!
Tiba-tiba muncul sosok makhluk bersayap yang muncul dihadapan Shaula. Karena hal tersebut, membuatnya terkejut karena kemunculan makhluk aneh yang saat ini berdiri dihadapannya. Sayap yang terbentang itu membuat seluruh wajah dari makhluk tidak nampak.
Shaula tersentak ketika baru saja menyadari jika makhluk ini bukanlah penyihir. Wujudnya nampak seperti manusia, namun terdapat sayap kelelawar yang ada dipunggungnya. Dengan pakaian serba hitam, melengkapi penampilan seram pada makhluk ini.
Shaula perlahan memundurkan langkahnya untuk sedikit menjauh. "Si—siapa kamu?" tanyanya.
Sayap itu perlahan terbuka, sehingga Shaula dapat melihat seluruh wajah darinya. Karena hal tersebut, membuat sang empu terkejut setengah mati.
"Ka—kamu?" sahut Shaula dengan nada takut.
Air wajah dari laki-laki yang ada didepan Shaula nampak terdapat luka, salah satunya adalah dipelipisnya. Nampak aliran darah yang mengalir dari tempat tersebut, sehingga membuat leher jangangnya kotor.
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu," ucap laki-laki itu.
Shaula sama sekali tidak bergeming ketika telinganya baru saja mendengar suara dari sang lawan bicara. Ketakutan yang dia rasakan lebih besar, sehingga diriny hanya diam terpatung dengan bibir mengatup rapat.
__ADS_1
"Aku adalah penyihir sepertimu. Tapi aku terkena kutukan dari sang bintang galaksi," sahut laki-laki itu.
"Itu semua karena aku melanggar janji," lanjutnya.
Shaula terhenyak atas penjelasan yang baru saja terlontar oleh sang lawan biacaranya. Kira-kira kutukan apa yang terjadi pada laki-laki itu hingga menjadikannya seperti ini?
"Kutukan bintang galaksi?" tanya Shaula, memastikan.
Laki-laki itu menggangguk pelan. "Karena aku melanggar peraturan penjaga buku Avada Kedavra," balasnya.
Manik mata Shaula kontan membulat setelah dirinya mengenai buku mantra itu. Mendadak pikirannya menjadi tidak karuan sendiri karena penjelasan dari laki-laki ini.
Kedua alis Shaula menyatu. "Buku Avada Kedavra? Maksudmu adalah—"
"Buku bersampul hitam berangka tujuh belas," potong laki-laki itu.
Shaula terdiam sejenak untuk sekedar mencerna apa yang dikatakan oleh laki-laki tersebut. Hingga pikirannya langsung tertuju pada
"Sudah aku duga. Buku itu bukan hanya buku mantra sembarangan," gumam Shaula, pelan.
"Aku hanya ingin mengatakan padamu suatu hal padamu," sahut laki-laki itu.
Lalu dia menghela napasnya pelan. "Kamu adalah penjaga buku itu sekarang. Aku hanya berpesan sesuatu, jaga baik-baik buku itu dan jangan pernah biarkan seseorang pun yang menyentuhnya," lanjutnya.
Nampaknya laki-laki itu menghela napasnya pelan. Sedangkan pikiran Shaula sudah tidak karuan karena baru saja mendengar penjelasan tersebut.
"Atau kemungkinan terburuknya adalah membaca mantra kutukan itu," kata laki-laki itu, lagi.
Laki-laki itu mendongak ke langit dengan air muka tenang dan manik mata yang teduh. "Aku tidak punya banyak waktu," sahutnya.
"Tapi kenapa harus—"
Sebelum Shaula merampungkan kalimatnya, laki-laki itu sudah lenyap karena sebuah cahaya yang datang dari atas langit. Kemudian dia menghilang bersamaan dengan cahaya yang lenyap.
BRUGH!
Shaula mengaduh karena secara tiba-tiba tubuhnya itu langsung tercepur diatas air. Karena genangan air tersebut sontak membuat sebagian tubuhnya basah kuyup.
Setelah itu secara tidak sengaja ujung mata Shaula menangkap sebuah tempat gelap yang ditumbuhi tanaman rambat. Ada beberapa tetesan air yang mengalir dari sulur daun yang menjuntai ke bawah.
Bahkan hampir menyentuh permuakaan air.
Secara perlahan Shaula menegakkan tubuh, lalu tangannya terulur untuk dapat menyela sulur yang ada didepannya. Ketika hendak menyela sulur tersebut, telinganya secara tidak sengaja mendengar sebuah suara.
Karena hal tersebut, membuatnya memejamkan mata.
"Jangan terbuai dengan kenyataan."
Sepontan Shaula langsung membuka mata, setelah suara aneh itu tidak lagi terdengar.
"Apa itu?" gumam Shaula, pelan.
Tanpa memikirkan hal yang konyol, dia memutuskan untuk menepis pemikirannya mengenai suara tersebut. Lalu dia melanjutkan kegiatannya yang sebelumnya sempat tertunda.
Firasat yang dimiliki Shaula menerikainya untuk menyusuri tempat yang berada dibalik sulur ini.
Ketika sulur tersebut telah berhasil terbuka, pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah hamparan tempat luas. Sebuah tempat dengan hamparan rerumputan dan angin yang berhembus pelan.
Manik mata Shaula langsung dibuat berbinar ketika tatapannya terpaku pada kumpulan ladang dandelion. Hingga tanpa disadarinya, sebuah semburat senyuman terlukis diwajah cantiknya.
Layaknya seperti magnet yang menarik, kaki Shaula sepontan seperti dibuat terbuai agar dia memasuki tempat itu lebih jauh. Mendadak semerbak aroma harum langsung tercium sampai ke indra penciumannya.
__ADS_1
Sudah hampir sekitar beberapa menit Shaula melangkahkan kaki, hingga langkahnya terhenti pada danau kecil. Diatas pemukaan air terdapat sebuah teratai putih dengan ukuran yang cukup besar.
Kelereng hazel miliknya kontan membulat ketika menatap ke arah teratai cantik itu. Aroma harum langsung menguar ke dalam indra penciuman, bersamaan dengan mekarnya bunga tersebut.
Mungkin dirinya itu salah melihat, tapi teratai itu benar-benar mekar didepan matanya sendiri.
Secara perlahan kelopak putih itu terbuka dihiasi dengan cahaya putih yang nampak malu-malu untuk keluar. Cahaya itu semakin lama semakin besar ketika kelopak teratai tersebut mekar secara sempurna.
Netra hazel milik Shaula sepontan menatap ke arah liontin yang dipakainya saat ini. Dia baru saja sadar jika benda itu juga ikut mengeluarkan sinar yang serupa secara bersamaan. Setelah itu, cahaya tersebut perlahan menghilang.
Untuk sejenak, Shaula dibuat kerkejut sehingga membuatnya terpatung karena keterkejutan yang ada dihadapannya. Dia tidak menyangka, jika ada sesuatu yang sama sekali belum dia ketahui.
Hal unik yang tidak pernah dia duga.
Beberapa detik kemudian, tiba-tiba cahaya putih dengan kerlipan cantik itu muncul pada area yang diinjaki oleh Shaula. Cahaya itu secara perlahan mulai menutupi seluruh tubuhnya, disertai dengan hembusan angin kecil.
Pakaian yang tadinya basah, seketika berubah menjadi hanbuk putih cantik. Penampilan Shaula mendadak berubah seratus delapan puluh derajat dalam hitungan detik, setelah cahaya tersebut menghilang. Dia masih dibuat tidak percaya dengan keajaiban yang terjadi saat ini.
Dia layaknya seorang putri kerajaan.
DRAP DRAP DRAP..
Secara tiba-tiba, ada suara derpan kaki yang terdengar oleh telinga Shaula. Obsidian hazelnya itu langsung beralih ke arah belakang, dimana suara tersebut berasal. Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah seorang laki-laki tengah menungganggi seekor kuda berbulu putih.
Matanya langsung memincing untuk dapat melihat dengan jelas raut muka laki-laki itu.
Semakin lama, laki-laki tersebut semakin mendekat dimana Shaula berdiri memijak. Dia terkejut ketika baru saja menyadari jika sosok itu adalah seseorang yang sangat dia kenal.
"S—Soobin?" gumam Shaula, pelan.
Soobin baru saja menghentikan laju kuda yang baru saja ditungganginya, tepat didepan gadis itu berdiri. Setelah itu, dia mengangkat kedua sudut bibirnya, sehingga kedua dimple yang ada dipipinya nampak.
Kemudian dia turun dari kuda tersebut.
"Kemana saja kamu selama ini?" sahut Shaula.
Tanpa mengatakan hal lainnya lagi, Shaula langsung menyerbu Soobin dengan pertanyaan tersebut. Sejanak laki-laki itu hanya terkekeh pelan, lalu dia merogoh tangan gadis itu yang terjun bebas.
GREP!
Soobin menggenggam kedua tangan Shaula erat. "Aku tidak pergi kemana pun. Aku selalu ada bersamamu," balasnya.
Shaula tersentak karena balasan singkat yang terkesan manis tersebut. Tanpa aba-aba, dia langsung menarik ujung pakaian Soobin, hingga dia tenggelam dalam dekapannya.
Shaula tidak mengerti dengan ledakan emosional yang baru saja terjadi padanya. Dia menjatuhkan segala jejak genangan bening itu dengan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang itu.
Soobin yang awalnya tersentak dengan tingkah Shaula, langsung mengelus punggung Shaula pelan dan membalas pelukan itu.
"Aku merindukanmu," kata Shaula.
Suara itu mungkin tidak terdengar keras, namun Soobin masih bisa mendengarnya walaupun samar. Setelah itu, dia mengelus puncak kepala gadis itu lembut.
"Maafkan aku jika membuatmu khawatir," balas Soobin, pelan.
Setelah puas memeluk Soobin, gadis itu langsung melepas pelukan tersebut seraya mengusap jejak air matanya. Setalah itu, dia langsung menarik Shaula untuk duduk disampingnya dihamparan rumput hijau dengan angin lembut.
"Ada hal yang ingin aku katakan padamu," sahut Soobin.
Shaula menautkan kedua alisnya. "Kenapa bertanya dulu? Katakan langsung padaku," balasnya.
"Aku ingin bersamamu untuk waktu yang lama, bahkan hingga dikehidupan kita selanjutnya."
__ADS_1
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
...See you next part~...