Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Priori Incantatem


__ADS_3

...BAB 20...


...PRIORI INCANTATEM...


...a novel by youmaa...


...โPersatuan antara ketidaksamaan yang saling beradu. Apakah kamu pernah melihatnya?โž...


...Happy Readingโ™ฅ...


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"Bangunlah, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."


Suara pelan itu menginterupsi pendengaran Soobin yang terbilang tajam. Sejak tadi dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena rasa kekhawatirannya. Perasaan itu datang begitu saja tanpa laki-laki itu sadari.


"Tae Hyung, apakah semuanya sudah tertidur?"


Soobin yang tadinya membuka matanya, langsung menutupnya karena bias suara berat itu. Dia harus berpura-pura tertidur jika tidak ingin ketahuan sedang menguping.


"Mereka semua sudah tertidur. Shaula, kami tunggu kehadiranmu diluar goa."


Mendengar nama Shaula disebut, Soobin mulai curiga dengan hubungan antara ketujuh laki-laki aneh itu dengan Shaula.


Apakah mereka mencoba untuk menyembunyikan hal spektakuler ini padanya?


Setelah dirasa ketujuh orang itu pergi keluar dari goa dengan disusul oleh Shaula tidak berapa lama kemudian. Soobin membuka matanya perlahan, lalu menatap ke sekeliling area goa yang gelap karena minimnya pencahayaan.


Dia melakukannya hanya untuk memastikan jika mereka sudah keluar dari sana.


Soobin menegakkan tubuhnya dan berjalan mengendap-endap menuju keluar goa. Langkahnya terus membawa tubuh tegap itu untuk mendekat ke arah gadis itu. Hingga langkahnya terhenti ketika matanya mendapati sosok yang tidak asing baginya.


Itu adalah Shaula.


Soobin langsung bersembunyi dibalik batu besar yang berada tidak jauh dari tempat Shaula dan ketujuh laki-laki itu berdiri. Punggungnya menyandar pada batu itu dengan telinganya yang mendengar pembicaraan diantara mereka.


"Jadi, apa tujuan kalian memanggilku ditengah malam seperti ini?"


Suara Shaula yang lembut menusuk ke dalam indera pendengaran Soobin. Karena hal tersebut, membuat laki-laki itu merasa tenang jika mendengar suara lembut gadis itu. Suara selembut angin yang nampak menggelikan ditelinga dan membuatnya bisa merasa setenang ini.


"Kami hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat."


Alis Soobin saling menaut ketika mendengar suara berat yang nampak terdengar tegas. Dia memberanikan diri untuk mengintip dari balik batu itu.


"Kita tidak punya banyak waktu, aku merasa jika ada seseorang yang memantau kita."


Soobin langsung kembali ke posisi awalnya. Bahkan mereka bisa mendeteksi keberadaannya walaupun dalam keadaan gelap seperti ini. Setelah itu, secara tiba-tiba, telinganya tidak sengaja mendengar sebuah suara bising.


Matanya terbelalak ketika melihat pusaran hitam yang memutar. Karen hal yang terjadi tersebut, membuat angin berhembus disekitar tempat itu.


ZLAT!


Soobin sempat terhenyak ketika ketujuh orang laki-laki itu lenyap bersama dengan Shaula.


"Siapa mereka sebenarnya?"


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"Jaโ€”jadi kalian adalah orang yang sama namun berasal dari dimensi yang berbeda?"


Nampaknya Shaula masih tidak percaya dengan teori dunia paralel yang dijalaskan oleh ketujuh laki-laki itu. Semua hal tentang orang yang tinggal pada dimensi yang berbeda.


Nam Joon mengangguk. "Bukankah dari awal kamu mengira jika aku adalah Profesor Nebula?" sahutnya seraya melipat kedua tangan didepan dada.


Karena hal tersebut membuat Jin tertawa renyah. "Yah, Nam Joon-ah! Ternyata nasib dirimu pada dimensi itu bagus juga," katanya.


Mendengar pemaparan yang Jin katakan, membuat Nam Joon mendengus kesal. Sedangkan yang lain hanya menepuk dahi pelan karena candaan dari seniornya itu.


"Dan kamu juga sempat tercengang karena mukaku mirip dengan Profesor Sean 'kan?" tebak Jin seraya tertawa.


"Aku tetaplah tampan walaupun sudah menjadi profesor," lanjutnya.


Ji Min mencebikkan bibirnya kesal. "Ah~ kenapa kembaran kalian itu profesor yang hebat!" sungutnya.


Nam Joon dan Jin menatap Ji Min dengan tatapan yang nampak sedikit terkejut. Kemudian keduanya langsung saling tatap satu sama lainnya.


"Sedangkan kembaranku adalah seorang pangeran menyebalkan yang memiliki sikap tidak sopan pada semua orang," dengus Ji Min seraya melipat kedua tangan didepan dada dan air muka yang tertekuk.

__ADS_1


Shaula terkekeh geli ketika menatap wajah penuh kekesalan yang dikeluarkan oleh Ji Min. Walaupun muka mereka mirip, kepribadian mereka sangat bertolak belakang satu sama lainnya.


Melihat hal tersebut, membuat Jung Kook merangkul bahu Ji Min dengan erat. Karena hal tersebut sempat membuat sang empunya tercekik karena ulah dari laki-laki bergigi kelinci itu.


"Hyung, bersabarlah. Setidaknya dirimu yang berad didunia lain itu adalah seorang pangeran," balas Jung Kook.


Ji Min mencebikkan bibir, kemudian menopang dagunya dengan kedua tangan. Hal tersebut mengundang gelak tawa dari semua orang karena tingkahnya yang menggemaskan.


"Beruntung sekali jika diriku yang lain adalah sosok tuan Hwang," timpal Ho Seok.


"Bodoamat," sungut Ji Min.


Shaula mendadak menyenggol lengan Ji Min. Karena tidak ada seseorang yang berada didekatnya, kecuali laki-laki itu. Sebuah senggolan itu membuat sang empunya langsung menoleh ke arah sang lawan bicara.


"Ji Min, dimana kita berada?" tanya Shaula dengan nada berbisik.


Ji Min menjatuhkan tatapannya ke arah Shaula dengan kedua alis yang terangkat. Kemudian laki-laki itu menepuk dahinya keras karena melupakan sesuatu hal yang harus dia katakan.


"Astaga, kami lupa mengatakan padamu tentang tempat ini!" seru Ji Min, menginterupsi.


Karena seruan dari Ji Min membuat laki-laki itu panen sorotan dari yang lain. Bahkan juga termasuk Suga yang awalnya bersandar dipohon, kini langsung menatap tajam ke arah laki-laki tembam itu.


"Korea Selatan," balas Suga, singkat.


Ji Min yang hendak mengatkan hal tersebut mendadak terhenti diujung bibir karena balasan singkat yang Suga lontarkan. Karena balasan itu juga, sempat membuat Shaula tersentak hebat.


Shaula kontan membulatkan matanya. "Aโ€”apa?" kejutnya.


Kedua alis milik Ji Min menyatu karena reaksi yanh dikeluarkan oleh Shaula. Suara dari gadis itu begitu keras sehingga membuatnya panen sorotan dari yang lain.


Suga berdecak pelan. "Bisakah kamu mengontrol suara jelekmu itu?" sungutnya.


Shaula langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Setelah mengatakan hal tersebut, Suga langsung kembali memejamkan matanya.


"Maโ€”maaf," kata Shaula dengan nada memelan.


Setelah beberapa detik kemudian, Suga beranjak dari tempat itu dengan muka kesalnya. Hal itu membuat atmosfer kembali menjadi tegang dalam sekejap.


"YA! YOON GI-AH!" teriak Jin.


Namun sepertinya panggilan itu sama sekali tidak membuat sang empunya menghentikan langkahnya.


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


Shaula duduk termenung diatas batu yang berada disekitar area goa, dengan lutut tertekuk dan dagu yang didaratkankannya diatas lutut itu. Manik matanya kini terpusat pada hamparan langit sebagai kanfas kelam dipenuhi dengan kegelapan.


Keberadaan ketujuh orang laki-laki itu hanya sebentar. Mereka hanya membantu Shaula untuk beberapa masalah yang terjadi karena ada urgensi lain.


Hoseok menghapus semua ingatan mengenai mereka dengan mantra Obliviate yang dia miliki.


"Shaula, kenapa kamu diam disana? Apakah ada sebuah masalah yang menimpamu?" sahut El.


Suara berat yang khas itu membuat Shaula menurunkan tatapannya pada sang lawan bicara. Setelah menatapnya, sang empunya langsung menggeleng pelan sebagai jawaban.


"Tidak ada," balas Shaula, singkat.


El mengulurkan tangannya pada Shaula, karena didalam genggamannya saat ini terdapat apel. Lantas alis gadis itu mengernyit dalam setelah menatap buah yang entah darimana El dapatkan.


"Hei, apakah kalian mau tinggal disini?"


Sahutan dari Soobin membuyarkan tatapan Shaula yang terpusat pada apel itu. Saat ini dapat gadis itu lihat jika laki-laki manis yang berdiri jauh dihadapannya itu sudah siap dengan anak panah yang mengait dipunggung.


Shaula pun turun dengan gesit, sehingga membuat uluran tangan dari El terabaikan. Karena hal tersebut, sang empunya langsung menarik tangannya kembali lalu menggaruk tengkuknya.


"Baiklah, kita akan menyerang istana terkutuk itu lagi."


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"Maaf mengganggu waktu anda, Yang Mulia. Saya berhasil menemukan putri anda yang telah lama menghilang."


Sahutan dari sang panglima kerajaan membuat Raja Kuan sepontan melihat ke arah sang lawan bicara. Tatapannya begitu terkejut dengan manik mata yang berbinar.


"Katakan, dimana dia berada sekarang," balas sang raja, antusias.


Sang panglima membungkukkan badannya. "Saya masih mencarinya karena saya mendengar berita dari pangeran Magellanic," balasnya.


Raja Kuan mengangkat kedua sudut bibirnya tipis, setidaknya dirinya ini sedikit tidak merasa khawatir. Melihat perubahan ekspresi dari sang raja, membuat panglima itu bernapas lega.

__ADS_1


"Saya juga menerima kabar jika tuan putri adalah seorang auror, Yang Mulia," sahut sang panglima.


Raja Kuan bangkit dari duduknya. "Pada hari kelulusan aku akan menjemputmu, putiku."


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


Aura gelap mulai menguar setelah kaki Shaula baru menginjakkan langkah disekitar istana kegelapan. Satu persatu dari ketiganya mengendap-endap masuk melalui celah air yang ada dibawah istana.


Hanya suara gemericik air dan aduan antara kaki yang membelah genangan. Dengan menenteng busur dan anak panah, mata Shaula sama sekali tidak lepas dari pandangan sekitar sejak tadi.


"Sepertinya kita sudah sampai diinti saluran ini," ucap Soobin, pelan.


Seketika langkah mereka terhenti, karena ada beberapa cabang terowongan yang ada didepan sana. El menejamkan matanya perlahan, seperti tengah memindai terowongan ini.


"Ke arah sana," sahut El seraya menunjuk arah menggunakan pedangnya.


Karena seruan itu, mereka mengikuti instruksi dari murid asrama Slytherin itu. Jika dalam keadaan tertentu, El tidak terlihat menyebalkan juga. Entah kenapa Shaula merasa menyesal telah berpikiran buruk mengenai laki-laki ini.


Setelah pernelusuran yang cukup membosankan, akhirnya mereka sampai pada ujung terowongan air tersebut. Tempat ini penuh dengan jerami kering yang tersusun secara abstrak.


"Kenapa ada banyak jerami disini?" sahut Shaula, binggung.


Daur telinga Shaula mendadak secara tidak sengaja menangkap sebuah suara aneh. Ketika menyusuri suara tersebut, pada akhirnya gadis itu menangkap lesatan anak panah dari arah lain.


"Soobin, awas!" seru Shaula seraya mendorong tubuh tegap milik Soobin.


SLAT!


Beruntung sekali jika Shaula sangat cekatan dalam menolong laki-laki itu. Saat pandangannya terlempar ke arah dimana anak panah itu mendarat, sontak membuatnya tersentak. Anak panah itu menancap diikatan jerami.


Karena hal tersebut, membuat tubuh Shaula bersimpuh dilantai yang berdebu. Lalu dia menegakkan badan dan langsung melempar tatapannya ke arah anak panah itu berada.


Sepersekian detik setelahnya, ada seseorang keluar dari balik tumpukan jerami. Karena kemunculan dari laki-laki itu membuat ketiga orang itu tersentak hebat.


"Ankaa?" sahut Shaula dengan nada tidak percaya.


Ketika menatap laki-laki itu, ada hal yang menarik perhatian Shaula. Sorot mata kosong yang Ankaa perlihatkan membuat sang empunya sontak terkejut.


"Pendengaranmu tajam juga rupanya," kata Ankaa.


El mengepalkan kedua tangannya kuat, sehingga menampakkan urat tangan dengan buku jari yang memutih. Dia langsung mengeluarkan pedangnya dan hendak maju menyerang Ankaa.


"Bร jingan brรจngsek! Kauโ€”"


"Tunggu!" potong Shaula.


Karena seruan dari Shaula, membuat langkah El terhenti. "Kamu tidak bisa menyerangnya," katanya.


El menaikkan alis sebelah. "Kenapa? Dia telah berkhianat pada kita," balasnya.


Soobin bangkit dari posisinya. "Dia terkena mantra penyihir hitam," imbuhnya.


SLAP!


Melihat lawannya lengah, Ankaa langsung menyerang El dengan kekuatan yang dimilikinya. Kekuatan Gryffindor yang dimilikinya serara dengan kekuatan Slytherin yang dimiliki oleh El. Kedua kekuatan yang menimbulkan warna menajubkan karena kedua sinar yang menyatu.


"Sadarlah, brรจngsek! Aku ini temanmu," sungut El dengan menaikkan beberapa oktaf.


Semua pasang mata hanya bisa menatap pertarungan yang terjadi antara Ankaa dan El. Karena keduanya binggung harus berbuat apa saat ini.


"Kalian semua, pergilah dari sini! Aku akan menangani pengkhianat ini," teriak El dengan tatapan yang tidak lepas dari Ankaa.


"Apa kamu akan baik-baik saja jikaโ€”"


"CEPAT!" potong El dengan nada kesal.


Karena teriakan dari El, membuat perkataan dari Shaula mendadak terhenti diujung bibir. Ketika sedang sibuk bertarung, mendadak sebuah cekalan tangan mencekal pergelangan tangan Shaula.


GREP!


Shaula tersentak karena ulah Soobin yang sangat tiba-tiba itu. Tanpa mengatakan hal apapun, laki-laki itu langsung menariknya menjauh dari tempat tersebut.


BRUAGH!


Mendadak telinga Shaula mendengar sesuatu yang menguar ke dalam telinganya secara tiba-tiba.


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...

__ADS_1


...See you next part~...


__ADS_2