Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Hanggang


__ADS_3

...BAB 27...


...HANGGANG...


...a novel by youmaa...


...❝Sinar harapan baru yang akan membawakanmu banyak kejutan manis hingga kelam.❞...


...Happy Readingβ™₯...


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


"SHAULA! BANGUN SEKARANG!"


Teriakan dari Adara tiba-tiba muncul ke dalam indera pendengaran Shaula secara tidak sopan. Karena hal tersebut, sontak membuat kelopak mata miliknya langsung terbuka. Tidak hanya teriakan saja yang dilakukan oleh gadis itu, namun juga guncangan.


Shaula mengucek mata memggunakan tangannya.


Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah suasana kelas yang sudah sepi. Karena hal tersebut, membuat Shaula langsung mendongakkan dagu dengan manik mata yang membulat.


Shaula langsung menegakkan tubuhnya. "Kenapa aku ada diruang kelas?" tanyanya, bergumam.


Adara memutar bola matanya malas karena sikap keterkejuatan dari temannya itu. Lalu muncul sosok Hena dari depan pintu dengan salah satu tangan yang melambai.


"Aku tunggu di kafetaria," seru Hena lalu meninggalkan keduanya.


Shaula dan Adara menggangguk sebagai balasan atas perkataan dari Hena. Lalu tatapan Adara langsung jatuh pada temannya itu dengan tatapan datar.


Adara melipat kedua tangannya didepan dada dengan tatapan datarnya. "Kamu tertidur pada jam pembelajaran Profesor Nebula," sahutnya.


Shaula langsung melempar ke arah Adara dengan mata yang membulat. "Yang benar saja?" sambarnya.


Adara menatap Shaula datar, lalu menghela napasnya gusar. "Apanya yang benar? Kamu tertidur sejak awal," sungutnya, ketus.


Shaula menatap Adara dengan sorot mata tidak percaya. Bagaimana bisa dirinya tertidur pada saat pembelajaran tengah berlangsung?


Jika benar, habislah sudah dirinya ini.


Shaula memainkan bola matanya. "Aku? Sejak awal maksudmu?" tanyanya, binggung.


Adara mendengus kesal, lalu dia langsung membereskan bukunya dan beranjak dari kursi. Sepertinya gadis itu sudah lelah mengatakan hal ini pada temannya sebanyak jutaan kali.


Namun tetap saja Shaula tidak percaya.


"Mungkin pikiranmu sudah gila, Shaula," sambar Adara.


Setelah mengatakan hal tersebut, Adara sepontan pergi dari hadapan Shaula tanpa mengatakan hal apapun lagi. Gadis itu keluar kelas, sehingga meninggalkan Shaula yang masih cengo karena binggung.


Bagaimanan bisa Shaula melupakan sesuatu, sehingga dirinya seperti ini?


Shaula langsung merogoh kalung yang berada dibalik seragam. Lalu manik matanya langsung terpaku pada liontin tersebut dengan seksama. Pikirannya langsung terpaku pada sisa ingatan yang ada dikapalanya.


Kedua alis Shaula menyatu. "Sebenarnya ini mimpi atau bukan?" gumamnya.


TUK!


Shaula mengaduh ketika ada ada sesuatu yang menimpa kelapanya, lalu dia mengelusnya pelan. Ternyata benda itu adalah sebuah gumpalan kertas. Benda itu menadat pada dahinya cukup keras, sehingga meninggalkan rasa sakit yang cukup lama.


Dia pun memungut gumpalan kertas tersebut yang berada diatas lantai.


Manik mata Shaula langsung mengedar ke seluruh penjuru tempat setalah menegakkan badan kembali. Dia langsung mengeluarkan raut muka kesalnya ketika matanya menangkap pelaku dari semua ini.


Shaula memungut buku yang berada diatas meja, lalu menunjukkan gumpalan kertas itu ke arah si pelaku. Hal ini berasal dari seseorang yang sangat dia kenalβ€”ternyata adalah El.


"Maksudmu apa melempariku dengan benda ini?" sungut Shaula dengan raut muka kesal.


El menatap Shaula dengan sorot matanya yang selalu nampak datar. "Menurutmu?" tanyanya.


Shaula menukikkan alisnya setelah mendengar balasan dari El. Sebenarnya itu bukanlah jawaban yang ingin dia dengar, namun laki-laki itu justru mengatakan hal lain.


"Aku bertanya padamu, El!" seru Shaula dengan menaikkan beberapa oktaf.


"Kamu melamun," balas El, singkat.


Shaula menghela napasnya pelan, lalu meremat kuat gumpalan kertas itu. Dia melampiaskan semua rasa kesalnya pada kertas yang berada digenggamannya saat ini.


Shaula kembali menghela napas pelan. "Jadi?" tanyanya, memelan.


Setelah mendengar hal itu dari sang lawan bicara, El langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Shaula berada. Lalu dia langsung meraih tangan gadis itu tanpa mengatakan hal apapun padanya.


"Berhenti melamun jika kamu tidak ingin kerasukan hantu asrama," sahut El.


Setalah membisiklan hal tersebut, El langsung pergi meninggalkan Shaula dengan pikirannya saat ini. Karena hal tersebut, sontak membuat sang empunya terpatung ditempat dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


Shaula menatap ke arah El yang baru saja meninggalkannya seorang diri. "Kenapa sikap semua orang aneh?" tanyanya.


Setalah beberapa detik, Shaula menggelengkan kepalanya pelan. Tanpa memikirkan apapun lagi, gadis itu langsung meninggalkan ruangan kelas itu.


"Sepertinya aku harus mencari ketenangan dulu."


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Seorang laki-laki paruh baya berjalan menyusuri sebuah pasar yang nampak tidak asing bagi penglihatannya. Saat ini, dia tengah memakai hanbuk dengan gat yang menutupi sebagian wajah.


Manik matanya menyelusuri ke hampir setiap raut wajah orang-orang yang ada di pasar itu dengan teliti.


"Dimana dia berada," gumamnya.


Setelah itu, manik matanya secara tidak sengaja menangkap sosok laki-laki muda memakai topi alang yang menutup sebagian wajah. Salah melihat hal tersebut, dia langsung mengangkat sudut bibirnya ke atas.


"Ternyata kamu ada disini," katanya.


Ketika matanya sibuk menatap anak laki-laki itu, justru membuatnya tertabrak oleh seseorang. Dia langsung mendesis pelan karena baru saja kehilangan jejak dari anak itu.


"Kenapa kaβ€”"


Ucapan pengawal itu terhenti diujung bibir ketika manik matanya melihat seseorang yang menabraknya. Dia baru saja sadar jika orang yang ada didepannya ini adalah panglimanya sendiri.


"Panglima?" sahutnya, terkejut.


Sang pengawal terkejut ketika mendapati panglima kerajaan Hanggang itu ada didepannya saat ini. Sedangkan sang empu langsung melempar tatapan tajamnya ke arah lawan bicaranya.


Sang panglima langsung mendekatakan mulutnya ke arah pengawal tersebut. "Kembali ke kerajaan sekarang," bisiknya.


"Lalu bagaimana dengan tugasβ€”"


"Sudahlah, lupakan. Aku yang akan mencarinya," potong sang panglima.


Setelah itu panglima tersebut langsung menarik ujung pakaian si pengawal ke tempat yang sepi. Setalah sampai pada gang bangunan yang cukup sepi dari lalu lalang orang, panglima tersebut langsung menatap lawan bicaranya itu datar.


Panglima itu mendonggakan gat yang dipakainya.


"Dengarkan aku baik-baik. Aku menemukan seorang lelaki yang dimaksudkan oleh yang mulia ditempat ini," jelas sang panglima.


"Benarkah?" sahut pengawal.


Panglima itu memukul kepala sang pengawal cukup keras, karena alasan yang tidak dia mengerti. Dia langsung menundukkan kepalanya karena ulah dari sang panglima.


"Dan gara-gara kau, aku kehilangan jejaknya!" sungut si panglima, ketus.


Sang panglima menghempaskan gatnya ke arah badan sang pengawal, lalu kembali memakainya. "Jika aku gagal menemukannya lagi. Sang raja akan memenggalku," katanya.


"Dan ini semua gara-gara kau," lanjutnya.


Sang pengawal itu mengaduh pelan karena pukulan dari sang panglima. Tingkah kedua pria paruh baya itu layaknya ibu sedang memarahi anaknya.


"Ampun, panglima!" seru si pengawal.


Sang panglima mendesis. "Dia adalah murid Hogwart, cepat kau cari dia!"


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Shaula melangkahkan kaki seraya menepuk pipinya dengan kedua tangan. Dia merasa aneh dengan dirinya sendiri karena mendapati mimpi yang baru saja hinggap padanya. Permainan takdir dan mimpi yang bercampur dalam sebuah alur yang apik.


Fokus Shaula mendadak terpaku pada hal tersebut.


BRUGH!


Karena memikirkan hal gila itu, sontak membuat dirinya menabrak bahu seseorang. Dia baru saja sadar jika seseorang yang ditabraknya tadi adalah kepala sekolah Hogwart.


Shaula membungkuk dengan perasaan takut dan mata terpejam. "Maβ€”maaf, profesor," sahutnya.


Bukannya kesal ataupun marah pada Shaula, justru sang profesor nampak hanya melempar sebuah senyum tipis. Laki-laki itu terkekeh kecil, lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak apa-apa. Saya tahu jika kamu tidak sengaja," kata Profesor Aludra.


Shaula langsung memunggut buku yang berserakan diatas lantai. Namun ketika dirinya hendak merogoh buku bersampul hitam tersebut, aktivitasnya langsung terhenti. Sepertinya dia menyadari jika dirinya tengah diperhatikan oleh sang profesor.


Shaula buru-buru mengambil buku tersebut, lalu menegakkan badan.


Profesor Aludra menyilangkan kedua tangannya dibalik punggung, lalu membalikkan badannya. "Ikutlah ke ruangan saya," pintanya.


Sebenarnya Shaula binggung tentang alasan kenapa sang profesor mengajaknya ke ruangan kepala sekolah. Pikirannya sudah berlarian ke mana-mana karena hal yang terjadi saat ini.


Apakah semua ini ada kaitannya dengan kelas Profesor Nebula tadi?


Ketika kakinya baru saja menginjaki ruangan kepala sekolah, Shaula sontak meneguk salivanya susah payah. Mendadak rasa takut menyelimutinya, sehingga keringat dingin mulai mengalir deras.

__ADS_1


Profesor Aludra duduk diatas kursinya. "Duduklah," katanya seraya mengulurkan salah satu tangan.


Tanpa mengatakan hal apapun lagi, Shaula langsung duduk berhadapan dengan sang profesor. Kedua tangannya bersembunyi diatas rok seragamnya dengan meremat ujung buku yang dibawanya.


Profesor Aludra tertawa renyah. "Kenapa kamu nampak takut?" tanyanya.


Karena tawa renyah itu, sontak membuat Shaula sedikit tersentak. Bagaimana dia tidak merasa takut atau hal lainnya? Saat ini dirinya tengah berada di ruangan kepala sekolah.


Pasti ada sesuatu hal yang salah.


"Saya hanya ingin menanyakan beberapa hal padamu," kata Profesor Aludra.


"Pertama kali. Angkat dagumu," lanjutnya.


Shaula pun mengangkat dagu, lalu menatap sang ptofesor dengan tatapan gugup. Dia nampak mencoba untuk membuang pikiran negatifnya jauh-jauh. Karena sangat tidak mungkin jika sang profesor akan menghukum atau mendepaknya dari Hogwart.


"Selama ini hal aneh apa yang terjadi padamu, Shaula?" tanya Profesor Aludra.


Shaula menceritakan semua hal aneh yang sejak awal dia alami hingga saat ini. Ketika dirinya mengatakan hal tersebut, sang profesor hanya menggangguk dengan kedua tangan yang berada didepan mulut.


Setelah cerita itu selesai, sang profesor hanya diam ditempat.


"Itu semua adalah resiko yang harus kamu tanggung. Saya juga belum mengetahui apa pengaruh yang akan terjadi," sahut Profesor Aludra.


Shaula menghela napas pelan. "Apakah saya akan bernasib sama seperti penyihir yang tadi saya ceritakan, profesor?" tanyanya.


Profesor Aludra menggeleng. "Hanya saja, kamu harus menjaganya dengan nyawa," katanya.


"Jika kamu lalai, kamu akan bernasib sama seperti penyihir tersebut."


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Sang panglima mencari-cari keberadaan seorang anak lelaki yang jejaknya telah menggilang. Setelah terus mencari, dia tidak kunjung menemukannya. Lantas dia menghela napas seraya mengusap dahinya pelan.


BRUGH!


Secara tidak sengaja, ada seseorang yang menabrak punggung si panglima. Arah tatapannya langsung terlempar pada seorang laki-laki dengan topi alang yang menutupi sebagian wajahnya.


"Maafkan saya," sahut laki-laki itu.


Ketika sadar jika sosok tersebut adalah seseorang yang selama ini dicari, dirinya langsung membulatkan matanya.


"Tunggu," sergah si panglima.


Langkah anak tersebut, langsung terhenti ditempat karena sahutan dari si panglima. Namun sang empunya sama sekali tidak membalikkan badan ke arah sang lawan bicara.


"Siapa namamu?" tanya si panglima.


Laki-laki itu menaikkan topi alangnya sedikit, lalu kembali menurunkannya. "Maaf, tuan. Saya ada urusan yang harus dilakukan," finalnya.


"Anda tidak bisa pergi begitu saja, pangeran. Bisakah saya mengantar anda?" potong si panglima.


Langkah laki-laki itu kembali terhenti ketika telinganya mendengar sebutan pangeran dari si lawan bicara. Dia langsung membalikkan badan dengan kepala yang tertunduk.


"Saya bukan seorang pangeran, tuan. Saya hanya seorang murid Hogwart," balasnya.


"Nama saya Choi Soobin," lanjutnya.


Si panglima terkekeh pelan karena ucapan dari Soobin. Lalu dia melepas gat yang tadinya terpakai dikepalanya.


"Saya panglima kerajaan Hanggang. Saya mendapatkan perintah untuk membawa anda menuju ke kerajaan," kata si panglima.


"Anda adalah putra kerajaan Hanggang yang selama ini menghilang," lanjutnya.


Soobin tersentak karena penjelasan singkat yang baru saja dilontarkan oleh si panglima padanya. Dia langsung membuang muka ke arah lain, lalu membungkuk dalam.


"Maaf, pasti anda salah orang," final Soobin.


Tanpa mengatakan hal apapun lagi, Soobin langsung meninggalkan tempat tersebut. Bahkan dia sama sekali tidak memberi kesempatan pada si panglima untuk mengatakan hal sedikit pun.


Namun dia melihat, jika tidak ada kebohongan dalam manik mata si panglima.


"Anda pasti mengetahui jika saya tidak sedang berbohong," sahut si panglima.


Langkah Soobin langsung terhenti karena perkataan yang baru saja didengarnya tersebut. Dia menghela napasnya pelan seraya menggengam erat pedang Naga Emas yang sejak tadi berada ditangan.


Lalu dia membalikkan badan.


"Datanglah ke kerajaan setelah hari kelulusan. Saya akan menjebut anda lagi," kata si panglima.


Setelah mengatakan hal tersebut, si panglima langsung meninggalkan Soobin seorang diri. Sedangkan sanh empunya hanya menundukkan kepala dengan pikirannya sendiri.


"Jadi ini takdirku."

__ADS_1


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


...See you next part~...


__ADS_2